NovelToon NovelToon
Bulan Untuk Bintang

Bulan Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.

Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.

"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."

"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."




Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

"Selamat pagi Bos," ucap sang sekretaris melangkah masuk dengan setumpuk berkas di dekapan, menyunggingkan senyum profesional yang sudah terbiasa ia suguhkan kepada Bintang atasannya setiap bertemu. Namun, langkahnya mendadak berhenti saat menatap pemandangan di depannya dengan ekspresi terkejut yang sulit disembunyikan.

​Atasannya itu tidak sedang bersama ibu Mentari, sosok yang sudah lama tidak ia lihat lagi ikut ke kantor, tapi bos nya justru menggandeng tangan wanita yang berdiri anggun di sampingnya seolah ada hubungan khusus di antara mereka.

​Belum sempat rasa heran itu berubah menjadi pertanyaan yang terucap dari bibir sang sekretaris, suara Bintang memecah keheningan.

"Simpan berkas itu di atas meja, mau sampai kapan kamu berdiri di situ?" Tanya Bintang ngegas, menatap sekretarisnya datar.

"Baik Pak," jawab sekretaris, dengan tangan bergetar meletakkan tumpukan kertas di atas meja hingga beberapa berkas jatuh ke lantai.

Bulan yang melihat sekretaris itu ketakutan, tangannya mencubit pelan lengan Bintang dengan tatapan penuh isyarat. Bulan tidak setuju Bintang berbicara dengan nada keras kepada sekretaris.

​"Tolong buatkan tiga gelas minuman," perintah Bintang selanjutnya, kali ini lebih lembut, jelas mengikuti kata-kata Bulan.

 "Dua cangkir teh hangat untuk saya dan Bulan, lalu satu gelas susu putih untuk Talita."

"Maaf, untuk saya tidak usah ya Mbak. Sudah bawah air putih," potong Bulan, mengangkat air minum dalam tumbler.

"Lita juga nggak mau minum susu, tadi sudah minum di rumah," tolak Lita tiba-tiba sudah berada di tempat itu.

"Baik..." jawab sekretaris lalu meninggalkan tempat itu.

"Pak Bintang suka galak sama karyawan ya? Kasihan sekretaris tadi sampai takut begitu," protes Bulan ketika sekretaris sudah tidak terlihat.

"Katanya suruh tegas," Bintang tidak ingin sekretarisnya berpikir macam-macam tentang Bulan dan membuat fitnah bersama karyawan lain. Maka ia harus memagari privasi keluarganya dari orang yang sengaja ingin mencari celah untuk menjatuhkan.

Hingga siang hari, Bulan menemani Bintang dan saatnya memfokuskan diri untuk memberi perhatian kepada Talita dengan cara belajar sambil bermain. Menjelang makan siang mereka meninggalkan tempat itu.

"Bull..." panggil Bintang sambil berdiri merenggangkan otot yang kencang karena duduk setengah hari.

"Apa?" Jawab Bulan yang masih duduk di samping kaca.

"Kita cari makan," lanjut Bintang, lalu minta sekretaris untuk merapikan berkas. Kira-kira satu menit, Bulan sudah berdiri di seberang meja kerja menggandeng Talita.

 Bintang, Bulan, dan Talita akhirnya melangkahkan kaki keluar dari pintu kaca kantor. Setelah berkutat dengan tumpukan berkas dan deretan spreadsheet sejak pagi, hembusan angin jalanan meski panas terasa seperti kebebasan kecil yang sangat Bintang butuhkan.

​"Kita makan di mana Bull?"

"Tidak tahu," Bulan menggerakkan pundaknya. "Bapak yang punya rencana berarti sudah punya pandangan dong. Tapi awas! Kalau seperti kemarin, mengajak makan tapi pergi begitu saja," ancam Bulan lirih agar tidak didengar Talita.

​Bintang terkekeh pelan sambil menjalankan kendaraan menuju restoran favoritnya bersama Mentari yang terletak beberapa ratus meter dari gedung perkantoran. Selama perjalanan singkat itu, celetukan santai sering kali terdengar dari bibir Bintang, tapi gadis kecil di belakang mereka tampak tidak biasa. Diam dan murung.

"Talita kenapa?" Tanya Bulan menoleh ke belakang.

"Coba... Bunda ikut..." ucapnya memelas.

"Oh, kalau Bunda sembuh nanti kita pergi bersama," jawab Bulan, perasaan bersalah seketika mendera. Selama ini ia sudah berupaya membuat ibu Talita sehat kembali, tapi dirinya juga manusia yang hanya bisa berusaha, garis hidup manusia sudah ditentukan oleh yang kuasa.

"Wah, dulu kita sering datang ke restoran ini bersama Bunda ya, Pah? Tapi kapan kita bisa kesini bareng Bunda lagi?" Talita semakin sedih, ketika sampai di restoran.

​Bintang tercekat mendengar pertanyaan itu, jelas dirinya pun menginginkan hal yang sama.

"Sayang... Bunda sekarang sudah mendingan kok, Mama yakin dalam waktu dekat beliau akan segera sehat kembali, apa lagi didoakan oleh anak sholehah seperti Lita," Bulan berjongkok di pinggir meja kosong, mengangkat ujung jari nya dan menyusut air mata bening disudut mata bocah kecil itu.

Setelah Talita mengangguk dan agak tenang, mereka memilih meja di dekat jendela kayu yang menghadap ke taman kecil, tempat sinar matahari masuk melalui celah-celah dedaunan hingga tidak merasakan panas.

​Tanpa perlu waktu lama membolak-balik menu, mereka segera menjatuhkan pilihan, ditunggu pelayan yang siap mencatat pesanan.

​Hingga pesanan pun tiba, Bintang dan Bulan hendak menyendok makanan. Namun, menurunkan kembali, ketika tatapannya tertuju kepada hati yang masih tetap sedih.

Talita ingat beberapa bulan yang lalu ketika datang bertiga ke restoran ini dan makan bersama papa dan bunda diselingi canda tawa.

Sendok plastik merah berbentuk kelinci itu menggeluncur pelan di atas meja restoran, tapi jemari mungil Talita sama sekali tidak mau mengambilnya. Mata bulat itu berair saat menatap piring ayam goreng favoritnya yang masih utuh.

​"Bunda kasihan... Bunda di rumah sendirian, lagi sakit. Talita enggak mau makan kalau Bunda enggak ikut," rengeknya lirih, bibirnya melengkung ke bawah.

​Bulan bangkit dari kursi, lalu berlutut di samping Talita, merapikan poni tipis bocah empat tahun itu dengan lembut. Bukan seorang ibu jika Bulan tidak merasakan kesedihan yang sama, tapi ia berusaha sekuat nya untuk tidak menjatuhkan air mata di depan Lita.

​"Talita tahu tidak? Saat Bunda lagi istirahat di rumah, Bunda sedang mengumpulkan kekuatan supernya supaya cepat sembuh," suara Bulan mengalun tenang. "Dan kekuatan super Bunda itu datangnya dari mana, coba?" Lanjut Bulan mencoba untuk tersenyum.

"Dari Mama dan obat," lirih ​Talita menengadah, mengusap matanya yang basah.

​"Mama dan obat itu hanya perantara sayang, tapi kekuatan paling besar milik Bunda itu datang dari senyuman Talita dan perut Talita yang kenyang."

​Bulan mengambil sendok kelinci itu, menyendok sedikit nasi hangat dan potongan ayam ke mulut Talita, tapi anak itu tetap menggeleng.

​"Bunda di rumah sekarang mungkin sedang memejamkan mata, tapi tidak tidur, membayangkan Talita di sini hatinya riang, tidak sedih dan makan yang banyak. Tapi kalau Talita tidak mau makan dan jadi lemas, nanti kekuatan super Bunda malah berkurang karena kepikiran Talita terus. Sebaliknya, kalau Talita habiskan makanan ini. Nasi dan Ayam ini bakal bikin tubuh Talita kuat. Nanti waktu kita pulang, Talita bisa peluk Bunda dengan super hangat dan bilang, 'Bunda... Talita sudah pintar, sudah bisa makan sendiri sampai kenyang buat bagi kekuatan ke badan Bunda'

Bintang yang menyaksikan keduanya hanya bisa diam mematung, membiarkan makanan di piring tetap utuh..

Ia memandangi kursi di sudut sana, tempat di mana mereka jadikan momen yang indah karena sering kali bercanda ria dengan waktu yang tidak bisa dihitung. Hampir setiap akhir pekan mereka makan di restoran itu. Namun, entah kapan lagi Bintang, Mentari dan putrinya bisa mengulang saat seperti itu lagi? Air mata Bintang pun kini tidak bisa dibendung.

Waktu makan siang yang seharusnya indah kini berubah dramatis

Sementara ​Talita memandangi sendok di tangan Bulan, hanya menggeleng tidak lagi berselera, bayangan Bunda yang meringkuk di tempat tidur hanya seorang diri membuat perut Talita seolah penuh.

"Talita nggak mau makan, Talita mau pulang, Mah..." air mata gadis kecil itupun terus mengalir.

​"Baiklah kita pulang," Bulan meletakkan sendok dan garpu, sekuat apapun ia berusaha menenangkan Talita tapi toh tidak ada gunanya. Ia peluk tubuh kecil itu memberikan kehangatan.

Belum hilang rasa sesak karena Lita, Bulan terkejut ketika tatapannya beralih ke arah Bintang yang tampak menunduk menopang dahi.

"Pak Bintang, sebaiknya kita pulang," kata Bulan, lalu menggendong tubuh Talita keluar dari restoran, tanpa menunggu Bintang yang mungkin sedang membayar makanan yang belum mereka sentuh.

Satu jam kemudian, mereka tiba di rumah, kali ini Bulan yang mengendarai mobil, tidak membiarkan Bintang yang tidak kalah kacau dari Lita itu menyetir.

"Bundaaaa..." Seru Talita saat berlari dari luar menuju kamar bunda. Anak itu menangis sesegukan di samping ranjang Mentari yang sedang tidur.

...~Bersambung~...

​

1
Eka ELissa
waduhh siapa tuh
tiara
siapa tuh yang datang,jadi penasaran nih
Teh Yen
siapa yah yg tega bikin papa mentari ky gt apakah Bu Ratih ? terlalu kl.bener mereka yg lakuin yah ..... kok aku Jadi takut yah mentari kenapa kenapa itu beneran d bawa mau d obatin atau ada niat lain yah ibu Ratih sama mentari
Eka ELissa
waduh...knpa tu papa nya mentari truss 🌞🌞🌞🌞 kmana wah dsr ni ya duo keong racun kmna tu orang 😡😡😡😡atau jgn 2🌞🌞🌞mntari bukan ank bp yng kmu tolong....bin 🌟🌟🌟 entahlah hy emak yg tau
Teh Yen
nah loh alamatnya palsu atau mereka sudah pindah rumah yah ,, aku engg ngerti deh sama jalan pikiran nya mentari itu huuuh
Perempuan
kamu itu pembawa sial utk org yg kamu anggap sahabat. jangan krn sakit seenaknya saja memaksakan kehendak
falea sezi
🤣🤣 bulan bodoh minta cerai ngapain berbagi batangan satu doank iihh
Rohmi Yatun: naahh betul ituuu.. gak punya harga diri aja.. selamanya bakal menyandang pelakor.. jdi bikin emosi tu si Bulan👎
total 2 replies
Eka ELissa
nah loh..... kmana tu mertua gila mu bawa mentari 🌞🌞🌞🌞🤦🤦🤦gaje bgt kn Mreka
Eka ELissa
aneh bgt cih kmu...🌞🌞🌞kmu yg minta bulan 🌙🌙🌙 Msuk kini stelah bulan.... cobain brtahn...kmu mlhn mundur....knpa kmu GK metong sklian cih.....klau cumn buat bulan istri pengganti mu buat 🌟🌟🌟 bintang 😡😡😡😡🤦 ikutan emosi aku.....
Buna Seta: yang nulis juga emosi 🤣
total 1 replies
Eka ELissa
hey.... mertua GK tau diri justru ank mu yg bikin bulan masuk ke kluarga mu yg penuh drama mu itu...🌞🌞🌞yg paksa bulan ada di antara dia dan bintang 🌟🌟🌟 knpa bulan 🌙🌙🌙 di sphin....aneh bgt 😡🤦
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
ngk pernah espek sma siapapun yg jdi orng ketiga walupun bkn maunya (terpaksa),atau apapun yg dilakukan dlm keadaan sadar ttp aja pelakor, mau itu di suruh, terpaksa keadaan,atau alasan si pasanganx cuek, sibuk atau apapun itu trus dgn dalih memberi perhatian lo mau jdi madu fiks GOBLOK,harga diri diatas segalanya, hidup itu pilihan Tuhan ngasih kita cobaan itu ada pilihannya bkn asal iya aja
Eka ELissa
aduh brasa ikutan lari 2 kjer duo keong racun itu....kira 2 ke kejar GK ya... entahlah hy emak yg tau...
Buna Seta: Kejarrr daku kau kutangkap 🤣
total 1 replies
Rohmi Yatun
Bulan.. rasain sendiri akibat kebodohan kamu sendiri.. kamu itu hanya dijadikan alat.. iihh sebel banget bodoh kok dipelihara... malah sekarang mulai jatuh cinta ma Bintang.. hadeehhhh👎👎
Rohmi Yatun: iyaaa.. banget🤣
total 4 replies
sri susanti
pasti kalau mentari sudah sembuh,, di suruh nikah sama org lain oleh ibunya
falea sezi
males deh nanti mentari jd jahat biasa uda. sakit aja gk tau diri maksa bulan nikah ma bintang apalagi nanti sembuhh makin menjadi
Perempuan: iya betul. Sakit aja egoisnya selangit apalagi dah sehat /Panic//Panic/
total 1 replies
Agunk Setyawan
malas juga lama" skip dulu
Valen Angelina
pasti nnti si mentari ud sembuh.. pulang bikin rusuh ketika bintang dan bulan uda bahagia
Eka ELissa
waduhh kirain knpa 2 trnyata di bawa duo keong racun astagaaa....😡😡😡😡
Fitri Yah
nah ... bs jd di bawa ke hotel dl tempat rafih n sherly menginap. bulan tau dmn hotel nya ... segera ajak bintang ke sana bul ... ??
Teh Yen
mentari kenapa tuh nge drop lagi kah ,,mungkin karena pikirin yha gegara mak.lampir itu mulutnya yg pedes iih. 😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!