NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Bukan Adik

Laras pulang dari Surabaya membawa satu buku gambar dan rahasia yang kini dibagi dua.

Pak Darto bertanya apakah perjalanannya menyenangkan. Laras menjawab, "Lumayan," lalu menyerahkan oleh-oleh lapis kukus. Rayhan yang duduk di meja kasir tidak membongkar kebohongan. Tatapan mereka bertemu sebentar, cukup untuk mengingat janji.

Beberapa bulan kemudian, musim kelulusan tiba.

SMA 12 mengadakan acara perpisahan sederhana. Nadia datang dengan gaun biru gelap. Tubuhnya berubah, tetapi perubahan terbesar ada pada cara ia berjalan tanpa menunduk.

"Gue kelihatan gimana?" tanyanya.

"Kayak orang yang siap bikin masalah."

"Berarti cocok jadi teman lo."

Bima muncul dengan kemeja yang terlalu rapi. Sepanjang makan malam, matanya terus kembali kepada Nadia. Ketika musik diputar dan teman-teman mulai bernyanyi, Nadia minum terlalu banyak punch buah yang diam-diam dicampur alkohol oleh seseorang.

Laras hendak membawanya pulang. Nadia justru menarik kerah Bima dan mengecup bibirnya singkat.

Seluruh meja membeku.

Bima memegang gelas, tidak berkedip. Nadia baru sadar apa yang dilakukan, lalu menutup wajah.

"Gue mabuk," katanya.

"Baru satu detik udah sadar?" tanya Bima.

"Lupa. Anggap nggak pernah terjadi."

Nadia lari ke toilet. Bima tetap duduk dengan telinga merah dan senyum yang tidak bisa disembunyikan.

"Jangan bikin dia malu besok," ancam Laras.

"Gue malah takut dia beneran lupa."

Setelah kelulusan, jalan mereka terpecah. Galih diterima di Fakultas Hukum UNPAD di Bandung. Nadia pulang sementara ke keluarga di Surabaya. Bima belum punya rencana jelas selain membantu usaha kerabat.

Laras memilih tidak kuliah. Nilainya cukup untuk lulus, tetapi biaya dan keadaan bengkel membuat keputusan itu mudah sekaligus menyakitkan. Ia mengenakan baju kerja Pak Darto, menggulung lengan, lalu mulai sebagai teknisi penuh waktu.

Hari pertama, pelanggan laki-laki menolak saat Laras hendak memeriksa rem mobilnya.

"Teknisi yang biasa saja, Pak."

Pak Darto menunjuk Laras. "Dia teknisinya. Kalau Bapak nggak percaya, bengkel lain banyak."

Pelanggan itu ragu, tetapi akhirnya menyerahkan kunci. Laras menemukan selang rem retak yang hampir bocor, menunjukkan kerusakannya, lalu mengganti komponen di depan pemilik. Setelah mencoba kendaraan, lelaki itu membayar tanpa protes.

"Ternyata bisa juga," katanya.

Laras mengelap tangan. "Rem nggak peduli yang pasang laki-laki atau perempuan, Pak. Yang penting benar."

Ucapan itu didengar dua pelanggan lain. Menjelang sore, seorang ibu datang meminta Laras memeriksa motornya karena merasa lebih nyaman menjelaskan masalah kepada teknisi perempuan. Untuk pertama kalinya, pilihan Laras terasa bukan sekadar pengorbanan demi Pak Darto. Ada ruang yang bisa ia bangun sendiri di antara oli dan besi.

Tetangga kembali bergosip.

"Sayang, sudah cantik malah kerja sama mesin."

"Tangan perempuan nanti kasar. Siapa yang mau menikah?"

Laras mengencangkan baut roda di depan mereka. "Yang mau nikah sama tangan halus, cari tangan sendiri."

Pak Darto tertawa dari kursi. Tangan kanannya sudah membaik, tetapi tiga jari masih kaku dan tak kuat mengangkat beban. Laras mengambil lebih banyak pekerjaan tanpa membuatnya merasa tidak berguna.

Galih datang sebelum berangkat ke Bandung, membawa buku catatan baru.

"Buat catat pelanggan. Jangan cuma mengandalkan kepala."

"Lo pergi kuliah atau mau jadi bos gue?"

"Kalau jadi bos, bengkel ini rugi dalam seminggu."

Mereka bertengkar seperti biasa, tetapi saat Galih naik travel, Laras merasakan satu bagian masa sekolah benar-benar berakhir.

Rayhan juga lulus SMP dengan nilai tertinggi se-kecamatan. Berkat jalur percepatan, ia masuk SMA favorit jauh lebih muda dari siswa lain dan harus tinggal di asrama untuk mengikuti program kompetisi.

Mbah Surti sibuk mengisi koper dengan makanan sampai resletingnya tidak bisa ditutup.

Malam sebelum berangkat, mereka makan bersama di warung. Pak Darto mengangkat gelas teh untuk dua kelulusan sekaligus. Nadia dan Bima ikut melalui panggilan video, Galih menelepon dari tempat persiapan keberangkatan.

"Satu jadi calon pengacara, satu calon juara olimpiade, satu mekanik galak," kata Pak Darto. "Bapak nggak tahu siapa paling bikin pusing."

"Laras," jawab semua orang serempak.

Laras melempar kulit kacang ke arah ponsel. Rayhan tertawa, tetapi di bawah meja ia menyimpan foto lama Laras lebih dalam di dompet baru pemberian Mbah Surti. Asrama berarti ia tidak akan melihat Laras setiap hari. Pikiran itu membuat tawa di wajahnya cepat hilang.

Sesudah makan, ia membantu Laras menutup bengkel. Mereka bekerja tanpa banyak bicara. Saat jari Laras tergores tepi logam, Rayhan otomatis mengambil kotak P3K dan memasang plester.

"Aku pergi bukan berarti kamu boleh ceroboh," katanya.

"Iya, Dokter Rayhan."

"Mbah, di asrama ada kantin."

"Kantin nggak tahu kamu sukanya tempe kering."

Pak Darto menyelipkan uang darurat. Laras memberi satu set obeng kecil.

"Biar kalau barang lo rusak nggak nangis."

"Aku udah nggak pernah nangis."

"Kemarin kena minyak panas nangis."

"Itu refleks."

Mereka berjalan ke ujung gang tempat mobil sekolah menjemput. Rayhan sudah hampir setinggi Laras. Wajah bulatnya memanjang, suaranya mulai berubah.

Laras mengacak rambutnya. "Belajar yang benar, Dik. Jangan bikin Mbah dipanggil sekolah."

Rayhan menepis tangannya.

"Jangan panggil aku adik."

Laras mengira bercanda. "Terus panggil apa? Anak hilang?"

"Rayhan. Ray. Apa saja, asal bukan adik."

Nada suaranya rendah dan sungguh-sungguh. Laras berhenti tersenyum.

"Kenapa? Lo memang lebih kecil."

"Lebih kecil bukan berarti adik kamu. Kita nggak sedarah."

Mbah Surti memanggil dari mobil. Rayhan mengangkat koper, tetapi sebelum masuk ia menatap Laras lama.

"Aku juga nggak pernah anggap kamu kakak laki-laki."

"Terus selama ini Bang Laras apaan?"

"Nama panggilan. Bukan hubungan."

Pintu mobil ditutup. Rayhan duduk dekat jendela, rahangnya masih kaku. Laras berdiri di tepi jalan dengan set obeng kosong di tangan.

Sepanjang hari, kalimat itu mengganggunya.

Di bengkel, seorang pelanggan memanggil "Mas" saat melihat punggung Laras. Ia berbalik dan pelanggan itu minta maaf. Biasanya Laras akan tertawa. Kali ini ia teringat cara Rayhan menolak satu kata seolah kata tersebut pagar besi.

Malamnya, Nadia menelepon dari Surabaya. Ia menyangkal pernah mencium Bima dan mengganti topik saat Laras tertawa.

"Rayhan udah berangkat asrama?"

"Udah. Ngambek gara-gara gue panggil adik."

"Ya mungkin dia nggak mau dianggap anak kecil terus."

"Memang masih anak kecil."

"Buat lo, semua orang yang lebih muda lima menit juga anak kecil."

Laras menutup telepon lalu melihat pesan baru.

Dari Rayhan.

Aku sudah sampai. Jangan lupa kontrol tangan Pak Darto hari Kamis. Dan jangan panggil aku adik lagi.

Laras mengetik balasan panjang, menghapusnya, lalu hanya mengirim satu kata.

Iya, Ray.

Tanda pesan dibaca muncul seketika.

Untuk pertama kali sejak bocah itu datang ke Gang Mawar, Laras merasa sebuah jarak baru tumbuh justru saat Rayhan meminta dipandang lebih dekat.

1
Tuningsih Tuningsih
karyamu bgus thor, ditunggu lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!