NovelToon NovelToon
Serving The Ruthless Boss

Serving The Ruthless Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Fantasi
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.

Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.

Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

Pagi itu, sinar matahari musim gugur menembus kaca-kaca besar lantai 35 gedung Aetheris Games. Alesia Fiore melangkah masuk ke dalam area kubikel dengan sebuah paper bag yang ia dekap erat-erat di dadanya.

Di dalam tas kertas itu, terlipat rapi jas hitam haute couture milik Dante yang tadi malam menyelamatkannya dari udara dingin kota Seoul.

Sepanjang malam, Alesia bahkan tidak berani menggantung jas itu sembarangan ia meletakkannya dengan sangat hati-hati setelah memastikan tidak ada satu pun debu yang menempel.

Niat Alesia pagi ini sangat sederhana: datang lebih awal, naik ke lantai teratas, mengembalikan jas ini kepada sang pemilik, dan kembali bekerja seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa semalam.

Namun, rencana tinggal rencana. Baru saja ia meletakkan tas kerjanya di kursi, perutnya mendadak bergejolak.

"Aduh, kenapa harus sekarang sih?" keluh Alesia pelan sambil memegangi perutnya.

Karena rasa mulas yang sudah tidak tertahankan lagi, Alesia buru-buru meletakkan tas kertas berisi jas ratusan juta itu di atas meja kerjanya.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung berbalik dan setengah berlari menuju toilet yang berada di ujung koridor.

Hanya berselang dua menit setelah Alesia pergi, kubikel pemasaran mulai didatangi oleh karyawan lain. Hana dan Min-ji berjalan beriringan sambil membawa cangkir kopi masing-masing, asyik membicarakan tren promosi teranyar.

Saat melintasi meja kerja Alesia, pandangan mata tajam Min-ji langsung tertuju pada sebuah benda hitam yang sedikit menyembul dari dalam tas kertas cokelat yang terbuka.

"Eh, Hana, tunggu sebentar," Min-ji menahan lengan Hana, matanya menyipit menatap meja Alesia.

"Itu... apa yang ada di meja Fiore?"

Hana menghentikan langkahnya, ikut menengok.

"Palingan baju rajut cadangan atau jaket yang lupa dia bawa pulang kemarin. Kamu seperti tidak tahu Fiore saja."

"Bukan, coba lihat potongan kainnya," Min-ji melangkah mendekat, rasa penasarannya yang tinggi sebagai pencinta barang bermerek mulai bangkit.

Ia mengulurkan tangan dan menarik sedikit bagian kerah jas hitam tersebut keluar dari tas kertas. Begitu ujung kain itu tersingkap, mata Min-ji langsung melotot sempurna. Ia membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak.

"Kenapa, sih?" tanya Hana bingung, ikut mendekat.

Namun, begitu Hana melihat logo kecil yang tersembunyi di bagian furing dalam jas tersebut sebuah simbol desainer Italia yang sangat ikonik Hana ikut kehilangan kata-kata. Cangkir kopinya hampir saja merosot dari genggamannya.

"Ini... ini kan jas milik Pak Dante yang kemarin luntur?!" pekik Hana dengan suara bisikan yang super histeris.

"Kenapa benda ini bisa ada di sini lagi? Dan... tunggu, noda lunturnya sudah hilang?!"

Min-ji buru-buru memeriksa seluruh permukaan jas tersebut dengan tangan gemetaran.

"Gila! Benar! Nodanya sudah bersih total! Tapi bagaimana bisa? Kemarin kan kita lihat sendiri furing dalam jas ini sudah belang-belang seperti baju tidur rajutan?"

Tepat pada saat kedua sahabat itu sedang berada dalam fase syok tingkat tinggi, pintu toilet di ujung koridor terbuka. Alesia melangkah keluar sambil mengeringkan tangannya dengan tisu, tampak sedikit lebih lega.

Namun, begitu ia berjalan kembali ke kubikelnya dan melihat Hana serta Min-ji sedang memegangi jas Dante dengan wajah horor, jantung Alesia rasanya seperti berhenti berdetak.

"Fiore!!!" Panggilan kompak dari Hana dan Min-ji langsung bergema, membuat Alesia refleks mundur satu langkah.

Kedua gadis itu langsung menyerbu Alesia, memojokkannya di dekat pembatas kubikel dengan rentetan pertanyaan yang menuntut kejelasan.

"Jelaskan pada kami sekarang juga, Alesia Fiore!" tuntut Min-ji, menggoyang-goyangkan jas hitam itu di depan wajah Alesia.

"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa jas ratusan juta milik Pak Dante ada di mejamu lagi dalam keadaan bersih? Jangan-jangan... kamu diam-diam mengganti jas bos kita dengan yang baru? Kamu utang di bank mana, Al?! Kamu jual ginjal?!"

"Atau jangan-jangan... kamu dituntut oleh Pak Dante?!" Hana ikut menimpali dengan wajah panik yang luar biasa.

"Katakan yang sejujurnya, Al! Jangan menyembunyikan masalah besar ini dari kami!"

Alesia merasakan keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Otaknya berputar gila-gilaan dengan kecepatan penuh.

Mati aku! batinnya berteriak panik.

Tidak mungkin ia menceritakan kejadian yang sebenarnya bahwa tadi malam sang CEO singa yang terkenal kejam itu, menyelimutinya dengan jas ini, menemaninya makan mi instan di depan toserba, dan mengantarkannya pulang sampai ke apartemen.

Jika ia menceritakan bagian itu, Hana dan Min-ji pasti akan mengira dirinya sudah kehilangan akal sehat atau sedang berhalusinasi berat.

Dengan sisa-sisa kemampuan aktingnya, Alesia memaksakan sebuah tawa canggung dan langsung melambaikan tangannya di udara.

"Eh, eh, tenang dulu kalian berdua! Jangan berpikir yang aneh-aneh! Mana ada uang aku buat beli jas baru seharga ratusan juta? Gila apa!"

"Terus kenapa jas ini bisa bersih total dan ada di tanganmu lagi?" cecar Min-ji, masih menyipitkan mata penuh selidik.

Alesia menelan ludah, lalu meluncurkan alasan pertama yang melintas di otaknya.

"Itu... kemarin sore, setelah rapat selesai, aku memohon-mohon lagi pada Pak Dante. Aku bilang, tolong izinkan aku mencoba membawanya ke tempat laundry profesional yang biasa menangani pakaian haute couture. Jadi, kemarin malam aku... ya, aku mengambilkan jas milik Pak Dante ini dari tempat laundry khusus itu sebagai tanda maaf dan pembuktian kalau aku niat bertanggung jawab!"

Hana mengernyitkan keningnya, menatap jas di tangan Min-ji dengan pandangan sangsi.

"Laundry profesional? Tapi kok hasilnya begini? Biasanya kalau pakaian dari tempat cuci premium itu digantung pakai pelindung plastik khusus dan ada keharuman yang khas. Tapi ini... jasnya cuma dilipat biasa secara manual, tidak pakai plastik, dan langsung dimasukkan ke dalam tas kertas cokelat polos begini? Bahkan lipatannya agak sedikit berantakan di bagian lengan."

Alesia rasanya ingin mengutuk lipatan tangannya sendiri tadi malam. Ia buru-buru merebut jas itu dari tangan Min-ji dan memasukkannya kembali ke dalam tas kertas dengan gerakan cepat.

"Ah! Itu karena... karena tempat laundry-nya sudah mau tutup semalam! Jadi aku terburu-buru menyuruh mereka melipatnya saja agar ringkas dibawa naik bus! Iya, begitu! Lagipula yang penting kan nodanya sudah hilang bersih, kan?"

Hana dan Min-ji saling berpandangan selama beberapa detik. Alasan Alesia sebenarnya memiliki banyak celah yang mencurigakan bagi dua orang pencinta gosip seperti mereka.

Namun, melihat wajah Alesia yang tampak begitu panik dan kelelahan, mereka akhirnya memilih untuk mempercayai alasan tersebut demi ketenangan pikiran sahabat mereka.

"Ya sudah kalau begitu," ucap Min-ji sambil mengembuskan napas lega.

"Baguslah kalau nodanya bisa hilang. Berarti posisimu di perusahaan ini aman, Al. Sekarang, cepat kamu antarkan jas itu ke atas sebelum Pak Singa itu datang dan mencari masalah lagi."

"Iya, Al. Cepat bawa pergi benda ratusan juta ini dari kubikel kita, aku mendadak ngeri melihatnya," tambah Hana sambil mengusap lengannya.

"Oke, aku akan segera mengembalikannya sekarang juga. Terima kasih ya kalian berdua!" ucap Alesia buru-buru.

Tanpa membuang waktu lagi, ia menyambar tas kertas cokelat itu dan bergegas menuju lift khusus karyawan, berniat menyelesaikan misi ini secepat mungkin.

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!