NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Duda Pengacara

Menikah Dengan Duda Pengacara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ulfa Zahra

"Menikahlah denganku dan jadilah istri juga ibu untuk kedua anakku!"
Apa jadinya jika pertemuan mu dengan seorang duda beranak dua bisa mengubah hidupmu dalam waktu singkat?
Itu yang dirasakan oleh Azkia Anandita Ayunindya. Gadis berusia dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa dari Universitas New Student Spirit, dari jurusan PG/SD.
Pertemuannya yang tidak disengaja dengan dua gadis kecil berhasil merubah hidupnya dalam waktu singkat. Sebab, ayah dari kedua gadis kecil itu memintanya untuk menikah dengannya.
Arkanza Abbiyya Bassam.
Seorang pengacara muda yang berusia dua puluh delapan tahun. Arkanza terkenal sebagai pengacara yang selalu berhasil menyelesaikan setiap permasalahan kliennya berkat ketelitiannya.
Karena desakan dari ibu nya, yang selalu memintanya untuk menikah dalam waktu cepat, membuat Arkanza pusing. Padahal banyak wanita yang selalu mengantri untuk menjadi istrinya, meskipun mereka tau bahwa Arkanza adalah seorang duda beranak dua.
Namun sayangnya Arkanza tidak bisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenapa tidak anda saja

Happy reading

❄️❄️❄️

Azkia mengikuti Arkanza menaiki lantai atas. Jantung Azkia berdebar lebih cepat dari pada biasa saat melangkah menaiki satu persatu anak tangga mengikuti suaminya.

Suami? Seharusnya panggilan manis itu disematkan dalam nama suaminya tapi suaminya yang ini tidak semanis itu.

Sesampainya di lantai atas, Arkanza membuka pintunya berwarna hitam yang ia yakini adalah kamar pria itu.

Arkanza melirik kearah Azkia, membuat gadis itu terlihat gugup dan juga canggung.

"Masuk." Titahnya dengan suara berat. Azkia menurut, kakinya terayun masuk kedalam kamar. Suara pintu yang tertutup membuat tubuhnya semakin menegang, apalagi langkah samar yang mendatanginya.

"Berbalik." Azkia tetap diam dan enggan untuk berbalik walaupun pria itu menyuruhnya, tubuhnya terasa berat walaupun hanya untuk membalikkan badannya."Apakah kamu tidak mendengar saya nona Azkia."

Azkia memejamkan matanya, ragu tapi pasti. Dengan berat hati gadis itu tetap menggerakkan tubuhnya."Kamu bisa memulainya." Ucap Arkanza dengan santainya seraya melangkah ke arah kasur. Entah sejak kapan pria itu sudah tidak mengenakkan pakaian atasnya.

Tapi melihat pemandangan itu Azkia melotot horor saat melihat tubuh Aesthetic Arkanza yang hanya tertutup sepasang kaos kutang. Reflek Azkia langsung berbalik. Ia akui. Ia memang nakal tapi untuk melihat tubuh pria sedekat ini Azkia belum pernah.

"Kenapa anda berbalik, cepat lakukan."

"A-pa? Kenapa harus saya... kenapa tidak Anda saja. Maksud saya, saya tidak bisa melakukannya." Bantah Azkia gugup malah menarik senyuman pria itu.

"Apa maksud anda nona Azkia, saya tidak mungkin memijat diri saya sendiri bukan?" Ucap Arkanza seketika membuat otak Azkia ngebleng.

"Apa, pijat?" Ulang Azkia kebingungan.

"Iyaa pijat. Memangnya apa yang harus saya lakukan? Menyentuh anda? Anda tau nona Azkia, saya bahkan tidak Sudi menyentuh wanita seperti anda walaupun di belahan dunia ini hanya anda sendiri satu-satunya perempuan." Sahut Arkanza santai tanpa merasa bersalah sama sekali telah merendahkan Azkia."Jangan berpikiran kotor, ingat baik-baik kita hanya menikah kontrak karena kesepakatan. Tidak ada interaksi suami istri, karena kamu hanya pelayanan saya saja." Lanjutnya lagi

Azkia mengepalkan tangannya saat mendengar perkataan pria itu. Rasanya dia ingin menendang pria itu menjauh dari bumi tapi apalah daya, dia hanya bisa diam menahan gemuruh amarah dalam dadanya.

"Karena ucapannya tadi aku sampai berpikiran kejauhan. Seharusnya dari awal kamu sadar Azkia kalau pernikahan ini hanya sebatas kesepakatan saja. Tapi semuanya salahnya juga" Batin Azkia menyalahkan dirinya sendiri, karena perkataan Arkanza dia sampai berpikir jauh padahal Azkia sadar akan posisinya.

"Kenapa kamu hanya diam, cepat pijat!" Azkia tidak menjawab, kakinya terayun mendekati kasur lalu berdiri di sisi kasur di mana pria itu berbaring."Pijat yang benar karena saya membayar anda bukan untuk bermain-main saja." Ucapnya lagi sambil tersenyum kemenangan.

Azkia tidak marah ataupun membantah. Gadis itu mulai menggerakkan tangannya memijat tubuh Arkanza. Tangannya agak sakit karena tubuh Arkanza sangat keras dan juga besar hingga tangan mungilnya agak kesusahan saat memijat.

"Apa ini, kenapa tidak ada rasanya sama sekali. Kamu memijat saya atau menggoda saya nona Azkia?" Protes Arkanza seketika menghentikan gerakannya.

"Tapi tuan, tubuh anda sangat keras saya tidak bisa memijatnya."

"Dasar lemah." Cibir Arkanza tentu menarik kekesalan gadis itu. Azkia mengepalkan tangannya lalu memukul udara seakan-akan ingin memukul pria itu. Wajah Azkia merengut kesal ingin rasanya dia menggigit pria itu, tapi berusaha untuk dia tahan."Jangan pernah berpikir memukulku, nona Azkia. Karena saya mengetahuinya." Ucap Arkanza yang seperti tau akan tindakan Azkia barusan.

"Dasar pria sinting. Jika saja ada kesempatan aku ingin mencekik mu sampai mati. Toh nggak apa-apa jadi janda, orang nggak ada yang tau juga kalau aku sudah menikah. Tapi bagaimana dengan Vatha dan Khilva? Tenang aku bisa membawa mereka, mereka tidak pantas mendapatkan ayah se menyebalkan dia." Batin Azkia terus menggerutu tidak henti-hentinya, karena dia sangat kesal saat ini.

Arkanza sendiri tersenyum penuh kemenangan setelah membuat gadis itu kesal setengah mati."Ini baru awal nona Azkia, hari-hari berikutnya kamu akan jauh lebih tidak tenang. Aku akan membuatmu tidak pantas berada di keluarga ini." Batin Arkanza sambil tersenyum sinis.

🍂🍂🍂🍂🍂

Azkia pergi ke lantai satu di mana ruangan keluarga berada.

Setelah memijat Arkanza, akhirnya dia bisa bebas juga setelah di kerjain oleh pria semenyebalkan Arkanza. Azkia melirik ke arah jam dinding, di mana sudah menunjukkan pukul setengah satu.

"Benar-benar gila tuh orang, masa suruh aku pijitin dia selama ini sampai berjam-jam. Gila sih. Semoga saja besok dia sakit biar tau rasa." Geram Azkia seraya mengumpati Arkanza. Azkia menatap tangannya yang pegal karena terlalu lama memijat Arkanza yang memiliki tubuh besar dan kekar. Tubuhnya lebih besar dari tangan mungilnya, membuatnya kesulitan.

Seperti sengaja pria itu enggan melepaskannya tadi dan terus-menerus menyuruhnya padahal waktu sudah menunjukkan tengah malam.

"Aku akan tidur di mana ya?" Gumam Azkia menatap rumah besar itu yang memiliki banyak pintu dan sudut, hanya saja Azkia tidak tau kamar mana yang akan dia tepati mengingat Arkanza tidak menyuruhnya dimana dia akan tinggal di rumah itu.

"Sebaiknya aku tidur di kamar Vatha karena hanya kamar itu yang aku tau."

🍁🍁🍁🍁🍁

"Wuaaa unda." Samar-samar Azkia mendengar suara tangisan, hal itu membuatnya membuka matanya yang terasa berat. Tidak hanya matanya melainkan tubuhnya juga lantaran ia tertidur di atas sofa yang hanya seukuran tubuhnya.

"Siapa yang menangis?" Azkia menegakkan tubuhnya, perlahan-lahan kesadarannya mulai pulih dan melihat ke arah tempat tidur. Di sana dia melihat Khilva sedang menangis dengan mata terpejam."Khilva ternyata?" Bergegas Azkia mendekati Khilva dan duduk disebelah gadis kecil itu."Khilva, bunda disini sayang."

Khilva membuka matanya. Setelah melihat kehadiran Azkia di sana, gadis kecil itu lantas berhambur ke dalam pelukannya. Azkia bisa mendengar suara sesenggukan yang Khilva perlihatkan.

"Unda na Kifa. Janan tindaltan kifa, kifa takut unda." Lirihnya di sela-sela tangisannya membuat Azkia tersentuh mendengarnya.

"Bunda tidak pergi ke mana-mana, sayang. Bunda akan selalu di sini temani Khilva dan Vatha." Jawab Azkia mengusap surai lembut itu."Sekarang tidur lagi ya, biar bunda nyanyikan lagu." Tidak ada jawaban dari Khilva karena gadis kecil itu sudah menyembunyikan kepalanya di dada Azkia.

Tangan Azkia menepuk-nepuk punggung Khilva, suara merdunya mulai bersenandung, hingga akhirnya gadis kecil itu tertidur kembali. Azkia memindahkan posisi Khilva kembali ke atas batal dan menutup tubuh mungil itu dengan selimut. Azkia tidak langsung tidur melainkan dia menatap wajah kedua adik dan kakak itu bergantian yang terlihat tenang saat tertidur. Ada rasa kasihan dan bertanya-tanya kenapa gadis semanis vatha dan selucu Khilva tidak disukai oleh ayahnya. Ada rahasia apa dari kedua gadis kecil ini sampai ayahnya sendiri tidak menyukai mereka.

"Apa salah kalian sampai ayah kalian tidak menyukai anak selucu dan semanis kalian? Apakah karena kematian ibu kalian" Gumam Azkia penasaran. Jujur sebenarnya dia tidak tau apa yang telah terjadi dengan keluarga ini, karena dia hanya orang asing yang hanya sementara singgah. Untuk ibu vatha dan Khilva, Azkia juga tidak tau kemana karena yang ia tau Vatha maupun Khilva selalu bersama Omanya.

🌼🌼🌼🌼🌼

Terima kasih sudah membaca, jangan lupa kasih like, vote dan subscribe biar author makin semangat buat update lagi.

Salam manis dari author😉

1
Lisa
👍👍 Azkia..semangat yaa 💪
Lisa
Setuju Kak..Azkia harus bersikap tegas terhadap Arkanza..
Ulfa Zahra: okey kak
total 1 replies
Sak
jangan mau kalah Azkia. lanjutkan Thor
Ulfa Zahra: siap kak
total 1 replies
Lisa
😊😊👍 biar kapok tuh si Arkanza
Sak
Nggak apa-apa Vatha masih ada bunda mu di rumah..
Lisa
Kasihan banget y Vatha..punya papa model kyk gitu 🤭
Ulfa Zahra: harus banyak banyak sabar kak
total 1 replies
Lisa
Kasihan 2 anak itu..moga aj papanya mau membuka hatinya utk wanita lain.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!