NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Permainan di Balik Layar

"Bambang...? Jadi Bambang sudah meninggal dunia?" suara Pak Noto bergetar parah. 

"Benar, Pak Noto. Beliau meninggal beberapa bulan yang lalu. Dan saat ini, istri kedua sama anak tirinya berusaha menguasai seluruh aset restoran secara ilegal dengan memalsukan dokumen warisan," ujar Rhea. 

Rayven mengeluarkan bundelan dokumen coklat dari tasnya lalu meletakkannya di atas meja. "Kami menemukan berkas ini di dalam brankas rahasia Pak Bambang. Kami butuh kepastian dari Bapak, apakah ini dokumen sah yang Bapak legalkan lima tahun lalu?"

Pak Noto mengambil kaca pembesar dari saku bajunya, memeriksa stempel, nomor registrasi, dan tanda tangannya sendiri. 

"Ini asli. Saya sendiri yang mencatat dan melegalitaskan surat wasiat ini. Tapi... tunggu sebentar," tegas Pak Noto mantap. 

Pak Noto berdiri dari kursi goyangnya, melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya. Tak sampai lima menit, beliau kembali membawa sebuah flashdisk perak dan amplop berisi beberapa lembar foto tebal. 

"Waktu dia tanda tangan dokumen ini lima tahun lalu. Pak Bambang sendiri yang minta saya, : 'Pak Noto, tolong rekam proses tanda tangan ini pakai kamera, terus foto saya lagi pegang berkas ini bareng Bapak ya.' Dia bilang buat jaga-jaga di kemudian hari. Tapi akhirnya saya sekarang tahu apa yang dimaksud Pak Bambang buat jaga-jaga," kata Pak Noto sambil menyunggingkan senyum bangga. 

Pak Noto meletakkan foto-foto di atas meja. Di sana terlihat jelas foto Pak Bambang yang masih sehat tersenyum memegang lembar surat wasiat bersama Pak Noto di ruangan tersebut. 

Pak Noto lalu menyambungkan flashdisk  itu ke laptopnya. Sebuah video diputar memperlihatkan Pak Bambang yang secara sadar dan tanpa paksaan mengucapkan kalimat pembuka serta menandatangani dokumen warisan yang menyerahkan seluruh aset kepada Bima Sutejo. 

"Ternyata Pak Bambanb udah siapin ini semuanya," Zora sampai menutup mulutnya tak percaya. 

"Ini bukti mutlak. Fadel dan ibunya gak bakal punya celah buat membantah di pengadilan. Saya sangat berterima kasih, Pak Noto," bisik Rayven dengan mata berbinar puas. 

"Kalau kalian butuh saksi di pengadilan, saya siap hadir kapan pun," tegas Pak Noto mantap. 

Setelah berpamitan dengan Pak Noto mereka bertiga akhirnya melanjutkan perjalanannya ke Biro Hukum Rhea. 

Mobil Rayven membelah jalanan kota yang ramai oleh lalu lintas. Di dalam kabin mobil yang kerap suara, suasana terasa begitu kontras. Rhea memeluk erat tas kulit berisi bundelan berkas asli dan flashdisk berharga milik Pak Noto, seolah benda itu adalah nyawanya sendiri. 

Zora yang duduk di samping Rhea menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, memegangi dadanya yang masih berdegup kencang setelah keluar dari kediaman Pak Noto. 

"Gue masih gak nyangka. Pak Bbang benar-benar visioner banget. Dia seolah udah tau kalau Fadel dan ibunya bakal main licik, makanya beliau siapin video itu lengkap begitu," bisik Zora dengan mata membelalak. 

"Video itu bukan cuma bukti tambahan, Zora. Itu bom waktu buat Fadel dan Ibunya. Di mata hukum, pengakuan video di hadapan notaris itu bukti autentik yang gak bisa dibantah pakai alibi apapun. Sekarang tinggal gimana kita mainkan kartunya," sahut Rayven tenang. 

"Terus langkah kita selanjutnya apa, Rayven?" tanya Rhea, menatap Rayven dari kaca spion. "Apa kita langsung serahkan bukti ini ke pengadilan?"

"Belum. Kita butuh situasi dimana Fadel dan Ibunya benar-benar tersudut dan melakukan kesalahan fatal secara terbuka. Dan untuk bikin mereka panik, kita manfaatkan ketidakhadiran Rudi," Rayven menggeleng pelan. 

Rayven menekan satu tombol  di konsol tengah mobilnya. Layar monitor dashboard mendadak menyala, menampilkan grafik audio yang bergerak naik turun dari micro bug alat penyadap berjarak jauh yang ditempelkannya di bawah meja. 

Fadel dan ibunya tidak menyadari sama sekali bahwa setiap desah napas dan kepanikan mereka kini terpancar jelas di dalam mobil Rayven. 

Suara statis halus terdengar, sebelum akhirnya disusul oleh hentakan pintu yang dibanting keras. 

Fadel berdiri di tengah ruangan dengan nafas memburu. Jemarinya menekan-nekan layar ponsel di tangannya dengan emosi yang meledak-ledak. 

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan... 

"SIALAN," raung Fadel, melayangkan pukulan kencang ke permukaan meja kayu jati. 

"Fadel! Kamu ini kenapa sih teriak-teriak," jerit Rika yang baru saja masuk melintasi pintu kayu. "Daritadi Mami perhatikan kamu bolak-balik kayak cacing kepanasan. Ada apa? 

" Rudi, Mi. Si Rudi hilang," Fadel menoleh cepat. 

Matanya merah padam karena kurang tidur dan rasa cemas yang menggerogoti dadanya. 

"Hilang gimana sih? Paling tuh orang di warung kopi depan atau tidur di mess belakang. Kamu kayak gak tau kelakuan dia aja," Rika mengerutkan dahi. 

"Enggak, Mi. HP nya mati total semalam, padahal semalam Fadel udah suruh buat jaga di sekitar restoran," potong Fadel tajam dengan suara bergetar. 

"Maksud kamu Rudi gak balik semalam?" Rika mulai terpancing panik. 

"Iya," Fadel melangkah mendekati jendela, menyibak tirai tipis dan menatap liat ke arah halaman bawah. "Fadel udah suruh yang lainnya buat nyari Rudi ke kontrakan dia, ke tempat nongkrongnya. Nihil! Gak ada satu pun yang tahu si Rudi kemana."

Fadel berjalan bolak-balik mengelilingi meja kerja, menepuk jidatnya berulang kali. Perasaan ganjil mulai merayapi benaknya. Sejak semalam, hatinya tidak tenang. Dia berhenti sejenak melihat lukisan di dinding miring lalu memperbaikinya. 

Di dalam rekaman suara lukisan digeser secara kasar bergema. 

"Apa jangan-jangan si Rudi kabur bawa uang kas restoran," tebak Rika dengan suara bergetar ketakutan. 

"Uang kas gak seberapa, Mi," ketus Fadel murka. 

Lalu Fadel mendadak menghentikan langkahnya tepat di samping meja kayu tempat alat penyadap milik Rayven tersembunyi rapat di bawahnya. 

"Kalau sampai si Rudi itu berkhianat, posisi kita bisa bahaya banget, Mi. Si Rudi itu udah tahu semua rahasia kita dari awal. Termasuk soal draf palsu dan skenario buat menyingkirkan Bima," bisik Fadel dengan suara menakutkan. 

"Terus sekarang kita harus gimana, Fadel? Mami gak mau ya kalau sampai urusan ini makin melebar kemana-mana. Kita ini tinggal selangkah lagi buat menguasai seluruh restoran ini," Rika meremas tangannya gemetaran. 

"Mami tenang dulu, buat kepala Fadel makin pusing aja," bentak Fadel stres. 

Ia merogoh saku jasnya, menarik sebatang rokok lalu menyalakannya dengan pemantik api yang gemetar. "Fadel bakal suruh orang buat lacak keberadaan Rudi sekarang juga. Kita periksa semua CCTV jalanan di sekitar gang restoran semalam."

Fadel menghembuskan asap rokoknya tebal-tebal ke udara, matanya menyipit penuh kecurigaan. 

"Tapi kalau ternyata si Rudi sengaja mengkhianati kita..." suara Fadel berubah menjadi bisikan iblis yang sangat dingin. "Aku sendiri yang bakal bikin itu orang bungkam selamanya sebelum dia sempat buka mulut ke siapapun."

Rika menelan ludahnya kasar, mengangguk pelan menandakan persetujuan atas niat kejam anaknya itu. 

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!