NovelToon NovelToon
Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Dokter
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.

​Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.

​Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Jarum Suntik dan Desir Rasa

Kamar bernuansa morning fog lembut itu dinaungi pendar dingin lampu hias berbentuk kupu-kupu yang melingkar cantik di sekelilingnya. Sebuah dreamcatcher bergantung di dinding, bergoyang pelan diterpa embun pagi. Seorang gadis remaja berpiyama fleece hangat dan berkaos kaki kuning motif dedaunan baru saja mematikan alarm yang baru memekik.

​Sambil meregangkan otot-ototnya yang masih kaku, ia berjalan membuka jendela kamar, membiarkan udara pagi merasuk. Usai menyapa pagi, ia beranjak ke kamar mandi untuk bersiap pergi ke sekolah. Hari ini adalah awal dari rangkaian ujian praktiknya.

​Sudah menjadi kebiasaan Aira saat menghadapi ujian membaca sedikit materi untuk dipresentasikan pada malam sebelumnya, itu pun kerap diselingi dengan menonton drama Korea favoritnya.

​"Sayang, bahan untuk presentasi hari ini sudah siap?" tanya Bu Windy begitu melihat putri bungsunya keluar dari kamar dengan setelan seragam sekolah yang rapi.

​"Sudah, Ma. Tape buatan Aira sudah ada di paper bag. PPT dan makalahnya juga sudah siap," jawab Aira riang.

​"Ya sudah, sarapan dulu. Jangan lupa bekalnya dibawa, ya," sahut Bu Windy seraya menyiapkan tas bekal untuk Aira.

​✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧

​Jam istirahat akhirnya tiba. Hari ini Aira bisa bernapas lega dan beristirahat di dalam kelas bersama Zara usai melewati sesi tanya jawab presentasi yang cukup menguras energi. Lantaran menahan lapar sejak penyakit maag-nya kambuh, sang mama memilihkan bekal khusus untuk Aira, ditambah beberapa camilan untuk dinikmati bersama Zara.

​Sebelumnya, kedua sahabat itu memang sudah bersepakat membawa bekal masing-masing. Rencananya sederhana makan siang sambil menonton drama Korea memanfaatkan fasilitas Wi-Fi gratis sekolah.

​Namun, saat dua sahabat itu sedang asyik menikmati waktu istirahat dengan tenang, sosok Bayu mendadak muncul. Laki-laki itu seolah tak pernah tenang jika belum mengganggu ketentraman mereka.

​"Serius amat nontonnya. Masih gantengan aku juga daripada oppa plastik," celetuk Bayu tiba-tiba dari belakang Aira dan Zara.

​Aira dan Zara tak menghiraukan celotehan itu. Mereka memilih tetap fokus pada layar ponsel sambil menyuap makanan ke mulut masing-masing.

​Melihat respons dingin tersebut, Bayu tak kehabisan akal. Ia kian berulah untuk memancing emosi Aira yang tengah asyik menonton.

​"Kalau guru Bimbingan Konseling tahu Wi-Fi sekolah dipakai buat nonton drakor, kayaknya bakalan seru, nih," ancam Bayu menakut-nakuti. Ia berjalan ke depan meja mereka, lalu duduk menghadap Aira dan Zara bergantian.

​"Minggir, kau! Jangan merusak pemandangan," sahut Aira tajam, matanya masih terpaku pada layar ponsel.

​Tanpa diduga, Bayu bergerak cepat menyambar ponsel Aira.

​"Ih, Bayu! Kita belum selesai nonton, itu lagi ramai-ramainya!" seru Aira seraya bangkit berdiri, berusaha merebut kembali ponselnya.

​"Enggak bisa. Aku sebagai ketua kelas harus mengamankan kelas ini. Di sekolah mana boleh nonton drama, apalagi pakai Wi-Fi sekolah?" ujar Bayu sok tegas seraya melangkah hendak keluar kelas.

​Aira melipat kedua tangannya di dada, lalu tersenyum miring. "Oke. Kalau kau berani melapor, aku juga bakalan lapor kalau kau dan Panji sebelum pulang sekolah suka nonton video porno di toilet laki-laki belakang sekolah."

​Zara menatap Aira dengan mata membelalak tak percaya. Beberapa teman mereka yang baru kembali dari kantin pun sempat terkejut mendengarnya. Sementara itu, Bayu mendadak kaku. Langkahnya terhenti seketika, lalu perlahan membalikkan badan menghadap Aira.

​"Darimana kau tahu aku suka nonton di toilet belakang?" bisik Bayu dengan wajah syok.

​Aira mengangkat bahunya acuh tak acuh. Ia tersenyum tipis seraya menaikkan sebelah alisnya. Tak punya pilihan lain, Bayu akhirnya mengembalikan ponsel tersebut ke tangan Aira.

​"Jangan-jangan... kau suka mengikutiku ke toilet, ya?" tuduh Bayu curiga.

​"Untuk apa aku mengikutimu? Kurang pekerjaan saja," sahut Aira cuek.

​"Terus tahu dari mana? Oh... atau jangan-jangan kau pasang kamera CCTV di toilet laki-laki, ya?!"

​Aira menatap Bayu dengan berdecak kesal, tak habis pikir dengan jalan pikiran ketua kelasnya itu. Tanpa memedulikan Bayu yang berjalan keluar kelas dengan tatapan penuh selidik, Aira kembali duduk dan menyuap makanannya.

​"Aira, kamu tahu dari mana kalau Bayu suka nonton video begitu di toilet sekolah?" bisik Zara penasaran.

​"Aku juga tidak tahu. Tadi cuma asal menebak saja, eh... ternyata beneran. Sudah kuduga," jawab Aira menatap Zara sekilas.

​"Bisa kebetulan begitu, ya? Keren!" Zara mengacungkan jempolnya terkagum-kagum.

​Keduanya pun kembali menikmati bekal makanan sambil melahap sisa episode drama Korea yang tinggal beberapa menit lagi.

​✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧

​Suasana kelas siang itu tampak riuh. Rangkaian ujian hari ini baru saja usai beberapa menit lalu, tetapi para siswa belum diperbolehkan pulang.

​"Tumben kita tidak boleh langsung pulang? Memangnya ada apa, sih?" tanya Zara heran.

​"Mungkin Kepala Sekolah mau memberikan pengumuman soal Ujian Nasional nanti," sahut Aira santai seraya mencoret-coret bukunya.

​Zara mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Teman-temannya sibuk dengan kegiatan masing-masing ada yang asyik bermain gim di ponsel, bersolek di depan cermin, hingga bergosip ria.

​"Bayu barusan dipanggil ke kantor juga, kan? Atau... jangan-jangan hari ini ada razia?"

​"Kalau razia hati, aku tidak mau ikut. Soalnya hatiku sudah seribu persen cuma untuk Dokter Arkan seorang, hehehe," gurau Aira menyeringai.

​PUK!!!!

​"Ingat, masih sekolah! Jangan kebiasaan kebelet cinta. Lulus saja belum. Fokus dulu ke ujian sekolah yang sebentar lagi!" tegur Zara seraya memukul pelan kepala Aira dengan pulpen. Yang dipukul hanya meringis manis sambil mengelus kepalanya.

​Tak lama kemudian, Bayu kembali ke kelas membawa selembar kertas. Ia berdiri tegap di depan papan tulis.

​"Oke, semuanya! Barusan wali kelas kita memberi tahu kalau hari ini ada pemeriksaan kesehatan rutin sekolah. Buat nama yang aku panggil, langsung bawa tas dan pergi ke UKS untuk mengikuti serangkaian tes kesehatan. Setelah itu, kalian boleh langsung pulang," pengumuman dari Bayu memecah riuh kelas.

​Mendengar hal itu, tubuh Aira seketika menegak. Ia menatap Zara dengan mata membelalak.

​"Zara... tumben ada pemeriksaan kesehatan sekarang? Bagaimana ini? Aku takut..." cicit Aira panik.

​"Tenang, Aira. Cuma pemeriksaan biasa, kok. Lagipula kita kan mau Ujian Nasional sebentar lagi, jadi wajar ada tes kesehatan. Memang rutin sampai kelas tiga SMA, kan?"

​"Tapi... bukannya pemeriksaannya itu ada suntik vitaminnya? Aku tidak mau ikut! Mending aku pulang sekarang," Aira bergegas merapikan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas dengan tergesa-gesa.

​Zara berusaha menenangkan sahabatnya. Ia tahu betul betapa Aira sangat trauma dan takut pada jarum suntik.

​"Zara, Panji, Karina, Linda, Julian, Malik, Putri! Kalian kloter yang pertama ke UKS. Bawa tas kalian sekalian!" panggil Bayu menyebutkan daftar nama.

​Zara menoleh ke arah Aira yang kini memeluk tasnya erat-erat. Hatinya tak tega meninggalkan sahabatnya sendirian di kelas dalam keadaan cemas seperti itu.

​"Aku temani kamu saja, ya, biar kamu tidak takut?" tawar Zara.

​"Kamu duluan saja, namamu sudah dipanggil. Tidak apa-apa, kok," sahut Aira mendorong pelan tubuh Zara.

​Meski enggan, Zara akhirnya berdiri setelah Bayu menegurnya. "Woi, Zara! Cepat ke UKS sekarang!"

​Zara menatap Aira sekali lagi. Aira memberi isyarat agar Zara segera pergi.

​"Aku tunggu kamu di sana, ya. Nanti kamu jangan panik, apalagi sampai kabur!" pesan Zara sebelum menghilang di balik pintu.

​Aira hanya mengangguk lemas, lalu menyandarkan kepalanya di atas meja dengan perasaan gelisah yang makin membuncah.

​Waktu berlalu. Nama demi nama dipanggil hingga tersisa antrean terakhir. Kini giliran Aira bersama empat siswa tersisa. Namun, Aira tak kunjung bergeming dari posisinya. Bayu yang berada di kloter terakhir bersamanya akhirnya menghampiri meja gadis itu.

​"Aira, cepat ke UKS! Kau mau di sini sampai besok pagi?" tegur Bayu menepuk bahu Aira.

​Dengan lemas, Aira menegakkan badannya dan menatap Bayu dengan wajah muram. "Aku sedang tidak enak badan, Bayu... Aku izin langsung pulang saja, ya?"

​Bayu mengernyit melihat raut lesu dan pucat di wajah Aira. "Justru karena kau sedang tidak enak badan, sekalian diperiksa di UKS."

​"Tidak! Tidak usah. Aku bisa periksa ke dokter sama Mamaku setelah pulang sekolah!" tolak Aira menggeleng tegas.

​Ia tetap tidak mau menginjakkan kaki di UKS. Rasa takut itu terlampau besar. Saat kelas mulai sepi hanya menyisakan mereka berdua, Bayu mengandalkan tenaganya untuk memaksa.

​"Sudah, ayo jangan banyak alasan! Kau mau aku seret sampai UKS?" ancam Bayu.

​"Bayu, aku tidak mau! Tolong jangan memaksa!"

​"Ini demi kebaikanmu, Aira. Cuma periksa kesehatan gratis, kok banyak alasan? Ayo!"

​Bayu meraih tali tas punggung yang sudah dikenakan Aira, lalu menarik lengannya, memaksa gadis itu ikut melangkah. Aira berontak sekuat tenaga, memohon agar dilepaskan. Namun, tenaganya kalah jauh dibanding ketua kelasnya itu. Ia akhirnya terseret hingga tiba di depan ruangan UKS.

​"Bayu! Jangan kasar, dong! Main tarik tangan orang sembarangan!" sungut Aira kesal begitu sampai di ambang pintu.

​Bayu tak memedulikan protes itu. Ia masuk terlebih dahulu, sementara Aira membatu di luar door frame.

​"Ayo masuk, Aira!" dorong Bayu pelan.

​Tiba-tiba Zara keluar dari dalam ruangan UKS dan hendak mengajaknya masuk. Melihat celah, Aira justru memutar badan dan pasang langkah seribu untuk kabur.

​"Eh, mau kabur ke mana?!" seru Bayu sigap mengejar. Zara pun ikut berlari memotong jalan. Dalam hitungan detik, Aira berhasil dicegat.

​"Aku tidak mau diperiksa! Kenapa kalian memaksa sekali, sih?!" kesal Aira, matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa takut dan frustrasi.

​"Cuma diperiksa biasa, Aira. Diukur tinggi dan berat badan, cek kesehatan, lalu terakhir... disuntik vitamin saja," kata Zara berusaha melunakkan suasana.

​"Ih, Zara! Kamu sahabat macam apa, sih? Kamu kan tahu aku paling takut disuntik!" seru Aira, wajahnya yang pucat kian mengibarkan bendera perang, air mata sudah menetes di sudut matanya.

​"Hai, Aira sayang... Disuntik itu tidak sakit, kok. Cuma seperti digigit semut. Lagipula, di dalam ada calon suamimu," goda Zara sambil berbisik.

​Aira seketika menghentikan berontakannya. "Dokter Arkan ada di dalam?"

​Zara mengangguk mantap seraya tersenyum manis. Ia lantas memberi aba-aba pada Bayu untuk menarik Aira yang sedang lengah sebelum gadis itu sadar dan melarikan diri lagi.

​Dengan sigap, Bayu menarik tas punggung Aira dan membimbingnya masuk ke dalam ruang UKS.

​"Ini, Bu. Gara-gara anak ini, jadinya lama menunggunya," aduh Bayu kepada wali kelas yang sudah menunggu di sana.

​Dengan raut cemberut dan pias ketakutan, Aira menunduk dalam-dalam sambil meremas jemarinya. Wali kelasnya tersenyum maklum.

​"Ya sudah, mari ikut Ibu dulu. Kita ukur tinggi dan berat badanmu, ya."

​Aira melepas tasnya dan meletakkannya di atas kursi. Matanya sempat mencuri pandang ke arah Arkan. Pria itu tampak sibuk mencatat dokumen setelah sempat menoleh sekilas padanya.

​Usai pengukuran fisik, Aira diminta duduk di kursi pemeriksaan untuk menerima suntikan vitamin. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Rasa malu menggelayuti pikirannya karena ada Arkan di sana, meski yang bertugas menyuntik adalah dokter wanita rekan Arkan.

​"Tangan kananmu boleh ditaruh di sini?" pinta dokter wanita itu ramah.

​Aira menatap Arkan yang duduk tepat di samping dokter tersebut. Dengan bibir gemetar, Aira meletakkan tangannya di atas meja. Namun, baru saja kulit tangannya tersentuh jemari sang dokter, Aira langsung menjerit histeris.

​"Aira tidak mau disuntik!!!" teriaknya memecah keheningan ruangan.

​Suara jeritan itu menggelegar, membuat Bayu, Zara, bahkan wali kelas dan Arkan terkejut.

​"Ya ampun, Aira! Baru disentuh saja sudah berteriak seperti itu!" seru Bayu yang berdiri di belakangnya.

​Aira melipat kedua tangannya di depan dada, menangis ketakutan seraya menggelengkan kepala erat-erat. Zara menatap iba. Ia tahu benar bahwa ketakutan sahabatnya terhadap jarum suntik bukanlah kebohongan yang dibuat-buat.

​"Cuma disuntik sebentar, Nak. Ini untuk menjaga daya tahan tubuhmu," bujuk wali kelasnya penuh kesabaran.

​Wali kelasnya mencoba membantu memegangi lengan Aira, tetapi bukannya tenang, Aira justru makin histeris dan menangis tersedu-sedu. Bayu yang melihat kejadian itu malah terkekeh geli dan diam-diam merekam momen ketakutan Aira menggunakan kamera ponselnya.

​"Bu, Aira memang takut sekali sama jarum suntik sejak kecil," terang Zara membela.

​Tangisan Aira tak kunjung mereda. Rasa takut yang membatu di dadanya menutup rasa malunya pada orang-orang di ruangan itu.

​"Bagaimana ini, Dokter Arkan?" tanya dokter wanita itu menatap Arkan, meminta petunjuk.

​Arkan mengamati Aira yang menangis sesenggukan dengan hidung memerah. Ia paham, ketakutan gadis ini sangat nyata. Pria berselimut jas putih itu akhirnya berdiri dan melangkah mendekati Aira.

​"Biar saya yang tangani," ujar Arkan tenang pada sang wali kelas.

​Wali kelas mengangguk dan menggeser posisinya, membiarkan Arkan mengambil alih.

​"Aira," panggil Arkan pelan.

​"Dokter Arkan... tolong jangan paksa Aira. Aira tidak mau disuntik..." ratap Aira dengan suara bergetar.

​"Saya tidak memaksa kamu," sahut Arkan lembut.

​Sambil menyapu air mata dan mengusap hidungnya, Aira mendongak menatap Arkan yang berdiri tepat di sampingnya.

​"Saya tidak memaksamu untuk disuntik hari ini. Hanya saja, suntikan ini berisi vitamin penting untuk menjaga ketahanan tubuhmu. Kalau kamu menolak disuntik, tidak apa-apa. Sebagai gantinya, saya akan resepkan beberapa jenis vitamin yang harus kamu minum setiap hari selama satu bulan penuh. Bagaimana?" tawar Arkan tenang.

​"Minum vitamin... sebulan?" ulang Aira tertegun.

​Arkan mengangguk pelan. Bayu di belakang tertawa tanpa suara, sementara Zara melongo mendengar tawaran Arkan.

​"Dokter Arkan... kenapa tidak kasih pilihan yang lebih mudah?" protes Aira dengan bibir memanyun.

​"Saya dokter, bukan Tuhan," jawab Arkan datar.

​Bukannya luluh, Aira malah makin memanyunkan bibirnya dan kembali menangis sesenggukan. Arkan sempat mengernyit bingung melihat respons gadis itu.

​"Lebih baik disuntik sebentar, tidak sampai lima detik. Nanti Dokter Arkan yang bantu pegang. Bagaimana?" bujuk dokter wanita itu menengahi.

​Aira menggeleng pelan, menatap Arkan dan dokter wanita itu bergantian.

​"Sini, biar saya pegang tangan kamu," ucap Arkan penuh penekanan lembut. Ia meraih tangan kanan Aira dan meletakkannya kembali di atas meja.

​Aira mendongak, matanya membelalak lebar. "Tidak! Aira tidak mau! Jangan dipaksa!"

​"Aira, lihat saya," perintah Arkan tegas namun menenangkan.

​Sambil menatap lekat mata Arkan, tanpa menyadari bahwa dokter wanita di sisinya mulai meraih lengannya dan mengoleskan kapas alkohol.

​Merasa lengannya dipegang, Aira tak lagi berontak fisik, tetapi ketakutan hebat membuatnya memejamkan mata erat-erat. Air matanya mengalir kian deras.

​Melihat tubuh gadis itu gemetar amat sangat, secara refleks Arkan mendekatkan badannya. Ia membawa kepala Aira ke dalam dekapan dadanya, mengarahkan wajah gadis itu agar bersandar padanya, seraya menutupi matanya dengan telapak tangan besarnya.

​Saat ujung jarum suntik menembus kulit, rasa sakit dan panik membuat Aira secara spontan melingkarkan lengan kirinya, memeluk pinggang Arkan erat-erat.

​Arkan sempat terpaku kaku atas respons mendadak itu, namun ia tetap bergeming membiarkan Aira berlindung padanya. Bayu yang sedang merekam ketakutan Aira seketika menurunkan ponselnya karena terkejut. Sementara Zara dengan sigap mengarahkan kamera ponselnya sendiri, memotret momen hangat nan manis tersebut.

​"Sudah selesai," ucap dokter wanita itu menarik jarumnya.

​Arkan perlahan melepaskan tangannya dari mata Aira. Ia menatap Aira yang masih menyandarkan tubuh dan memeluknya. Sadar situasi sudah aman, Arkan berdeham pelan.

​"Woi, sudah selesai!" tegur Bayu menyadarkan.

​Aira yang bersimbah keringat dingin bergegas melepaskan pelukannya. Wajahnya merona merah bercampur pucat. Ia menatap Arkan yang kini memalingkan wajah dengan ekspresi datarnya yang biasa.

​"Sudah selesai. Lihat, tidak sakit, kan?" tanya dokter wanita itu tersenyum.

​Aira menyentuh lengan pertamanya yang terasa sedikit nyeri. Arkan sudah melangkah kembali ke mejanya tanpa sepatah kata pun.

​Aira berniat berdiri untuk bersiap pulang. Namun, begitu ia mengagulkan kakinya, kepalanya mendadak berputar hebat. Pandangannya menggelap seketika. Tubuhnya ambruk, tersungkur ke lantai, memicu kepanikan orang-orang di dalam UKS.

​✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧

​Beberapa puluh menit berlalu. Aira perlahan membuka matanya. Pandangannya yang buram lambat laun memfokuskan sekelilingnya, mendapati Zara dan Bayu sedang duduk menunggunya di sisi brankar.

​"Akhirnya kamu sadar juga," desah Zara lega.

​"Baru tahu aku, preman sekolah ternyata takut sama jarum suntik sampai pingsan begini," ejek Bayu terkekeh.

​Aira hanya diam, bangkit dibantu oleh Zara.

​"Kepalamu masih pusing?" tanya Zara khawatir.

​"Tidak," jawab Aira lirih.

​"Ya sudah, aku panggilkan Dokter Arkan dulu untuk mengecek keadaanmu."

​Zara melangkah keluar meninggalkan ruangan, menyisakan Aira dan Bayu yang masih saja menatapnya dengan senyum ejekan.

​"Siap-siap besok viral di grup sekolah, ya," goda Bayu.

​"Apanya yang viral?"

​"Video ketakutan preman sekolah saat mau disuntik. Wah... kayaknya bakal viral se-Indonesia!"

​Aira membelalak. "Kau merekamku?!"

​"Buat konten. Lumayan menaikkan subscriber YouTube-ku."

​"Awas ya, kalau kau sampai mengunggah video itu, aku gunduli kepalamu!" ancam Aira tajam.

​Keributan kecil itu terhenti saat Arkan dan Zara kembali memasuki ruangan. Arkan langsung memeriksa denyut nadi dan kondisi Aira.

​"Sudah membaik. Kamu boleh pulang," ujar Arkan singkat usai memeriksa.

​Aira mengangguk pelan, turun dari brankar dibantu Zara, lalu mereka melangkah keluar ruangan UKS.

​"Mau aku antar pulang tidak? Mumpung aku lagi baik, nih. Wajahmu masih pucat," tawar Bayu yang berjalan di belakang Aira.

​Baru saja Aira membuka mulut hendak merespons, suara berat Arkan terdengar menyela dari arah belakang.

​"Aira akan pulang bersama saya," potong Arkan tegas.

​Zara menatap Arkan tak percaya, lalu beralih memandang Aira yang terpaku menatap dokter muda itu.

​"Ambil tasmu, kita pulang sekarang," tambah Arkan pada Aira.

​Gadis itu langsung mengangguk cepat. Bersama Zara, ia berlari kecil mengambil tasnya yang tertinggal di dalam.

​Kini tinggal Bayu dan Arkan yang tersisa di koridor depan UKS. Bayu memandangi Arkan yang tengah melepas jas dokternya.

​"Aku heran... kenapa Dokter selalu menawarkan tumpangan pada Aira tiap kali aku menawarkan bantuan?" tanya Bayu mendekat, menatap penuh curiga.

​Arkan tidak langsung menjawab. Ia diam membisu seraya mengambil kunci mobil dari dalam saku celananya.

​"Jangan pernah punya niat buruk pada Aira. Atau menjadikannya sekadar pelarian," bisik Bayu dengan nada menekan dan tatapan tajam.

​Arkan menatap balik ketua kelas itu dengan manik mata yang dingin dan tak tersentuh.

​"Terserah kamu mau bicara apa," jawab Arkan singkat, lalu melangkah pergi begitu saja. Bayu menatap punggung dokter muda itu dengan sorot mata yang tak mudah diartikan.

​✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧

​Arkan melangkah menuju area parkiran ditemani Aira yang sudah kembali ceria, seolah rasa takut dan pingsannya tadi hanyalah angin lalu.

​"Kenapa kamu senyum-senyum tidak jelas begitu?" tanya Arkan menatap aneh ke arah gadis di sampingnya.

​"Sudah dua kali Kak Arkan menawarkan antar pulang. Aira merasa... Kak Arkan pasti ada rasa, ya, sama Aira?" godanya percaya diri.

​"Saya hanya takut kamu pingsan lagi di jalan seperti tadi," balaskan Arkan dingin.

​Aira menghentikan langkahnya seketika. Arkan pun ikut terhenti dan menoleh heran.

​"Aira kan sudah bilang, Aira takut jarum suntik! Jadi jangan menyalahkan kenapa sampai pingsan!" bela Aira tak mau kalah.

​"Iya, saya tahu. Dan menurut saya, kamu memang tidak cocok mencalonkan diri jadi perawat nanti," sahut Arkan datar sebelum kembali melangkah.

​"Tidak apa-apa tidak bisa jadi perawat di rumah sakit. Yang penting bisa jadi perawat untuk Dokter Arkan dan anak-anak kita kelak, hehehe," seru Aira riang seraya berlari kecil mengejar Arkan.

​Arkan hanya menggelengkan kepala. Tanpa ragu, Aira langsung menggandeng lengan kiri Arkan. Namun, dengan cepat Arkan menepis jemari gadis itu.

​"Jangan aneh-aneh. Ini di lingkungan sekolah."

​"Berarti kalau di luar sekolah... boleh, dong?" goda Aira lagi. Arkan tak membalas, memilih mengabaikan godaan tersebut.

​Bukan Aira namanya jika mudah menyerah. Ia kembali menggandeng lengan Arkan hingga mereka tiba di tempat mobil terparkir.

​Di kejauhan, Bayu memperhatikan interaksi mereka dengan diam melamun.

​"Terkadang, mengagumi secara terang-terangan itu jauh lebih menyenangkan daripada mencintai secara diam-diam. Benar begitu, kan, Bayu?" celoteh Zara yang tiba-tiba muncul di sampingnya.

​"Apa maksudmu?" dahi Bayu berkerut.

​"Tidak ada apa-apa. Aku cuma bilang, Aira kelihatan bahagia bisa mengagumi Dokter Arkan secara terang-terangan. Eh, aku pulang duluan, ya! Jangan galau melulu, perempuan di luar sana masih banyak. Aku saja pernah ditolak Zayn Malik rasanya biasa saja," cerocos Zara santai, lalu melangkah pergi meninggalkan Bayu.

​Bayu mencerna kata-kata Zara. Apakah itu sebuah sindiran halus untuknya, ataukah murni kalimat penghibur? Bingung dengan pikirannya sendiri, Bayu akhirnya mengangkat bahu acuh, memilih untuk segera pulang ketimbang membiarkan ucapan Zara terus membayangi benaknya.

​Bersambung__

_____

1
Best
jangan lupa mampir balik😁
id IG: sabia.sky: ditunggu✨
total 1 replies
Best
semangat up kak..
Best
lanjut Thor.. ✨
Best
maksa ya aira🤣
Best
kalau aku sih jadi Aira udah aku gampar mulutnya
Best
negosiasi kaya jualan aja ya aira
Best
parah nih Aira. kasian mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!