Menjadi korban keegoisan orang tuanya pasca perceraian, membuat Auri lebih memilih mantan ART nya untuk menjadi walinya.
Perjalanan hidup Auri sejak masih kanak-kanak memang tak mudah. Bahkan kehidupan cintanya pun seolah tak berpihak padanya.
Namun sosok pemuda yang tak pernah ia sangka, hadir dalam hidupnya. Dan perlahan mengubah alur hidup Auri.
Ikuti perjalanan hidup Auri yukkk
Welcome di tulisan receh Mak Othor. Semoga Mak Othor bisa konsisten menulis lagi yakk...
Yang kemarin terpaksa hiatus.
terimakasih semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Ada tamu?" Abah basa-basi saat masuk ke ruang tamu. Ia baru saja selesai bersih-bersih kebun belakang. Padahal sejak tadi ia menunggu pesan dari Auri yang minta di jemput.
Awan berdiri dan menyambut uluran tangan Abah.
Bibirnya melengkung sempurna dan terlihat sangat ramah.
"Sehat bah?"
"Alhamdulillah, sok atuh di minum tehnya."
Awan kembali duduk di tempatnya semula. Auri sendiri sedang di kamar untuk mengganti pakaiannya.
"Jadi, Auri dapat teguran?" tanya Abah.
"Betul bah. Tapi sepertinya..." Awan menoleh sebentar ke kamar Auri.
"Auri ngga keberatan?" tanya Abah. Awan mengangguk tipis. Abah berdehem beberapa saat.
"Kalau emang merasa benar, Neng akan tetap kekeuh sama pendiriannya."
Pintu kamar Auri terbuka perlahan. Sosok gadis manis dengan pakaian rumahan itu pun mengernyitkan alisnya melihat dua laki-laki beda usia yang diam menatap nya.
"Naha ningali abdi kitu?" tanya Auri. Abah dan Awan tersenyum kompak.
Auri bergabung dan duduk di samping abahnya.
"Lagi buka aib neng ya Bah ke pak Awan?" tuduh Auri. Awan tersenyum mendengarnya.
"Aib naon sih neng!" sahut Abah.
"Eum...boleh tanya ngga bah?" tanya Awan.
"Kaya lagi acara tanya jawab aja!" celetuk Auri.
"Kamu tuh ya!" Abah menowel ujung hidung Auri.
"Nanya Abah pak Awan?"
"Panggil Awan saja Bah!" ujar Awan.
"Ya udah, mau tanya apa nak Awan?"
"Saya sedikit penasaran Bah. Nama Auri itu terdengar jarang ,mungkin hanya ada beberapa nama 'Auri'. Abah terinspirasi dari apa? Nama dari luar negeri kah?" tanya Awan.
Abah menepuk pelan kedua pahanya dan tersenyum.
"Auri itu singkatan Angkatan Udara Republik Indonesia, karena si neng lahir pada hari peringatan HUT AURI."
Auri menoleh ke Abah nya. Selama ini ia sendiri tidak tahu namanya terinspirasi dari sana. Tapi yang ia tahu, Estheria itu singkatan nama mama dan papa kandungnya.
"Owh...neng ge baru tahu lho bah hehehe. Kenapa atuh neng ga di sekolahin pilot dulu ya?"
Auri mengetuk-ngetuk dagunya.
Awan melihat sisi lain dari rekan guru sekaligus gadis yang ia puja selama ini. Ada hal yang baru ia tahu tentang Auri.
"Kan neng sendiri yang pengen jadi guru SLB lin?" Abah menyahut.
"Iya sih, lagian sekolah pilot pasti mahal juga hihihi."
"Semahal apa pun kalo neng mau mah di usahain neng!" Abah mengacak puncak kepala Auri.
Ya, Auri tahu itu. Tapi ia hanya bercanda soal keinginannya sekolah penerbangan.
"Maaf ya pak Awan, Abah emang sok rame kieu!" kata Auri.
"Di luar jam mengajar panggil nama aja atuh. Jangan pake 'pak' !" kata Awan.
"Heheh muhun Aa Awan."
Hati Awan merasa berbunga-bunga. Apakah Auri akan membuka hati untuk nya?
Obrolan sore itu pun mengalir begitu saja. Tak ada lagi kecanggungan di antara mereka apalagi saat Umi turut bergabung bersama mereka.
.
.
.
"Kasep nyak si Awan teh!" kata Salamah saat mereka sedang makan malam sambil menonton televisi.
"Kasep Abah atuh, Mi!" sahut Abah.
"Ya...si paling kasep...." Umi Salamah turut mengikuti alur candaan suaminya. Auri tertawa pelan mendengar kedua orang tuanya bercanda tentang hal yang sudah jelas dan tak perlu di perjelas.
"Apa dia calon nya Neng?" tanya Abah.
"Calon apa sih Bah? Ngga ya, cuma rekan kerja aja. Ngga lebih "
Salamah dan Aceng saling melempar pandangan. Mereka pikir, Auri sudah move on dari Ikhsan. Nyatanya.... belum!
"Ngga ada salahnya buka hati kamu lagi neng. Abah rasa, nak Awan pria yang baik, sopan, berpendidikan juga kaya kamu."
Auri membuang nafas pelan.
"Tapi neng ngga ada rasa apa-apa sama A Awan, Bah. Murni cuma teman. Ya.... walaupun...memang beberapa kali dia teh nyatain perasaan ke neng. Dia kan teman A Ikhsan juga."
"Neng teh ngga mau gara-gara dia teman Ikhsan?" Salamah sampai memutar bahu Auri.
"Ngga Umi....bukan! Ngga ada urusan sama A Ikhsan."
"Terus kenapa? Toh nak Awan juga ngga kalah kasep dari Ikhsan?"
"Ya Allah umi....atuh kumaha deui...neng teh cuma temenan aja, ngga ada perasaan lebih."
Tampak ada raut kekecewaan di wajah kedua orangtuanya.
"Umi, Abah. Kalian ngga usah khawatir soal jodoh neng. Kalo neng emang di takdirkan punya jodoh ya Alhamdulillah, ngga ya udah..."
"Astaghfirullah neng, jangan ngomong begitu atuh!" umi merangkul bahu Auri. Auri balas memeluk pinggang uminya.
"Neng ngga mau kalau harus meminta pria itu jadi wali nikah Neng."
Suara itu terdengar begitu lirih namun sarat akan kesakitan. Ya, entah sedalam apa trauma yang Auri rasakan.
Keheningan melanda ruangan itu beberapa menit.
"Ya udah Mi, bah. Neng ke kamar dulu ya. Besok pagi neng ke lapak, mumpung lagi di skors. Kaya anak sekolah ya jadi nya Mi heheheh"
Salamah turut tersenyum. Nyatanya, tak di ijinkan mengajar tiga hari tidak membuat gadis itu galau.
Setelah Auri masuk kamar, tinggallah sepasang suami istri itu.
"Neng ngga mau di kasihani, dia akan terus menunjukkan ke orang-orang kalau dia itu mampu."
"Padahal kita tahu, dia rapuh. Ya kan Mi?"
Salamah tampak setuju dengan ucapan suaminya itu.
💗💗💗💗💗
Terimakasih 🤗🙏🏻🙏🏻🙏🏻