Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pagi ini, Sweet Cake tidak membuka pintunya. Viola sengaja meliburkan toko selama satu hari. Bukan karena kehabisan tenaga atau bahan membuat adonan, melainkan karena ia membutuhkan waktu untuk mencari tempat baru.
Kontraknya memang belum berakhir, tetapi ia tidak ingin menunggu sampai waktunya hampir habis.
"Kalau aku menemukan tempat cocok hari ini, setidaknya aku punya waktu untuk mempersiapkan semuanya," gumam Viola dalam hati.
Ia memasukkan ponsel dan dompet ke dalam tas kecilnya. Beberapa alamat bangunan yang ia temukan dari media sosial sudah tersimpan di sana.
Hari ini, ia ingin melihat semuanya secara langsung. Foto bisa terlihat sempurna dari layar, tetapi Viola tahu sebuah tempat usaha tidak bisa dinilai hanya dari foto.
Ia perlu melihat jalan di depannya, merasakan suasananya, memeriksa luas ruangan, tempat parkir, hingga lingkungan sekitar.
Bangunan pertama berada di kawasan yang cukup ramai.
Begitu turun dari kendaraan, Viola langsung memperhatikan jalan di depannya. Lalu lintasnya cukup padat, beberapa toko berdiri berjejer, dan tempat parkirnya lumayan luas.
"Tempatnya bagus." Viola bergumam sambil memandang bangunan dua lantai di hadapannya dengan sedikit ketertarikan.
Pemilik bangunan kemudian mengajaknya masuk. "Kalau untuk usaha kue, bagian belakang bisa dijadikan dapur produksi."
Viola mengangguk sambil memperlihatkan ruangan itu. "Bagaimana dengan harga sewanya, Pak?"
Pemilik bangunan menyebutkan nominalnya.
Senyum Viola perlahan menghilang. "Harga segitu sudah termasuk biaya perawatan?"
"Belum, Bu. Itu hanya harga sewanya," jawab pemilik bangunan.
Viola terdiam. Ia memang menyukai tempat itu. Lokasinya bagus, bangunannya cocok. Namun, angka yang baru saja didengarnya membuatnya harus berpikir ulang.
"Baik, Pak. Saya pertimbangankan dulu." Viola tersenyum sopan sebelum berpamitan.
Begitu keluar dari bangunan itu, ia menghembuskan napas panjang. "Biaya sewanya terlalu tinggi. Tabunganku sulit untuk mencukupi pengeluaran lainnya." Ia membuka catatan di ponselnya dan mencoret pilihan pertama.
Bukan karena tempatnya tidak bagus, justru karena terlalu bagus untuk anggaran yang sudah diperhitungkan.
**
Bangunan kedua tidak jauh berbeda. Lokasinya bahkan lebih strategis. Ada area parkir yang luas dan bagian depan bangunan bisa langsung terlihat dari jalan utama. Viola sempat membayangkan papan nama Sweet Cake terpampang di sana.
"Kalau saya ingin menegosiasikan harga sewanya, masih bisa, Pak?" tanya Viola.
Pemilik bangunan mengangguk. "Bisa dibicarakan."
Harapan kecil muncul di mata Viola. "Kalau begitu, berapa harga terbaik yang bisa Bapak berikan?"
Nominal yang disebutkan membuat Viola kembali terdiam. Masih terlalu tinggi.
Ia menatap bangunan itu sekali lagi. Wajahnya terlihat kecewa, padahal ia merasa tempatnya benar-benar cocok. Namun, Viola tidak boleh membiarkan perasaan membuatnya mengambil keputusan terburu-buru.
"Terima kasih, Pak. Saya pikirkan dulu."
Viola kembali tersenyum sebelum meninggalkan tempat itu.
Begitu berada di luar, ia berhenti sebentar. Angin yang berhembus cukup kencang menyentuh wajahnya. "Kenapa tempat yang cocok selalu mahal?"
Viola tertawa kecil, tetapi tawanya segera berubah menjadi helaan napas.
Ia membuka kembali catatannya. Dua tempat sudah ia datangi. Dua-duanya bagus, berada di luar perkiraan biaya yang sudah ia siapkan. Meski begitu ia belum ingin menyerah. Hari masih panjang, masih ada beberapa bangunan lain yang ingin ia datangi.
**
Bangunan ketiga ternyata tidak lebih baik.
"Dapur produksi bisa diletakkan bagian belakang," ucap pemilik bangunan. "Ruangannya cukup luas."
Viola berjalan perlahan menyusuri ruangan itu. Matanya memperhatikan lantai, dinding, hingga saluran air yang berada di sudut ruangan.
"Kalau saya melakukan sedikit renovasi, apa Bapak mengizinkan?" tanya Viola.
"Selama tidak mengubah struktur bangunan, tentu saja."
Viola mengangguk. Ia bisa membayangkan tempat itu menjadi dapur Sweet Cake. Bahkan ada ruang yang cukup untuk menambah beberapa meja pelanggan. Namun, ketika harga sewanya disebutkan, Viola kembali terdiam.
"Masih bisa dinegosiasikan?" tanyanya penuh harap.
Pemilik bangunan menggeleng. "Angka itu sudah harga terbaik."
Viola tersenyum sopan. "Baik.Terima kasih sudah meluangkan waktunya."
Ia keluar dari bangunan itu dengan langkah pelan. Begitu sampai di trotoar, Viola menatap catatan di ponselnya.
Tiga tempat. Semuanya bagus, tapi harga sewanya terlalu tinggi untuk dompetnya.
Viola menghembuskan napas panjang. Ia mengusap wajahnya pelan. "Kalau begini terus, aku harus mencari ke daerah pinggiran kota."
Meski begitu, ia masih belum menyerah. Masih ada dua bangunan lagi yang ingin dilihatnya sebelum pulang.
**
Bangunan keempat berada di kawasan yang cukup tenang. Dari informasi yang Viola temukan di media sosial, harga sewanya justru masih berada dalam batas yang sanggup ia bayar. Namun, begitu tiba di lokasi, langkahnya langsung terhenti. Sebuah papan kecil terpampang di depan bangunan.
SUDAH DiSEWAKAN.
"Serius?" Viola menatap papan itu dengan kecewa.
Ia segera menghubungi nomor pemilik yang tertera pada iklan lama. Setelah berbicara beberapa saat, Viola akhirnya mengetahui bahwa bangunan tersebut baru saja disewakan pagi tadi pada orang lain.
"Sayang sekali." Viola menurunkan ponselnya.
Tempat itu sebenarnya cukup sesuai dengan kebutuhannya. Harganya masuk akal, lokasinya juga tidak buruk. Hanya saja, ia datang terlambat.
"Kalau saja aku datang sedikit lebih pagi ...." Viola menggantungkan kalimatnya sendiri. Tidak ada gunanya menyesali sesuatu yang sudah berlalu. Ia kemudian berbalik dan melanjutkan perjalanan menuju bangunan terakhir.
**
Bangunan kelima membuat langkah Viola berhenti begitu melihatnya dari kejauhan.
"Sangat indah." Viola bergumam menatap bangunan modern dua lantai. Matanya berbinar cerah.
Lokasinya berada di kawasan yang jauh lebih ramai. Jalan di depannya cukup luas, lalu lintas kendaraan juga padat. Bangunannya tampak kokoh dengan desain modern dan kaca-kaca besar di bagian depan.
Namun, yang paling menarik perhatian Viola adalah rooftop di lantai atas. Tempat itu cukup luas untuk dijadikan area duduk pelanggan. Di bagian belakang bahkan terdapat sebuah rumah sederhana yang bisa digunakan sebagai tempat tinggal. Halamannya luas, parkirannya juga cukup untuk beberapa kendaraan.
"Kalau Sweet Cake ada di sini ...." Viola terdiam. Matanya perlahan menyapu seluruh bangunan.
Dalam pikirannya, etalase kue memenuhi bagian depan. Beberapa meja kecil tersusun di rooftop. Pelanggan duduk menikmati cake sambil mengobrol. Bahkan ia bisa membayangkan dirinya tinggal di rumah kecil di belakang bangunan itu.
Pertama kalinya sejak mencari tempat baru, Viola benar-benar merasa menemukan sesuatu yang ia inginkan. Namun, bayangan itu justru membuatnya tersadar.
"Tempat sebagus ini pasti mahal."
Viola menelan ludah. Meski sudah bisa menebak jawabannya, ia tetap ingin bertanya.
"Permisi, Pak. Saya ingin bertanya mengenai bangunan ini."
Seorang pria yang berada tidak jauh darinya menoleh. "Silakan, Bu."
Viola mendekat. "Kalau boleh tahu, berapa harga sewanya, Pak? Saya sedang mencari tempat untuk toko kue sekaligus tempat tinggal."
Pria itu menggeleng pelan. "Maaf, Bu. Bangunan ini sudah tidak disewakan."
"Apa sudah ada yang menyewanya, Pak?" tanya Viola penasaran. "Tapi sampai tadi pagi, iklannya masih ada di forum?"
"Bukan disewakan lagi, Bu. Tapi sudah terjual pagi tadi."
Viola seketika terdiam. Jawaban itu membuat harapan yang baru saja tumbuh dalam hatinya seketika padam.
"Jadi ... bangunan ini sudah menjadi milik orang lain?"
"Betul, Bu," jawab pria itu.
Viola mengangguk pelan. "Begitu rupanya."
Ia kembali menatap bangunan tersebut. Meski harapan bisa menyewa bangunan itu kecil namun rasa kecewa perlahan memenuhi dadanya.
"Sayang sekali," gumamnya pelan.
Sekali lagi ia menatap bangunan itu. "Sekaya apa orang yang membeli tempat sebagus ini? Harga jualnya pasti sangat tinggi." Pertanyaan itu hanya berputar di dalam pikirannya.
Viola menarik napas panjang. "Kalau aku punya uang sebanyak itu, mungkin aku tidak perlu pusing memikirkan biaya sewa."
Senyum getir muncul di wajahnya. Namun, beberapa detik kemudian, Viola menggeleng. "Sudahlah. Sebaiknya aku kembali ke rumah dan mencari tempat lain di pinggiran kota."
Ia berbalik dan mulai berjalan meninggalkan bangunan tersebut. Langkahnya perlahan menjauh, membawa serta rasa kecewa karena belum menemukan tempat baru untuk tokonya nanti.
***Bersambung.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor