Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kebohongan Yang Terlalu Indah
Sejak pertemuan dengan Pak Wijaya, perubahan perlahan terasa menyelimuti kediaman di atas bukit itu. Arya tak lagi selalu terburu-buru berangkat saat fajar menyingsing, tak lagi pulang dengan wajah penuh amarah yang tertahan. Kadang ia menyempatkan diri duduk bersama Nayara di teras, menatap matahari terbenam tanpa membicarakan ancaman atau dendam. Kadang mereka kembali ke ruang lukis tua itu, mencoba melukis hal-hal sederhana yang dulu pernah menjadi impian Arya.
Namun ketenangan itu ternyata hanyalah samar yang disiapkan oleh musuh-musuhnya.
Sore itu, saat Nayara sedang merapikan buku di perpustakaan kecil, Bima datang dengan langkah tergesa namun berusaha tenang. Wajahnya tampak pucat, seolah membawa kabar yang tak sanggup ia ucapkan.
"Nona Nayara... ada telepon untuk Nona," ucapnya pelan, suaranya berat. "Dari rumah."
Jantung Nayara melonjak senang sekaligus cemas. Sudah berminggu-minggu ia tak bisa berbicara panjang lebar dengan orang tuanya, hanya pesan singkat yang disampaikan lewat perantara. Tanpa berpikir panjang ia segera menyusul Bima ke ruang tengah, mengambil gagang telepon dengan tangan gemetar.
"Halo? Ibu?"
"Ra... Nak..." suara isak tangis ibunya terdengar pecah di seberang sana. "Kapan kau pulang? Ayahmu jatuh sakit, Nak. Dokter bilang ia butuh istirahat dan harus ditemani orang yang disayanginya. Katanya... katanya kau sedang tugas jauh, tapi kenapa kau tak pernah bisa pulang sebentar saja?"
Air mata seketika membanjiri mata Nayara. Tubuhnya lemas, ia nyaris menjatuhkan diri ke kursi. "Ayah sakit? Sakit apa, Bu? Saya akan pulang sekarang juga... saya akan pulang segera..."
"Jangan!" Suara berat Arya tiba-tiba terdengar dari belakang. Ia berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang, namun matanya penuh keprihatinan. "Jangan berjanji dulu."
Nayara menoleh dengan air mata yang terus mengalir. "Tapi Ayah sakit, Arya! Dia mungkin butuh saya... bagaimana jika sesuatu terjadi padanya karena saya tidak ada di sampingnya?"
Arya mendekat perlahan, lalu berbicara ke arah telepon dengan nada tenang namun tegas. "Maaf, Bu. Saya rekan kerja Nayara. Saat ini tugasnya belum selesai dan sangat mendesak. Kami akan usahakan dia pulang secepat mungkin. Tolong jaga kesehatan Ayah dulu."
Setelah meletakkan gagang telepon, keheningan yang menyesakkan menyelimuti mereka. Nayara menatap Arya dengan pandangan yang bercampur sakit hati dan kekecewaan. "Kenapa Anda melakukan itu? Kenapa Anda melarang saya pulang? Apakah bagi Anda rahasia dan kekuasaan lebih penting daripada nyawa Ayah saya?"
"Jangan menuduhku sebelum kau tahu kenyataannya," potong Arya lembut namun tegas. Ia mengeluarkan selembar kertas laporan dari saku jasnya. "Bima baru saja menerima kabar dari orang yang kusuruh mengawasi rumahmu. Ayahmu sehat-sehat saja. Tidak ada yang sakit. Telepon itu disadap, dan suaramu ibumu itu dipaksa oleh orang-orang yang menyerang rumah kita kemarin. Mereka tahu kau akan melakukan apa saja demi keluargamu. Mereka menggunakan mereka sebagai umpan untuk memancingmu keluar, agar aku terpaksa melepaskanmu—atau agar mereka bisa menangkapmu hidup-hidup saat kau mencoba pulang."
Nayara terbelalak, tubuhnya gemetar hebat. "Tidak mungkin... Ibu tidak akan berbohong pada saya..."
"Mereka memberinya pilihan," suara Arya melembut, tangannya menangkup bahu gadis itu. "Bicara seperti itu, atau mereka akan menyakiti ayahmu yang benar-benar tidak bersalah. Itu bukan kebohongan yang dia inginkan, Nayara. Itu kebohongan yang dipaksakan oleh orang-orang yang tak punya hati nurani. Kebohongan yang terlalu indah untuk dipercaya, karena janji bertemu keluarga adalah hal yang paling ingin kau dengar."
Perlahan kesadaran menghantam Nayara. Musuhnya tak segan menggunakan apa saja—bahkan orang yang paling ia cintai—untuk menghancurkan Arya lewat dirinya. Rasa bersalah dan ketakutan bercampur aduk menjadi satu. Ia jatuh berlutut, menangis sejadi-jadinya karena tak berdaya menghadapi kejamnya dunia ini.
Arya ikut berjongkok, memeluknya erat, membiarkan gadis itu meluapkan segala emosinya di dadanya. "Maafkan aku... maafkan aku karena menyeretmu ke dalam semua ini. Tapi percayalah, jika kau melangkah keluar gerbang rumah ini hari ini, kau tidak akan pernah bertemu keluargamu lagi. Dan aku tidak akan sanggup hidup dengan rasa bersalah itu seumur hidupku."
Di tengah tangisnya, Nayara menyadari satu hal yang menyakitkan: terkadang kebenaran terasa lebih kejam daripada kebohongan. Dan terkadang perlindungan yang diberikan justru terasa seperti penghalang yang paling menyedihkan. Namun di pelukan Arya, ia tahu satu hal pasti—pria itu rela menanggung semua kebencian dan kekecewaannya asalkan ia tetap aman.
Lanjut ke Bab 18: Rasa Takut Yang Berubah Menjadi Rindu? 😊