"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"
....
Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 #Retakan diatas kebencian
Keheningan yang menekan usai peristiwa pesanan makanan tadi perlahan terpecah saat pelayan datang membawa nampan berisi pesanan mereka. Bening dengan telaten memindahkan mangkuk sup ayam ke hadapan Kaivandra. Jemari lembutnya bergerak sigap memotong daging ayam menjadi ukuran kecil-kecil, lalu menyendok sedikit kuah dan meniupnya perlahan untuk memastikan suhunya tidak terlalu panas saat disantap sang putra.
"Sebelum makan, kita harus apa, Kai?" bisik Bening lembut, menatap lekat sepasang mata jernih putranya.
"Berdoa dulu, Mama!" jawab Kai riang.
"Pintar. Ayo pimpin doanya, sayang."
Kai menengadahkan kedua tangan mungilnya, mendaraskan doa makan dengan penuh kekhusyukan yang manis. Di seberang meja, Gibran terus memperhatikan setiap detik interaksi hangat itu. Caranya menyayangi Kai, kelembutan tutur katanya, dan kesabaran Bening yang begitu alami... semua itu mengetuk hati nurani Gibran.
Ada rasa tidak tega yang mendadak menyusup ke dadanya saat membayangkan harus memisahkan Kai sepenuhnya dari Bening. Namun, di saat yang sama, benteng gengsi dan luka hati Gibran masih teramat keras untuk mengucap kata maaf atas prasangka perselingkuhan masa lalu.
Lamunan Gibran mendadak pecah saat Kai menelan makanannya dan mendongak menatap Bening.
"Mama... kemarin Mama aman kan di rumah? Om Hendra tidak datang ganggu Mama lagi, kan?" tanya Kai polos.
Bening tersentak kecil, memaksakan senyum menenangkan. "Tidak, sayang... Mama aman kok di rumah."
Mendengar nama itu, alis Gibran berkerut tajam. "Hendra? Kakak kandungmu, Bening?" tanya Gibran dengan nada penasaran yang tak tertahan.
Gibran memang tahu Bening memiliki seorang kakak laki-laki bernama Hendra. Namun, selama tujuh tahun ini Gibran sama sekali tidak tahu bahwa hubungan Bening dan keluarganya telah hancur lebur sejak perceraian mereka. Orang tua Bening membuang dan mencoret namanya begitu saja karena merasa malu memiliki putri yang dituduh berselingkuh. Kini, Hendra justru menjelma menjadi parasit yang terus memeras Bening, menuntut uang dengan alasan menghidupi orang tua mereka, menyalahkan Bening karena jika bukan karena dugaan perselingkuhan itu, keluarga mereka tentu masih menikmati kemewahan sebagai anggota keluarga CEO Aditama Group.
Sebelum Bening sempat menyusun kata-kata untuk menjawab, Kai sudah lebih dulu memotong riang.
"Iya, Papa! Om Hendra sering sekali datang ke rumah. Om Hendra suka marah-marah dan minta uang sama Mama, Kai tidak suka!" cerita Kai jujur. "Tapi untungnya selalu ada Om Arfan yang datang membela Mama. Om Arfan itu baik sekali, Papa!"
Deg.
Kata-kata Kai persis seperti sembilu yang menghantam dada Gibran. Lagi-lagi... nama Arfan tersebut. Lagi-lagi Gibran merasa kalah dari dokter muda itu.
Pria itu mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa asing, sesak, dan bersalah mendadak berbaur menjadi satu. Gibran menyadari betapa banyaknya lembaran kehidupan Bening yang terlewat olehnya. Dulu, usai perceraian pahit itu, Gibran sengaja menutup rapat seluruh akses informasi tentang Bening dan seolah semesta memang mendukung perpisahan mereka, ia tak pernah tahu penderitaan yang diam-diam dipikul mantan istrinya sendirian.
Bening yang menyadari perubahan raut wajah Gibran yang makin mengeras dan tegang segera menyela percakapan itu.
"Ayo Kai, supnya cepat dihabiskan ya," potong Bening lembut namun tegas. "Setelah ini kita harus pulang. Papa pasti sangat sibuk dan harus kembali ke kantor."
"Iya, Mama!" sahut Kai penurut, kembali menikmati makanannya.
Sementara di seberang mereka, Gibran hanya mampu menatap Bening dengan tatapan mata yang dipenuhi kecamuk pertanyaan dan kebingungan yang makin mendalam.
.
.
Usai makan siang yang dipenuhi ketegangan terselubung itu, Gibran mengemudikan mobilnya menuju rumah Bening. Begitu mobil berhenti di depan rumah sewanya, Bening merasa dadanya kembali berdenyut nyeri. Rasa berat melingkupi hatinya karena harus berpisah lagi dengan sang putra.
Bening berdiri luar mobil, merangkul dan memeluk erat tubuh mungil Kaivandra diambang pintu. Ia menghirup aroma tubuh putranya dalam-dalam, berusaha menyimpan rasa hangat itu sebelum melepasnya kembali.
"Anak pintar Mama... jangan nakal ya di rumah Papa," bisik Bening lembut dengan suara gemetar.
"Iya, Mama! Kai janji," sahut Kai riang.
Bening memaksakan senyum paling manis yang ia punya. Ia membantu membimbing Kai duduk dengan nyaman di kursi penumpang depan di sebelah Gibran, memasangkan sabuk pengaman, lalu melambaikan tangan saat mobil mulai melaju menjauh.
Di ambang pintu rumahnya, Bening menatap mobil hitam itu hingga menghilang di belokan jalan. Dalam hati, ia mendaraskan doa paling tulus, berharap Gibran tidak akan pernah menutup akses atau menghalanginya untuk bertemu dengan Kaivandra di kemudian hari.
Sementara itu, di dalam mobil yang sedang membelah jalanan kota, keheningan sempat menguasai kabin. Gibran fokus memegang kemudi, namun pikirannya berkecamuk hebat. Rasa penasaran yang teramat sangat menyiksa batinnya.
Gibran melirik singkat pada putra kecilnya yang sedang menatap luar jendela.
"Kai..." panggil Gibran dengan nada suara selembut mungkin.
"Iya, Papa?" Kai menoleh polos.
"Selama Papa tidak ada... apakah hubungan Mama dengan Om Hendra memang tidak baik-baik saja?" tanya Gibran hati-hati.
Kaivandra, bocah polos yang teramat pintar itu, menjawab apa adanya sesuai dengan apa yang ia lihat selama ini.
"Iya, Papa... Bukan cuma Om Hendra," ucap Kai pelan, raut wajah cerianya sedikit meredup. "Mama sering sekali menangis kalau habis menelpon Kakek dan Nenek. Mereka semua suka marah-marah sama Mama... tapi Kai tidak tahu apa masalahnya. Mama selalu bilang sama Kai kalau semuanya baik-baik saja."
Dada Gibran terasa teremas mendengarnya. "Apa... Kakek dan Nenek sering datang berkunjung ke rumah Mama?"
Kai menggelengkan kepalanya. "Tidak, Papa. Kai cuma pernah mendengar suara galak mereka dari telepon. Kakek dan Nenek belum pernah sekalipun datang berkunjung ke rumah."
Deg.
Jawaban jujur dari bibir kecil Kaivandra seketika menghantam batin Gibran dengan dahsyat. Hatinya berkecamuk hebat, dihantam gelombang rasa bersalah dan iba yang tak terduga.
Ternyata... selama tujuh tahun ini, Bening sudah cukup menderita. Wanita itu tidak hanya kehilangan status dan hidup dalam kesederhanaan, tetapi juga telah menerima hukuman sosial yang begitu berat. Dibuang, dimusuhi, dan tidak lagi diakui oleh keluarga kandungnya sendiri akibat tuduhan pengkhianatan masa lalu itu. Bening memikul semua duka itu sendirian tanpa pernah mengeluh di depan anaknya.
Gibran meremas jemarinya pada kemudi mobil. Niat awalnya yang begitu menggebu-gebu untuk merebut hak asuh sepenuhnya dan memisahkan Bening dari Kaivandra seketika goyah. Rasa tidak tega perlahan-lahan menyusup, meretakkan benteng kebencian yang selama enam tahun ini ia bangun begitu kokoh.
ga bakal ketauan ortu sendiri