NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:32.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 #Retakan diatas kebencian

Keheningan yang menekan usai peristiwa pesanan makanan tadi perlahan terpecah saat pelayan datang membawa nampan berisi pesanan mereka. Bening dengan telaten memindahkan mangkuk sup ayam ke hadapan Kaivandra. Jemari lembutnya bergerak sigap memotong daging ayam menjadi ukuran kecil-kecil, lalu menyendok sedikit kuah dan meniupnya perlahan untuk memastikan suhunya tidak terlalu panas saat disantap sang putra.

​"Sebelum makan, kita harus apa, Kai?" bisik Bening lembut, menatap lekat sepasang mata jernih putranya.

​"Berdoa dulu, Mama!" jawab Kai riang.

​"Pintar. Ayo pimpin doanya, sayang."

​Kai menengadahkan kedua tangan mungilnya, mendaraskan doa makan dengan penuh kekhusyukan yang manis. Di seberang meja, Gibran terus memperhatikan setiap detik interaksi hangat itu. Caranya menyayangi Kai, kelembutan tutur katanya, dan kesabaran Bening yang begitu alami... semua itu mengetuk hati nurani Gibran.

​Ada rasa tidak tega yang mendadak menyusup ke dadanya saat membayangkan harus memisahkan Kai sepenuhnya dari Bening. Namun, di saat yang sama, benteng gengsi dan luka hati Gibran masih teramat keras untuk mengucap kata maaf atas prasangka perselingkuhan masa lalu.

​Lamunan Gibran mendadak pecah saat Kai menelan makanannya dan mendongak menatap Bening.

​"Mama... kemarin Mama aman kan di rumah? Om Hendra tidak datang ganggu Mama lagi, kan?" tanya Kai polos.

​Bening tersentak kecil, memaksakan senyum menenangkan. "Tidak, sayang... Mama aman kok di rumah."

​Mendengar nama itu, alis Gibran berkerut tajam. "Hendra? Kakak kandungmu, Bening?" tanya Gibran dengan nada penasaran yang tak tertahan.

​Gibran memang tahu Bening memiliki seorang kakak laki-laki bernama Hendra. Namun, selama tujuh tahun ini Gibran sama sekali tidak tahu bahwa hubungan Bening dan keluarganya telah hancur lebur sejak perceraian mereka. Orang tua Bening membuang dan mencoret namanya begitu saja karena merasa malu memiliki putri yang dituduh berselingkuh. Kini, Hendra justru menjelma menjadi parasit yang terus memeras Bening, menuntut uang dengan alasan menghidupi orang tua mereka, menyalahkan Bening karena jika bukan karena dugaan perselingkuhan itu, keluarga mereka tentu masih menikmati kemewahan sebagai anggota keluarga CEO Aditama Group.

​Sebelum Bening sempat menyusun kata-kata untuk menjawab, Kai sudah lebih dulu memotong riang.

​"Iya, Papa! Om Hendra sering sekali datang ke rumah. Om Hendra suka marah-marah dan minta uang sama Mama, Kai tidak suka!" cerita Kai jujur. "Tapi untungnya selalu ada Om Arfan yang datang membela Mama. Om Arfan itu baik sekali, Papa!"

​Deg.

​Kata-kata Kai persis seperti sembilu yang menghantam dada Gibran. Lagi-lagi... nama Arfan tersebut. Lagi-lagi Gibran merasa kalah dari dokter muda itu.

​Pria itu mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa asing, sesak, dan bersalah mendadak berbaur menjadi satu. Gibran menyadari betapa banyaknya lembaran kehidupan Bening yang terlewat olehnya. Dulu, usai perceraian pahit itu, Gibran sengaja menutup rapat seluruh akses informasi tentang Bening dan seolah semesta memang mendukung perpisahan mereka, ia tak pernah tahu penderitaan yang diam-diam dipikul mantan istrinya sendirian.

​Bening yang menyadari perubahan raut wajah Gibran yang makin mengeras dan tegang segera menyela percakapan itu.

​"Ayo Kai, supnya cepat dihabiskan ya," potong Bening lembut namun tegas. "Setelah ini kita harus pulang. Papa pasti sangat sibuk dan harus kembali ke kantor."

​"Iya, Mama!" sahut Kai penurut, kembali menikmati makanannya.

​Sementara di seberang mereka, Gibran hanya mampu menatap Bening dengan tatapan mata yang dipenuhi kecamuk pertanyaan dan kebingungan yang makin mendalam.

.

.

Usai makan siang yang dipenuhi ketegangan terselubung itu, Gibran mengemudikan mobilnya menuju rumah Bening. Begitu mobil berhenti di depan rumah sewanya, Bening merasa dadanya kembali berdenyut nyeri. Rasa berat melingkupi hatinya karena harus berpisah lagi dengan sang putra.

Bening berdiri luar mobil, merangkul dan memeluk erat tubuh mungil Kaivandra diambang pintu. Ia menghirup aroma tubuh putranya dalam-dalam, berusaha menyimpan rasa hangat itu sebelum melepasnya kembali.

"Anak pintar Mama... jangan nakal ya di rumah Papa," bisik Bening lembut dengan suara gemetar.

"Iya, Mama! Kai janji," sahut Kai riang.

Bening memaksakan senyum paling manis yang ia punya. Ia membantu membimbing Kai duduk dengan nyaman di kursi penumpang depan di sebelah Gibran, memasangkan sabuk pengaman, lalu melambaikan tangan saat mobil mulai melaju menjauh.

Di ambang pintu rumahnya, Bening menatap mobil hitam itu hingga menghilang di belokan jalan. Dalam hati, ia mendaraskan doa paling tulus, berharap Gibran tidak akan pernah menutup akses atau menghalanginya untuk bertemu dengan Kaivandra di kemudian hari.

Sementara itu, di dalam mobil yang sedang membelah jalanan kota, keheningan sempat menguasai kabin. Gibran fokus memegang kemudi, namun pikirannya berkecamuk hebat. Rasa penasaran yang teramat sangat menyiksa batinnya.

Gibran melirik singkat pada putra kecilnya yang sedang menatap luar jendela.

"Kai..." panggil Gibran dengan nada suara selembut mungkin.

"Iya, Papa?" Kai menoleh polos.

"Selama Papa tidak ada... apakah hubungan Mama dengan Om Hendra memang tidak baik-baik saja?" tanya Gibran hati-hati.

Kaivandra, bocah polos yang teramat pintar itu, menjawab apa adanya sesuai dengan apa yang ia lihat selama ini.

"Iya, Papa... Bukan cuma Om Hendra," ucap Kai pelan, raut wajah cerianya sedikit meredup. "Mama sering sekali menangis kalau habis menelpon Kakek dan Nenek. Mereka semua suka marah-marah sama Mama... tapi Kai tidak tahu apa masalahnya. Mama selalu bilang sama Kai kalau semuanya baik-baik saja."

Dada Gibran terasa teremas mendengarnya. "Apa... Kakek dan Nenek sering datang berkunjung ke rumah Mama?"

Kai menggelengkan kepalanya. "Tidak, Papa. Kai cuma pernah mendengar suara galak mereka dari telepon. Kakek dan Nenek belum pernah sekalipun datang berkunjung ke rumah."

Deg.

Jawaban jujur dari bibir kecil Kaivandra seketika menghantam batin Gibran dengan dahsyat. Hatinya berkecamuk hebat, dihantam gelombang rasa bersalah dan iba yang tak terduga.

Ternyata... selama tujuh tahun ini, Bening sudah cukup menderita. Wanita itu tidak hanya kehilangan status dan hidup dalam kesederhanaan, tetapi juga telah menerima hukuman sosial yang begitu berat. Dibuang, dimusuhi, dan tidak lagi diakui oleh keluarga kandungnya sendiri akibat tuduhan pengkhianatan masa lalu itu. Bening memikul semua duka itu sendirian tanpa pernah mengeluh di depan anaknya.

Gibran meremas jemarinya pada kemudi mobil. Niat awalnya yang begitu menggebu-gebu untuk merebut hak asuh sepenuhnya dan memisahkan Bening dari Kaivandra seketika goyah. Rasa tidak tega perlahan-lahan menyusup, meretakkan benteng kebencian yang selama enam tahun ini ia bangun begitu kokoh.

1
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah bening .... wah hadiah paling top ini 😄🙏
Ariany Sudjana
🤣🤣😂😂 kayaknya harus ke LN tuh, supaya ga diganggu kaivandra
Lisa
😊😊 ya tuh ternyata si jagoan ingin liburan ke pantai juga
Lisa
😊😊 Bpk CEO dikasi tugas negara nih..ayo semangat y Pak buat layang²nya 🤭
Ariany Sudjana
wah kalau kaivandra menyusul, ga jadi tuh misi buat adik buat kaivandra 😄
Ariany Sudjana
betul sekali gilbran, kapan lagi bisa pergi berdua dengan bening? jadi manfaatkan setiap kesempatan yang ada
Ariany Sudjana
skak mat 😂😂🤣🤣 bapak CEO harus buat 10 layangan, waduh siap-siap lembur ini pa bos
Lisa
Puji Tuhan Gibran dpt menangkis botol cairan yg berbahaya itu..
Ariany Sudjana
harusnya cairan kimia itu kena ke Dewi, supaya mukanya jadi rusak .... jadi terbukti kan itu penganiayaan terencana dan hukuman berat menanti 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
like mother like son, sama-sama jahat. kok Gibran ga bawa pengawal? harusnya segera ditangkap Dewi ini, apalagi dia bawa air keras, harus kena pasal penganiayaan terencana ini dan dihukum berat
Lisa
Aduh Ibunya Arfan ini g sadar juga klo anaknya bersalah..ayo Gibran cegah spy cairan itu tdk mengenai Bening.
Ariany Sudjana
puji Tuhan, papa Wira sudah boleh pulang, juga kedua anak buahnya sudah dilepaskan, karena kebaikan hati bening dan Gibran
Lisa: Amin..sekarang keluarga Wiratama utuh kembali..
total 1 replies
Lisa
Puji Tuhan hubungan ortu, anak & menantu udh membaik..bahagia selalu y keluarga kecil ini 😊
Ariany Sudjana
puji Tuhan, hubungan Wira, bening dan Gibran sudah membaik. beruntunglah Wira dan Gibran punya menantu dan istri seperti bening
Lisa
Puji Tuhan Wira sudah sadar dan menceritakan masa lalunya..moga setelah ini kalian hidup bahagia..
Ariany Sudjana
asli part ini /Sob//Sob/

puji Tuhan, papa Wira sudah bisa jujur sama bening dan Gibran, semoga hubungan mertua dan menantu semakin membaik
Ariany Sudjana
gimana pa Wira, bening merawat kamu dengan tulus, padahal kamu membencinya sampai tega memisahkan Gibran dengan bening. tidak semua orang itu culas pa Wira, sebaiknya kamu cerita dengan bening dan Gibran apa yang terjadi di masa lalu, sehingga kamu membenci bening
Lisa: Akhirnya Wira menyadari kesalahannya..
total 1 replies
Ariany Sudjana
Wira kamu bodoh, kamu punya menantu yang baik hati, tapi kamu ga bisa menerima, karena miskin. apa kamu tahu Wira, bening berdoa untuk kesembuhan kamu, eh pas kamu sadar, masih juga sikap kamu seperti ini
Lisa: Benar Kak..Wira itu keras kepala banget..adiknya aja seperti itu seharusnya dia bersyukur msh ada menantu yg mendoakannya..
total 1 replies
Ariany Sudjana
bagus Gibran, dasar pelayan ga tahu diri, sombong sekali

dan Rama, kamu salah cari lawan... kamu akan berhadapan dengan Gibran
Lisa
Jahat banget si Rama itu..moga Wira dpt diselamatkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!