NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UmakAy

Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Sementara itu, Reyhan telah tiba di rumahnya dalam keadaan kacau dan ketakutan. Bayangan kejadian di hutan tadi terus menghantuinya, membuat pikirannya berkecamuk tanpa henti. Ia duduk di sudut kamar, menggenggam kepalanya dengan putus asa.

Reyhan, yang awalnya hanya berniat bersenang-senang dengan liburannya, kini harus menghadapi kenyataan mengerikan. Setiap bayangan tentang Nina dan Gendis menghantuinya, terutama saat ia mengingat tangisan Nina yang akhirnya berhenti ketika napasnya terenggut di tangan Reyhan sendiri. Ketakutan dan rasa bersalah terus mengikutinya, membuatnya sadar bahwa ini bukanlah kejadian yang bisa dia lupakan.

“Bagaimana ini... Aku telah membunuh dua orang sekaligus,” ucapnya penuh frustrasi, suaranya bergetar oleh rasa bersalah dan takut yang menghantui. Ia tak pernah membayangkan bahwa kejadian yang awalnya hanya berniat berburu akan berujung tragis seperti ini.

Hatinya dipenuhi penyesalan, namun ia merasa terlalu takut untuk mengaku atau meminta pertolongan. Rasa bersalah yang kian berat mulai menggerogoti ketenangannya, sementara ia terus memikirkan langkah apa yang harus diambil untuk menanggung konsekuensi dari perbuatannya.

Reyhan menuju kamar mandi, tubuhnya masih gemetar ringan saat ia mengisi bathtub dengan air hangat. Uap yang mulai mengepul dari air memberinya sedikit harapan untuk menenangkan pikirannya yang kacau. Saat tubuhnya tenggelam dalam air hangat, ia berharap kehangatan itu bisa mengusir rasa dingin yang merayap di jiwanya sejak kejadian tragis di hutan.

Namun, meskipun air hangat menyelimuti tubuhnya, pikirannya tetap gelisah.

Bayangan Nina dan Gendis terus muncul di kepalanya, seolah-olah kedua sosok itu tidak akan membiarkannya melupakan perbuatannya.

Setiap percikan air, setiap hembusan napas, terasa berat. Reyhan menutup matanya, berusaha keras mengusir rasa takut yang semakin dalam.

Reyhan memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri, tiba-tiba dia mencium bau daging hangus yang menusuk hidungnya.

Dengan mata masih terpejam, ia menghirup udara di sekitar, mencoba mencari dari mana bau itu berasal. Semakin lama, bau itu semakin kuat, membuatnya tak nyaman.

Reyhan akhirnya memutuskan untuk membuka matanya. Namun, ketika matanya terbuka, ia dikejutkan oleh pemandangan mengerikan. Tepat di depan wajahnya, hanya beberapa sentimeter jauhnya, tampak wajah seorang wanita dengan kulit yang mengelupas, hitam terbakar, dan penuh luka. Mata wanita itu menatap tajam ke arah Reyhan dengan ekspresi penuh amarah.

Reyhan langsung terkejut dan tersentak mundur, jantungnya berdegup kencang.

Tubuhnya terasa beku oleh ketakutan yang tiba-tiba menyerangnya. Sosok itu begitu nyata. Wajah mengerikan itu terus menatapnya tanpa berkedip, membuat Reyhan tak bisa berpaling. Air hangat di sekelilingnya tiba-tiba terasa dingin, dan ketenangan yang tadi ia cari lenyap seketika, digantikan oleh rasa takut yang mencekam.

Reyhan menjerit saat wajah seram itu semakin mendekat, hingga tidak ada jarak sama sekali antara mereka.

Dalam kepanikan, tubuhnya kaku dan sulit bergerak. Lampu kamar mandi yang awalnya terang mulai berkedip-kedip, menciptakan suasana yang semakin mencekam.

Setiap kali lampu berkedip, wajah wanita itu semakin nyata, dan Reyhan merasa seolah jiwanya tersedot.

Namun, tiba-tiba, semuanya hilang. Reyhan tersentak dan membuka mata, napasnya terengah-engah.

Ternyata, dia terbangun dari mimpinya. Dia menyadari bahwa dirinya masih berada di dalam bathtub, tubuhnya masih terendam dalam air yang kini mulai dingin.

Keringat sebesar biji jagung mengalir di keningnya, bercampur dengan air di sekelilingnya.

Jantung Reyhan masih berdebar kencang, dan meski sadar itu hanya mimpi, bayangan wajah wanita mengerikan itu tetap terpatri di pikirannya. Dia mencoba menenangkan diri, namun rasa takut itu masih menggantung, seolah apa yang terjadi di dalam mimpinya bukanlah sekadar ilusi.

Apalagi saat ini, aroma lavender tergantikan oleh bau daging hangus. Cepat-cepat dia menyelesaikan ritual mandinya dan langsung keluar.

*

Di sisi lain, Johan juga diliputi ketakutan yang tak kalah besar. Sesampainya di rumah, ia berjalan dengan langkah tergesa, wajahnya pucat. Ketika ibunya menyapanya dari ruang tamu, ia bahkan tak merespons, seolah tak mendengar apa pun di sekelilingnya.

"Loh, Johan sudah pulang?" sapanya penuh kehangatan, heran melihat putranya yang tampak begitu tergesa.

Namun, Johan tak menjawab, ia langsung berjalan masuk ke kamar dan menutup pintu. Di dalam kamar, ia bersandar di pintu, merasakan tubuhnya gemetar. Pikiran tentang kejadian di hutan terus membayangi, membuatnya merasa tak tenang. Hatinya dihantui rasa takut yang begitu mendalam, seolah bayangan Nina dan Gendis terus menghantuinya dalam diam.

Ibunya, yang merasa ada sesuatu yang tak beres dengan anaknya, segera menyusul ke kamarnya. Rasa cemas menyelimuti dirinya, sebab Johan biasanya tak pernah bertingkah seperti ini.

“Tok tok tok,” ia mengetuk pintu lembut sambil memanggil, “Johan, Nak, kamu baik-baik saja?”

Namun, tak ada sahutan dari dalam kamar. Ibunya mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih keras. “Johan, ini Ibu. Kamu kenapa, Nak? Coba buka pintunya.”

Di balik pintu, Johan terdiam, menahan napas. Ia tak tahu harus menjawab apa atau bagaimana menghadapi ibunya dalam keadaan seperti ini. Pikirannya masih dipenuhi rasa takut dan penyesalan, membuatnya sulit berpikir jernih.

Setelah menarik napas dalam-dalam dan berusaha menenangkan dirinya, Johan akhirnya memutuskan untuk membuka pintu. Ia tak ingin ibunya terus merasa khawatir melihat keadaannya yang begitu kacau.

Ketika pintu terbuka, ibunya menatapnya dengan penuh kecemasan. “Johan, kamu kenapa, Nak? Ibu lihat kamu pulang seperti banyak beban pikiran. Ada apa?”

Johan berusaha tersenyum tipis, meskipun sorot matanya masih menyiratkan kegelisahan. “Tidak apa-apa, Bu. Mungkin tadi aku cuma kecapekan. Maaf kalau membuat Ibu khawatir.”

Ibunya menatapnya ragu, merasa ada sesuatu yang disembunyikan Johan. Namun, ia tak ingin mendesak jika Johan sendiri belum siap berbicara. “Baiklah, kalau begitu, istirahatlah dulu. Kalau ada apa-apa, ingat, kamu bisa cerita pada Ibu.”

Johan mengangguk, berpura-pura tenang meski hatinya masih diliputi ketakutan dan rasa bersalah yang mendalam.

Setelah ibunya beranjak pergi, Johan menutup pintu kamar perlahan dan membiarkan dirinya dalam keheningan l. Ia perlahan duduk di lantai, kepalanya tertunduk, kedua tangannya menggenggam erat, dan bahunya bergetar.

“Ya Tuhan, ampuni aku…” bisiknya lirih, suaranya hampir tak terdengar. Rasa bersalah yang tak tertahankan memenuhi dadanya, membuat napasnya terasa berat.

Ia tak pernah membayangkan hidupnya akan diliputi rasa takut dan dosa seperti ini.

"Ya Tuhan, aku tak tahu harus bagaimana… Jika ada cara untuk memperbaiki semua ini, tunjukkanlah," bisiknya,.

Rasa bersalah yang mendalam seolah menekan jiwanya, dan ia merasa tak berdaya di hadapan kesalahan besar yang kini menghantuinya.

Johan tenggelam dalam hening yang dipenuhi rasa penyesalan dan kegelisahan. Ia berharap masih ada cara untuk menebus kesalahannya. Tapi untuk saat ini, ia belum rela jika harus mendekam di penjara.

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Jadi begitu, ya... Cara licik keluarga Roni...

🤨🤨🤨🤨🤨
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Pengen rasanya masuk ke cerita di BAB ini, terus bantuin Roni buat nonjokin Herman!!! /Determined//Determined//Determined/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ah, sumpah... Merinding pas baca adegan ini... /Panic//Panic//Panic/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
MANTAP!!! SAYA SUKA GAYAMU RONI!!!
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...

💪💪💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo saya yang jadi Nina, pasti udah bales ngomong, "Masih mending kangkung yang saya masak, Bu! Tadinya malah pengen saya masakin OSENG PAKU SAMA BAUT!"

🤣🤣🤣🤣🤣
UmakAy: ngakak kak 🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Duuuh... Sabar ya Nina... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Seru juga ceritanya...

Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...

Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭
UmakAy: biasanya jodoh adalah cerminan diri 🤭
total 1 replies
the virtuso
saling support thor
UmakAy: siap 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!