NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembelajaran Dari Masa Lalu

Mendengar ucapan istrinya, hati Kevin terasa menghangat. Kebahagiaan yang memenuhi dadanya seolah bermekaran seperti ladang bunga di musim semi.

“Kakak malah senang kalau kamu menyuruh orang mengikuti Kakak,” ucapnya sambil tersenyum lembut. “Itu artinya kamu masih peduli. Itu artinya kamu sayang sama Kakak.” Kevin mengecup kening Haselyn cukup lama, seolah ingin menghapus semua jarak yang pernah memisahkan mereka.

Haselyn terkekeh pelan. “Nggak nyangka ya, Kak.”

Ia melepaskan pelukannya, lalu menggenggam kedua tangan Kevin dan menatap manik mata suaminya dengan penuh kehangatan. “Kita benar-benar sudah menikah… dan sekarang tinggal serumah.” Senyumnya perlahan berubah menjadi senyum penuh kenangan.

“Kalau ingat kita yang dulu, rasanya nggak pernah kepikiran kalau akhirnya kita akan sampai di titik ini.”

Kevin ikut tersenyum. “Iya.”

Tatapannya menerawang sesaat. “Kakak masih ingat bagaimana perjuangan Kakak buat minta maaf sama kamu.” Ia terkekeh kecil.

“Bahkan Kakak pernah dipukuli warga satu RT karena terus datang mencari kamu.” Haselyn ikut tertawa pelan, meski matanya mulai berkaca-kaca.

“Maaf dan terima kasih ya, Kak.” Suaranya bergetar.

“Terima kasih karena Kakak tetap bertahan. Terima kasih karena sudah menjadi suami Hasel… dan menjadi ayah terbaik untuk Mario.” Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.

Kevin menatap wajah istrinya dengan penuh kelembutan. Ia mengangkat tangannya, lalu mengecup pelan mata kiri Haselyn, kemudian berpindah ke mata kanannya, seolah ingin menghapus setiap air mata yang jatuh.

“Kakak juga minta maaf.” Suaranya nyaris berbisik.

“Maaf karena pernah menghancurkan masa depanmu.” Napasnya tertahan sejenak. “Maaf karena membuatmu memikul luka yang seharusnya tidak pernah kamu tanggung.” Kevin menggenggam tangan Haselyn lebih erat.

“Dan terima kasih…” Matanya ikut berkaca-kaca.

“Terima kasih karena sudah tetap hidup. Terima kasih karena sudah melahirkan anak kita. Terima kasih karena pada akhirnya kamu masih memilih Kakak menjadi suamimu.” Perlahan, Kevin mendekat dan mengecup bibir Haselyn dengan lembut. Kecupan itu bukan sekadar ungkapan cinta.

Melainkan janji yang diam-diam mereka ucapkan kembali. Bahwa setelah semua luka, penyesalan, dan penantian panjang yang telah mereka lalui, kali ini mereka akan menjaga satu sama lain seumur hidup.

“Aku ingin melupakan semua yang menyakitkan kak” ucapnya dengan suara bergetar “aku ingin mengubur masa lalu menyakitkan dan menjalani hidup bahagia sama kamu kak”

Kevin membawa Haselyn ke dalam pelukannya “semua yang sudah pernah kita lewati tidak bisa kita lupakan begitu saja biarpun kita ingin Hasel” ia belai pelan punggung Haselyn dengan lembut “tapi jadikan masa lalu itu sebagai penguat kita, karena tanpa itu semua, mungkin kita tidak akan mendapatkan ini semua” ucapnya dengan bijak

Haselyn mengangguk pelan “iya kak” kali ini ia sadar ucapan suaminya adalah kebenaran “aku akan ingat pesan kakak”

Tanpa masa lalu tak akan dirinya saat ini. Tanpa masa lalu yang menyakitkan itu, tidak akan ada Haselyn wanita karir yang begitu di segani dan kagumi orang-orang, dan tanpa masa lalu menyakitkan itu, mungkin dia tidak akan memiliki Mario dan juga Kevin dalam hidupnya.

FLASH BACK 10 tahun lalu

“Hasel berangkat dulu ya, Ma!” Haselyn meraih tasnya sambil berlari kecil menuju pintu depan.

“Hasel, nggak sarapan dulu? Sebentar lagi matang kok,” panggil Mayrah Adisti sang mama yang berteriak dari arah dapur.

Aroma nasi goreng yang baru dimasak memenuhi rumah, tetapi Haselyn hanya menggeleng cepat.

“Nggak, Ma. Hasel buru-buru!” Tanpa menunggu jawaban, ia sudah melesat keluar rumah.

Mayrah menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul enam tepat.“Kenapa anak itu selalu buru-buru di jam segini?” gumamnya sambil menggeleng pelan.

Ia tidak pernah tahu bahwa setiap pagi Haselyn memang memiliki tujuan lain sebelum berangkat ke sekolah. Bukan untuk menjadi murid yang datang paling pagi. Melainkan menuju sebuah rumah sederhana yang terletak tidak jauh dari rumah mereka.

Haselyn mengayuh sepedanya dengan cepat hingga berhenti di depan rumah kecil bercat hijau yang sudah sangat akrab baginya.

“Nenek! Sudah siap belum?” teriaknya dari balik pintu.

Pintu terbuka perlahan. Seorang wanita paruh baya keluar sambil membawa tiga kotak makanan berukuran sedang.

“Nenek memang sudah tua, Hasel,” ujar Nenek Imah sambil menggeleng. “Tapi belum tuli.” Tunjuknya ke arah telinga miliknya

Haselyn langsung menyeringai dengan tawa kakunya karena lagi-lagi melakukan kesalahan yang sudah sangat sering di peringatkan oleh wanita paruh baya di hadapannya

Nenek Imah menyerahkan ketiga kotak itu kepadanya. “Dan ingat, kalau bertamu ke rumah orang, ucapkan salam dulu. Jangan teriak-teriak kayak anak hutan.” Peringatnya dengan keras

Haselyn terkekeh sambil menerima kotak-kotak itu. “Maaf, Nek. Hasel suka lupa. Kebiasaan kerja berjualan, jadi kalau manggil orang suka teriak.”

Nenek Imah mendengus geli. “Yang ini nasi goreng, yang ini kue, dan yang ini salad buah. Semua sesuai pesananmu.”

Haselyn membuka setiap kotak sebentar untuk memastikan isinya, lalu mengangguk puas.“Iya, Nek. Makasih banyak.” Ia segera menata ketiga kotak itu di keranjang besar yang terpasang di belakang sepedanya.

Nenek Imah memperhatikan Haselyn dengan tatapan penuh kasih. “Jadi buka kamu membuat pembukaan toko baru kamu”

Haselyn langsung tersenyum lebar. “Jadi dong, Nek! Hasel kan sudah nabung sejak SMP untuk buka toko itu, semuanya sudah hampir rampung kok nek.”

Ia mengikat tali keranjang agar kotak-kotak itu tidak bergeser selama perjalanan. “Lusa pembukaannya. Nenek harus datang, ya.”

Wajah Nenek Imah langsung berubah haru. “Nenek senang sekali kamu akhirnya punya toko sendiri.”

Matanya berkaca-kaca. “Sekarang kamu nggak perlu lagi keliling jualan makanan nenek dari sekolah ke sekolah atau dari ke toko.” Di banding orang lain, nenek Imah lah yang paling tahu bagaimana perjuangan hidup Haselyn.

Perjuangan seorang anak yang merasa di bedakan dan bersikap keras tak beda dengan keluarganya. Namun di balik keras hati seorang Haselyn, tersimpan hati yang lembut dan penuh kasih. Kebaikan hati yang tak harus di umbar tapi terpancar dengan sendirinya melalui sikap nyata.

Haselyn memeluk wanita tua itu erat. “Namanya perjuangan harus dimulai dari nol dulu, Nek.” Suaranya dipenuhi kebanggaan.

“Lihat sekarang, Hasel sudah bisa punya toko sendiri buat jual makanan Nenek. Biarpun dulu harus pakai wajah memelas untuk meminta bantuan untuk berjualan ke beberapa toko dan warung”

Ia tersenyum hangat. “Dan semua ini juga karena Nenek. Kalau bukan karena masakan Nenek yang enak, Hasel nggak mungkin bisa sampai di titik ini.”

Nenek Imah mengusap pelan punggung Haselyn. “Nenek cuma masak, sedang kamu yang terus berusaha memasarkannya.”

“Nggak, Nek.” Haselyn menggeleng. “Nenek sudah percaya sama Hasel dari awal, itu yang paling penting.”

Nenek Imah tersenyum lembut. “Tapi Nenek benar-benar bangga sama kamu. Kamu bukan cuma jual makanan Nenek. Kamu juga mengembangkan usaha-usaha kecilmu sendiri dan beberapa usaha kecil orang lain. Sedikit demi sedikit, semuanya kamu bangun dari hasil kerja kerasmu.”

Haselyn menatap jam tangannya, berpura-pura di kejar waktu tapi aslinya dia tidak ingin menangis karena obrolan nenek Imah. “Hasel pamit dulu ya, Nek. Nanti telat ngantar pesanan.”

“Hati-hati di jalan.”

“Iya, Nek!”

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!