Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Topeng jiwa
Matahari sepenuhnya tenggelam di balik ufuk. Usai berpamitan pada warga desa, Jayengrana kembali mengayunkan langkah, menyusuri rimbunnya belukar di tepi hutan.
Suara jangkrik dan tonggeret saling bersahutan, mengisi keheningan malam yang sejuk. Begitu tiba di bawah naungan beringin tua, ia memutuskan untuk berhenti dan menyandarkan raga. Buntalan bekal dari Ki Jagabaya dibuka; beberapa suapan nasi kering dan seteguk air dingin terasa memadai untuk mengganjal perut yang lapar.
Malam kian merayap gelap. Jayengrana memejamkan mata, membiarkan kelelahan perlahan menguasai kesadarannya.
Namun, di tengah kantuk yang mulai merayap, tanda bekas perjanjian di dadanya mendadak berdenyut. Panas menyengat menusuk kulit.
Satu kali.
Dua kali.
Seketika, sebuah suara bergaung keras. Suara itu tidak memantul dari udara ataupun merambat melalui telinga, melainkan bergema langsung di rongga kepalanya.
"Jayengrana."
Mata Jayengrana terbelalak. Jemarinya refleks mencengkeram erat gagang tombak di sisinya.
"Siapa?" gertaknya, menyapu kegelapan sekitar.
Hutan tetap membisu. Tak ada pergerakan perompak ataupun jelmaan makhluk liar.
"Percuma mengedarkan pandangan. Kehadiranku terpatri di dalam dirimu," desis suara parau berbobot berat itu—suara khas milik Penunggang Perjanjian.
Jayengrana menarik napas panjang, menetralkan desakan darah yang memuncak. "Kau..."
"Ikatan darah telah menyatu sempurna. Sejak detik ini, bisikanku sanggup menjangkau benakmu."
"Haruskah kau muncul dan menggangguku setiap malam?"
Suara tawa bernada rendah bergema lambat, memancarkan kesan geli ketimbang nada hinaan.
"Sama sekali tidak. Aku hanya hadir tatkala simpul kontrakmu mengalami perkembangan."
"Perkembangan?" ulang Jayengrana curiga.
"Tiap kali jiwamu terbukti sanggup menanggung bobot kutukan ini tanpa menjadi gila, segel kekuatanku akan terkelupas satu demi satu. Malam ini, simpul pertamamu telah terbuka."
Jayengrana memilih menahan diri untuk tidak menyela, memberi ruang bagi suara gaib itu untuk menuntaskan uraiannya.
"Topeng Jiwa," sebut sosok itu pelan. "Satu anugerah yang sanggup meretas rupamu."
"Satu bentuk penyamaran?"
"Jauh melampaui itu. Siapa pun yang menatapmu akan memercayai sepenuhnya bahwa wajah baru tersebut merupakan wujud aslimu sejak lahir."
Jayengrana mengusap dagunya, mencerna kegunaan rahasia tersebut. Di tengah perburuannya oleh ribuan prajurit Mataram, kemampuan mengubah identitas visual jelas menjadi senjata yang amat berharga.
"Apakah muslihat ini sanggup mengecoh semua orang?"
"Hampir semua," sahut Penunggang Perjanjian. "Kecuali mereka yang membekali diri dengan kelebihan penglihatan batin, atau jenis entitas tertentu dari alam kelam. Di mata mereka, wujud aslimu tetap terpampang nyata."
"Satu celah yang masih bisa kutoleransi."
"Ketahuilah, Topeng Jiwa hanya mengubah persepsi rupa pada pandangan orang lain. Bentuk fisik ragamu tidak sedikit pun berganti. Bayangkan raut wajah yang kau kehendaki, lalu biarkan pendar energi perjanjian bekerja."
Jayengrana memejamkan mata. Di dalam ingatan, ia memanggil kembali bayangan sesosok petani yang pernah disapanya beberapa hari lalu: berwajah bulat, bertulang pipi lebar, berkulit agak gelap, serta memiliki kumis tipis yang sedikit mencuat.
Detik berikutnya, rasa hangat yang bersumber dari dada merambat naik menuju leher dan menyelimuti seluruh area wajahnya. Rasanya tidak menyengat, melainkan menyerupai usapan lembut aliran air hangat.
Begitu sensasi itu memudar, Jayengrana beranjak mendekati genangan air jernih di sela selusur akar beringin.
Di atas permukaan air yang tenang, bayangan wajah Senopati Jayengrana telah sirna. Paras yang kini terpantul adalah sosok pria paruh baya bertampang kasar dengan rahang lebar dan kumis tipis. Sama sekali tak menyisakan jejak bangsawan maupun perwira perang.
Jemarinya menyentuh tulang pipi, dan bayangan di air memperagakan gerakan serupa tanpa jeda.
"Luar biasa..." bisik Jayengrana.
"Jangan terlalu sering menanggalkan rupamu," peringatan Penunggang Perjanjian kembali terdengar, kini mengalun lebih tipis.
"Mengapa?"
"Semakin sering kau berlindung di balik Topeng Jiwa, semakin cepat ingatanmu mengikis paras aslimu sendiri."
Usai melontarkan teka-teki itu, keheningan kembali menguasai benak Jayengrana. Gema suara sang penunggang benar-benar melenyap, meninggalkan deru angin malam yang berembus dingin.
Jayengrana terus menatap pantulan paras barunya di permukaan air. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah peringatan tadi hanyalah sebuah gertakan... ataukah tenggat awal dari harga mahal yang harus dibayar oleh manusia yang bersekutu dengan kegelapan.