NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Pesan dari Calon Besan

Pratiwi dan Handoko masih belum menyelesaikan makan siang. Mereka menikmatinya seraya terus berbincang hal-hal yang ringan.

"O ya, Pi," ujar Pratiwi setelah beberapa saat. "Kata Raka, keluarga Kania memilih bulan Desember untuk pernikahan mereka."

"Oh, gitu." Handoko mengangguk. "Syukur deh, sesuai dengan keinginan kita, ya, Mi."

"Betul, Pi. Jadi kita bisa lebih tenang mempersiapkan semuanya."

Pratiwi masih menikmati makanannya. Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali teringat sesuatu.

"Eh Pi, minggu depan mami mau ngajak bundanya Kania hunting seragam. Nggak apa-apa, kan?"

"Terserah Mami deh. Tapi mau nggak dianya?"

"Pasti mau lah."

"Ya sudah, kalau mau."

"Papi nggak ada rencana ke mana-mana, kan?"

"Sepertinya begitu."

"Jadi nanti Papi yang antar Mami dan Jeng Mellisa."

Tangan Handoko yang sedang memegang sendok terhenti sejenak. "Mellisa?"

"Iya, bundanya Kania kan namanya Mellisa, masa Papi lupa?."

Handoko tidak langsung menjawab. Entah mengapa, mendengar nama itu keluar begitu saja dari mulut Pratiwi membuat dadanya terasa sedikit sesak. Padahal baru beberapa saat lalu ia sudah duduk berhadapan dengan Mellisa. Mereka berbicara tentang masa lalu yang selama ini terkubur begitu dalam.

Dan sekarang, minggu depan ia harus kembali bertemu dengannya. Bahkan berada dalam satu mobil.

Handoko tahu dirinya harus menjaga sikap. Ia tidak ingin membiarkan perasaan lama yang sempat muncul kembali siang tadi memengaruhi dirinya. Ia juga tidak ingin membuat Pratiwi melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.

"Lho kok Papi diam?" Pratiwi bertanya.

Handoko segera tersadar. Ia tersenyum kecil.

"Enggak. Cuma mikir."

"Mikir apa?"

"Mikir, kenapa kalau ada Papi harus Papi yang jadi sopirnya?"

Pratiwi terkekeh. "Kalau Papi ada, sekali-sekali lah manjain Mami."

Handoko menggeleng pelan. "Haduh, ada-ada aja Mami."

"Tapi Papi mau, kan?"

Handoko tersenyum, meskipun ada sedikit kegelisahan yang ia sembunyikan di balik wajah santainya. "Mau lah. Daripada nanti diomelin sepanjang hari."

"Ihhh, Papiii." Pratiwi tertawa sambil memukul pelan lengan suaminya. Handoko ikut tertawa. Ia berusaha menganggap rencana itu sebagai sesuatu yang biasa.

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu perjalanan minggu depan tidak akan sesederhana yang dibayangkan Pratiwi.

Bukan karena ia tidak ingin mengantar istrinya.

Bukan pula karena keberadaan Mellisa membuatnya merasa tidak nyaman.

Justru itulah masalahnya. Ia takut terlalu nyaman. Takut percakapan kecil di dalam mobil akan kembali membawa mereka pada masa kuliah. Takut satu tatapan, satu senyuman, atau sekadar mendengar suara Mellisa dari kursi belakang mampu membangunkan kembali kenangan yang selama bertahun-tahun berhasil ia simpan.

Dan yang paling ia takutkan adalah dirinya sendiri.

Ia tidak ingin melukai Pratiwi. Tidak ingin mengkhianati rumah tangga yang selama ini mereka jalani dengan baik.

Karena itu, sejak sekarang Handoko sudah berusaha mengingatkan dirinya sendiri untuk menjaga batas.

Apa pun yang terjadi nanti, Mellisa adalah bagian dari masa lalu. Sedangkan Pratiwi adalah istrinya.

Dan ia tidak ingin satu pertemuan dengan masa lalu membuatnya lupa pada kehidupan yang sudah ia pilih.

***

Sejak pulang dari Kafe Biru, Mellisa lebih banyak mengurung diri di kamar. Ia bahkan tidak memiliki keinginan untuk melakukan apa pun. Tas yang tadi dibawanya masih tergeletak begitu saja di kursi, sementara dirinya duduk di tepi tempat tidur dengan pandangan kosong.

Pikirannya terus kembali pada percakapannya dengan Handoko. Semakin ia mengingat semua yang dikatakan laki-laki itu, semakin terasa sesak dadanya.

Selama bertahun-tahun, Mellisa hidup dengan keyakinan bahwa Handoko telah meninggalkannya. Ia mengira laki-laki itu tidak pernah benar-benar serius dengan janji yang pernah mereka ucapkan. Ia bahkan sempat menganggap Handoko bukan laki-laki yang bisa dipegang ucapannya.

Ternyata, semua dugaannya salah. Handoko tidak pernah meninggalkannya. Handoko menunggunya.

Bahkan selama bertahun-tahun, laki-laki itu juga hidup dengan luka yang sama karena mengira Mellisa telah melupakan janji mereka dan memilih laki-laki lain.

Mellisa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya kembali mengalir. "Ya Allah..." suaranya bergetar. "Kenapa semua ini terjadi?"

Ia kemudian merebahkan tubuhnya dan membenamkan wajah ke bantal. Tangis yang sejak tadi ditahannya pecah begitu saja. Bahunya berguncang, sementara kedua tangannya mencengkeram ujung bantal seolah ingin menahan rasa sakit yang memenuhi dadanya.

Kenapa dulu ia begitu mudah percaya? Kenapa ia tidak mencoba mencari tahu lebih jauh? Kenapa ia tidak menelepon Handoko sekali lagi?

Mellisa memejamkan mata rapat-rapat. Ingatannya kembali pada hari ketika ia mendapatkan kabar bahwa Handoko telah pergi ke Solo untuk melamar seorang perempuan. Informasi itu semakin membuatnya sedih. Ia yakin bahwa laki-laki yang dicintainya benar-benar telah mengkhianati janji mereka.

Padahal sekarang ia tahu, semua itu hanyalah kesalahpahaman. "Kenapa aku nggak cari tahu lagi?" isaknya.

Setidaknya, ia bisa menelepon nomor rumah Handoko sekali lagi. Atau menunggu sampai Handoko menghubunginya. Atau mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi.

Apa pun, seharusnya ia lakukan sebelum mengambil keputusan sebesar itu. Mellisa mengangkat wajahnya dari bantal. Matanya sembab dan pipinya basah oleh air mata.

"Kenapa aku langsung percaya begitu saja?"

Tidak ada jawaban. Yang tersisa hanyalah penyesalan. Selama ini, ia mengira hanya dirinya yang menjadi korban dari perpisahan itu. Ia mengira Handoko adalah laki-laki yang dengan mudah melupakan janji mereka.

Namun ternyata, laki-laki itu juga terluka.

Handoko bahkan menjalani hidup dengan keyakinan bahwa dirinyalah yang telah dilupakan. Mellisa kembali membenamkan wajahnya ke bantal.

Betapa banyak waktu yang sudah mereka sia-siakan. Betapa banyak luka yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Dan betapa berbeda hidup mereka seandainya, dulu, ia mau berhenti sejenak dan bertanya sekali lagi kepada Handoko.

Hanya satu panggilan. Hanya satu percakapan.

Mungkin seluruh hidup mereka akan berbeda.

Ketukan pelan di pintu kamar membuat Mellisa mengangkat wajahnya dari bantal. "Bu, makan malam sudah siap."

Mellisa terdiam beberapa saat sebelum menjawab dengan suara yang masih terdengar berat.

"Nanti aja, Bi. Kalau saya lapar, saya ambil makan malamnya."

"Baik, Bu." Langkah ART itu kemudian menjauh dari depan kamarnya.

Mellisa kembali terdiam. Setelah cukup lama membenamkan wajahnya di bantal, akhirnya ia mengangkat tubuhnya dan duduk bersandar di kepala tempat tidur. Matanya masih sembab. Ia mengusap pipinya yang basah, lalu meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di meja samping tempat tidur.

Beberapa notifikasi masuk. Salah satunya berasal dari Pratiwi.

Mellisa membukanya.

[Pratiwi: Jeng, nanti hari Minggu kita hunting baju untuk seragaman keluarga, ya. Kebetulan Papi-nya nggak ada acara, jadi dia siap mengantar kita ke mana saja.]

Mellisa langsung tertegun. Tatapannya terpaku pada layar ponsel. Hari Minggu. Bersama Pratiwi.

Dan Handoko.

Mellisa bahkan belum sempat membayangkan bagaimana harus bersikap jika suatu hari mereka kembali bertemu. Sekarang, ia justru ditawari pergi bersama dalam satu mobil dengan Handoko, sementara perempuan yang kini menjadi istrinya itu duduk di antara mereka.

Dadanya kembali terasa sesak. Bukan karena ia tidak ingin bertemu Handoko. Justru sebaliknya.

Ia takut pertemuan itu akan membuat semuanya terasa semakin sulit.

Bagaimana kalau kenangan lama kembali muncul?

Bagaimana kalau tanpa sengaja ia menunjukkan sesuatu dari sikapnya? Bagaimana kalau Pratiwi menyadari ada sesuatu yang berbeda antara dirinya dan Handoko?

Mellisa menggeleng pelan. Ia tidak boleh berpikir sejauh itu. Pratiwi adalah perempuan baik yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Dan ia tidak ingin membuat perempuan itu merasa tidak nyaman.

Ia pun mengetik balasan.

[Mellisa: Iya, gimana nanti aja ya, Jeng. Tapi saya nggak janji, khawatir ada keperluan urgent yang mendadak.]

Tak lama kemudian, balasan dari Pratiwi masuk.

[Pratiwi: Iya, semoga aja nggak ada keperluan mendadak. Sekalian kita ngobrol-ngobrol masalah-masalah yang lagi hangat, biar makin akrab.]

Mellisa membaca pesan itu beberapa kali. Ada senyum tipis yang muncul di wajahnya, meski matanya masih menyimpan kesedihan.

Pratiwi benar-benar menganggapnya sebagai calon besan yang ingin lebih dekat. Tidak ada sedikit pun kecurigaan dalam pesan itu.

Mellisa akhirnya membalas singkat.

[Mellisa: Iya, Insya Allah.]

Setelah mengirim pesan tersebut, ia meletakkan kembali ponselnya di atas tempat tidur. Namun, pikirannya justru kembali melayang.

Tatapannya menerawang ke depan, sementara kenangan puluhan tahun silam perlahan bermunculan satu per satu.

Ia teringat masa ketika dirinya dan Handoko masih sama-sama muda. Masa ketika hubungan mereka begitu serius dan keduanya sudah memiliki keyakinan bahwa suatu hari nanti mereka akan menjalani kehidupan bersama.

Ada begitu banyak kenangan yang pernah mereka lewati. Percakapan panjang. Tawa sederhana.

Janji-janji yang dulu terasa begitu mudah untuk dipercaya.

Dan sebuah keyakinan bahwa selama mereka saling mencintai, tidak akan ada yang mampu memisahkan mereka.

Mellisa menarik napas panjang. Ternyata hidup tidak sesederhana itu. Satu kesalahpahaman kecil telah membawa mereka ke jalan yang berbeda selama bertahun-tahun.

1
~Ni Inda~
Berattt
Hrsnya gak begini
Lawan dong...tolong
Masa...waktu.. sdh berganti
Pikirkan anak² kalian
Alihkan rasa cinta menjadi persaudaraan
Bisa...bisa kok
Asal kalian lakukan dg sadar...ikhlas
falea sezi
jalang lacur uda tua kok jd pelakor
Jamayah Tambi
Nak jawab macam mana tu Mel.Nak terus terang ke bohong.
sutiasih kasih
km akn meraskn yg di rsakn pratiwi.... saat ankmu mngalami hal yg sm....😔😔
sutiasih kasih
bukan cerita masa lalu... tpi masa skrg... yg kalian rajut....
smoga kalian psangan yg tak tau diri... mnyesal krna tak dpt brfikir jernih... lbh mnfedepsmkam nafsu... shingga tak memikirkn ank" kalian yg skn mnikah....
sebaiknya secptnya trbongkar.... ank" tak jdi.mnikah akn lbh baik... biar ank" mmbenci kelakuan tak patut kalian... handoko dan melisa🙄🙄🙄🙄
Jamayah Tambi
Tanya pada tempat yg betul.Tak tau apa jawaban Melissa.Jujur atau tipu
Jamayah Tambi
Berhenti Handoko,kau dah ada rumah mu sendiri.zPratiwi nak letak kat mana kalau kau mrnikahi Melissa
Jamayah Tambi
Kau ada bini,jaga je bini lau.Bini yg baik dan setia.Biar Melissa dan Randy.Mereka duda dan janda tak ada masalah.Simpan je perasaanmu Handoko
sutiasih kasih: handoko msih brnafsu mngejar bahagia semu di ujung jln kak....
nnti klo smua sdh hancur.... bru dia sadar dan mnyesali... krna tak ada jln untuk kmbali....
total 1 replies
Jamayah Tambi
Mana satu nak pilih Mel
Jamayah Tambi
Kesian juga Si Mellisa tak pernah mengecap bahagia setelah menikah .Kemudian menjada selama puluhan tahun.
Jamayah Tambi
Tak pasal2 bapak mertua jd bapak tiri.Hah pelik tp benar.Orang tua klu jatuh cinta lagi,mesumnya mengalahkan anak muda.
Jamayah Tambi
Jangan ikutvhati Handojo.Ingat umur.Bahagikan anak2 kalian.Mungkin kamu dan Melisa memang tidak berjodoh.Kalau kau menikahi Mekissa bagaimana dgn Pratiwi
Oma Gavin
melisa sadar jgn amnesia ingat anakmu perlu bahagia dgn calonnya jgnnlamu cuma mikir kebahagiaan dan kesenangan mu saja fintaylsma mu udah tutup buku ngga perlu dibuka lagi, jgn korbankan kania demi keegoisanku mu sendiri
Jamayah Tambi: Saranku ,jangan niksh dgn Handoko kerana banyak hati ygvterluka.Pratiwi,kina dan Raka.Klu Randy duda atau hujang terlajak ya nikah saja dgnnya.
total 1 replies
sutiasih kasih
lnjutkn kbodohan oleh nafsumu handoko....
prtemuanmu dgn melisa bukanlah cinta tpi hnya rasa penasaranmu krna km tk mnikah dgnnya saat dulu....
tpi kelak... saat km merealisasikn mnikahi melisa.... km akn tau rsanya mnyesali tindakn bodohmu...
Oma Gavin
feeling ku pernikahan anaknya ngga terealisasi karena kebongkar perselingkuhan ortu masing" mereka pasti malu lebih baik mundur daripada berantakan
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!