Merantau selama enam tahun di Kalimantan sebagai operator buldoser besar dan ekskavator pengeruk nikel—itulah profesi tangguh seorang Tara Pratiwi. Selama itu pula, ia bekerja keras menjadi "pesuruh" andalan bagi bos-bos asing bermata sipit di area pertambangan.
Tara pikir, saat ia pulang kampung nanti, semuanya akan tetap sama seperti saat ia tinggalkan dulu. Oh, tentu saja dugaan itu salah besar! Rupa-rupanya, kompleks perumahan tempat tinggal kedua orang tuanya kini sudah sangat padat, berimpitan dengan tetangga-tetangga baru di sisi kanan dan kiri rumah.
Hingga akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Cakrawala—seorang duda cerai mati dengan satu anak laki-laki super bandel yang siap mengusili hari-hari tenang Tara.
Tara mengacak rambutnya frustrasi. "Haduh, pusing, pusing! Alamat aku pergi nunggang ekskavator lagi ini mah kalau begini caranya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayam lalapan Pak Slamet
"Yah! Kira-kira.... kalau Tara dan Mas Cakra jadi satu, ayah setuju ndak?" Tanya Buk Hayati penasaran, memutar pembicaraan sembari mengamati halaman depan.
Pak Anton menguap lebar, matanya masih awas memandang orang-orangan sawah di kejauhan yang berterbangan tertiup angin sore.
"Setuju saja, mas cakra baik. Sudah dewasa juga, yah sangat bisa kalau di sandingkan dengan tara yang judes gitu." Jawab Pak Anton santai.
Buk Hayati mengangguk-angguk ikut setuju. "Nah itu, maksud ibuk. Kenapa ndak kita jodohkan saja sama tara Mas Cakra itu," ucap Buk Hayati melancarkan ide.
"Niat Ayah emang gitu, daripada cari-cari yang gak jelas, mending sama Cakra. Anak orang k-.... eh, anak orang baik maksud'e," jawab Pak Anton cepat, mengoreksi ucapannya.
'Hampir saja lidahnya keseleo,' batinnya berkata takut.
Sore hari, halaman rumah Pak Sekdes memang tidak pernah sepi. Pokoknya tiap ada kesempatan pasti selalu banyak anak-anak yang datang bermain riang di halaman luas itu.
Di teras samping, Pak Anton terduduk tegak dengan wajah amat serius. Di sampingnya, Cakrawala terduduk tenang, raut wajahnya pun ikut mendadak tegang dan serius.
"Jadi mas cakra suka sama anakku?" Tanya Pak Anton memecah keheningan.
"Nggeh pak!" Jawab Cakra mantap sambil manggut-manggut.
"Betulan? Serius ini," tanya Pak Anton memastikan lagi.
"Nggeh pak! Mohon maaf ini, kalau bapak ndak suka atau marah.... Sa..."
BRAK!
Cakra terkejut setengah mati saat mendengar bunyi gebrakan keras. Meja kayu di depan mereka dipukul cukup kencang oleh Pak Anton.
'Aduh, apa Pak Anton marah?' Batin Cakra bertanya-tanya cemas, memegang dadanya.
"Bagus! Saya setuju." Tutur Pak Anton tiba-tiba dengan wajah penuh semangat.
Cakra melongo kaget. Hampir saja jantungnya copot membayangkan kemungkinan terburuk.
"Kapan mau lamar mas?" Tanya Pak Anton langsung ke inti masalah.
Cakra terkesiap mendengarnya. 'Lampu Hijau!' Batinnya berteriak girang bukan main.
"Eh-... Nanti, nanti malam pak," jawabnya cepat tanpa berpikir panjang.
Pak Anton tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban terburu-buru itu. "Bisa saja mas-mas.... Nanti istriku ngamuk-ngamuk." Seloroh Pak Anton menggeleng-gelengkan kepala.
Cakra hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merutuki jawaban spontannya barusan. Tapi tak bisa dimungkiri, dia jadi sangat semangat saat ditanya kapan mau melamar.
'Walah Tar-tar... pesonamu Edan Tenan.' Batin Cakra menjerit senang, bayangan wajah Tara langsung menari-nari indah di otaknya.
•♡•♡•♡•
"Mas dan Bapak bicara apa tadi sore di Teras?" Kirim pesan Tara pada Cakra.
Namun tak ada balasan, chat-nya masih centang satu. "Kemana perginya Mas Cakra," ujarnya penasaran setengah mati.
"Tar, keluar dulu bentar." Panggil Buk Hayati dari luar kamar.
Tara menghela napas panjang. Wanita itu gegas bangkit membuka pintu lalu menuju depan TV. Terlihat ibuknya serta Candra asik berbaring menonton siaran televisi.
"Ngopo, Buk?" Tanya Tara malas.
Buk Hayati menoleh. "Tar, ke warung makannya Pak Slamet sana. Ibuk tadi pesan ayam lalapan, dia mau nganter tapi anaknya yang biasa kurir ndak ada. Kamu saja sana tolong ambil." Perintah Buk Hayati mutlak.
"Ck, ibuk mah... Bapak sajalah!" Tolak Tara merajuk.
"Loh, bapakmu ndak ada Tar, kamu saja sana." Suruh Buk Hayati.
"Memang kemana bapak? Sudah malam kelayapan." Ucap wanita itu jengkel.
"Ke Balai Desa, ada rapat. Sudah kamu saja sana, Pak Slamet tadi bilang sudah dibungkus, tinggal diambil tok, kok." Ucap Buk Hayati tidak mau dibantah.
Tara menghela napas. Tanpa banyak kata wanita itu gegas menuju kamar, mengganti baju dengan piyama panjang, lalu tanpa banyak basa-basi menuju garasi. Saat melihat ban motornya masih kempes, "Kurang ajar," batinnya jengkel. Alhasil, wanita itu beralih menuju motor ibunya, Fazio kurus berwarna pink.
Tara menyalakan mesin motornya, lalu dengan perasaan kesal mulai mengebut di jalan raya. Tak menunggu lama, motornya perlahan mulai mendekati RM Pak Slamet yang tampak lumayan ramai pengunjung. Tara memarkirkan motornya, berjalan acuh tak acuh lalu masuk ke dalam. Banyak orang yang sedang makan di dalam menoleh pada Tara, namun Tara tampak bomat (bodo amat) saja.
"Misi, Pak Slamet... Ayam Lalapan ibukku mana?" Panggilnya.
Sepasang mata mengintip dari balik pintu dapur. "Oh Tara yo," pastinya. Tara mengangguk. Seorang pria kisaran umur 53 tahun melangkah keluar dengan tubuh pendek dan badan yang gemuk.
"Tadi pesanannya sudah tak bungkus, tapi kamu lama datang, alhasil tak keluarin lagi." Ucapnya tanpa dosa. "Bentar ya, Pak Slamet bungkus lagi, biar masih anget, kan enak makannya." Sambungnya enteng.
"Tapi...." Ah, sudahlah. 'Dasar tongtong,' makinya jengkel dalam hati.
Akhirnya Tara memutuskan untuk menunggu pada meja makan di sudut dekat pintu keluar. Tara merogoh saku, lalu mengeluarkan ponselnya. Tara membuka WhatsApp, melihat pesan untuk Cakra masih centang satu. Tara jadi bertambah jengkel karenanya. Dia memang begitu, kalau sudah menyukai orang pasti kalau ndak ada kabar menjadi kesal—dasar kekanakan!
Tak lama, telinga tajamnya mendengar beberapa suara orang yang baru masuk dan saling mengobrol.
"Mau pesan apa kalian?" Tanya pria di balik meja kasir—pria yang sangat Tara kenal sekali.
"Ayam penyet saja," jawab suara pria.
"Kalau saya ayam lalapan lah, enak kayaknya." Ucap suara wanita.
"Kalau kamu, Ca?" Tanya si pria.
"Terserah Mas Cakra saja lah, aku ikut."
'Loh, Mas Cakra.... masa sih? Batin Tara bertanya-tanya.
sukses slalu y 🫶🫶🫶