NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB_4_Perangkap Pertama Sang Penguasa

BaB_4_Perangkap Pertama Sang Penguasa

Ponsel pintar berbalut casing titanium di dalam saku blazer Teo bergetar pendek. Saat ia membebaskan benda pipih itu dan membaca pesan singkat yang masuk dari siswi suruhannya, rahangnya mengeras. Manik mata obsidiannya berkilat penuh ancaman yang pekat.

`Gavin Adhitama?`

Teo mendesis pelan, mengusap rahangnya yang kaku. Dari sekian banyak manusia di Ozawa School, Gavin adalah satu-satunya sosok yang paling ia benci karena sikap sok suci dan integritasnya yang membosankan.

Dan fakta bahwa 'Alia'—gadis yang baru saja menantangnya secara terbuka di koridor utama—kini berani berbisik-bisik dan membangun kedekatan dengan Ketua OSIS itu, membuat rasa kepemilikan dan ego narsisistik Teo tersulut hebat. Bagi Teo, bahkan barang bekas yang sudah ia buang pun tidak boleh disentuh oleh orang lain tanpa izin darinya.

`"Reno,"` panggil Teo tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Suaranya rendah, namun dipenuhi muatan bahaya yang sanggup membekukan atmosfer ruangan.

Reno, yang sedang meninjau dokumen klub di mejanya, langsung menoleh cepat. Wajahnya menegang melihat kilat murka di mata sahabatnya. `"Ada apa, Teo?"`

`"Siapkan aula olahraga utama untuk jam istirahat pertama. Kosongkan semua murid kelas bawah dari area itu,"` perintah Teo dingin, suaranya tidak menerima bantahan. `"Buat pengumuman khusus dari ruang publikasi. Panggil si anak beasiswa itu ke sana sekarang."`

Bagas terkekeh pelan dari sudut sofa kulit, langsung memahami arah pikiran sang tuan muda. `"Kamu mau memberi dia pelajaran di depan umum lagi, Teo? Bukankah minggu lalu sudah cukup membuat mentalnya runtuh?"`

Teo meletakkan ponselnya di atas meja dengan dentuman pelan yang menggema. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman miring yang picik dan mematikan. `"Dia pikir dia bisa bermain-main dengan membawa nama Gavin di sekolahku? Aku akan menunjukkan padanya siapa pemilik tempat ini yang sebenarnya."`

Saat bel tanda istirahat pertama berkumandang di seluruh penjuru gedung, pengeras suara yang tertanam di sudut atas dinding kelas 11-A berbunyi nyaring. Suara pengurus OSIS bagian publikasi terdengar tegas dan bergema ke setiap sudut ruangan yang mendadak hening.

`"Diberitahukan kepada siswi bernama Alia Anggita dari kelas 11-A, harap segera menghadap ke Aula Olahraga Utama sekarang juga untuk klarifikasi evaluasi beasiswa. Terima kasih."`

Seketika, bagaikan dikomando, seluruh mata murid di kelas 11-A tertuju pada Lea. Tatapan kasihan, ejekan, antisipasi drama, dan cemoohan terselubung kembali mengarah padanya. Mereka semua tahu betul apa arti sebenarnya dari kata 'panggilan ke aula' di bawah perintah Teo Ozawa. Itu bukanlah proses evaluasi administrasi biasa, melainkan panggung pembantaian karakter dan eksekusi sosial.

Namun, Lea hanya menatap pengeras suara di dinding itu dengan ekspresi yang amat datar. Jemari lentiknya dengan sangat tenang merapikan pena dan buku catatannya, memasukkannya satu per satu ke dalam ransel hitamnya, lalu berdiri dari kursinya tanpa ketergesaan sedikit pun.

`Perangkap yang sangat mudah ditebak,` batin Lea seraya mengukir senyum samar di dalam hatinya. `Teo benar-benar pria kekanak-kanakan yang tidak sabaran.`

Lea melangkah keluar dari ruang kelas 11-A, menyusuri koridor panjang lantai dua menuju gedung olahraga utama yang terletak di kompartemen belakang kompleks sekolah. Koridor lantai bawah yang biasanya dipenuhi lalu lalang murid kini tampak agak lengang; murid-murid kelas 10 dan 11 yang tidak berkepentingan sengaja disingkirkan oleh komplotan Teo. Hanya ada beberapa anak kelas 12 dari lingkaran dalam geng Teo yang berdiri bersandar di sepanjang dinding marmer dengan senyum mengejek yang vulgar.

Lea mengabaikan tatapan mata mereka. Ia terus melangkah tegar hingga berdiri di depan pintu ganda berukuran besar milik gedung olahraga. Tanpa ragu, Lea mendorong pintu kayu tebal itu.

`BAM.`

Suara dentum pintu yang tertutup di belakang Lea menggemakan gaung dingin di dalam ruangan yang teramat luas tersebut.

Aula olahraga itu terasa redup dan lembap. Lampu sorot utama sengaja dimatikan, hanya menyisakan berkas-berkas sinar matahari pagi yang menerobos masuk dari barisan jendela tinggi di bagian atas gedung, menciptakan efek bayangan yang dramatis.

Di tengah-tengah lapangan basket marmer yang megah, duduk bersandar pada sebuah kursi kayu berukir mewah, adalah Teo Ozawa.

Di sekeliling sang tiran, Reno, Bagas, dan beberapa anggota geng utamanya berdiri mengitari lapangan. Beberapa di antaranya memainkan bola basket di tangan, sementara yang lain memegang ponsel dengan kamera yang siap merekam.

`"Kamu datang tepat waktu, Alia,"` panggil Teo. Suaranya yang bass bergema memantul di dinding-dinding tinggi aula. Ia perlahan berdiri dari kursi mewahnya, melangkah pelan memutari garis tengah lapangan dengan gestur seorang pemangsa yang sedang mengamati mangsa yang terpojok.

Lea menatap Teo tanpa ada gurat rasa gentar sedikit pun di matanya. Ia berhenti tepat di dekat garis tepi lapangan, melipat kedua tangannya di depan dada. `"Apa tujuan dari panggilan konyol ini, Teo? Kertas evaluasi beasiswaku sudah diserahkan di meja kelas."`

Teo tertawa kecil—sebuah suara tawa yang hampa, kering, dan dipenuhi nada meremehkan. Langkah kakinya yang mantap terhenti persis dua langkah di depan Lea. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Lea dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan pandangan menguliti.

`"Aku mendengar kamu baru saja berakrab-akrab dan berbisik mesra dengan Gavin di kelas,"` ucap Teo. Suaranya berbisik halus, namun memancarkan ancaman yang sangat menusuk. `"Apa kamu pikir dengan mendekati Ketua OSIS yang sok pahlawan itu, posisi beasiswamu akan aman dari genggamanku? Kamu pikir dia bisa menyelamatkanmu?"`

Teo memberikan isyarat tangan pelan pada Bagas. Dalam hitungan detik, Bagas melangkah maju dan melemparkan sebuah berkas dokumen tebal berstempel resmi ke lantai marmer, tepat di depan ujung sepatu Lea.

`"Itu adalah surat rekomendasi pembatalan beasiswa atas namamu,"` lanjut Teo dengan nada suara yang dipenuhi perasaan menang yang dingin. `"Dengan poin tuduhan: pelanggaran berat tata tertib, pencemaran nama baik yayasan sekolah, dan ketidaklayakan standar moral. Satu tanda tanganku di kertas itu sebagai putra ketua yayasan... dan kamu tidak akan pernah memiliki masa depan lagi di sekolah ini, maupun di sekolah mana pun di kota ini."`

Teo sengaja menekankan setiap kata dalam ancamannya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menunggu reaksi berupa linangan air mata, napas yang memburu ketakutan, atau tubuh yang gemetar memohon ampun dari gadis di hadapannya—reaksi standar dari seorang siswi miskin yang masa depannya berada di ujung tanduk.

Namun, Teo sama sekali tidak mendapatkan apa yang ia dambakan.

Lea tidak histeris. Ia bahkan tidak menunjukkan riak terkejut. Lea hanya melirik dokumen tebal di lantai marmer itu sekilas, lalu kembali menegakkan pandangannya, menatap tepat ke dalam manik mata hitam milik Teo. Sorot mata karamel milik Lea memancarkan keangkuhan dan ketenangan yang begitu murni, sebuah dominasi dingin yang membuat Teo dan anggota gengnya mendadak bungkam.

`"Kamu mencoba mengancamku dengan selembar kertas pembatalan beasiswa ini?"` tanya Lea. Suaranya begitu teratur, tenang, dan dipenuhi nada penghinaan yang tajam.

Lea melangkah satu sentimeter mendekat, mengabaikan batas jarak aman di antara mereka. Ia mendongak, menatap tiran di hadapannya dengan sebuah senyuman tipis yang sangat beracun.

`"Tanda tangani kertas itu sekarang juga, Teo,"` bisik Lea dengan ketenangan yang mengerikan. `"Tanda tangani hari ini, dan biarkan seluruh media nasional serta publik melihat bagaimana putra tunggal Ozawa Group yang terhormat menghancurkan siswi beasiswa berprestasi hanya karena dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya baru saja dicampakkan."`

Mata Teo membelalak kaget. Cengkeraman tangannya di saku celana mendadak mengeras. Udara di dalam aula yang luas itu seketika terasa amat mencekik dan beracun.

`"Kamu pikir kamu yang memegang kendali atas hidup dan jalanku di sini?"` lanjut Lea, suaranya makin merendah namun begitu mengintimidasi. `"Ingat kata-kataku ini baik-baik, Teo. Semakin keras kamu mencoba menggunakan kekuasaanmu untuk menghancurkanku... semakin besar panggung yang kamu sediakan untuk meruntuhkan nama besarmu sendiri."`

 

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!