Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.
Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.
Sampai Rayhan Liem kembali.
Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.
Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.
Dan Yola memang berlari. Dua kali.
Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.
Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?
Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?
⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 020
Gelas di Tangan Rayhan
Yola tidak tahu kamera bisa terasa seperti cahaya yang mendorong dada.
Setiap kilatan di depan backdrop membuatnya ingin mundur, meski kamera-kamera itu tidak mengarah kepadanya. Rayhan berdiri di sana dengan Celine di sisinya, menerima salam dari direksi, sponsor, dan beberapa wartawan bisnis. Celine tersenyum sempurna. Tangannya tidak menggandeng Rayhan, hanya sesekali menyentuh lengannya dengan ringan, cukup untuk terlihat dekat tanpa tampak memaksa.
Naomi berdiri di samping Yola sambil menggigit sedotan minuman.
"Aku benci bilang ini, tapi Celine fotogenik banget."
"Naomi."
"Apa? Musuh juga boleh punya kelebihan. Biar kita realistis."
Yola hampir tersenyum, tetapi matanya masih tertahan pada Rayhan. Bahu kanannya tampak lebih baik, walau ia tidak menggerakkan lengan itu terlalu bebas. Saat seorang tamu menepuk sisi kanannya, Ardi langsung maju setengah langkah. Rayhan hanya menoleh sedikit, wajahnya datar.
Celine menyadari itu dan berkata sesuatu kepada tamu tersebut sambil tertawa. Dari jauh, mereka tampak serasi.
Terlalu serasi.
"Kak Yola," Naomi memanggil lebih pelan. "Kita ke meja minuman aja. Kalau berdiri di sini terus, Celine bisa mengira kita penonton setia."
Yola mengangguk.
Mereka bergerak ke sisi ballroom yang lebih tenang. Di sana, meja minuman dihias bunga putih dan lampu kecil. Beberapa tamu mengenali Yola sebagai perempuan yang melindungi Naomi dan menyapanya dengan sopan. Ada yang mengucapkan terima kasih, ada yang memuji keberaniannya, ada juga yang menatap cincin nikahnya sebelum tersenyum terlalu lama.
Yola menjawab secukupnya.
Lalu Daniel datang.
"Kak Yola."
Yola menoleh. Daniel mengenakan setelan abu-abu gelap, lebih formal dari biasanya, tetapi senyumnya tetap sama: hangat dan tidak terburu-buru.
"Pak Daniel. Anda juga hadir?"
"Wijaya Logistics masih tercatat sebagai salah satu mitra distribusi acara." Daniel melirik Naomi, lalu menunduk sopan. "Nona Naomi."
Naomi mengangkat alis. "Formal banget. Tapi halo."
Daniel tersenyum. "Saya takut salah gaya di depan keluarga Hartono."
"Santai aja. Kalau salah, paling aku komentari."
"Itu yang saya takutkan."
Yola tertawa kecil.
Tawa itu keluar sebelum ia sempat menahan. Ringan, pendek, tetapi nyata. Setelah semua ketegangan sejak pintu masuk, lelucon kecil Daniel dan Naomi terasa seperti udara yang akhirnya bisa dihirup.
Daniel menatap Yola sekejap, wajahnya melembut. "Saya senang Kak Yola tertawa."
Yola langsung menurunkan mata. "Maaf."
"Jangan minta maaf karena tertawa."
Naomi menunjuk Daniel dengan gelasnya. "Nah, aku setuju sama Pak Daniel."
"Kalau kalian berdua bekerja sama, aku kalah," kata Yola.
"Bagus. Sesekali Kak Yola harus kalah," jawab Naomi.
Daniel mengeluarkan amplop kecil dari saku jasnya. "Ini daftar supplier yang saya janjikan. Tidak perlu dibaca sekarang. Saya hanya takut lupa."
Yola menerima amplop itu. "Terima kasih. Saya akan cek besok."
"Dewi juga mengirim pesan ke Budi. Katanya Kak Yola terlalu cepat mencatat, jadi dia membuat versi rapi."
Kali ini Yola benar-benar tersenyum. "Dewi benar. Sari sampai memegang dua buku kemarin."
"Sari terlihat seperti sekretaris rapat kabinet," kata Daniel.
Naomi tertawa. "Aku harus lihat ini."
"Jangan," kata Yola, tetapi suaranya ikut tertawa.
Di seberang ballroom, Rayhan melihat semuanya.
Awalnya ia hanya mencari posisi Yola untuk memastikan Rizal tidak terlalu jauh. Itu alasan yang masuk akal. Setelah insiden Hartono, ia memang perlu tahu titik semua orang yang berada di bawah pengamanan Liem.
Namun alasan itu runtuh ketika ia melihat Yola tertawa.
Bukan senyum kecil yang ia curi di ruang keluarga. Bukan senyum sopan untuk tamu. Tawa. Ringan. Dengan kepala sedikit menunduk, mata melembut, dan jari memegang amplop dari Daniel Wijaya.
Daniel berdiri terlalu dekat.
Tidak benar-benar dekat menurut ukuran ballroom. Masih ada jarak sopan. Naomi ada di sana. Banyak orang ada di sana.
Tetap saja, bagi Rayhan, jarak itu terasa kurang.
Celine yang berdiri di sisinya mengikuti arah pandangnya. Senyumnya menipis.
"Itu Daniel Wijaya, kan?" tanyanya.
Rayhan tidak menjawab.
"Teman Kevin?" Celine melanjutkan. "Aku dengar dia sering membantu Yola akhir-akhir ini."
Gelas di tangan Rayhan berhenti di udara.
Celine memperhatikan jari-jarinya. "Baik sekali."
Rayhan menurunkan gelas tanpa minum. "Cukup."
"Aku hanya bicara."
"Aku bilang cukup."
Nada Rayhan tetap rendah. Celine langsung diam, tetapi matanya berkilat. Ia tahu ia menyentuh sesuatu. Yang belum ia tahu, Rayhan sendiri tidak mengerti apa nama sesuatu itu.
Di sisi lain ruangan, Daniel mengatakan sesuatu lagi. Naomi tertawa duluan. Yola menahan senyum, gagal, lalu tertawa kecil.
Rayhan melihat bahu Yola yang sedikit rileks.
Ia melihat tangan Daniel menunjuk amplop, tidak menyentuh Yola sama sekali.
Ia melihat Yola nyaman.
Dan rasa tidak nyaman di dadanya membesar tanpa izin.
Bayangan Kemang muncul lagi tanpa diminta. Kunci kecil yang tergantung di antara tangan Daniel dan Yola. Wajah Yola yang tidak melihat mobilnya, tetapi tetap menutup jari lebih erat pada benda itu. Saat itu Rayhan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia hanya memastikan keamanan.
Sekarang, di ballroom terang, alasan itu terdengar bodoh bahkan di kepalanya sendiri.
Ardi mendekat dari belakang. "Pak, Papa Hartono menunggu di meja depan."
Rayhan tidak bergerak.
"Pak?"
Baru saat itu Rayhan sadar gelas di tangannya mengeluarkan bunyi kecil.
Kaca itu tertekan terlalu kuat oleh jemarinya.
Di bawah lampu ballroom, buku-buku jarinya memutih.
up lagi, Author. banyak-banyak!😅