Kehidupan yang tidak mudah harus aku jalani. Aku Nisya. wanita usia 29 tahun, seorang Ibu dari 3 orang anak. Awal pernikahan hidup kami baik-baik saja dengan ekonomi yang cukup. namun, setelah tiga tahun menikah dan gaji suami ku jauh lebih besar di banding sebelumnya, ia mulai berubah. Mabuk, judi hingga perselingkuhan mewarnai rumah tangga kami. Bahkan uang bulanan yang biasanya lebih dari cukup itu kini berubah menjadi serpihan kenangan. Ya.. Suamiku, Gani. Kini memberikan nafkah kepada kami dengan asal-asalan, bahkan tak jarang ia justru memberikan makian disaat aku meminta hak kami.
"Kerja kalau mau uang tuh, kerjaannya minta terus. Kamu gak tau kan kalau kerja itu capek, kamu taunya hanya minta saja!" selalu kata itu yang terucap.
Mulai dari situ, hidupku aku rubah. Aku tak ingin lagi berleha-leha. aku ingin merubah hidupku bagaimana pun caranya.
Mari ikuti kisah perjalanan aku mengubah hidupku kali ini😊
Fb : Adivahalwahasanah
Ig : @Adivahasanah
Tt : A.H Hasanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
"Mbak... Mbak.... " Lia berlari menghampiriku yang tengah duduk di sofa menyandarkan punggung menghilangkan kepenatan hari ini.
"Kenapa Li?" tanyaku tanpa mengalihkan pandangan.
"Mbak... Liat ini, kejadian tadi viral di media sosial Mbak!" kata Lia membuatku membulatkan mata dan langsung terduduk tegak.
"Viral? Apa maksud kamu?" tanyaku.
"Ini Mbak liat aja sendiri, Mbak Nisya pasti syok. Aku aja nggak nyangka kalau kejadian itu ada yang merekam bahkan sampai viral di media sosial, Mbak apa yang akan Mbak lakukan setelah ini?" tanya Lia membuatku memijit kening.
"Lia... Mbak aja belum kamu tunjukkan vidio nya seperti apa, jadi Mbak belum tau lah harus melakukan apa! Lagian, Mbak juga gak tau harus melakukan apa kaya gimana. Kalau vidio itu viral ya biarkan saja, pasti nggak merugikan kita kan?" kataku membuat Lia langsung memberikan ponselnya padaku.
"Ini Mbak liat sendiri aja, Lia nggak bisa ngomong apa-apa sih.. Tapi Mbak bener, kalau disitu nggak merugikan kita sama sekali karna semua nya terekam mulai dari mertua Mbak yang datang dan buat keributan dirumah ini sampai mertua Mbak itu menampar Mbak juga terekam dengan jelas!" kata Lia dengan semangat.
Aku masih dengan serius mengamati vidio di ponsel Lia, sepertinya orang yang memvidiokan ini tidak sengaja merekam kejadian dari awalnya karna dari awal dia hanya memvidiokan keadaan sekitar komplek sampai akhirnya tepat di depan rumahku dengan Ibu Ratih yang tengah menggedornya dengan kencang.
"Yasudahlah nggak perlu di pikirkan, lagian vidio kaya gini di posting. Nggak banget sih yang upload!" kataku.
"Iihhh Mbak... Justru vidio yang kaya gini tau yang bikin rame penonton, liat tuh komennya aja sampe ribuan padahal baru beberapa jam yang lalu. Udah gitu kebanyakan netizen yang dukung Mbak dan menghujat mertua Mbak dan bang Gani lagi, mereka juga gemes Mbak sama mertua dan suami yang kayak gitu. Cerita Mbak ini kaya cerita di novel-novel gitu menurut mereka" kata Lia dengan kekehan kecil.
"ck.. Mereka aja yang kebanyakan baca novel sampe kebawa suasana, banyak kali mertua yang kayak gitu. Contohnya aja nih ya film ipar adalah maut, itu kan film terinspirasi dari novel salah satu penulis yang viral itu kan? Tapi siapa sangka kalau itu kisah nyata dari followersnya, iyakan?" kataku membuat Lia menganggukkan kepala.
"Iyaa Mbak bener juga sih, tapi cerita Mbak ini nggak terinspirasi dari novel itu jadi siaran Live? Kan nggak lucu Mbak kalau kejadian nyata yang bukan film bioskop ngikutin drama novel!" kata Lia membuatku membelalakan mata.
"Heh, mana ada juga yang mau ngikutin novel dalam kehidupan nyata. Kalau pun ada Mbak lebih milih jadi upik abu yang di nikahi sama pangeran kaya raya, bukan punya mertua dan suami macam dakjal begitu!" kataku membuat Lia tertawa kencang.
"Ahahahahahaaa iya iyaa bener juga kamu Mbak. Tapi Mbak, btw nanti kalau kamu diundang stasiun tv buay datang ke acara mereka aku ikut ya Mbak. Nanti kalau Mbak terkenal terus jadi brand Ambasador dari produk-produk, boleh lah Lia jadi managernya" kata Lia menaik turunkan alisnya.
"Apa sih kamu, terus aja menghayal kayak gitu. Belum tentu juga aku mau dateng ke acara-acara kayak gitu!" kataku membuat dahi Lia menyerit heran.
"Lah kenapa? Kan lumayan Mbak, Mbak nanti bisa famous loh. Mbak bisa punya pemasukan sendiri buat menghidupi anak-anak" kata Lia.
"Buat apa kalau Mbak harus membongkar aib rumah tangga Mbak sendiri, jejak digital itu selamanya Li. Mbak nggak mau suatu saat anak-anak melihat dan mendengar perkataan Mbak yang menceritakan kronologi itu, karna itu pasti akan mempengaruhi mental mereka!" kataku.
"Tapi, gimana sama vidio yang sudah beredar itu Mbak? Bukannya itu yang paling membuat mental mereka berantakan?" tanya Lia.
"Yang sudah beredar ya biarkan saja Li, setidaknya mereka tau kalau bukan Bunda mereka sendiri yang menyebarkan itu. Mereka bisa menilai kalau Mbak mu ini nggak salah dalam hal itu" kataku yang juga di benarkan oleh mama yang tiba-tiba saja datang.
"Betul apa yang Mbak kamu bilang, Nggak baik membongkar aib rumah tangga Li. Tapi yang udah tersebar biarkanlah, toh orang-orang sendiri yang menilai siapa yang salah dan siapa yang benar. Selain itu menjaga mental ketiga anak Mbak mu itu sekarang tugas kita, biarkan mereka melihat apa yang sudah tersebar hari ini karna itu bukan kita yang melakukan. Tapi, jangan sampai klarifikasi dari Mbak mu atas vidio viral itu membuat mental anak-anak jadi lebih terganggu. Cukup mereka tau bagaimana nenek, bude dan juga Ayah mereka memperlakukan Bunda nya, jangan sampai mereka berfikir kalau kita dengan sengaja lebih merendahkan keluarga Ayah mereka dengan mengirim Mbakmu mengklarifikasi vidio itu ke podcas-podcas atau acara-acara stasiun tv itu!" Kata Mama membuatku dan juga Lia serempak menganggukkan kepala.
"Iyaa bener juga sih, tapi Mama setuju kan sama aku kalau kisah Mbak Lia ini seperti kisah-kisah di novel-novel yang drama pernikahan gitu?" kata Lia dengan senyum menjengkelkan.
"Hush.. Udah nggak usah bahas kayak gituan, mendingan kamu berdoa supaya kamu sendiri nggak mendapatkan suami, mertua dan ipar seperti mereka biar nggak ada kisah novel jilid 2!" kata Mama membuat Lia tertawa dengan hati yang puas.
"Nah... Nah... Mama aja nggak ngelak Mbak kalau kisah kamu ini kayak novel-novel itu!" kata Lia membuatku mengerucutkan bibir.
"Liaaa.... Awas ya kamu....!!!" geramku dengan mata melotot.
"Hehe ampun Mbak... Btw bocil-bocil kemana ya? Kok nggak keliatan?" tanya Lia yang tidak melihat ketiga anakku.
"Mereka lagi ke minimarket depan komplek sama Om-Om nya, beli jajanan buat di jalan nanti pas mau jalan-jalan liburan keluarga kita!" kata Mama.
"Waaahh Waaahhh kok aku nggak di ajak sih, waahhh nggak bisa nih harus aku susul!!" kata Lia yang langsung berlari keluar rumah dengan membawa ponsel dan juga kunci motor miliknya.
"Anak itu... Udah tua tapi nggak mau ngalah sama sekali...!!" kata Mama bergumam.
"Namanya juga anak bontot Ma, mana mau kalah sama ponakan!" kataku dengan kekehan kecil.
"Iya... Yang penting nggak di ajak berantem terus aja sih...!" kata Mama.
"Apaan... Setiap hari juga udah di ajak berantem terus...!" kataku membuat Mama terkekeh kecil.
Tak sampai lima menit, kami melihat Lia berjalan dengan langkah lunglai menghampiri kami kembali.
"kenapa muka kamu ditekuk begitu? Tadi katanya mau nyusul ke minimarket" tanya Mama pada Lia.
"aku udah nyusulin kesana, tapi baru sampai depan gerbang mereka udah pulang duluan!" kata Lia membuatku menahan tawa.
"Tuh mereka pulang...." kata lanjutnya dengan bibir mengerucut.
"yaudah si kamu jalan sendiri kesana, kan bisa...." kata Mama membuat Lia menghela nafas kasar.
"Mana bisa.... Bocil-bocil itu di jajanin sama Mas Ryan sama Mas Syahrul, Lia juga mau...." kata Lia dengan rengekan yang terdengar persis seperti Adila.
"Apa sih kamu... Kayak Adila aja ngerengek kayak gitu? Kamu kan punya uang sendiri, masa nggak mau ngalah banget sama ponakan sendiri!" kata Mama membuat Lia mengerucutkan bibir.
"Mama mah begitu......." kata Lia dengan mata berkaca-kaca.
"Ada apa sih ini ribut-ribut?" tanya Syahrul yang baru saja masuk kedalam rumah bersama ketiga anakku dan juga Ryan.
"Ini adik kamu mau jajan... Tadi dia mau nyamperin kalian, tapi katanya kalian udah arah pulang kesini makanya dia nggak jadi nyamperin!" kata Mama.
"oh gitu... Tinggal jalan aja sendiri sih Li, kan biasanya juga jalan sendiri kesana beli matcha!" kata Ryan.
"Nggak biasanya lah kalau sekarang, Lia kan juga pengen di bayarin kalian masa bocil tiga itu doang!" kata Lia membuat kedua Mas nya saling pandang.
"Idiihh nggak mau kalah banget sama ponakan ya..." kata Syahrul menepuk punggung Lia yang berada di sebelahnya.
"Ante... Ini buat ante loh..." kata Adila memberikan satu kresek penuh berisi jajanan yang sudah dia pilihkan untuk Lia.
"Buat Ante? yang bener cil...!" kata Lia dengan mata berbinar.
"Kalau nggak mau... Yaudah nggak jadi, mendingan buat Dila aja sama Hawa....!" kata Adila yang mengambil kembali plastik yang tadi ia ulurkan untuk Lia.
"Eehhh... Nggak bisa gitu dong...."
Bersambung...
****
Maaf ya guys... Sehabis malam itu aku nggak pernah update lagi, aku bener bener lagi syok saat itu... Mari kita lanjutkan ya.... Terimakasih...