NovelToon NovelToon
Benang Merah Diujung Mimpi

Benang Merah Diujung Mimpi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / SPYxFAMILY
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

No Plagiat ❌


Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.

Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.

Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dasar manusia kaku

Terlihat wajah Pak Boby penuh kekhawatiran.

“Anu... Nona Muda.”

Damian yang masih menatap Valerie, menoleh kearah Pak Boby.

“Ada apa?”

“Nona Valerie belum makan sejak siang.”

Damian langsung mengernyit.

“Belum makan?”

Pak Boby mengangguk pelan.

“Sejak keluar tadi siang, Nona menolak saya antarkan ke restauran.”

Damian terdiam beberapa saat.

“Dia tidak boleh sakit lagi.” gumamnya lirih.

Ia mengembuskan napas panjang sebelum memanggil salah satu pelayan.

“Clara.”

Tak lama kemudian Clara datang.

“Iya, Tuan.”

“Tolong buatkan semangkuk sup hangat. Jangan terlalu pedas, jangan terlalu berminyak. Yang aman untuk lambung.”

“Baik, Tuan Muda.”

Clara segera bergegas menuju dapur.

Di lantai dua.

Valerie baru saja selesai mandi. Rambut panjangnya masih sedikit basah, sementara ia mengenakan piyama berwarna krem. Saat hendak mematikan lampu, terdengar suara ketukan di pintu.

Tok... Tok... Tok...

Valerie membuka pintu.

Seketika ia terdiam.

Damian berdiri di depan kamarnya sambil membawa sebuah nampan berisi semangkuk sup hangat yang masih mengepulkan uap.

Tatapan Valerie dipenuhi kebingungan.

“Ada apa?”

Tanpa menjawab, Damian melangkah masuk begitu saja.

“Hei?”

Valerie belum sempat memprotes ketika Damian sudah meletakkan nampan itu di atas meja.

Damian kemudian berbalik, dengan santainya ia menggenggam pergelangan tangan Valerie.

“Duduklah.”

“Kamu ngapain sih?”

“Duduk.”

Valerie akhirnya terduduk di sofa.

Damian mengambil mangkuk sup itu.

Ia mengaduk perlahan, lalu meniup sesendok sup hingga uap panasnya berkurang.

“Buka mulutmu.”

Valerie membelalak.

“Apa?”

“Aaa...”

Valerie menatap Damian seolah melihat orang paling menyebalkan didunia. Melihat tiba-tiba berniat menyuapinya. Kesal dengan sikap Damian yang bertindak seolah tidak terjadi apa-apa, Valerie kembali berdiri.

“Damian!”

Damian menaruh mangkuk sup tersebut lalu meletakkannya kembali di meja.

“Aku bisa makan sendiri.”

“Jadi, tolong keluar dari kamarku!”

Damian menghela napas pelan.

“Valerie...”

“Sekarang!”

Tatapan Valerie begitu dingin.

Damian benar-benar tidak mengerti. Ia sudah beberapa kali membujuk Valerie agar kembali seperti biasanya. Namun, kehadirannya saja seolah membuat gadis itu muak.

“Aku hanya tidak ingin kamu tidur dalam perut lapar.”

“Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku masih bisa makan sendiri.”

“Ya kalau begitu...”

“Apa?”

Valerie menatapnya tajam.

Damian mengusap tengkuknya dengan frustrasi, ia benar-benar kehabisan cara.

“Kamu ini memang keras kepala.”

Valerie menatapnya kesal.

“Dan sangat kekanak-kanakan.”

Sorot mata Valerie langsung berubah tajam.

Damian melanjutkan tanpa sadar.

“Kalau sikapmu seperti ini terus... Pria mana yang sanggup menyukai dan menikahimu?”

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

BRUKK!

Sebuah bantal melayang tepat menghantam dada Damian.

“Hei...!”

Valerie mendekat sambil menunjuk Damian dengan kesal.

“Dasar bodoh!”

Damian mengernyit.

“Kamu memang pintar menjadi atasan.”

“Tapi sama sekali tidak pintar menjadi teman hidup!”

Damian terdiam.

Valerie semakin emosi.

“Kamu benar-benar katrok!”

Damian mengangkat sebelah alis.

“Payah menangani drama yang bahkan sudah basi!”

Valerie mendorong dada Damian dengan kesal.

“Keluar dari kamarku!”

Namun dorongan itu justru membuat keseimbangan tubuh Valerie hilang.

“KYAA...!”

Tubuhnya oleng ke belakang.

Refleks Damian bergerak cepat. Satu tangannya langsung meraih pinggang Valerie, sementara tangan satunya menahan kepala Valerie agar tidak membentur lantai.

BRAK!

Tubuh mereka berhenti hanya beberapa senti dari lantai. Namun karena gerakan yang terlalu cepat, bibir mereka saling bertemu.

Keduanya membeku.

Mata Valerie membelalak lebar, begitu pula Damian.

Tidak ada yang bergerak.

Hanya suara detak jantung yang terdengar semakin keras di antara mereka, beberapa detik terasa seperti berjalan sangat lambat.

Damian adalah orang pertama yang tersadar. Ia perlahan menjauh, tetapi tatapannya masih terpaku pada wajah Valerie yang memerah karena terkejut.

Sementara Valerie masih mematung, napasnya tercekat, bahkan otaknya seolah berhenti bekerja.

Tak satu pun dari mereka menyangka, pertengkaran malam itu justru berakhir dengan sebuah ciuman yang sama sekali tidak direncanakan.

Valerie masih terduduk di lantai, napasnya belum sepenuhnya kembali normal. Perlahan, jemarinya terangkat menyentuh bibirnya sendiri.

Hangat, masih terasa hangat. Tatapannya perlahan beralih kepada Damian yang masih berlutut di hadapannya.

Keduanya saling diam, tidak ada satu pun yang tahu harus berkata apa.

Beberapa saat kemudian, Damian menggaruk tengkuknya dengan canggung. Senyum tipis muncul di wajahnya.

“A-aku... tidak berniat menciummu.”

“Aku hanya ingin menolongmu supaya tidak jatuh.”

Namun, bukannya meredakan suasana. Ucapan itu justru membuat tatapan Valerie berubah, sorot matanya perlahan dipenuhi amarah. Damian yang menyadari perubahan itu langsung berdiri.

“Valerie...?”

Ia mundur selangkah, lalu selangkah lagi.

Sementara Valerie bangkit perlahan, ia tidak melepas tatapannya dari Damian.

Setiap langkah Valerie membuat Damian tanpa sadar terus mundur. Hingga akhirnya punggung Damian hampir menyentuh pintu kamar.

“Kenapa?!”

Suara Valerie terdengar pelan, tapi justru terdengar jauh lebih menakutkan.

“Kenapa kamu begitu terobsesi dengan bibirku... kalau memang tidak ingin aku mencintaimu?”

Damian terdiam.

“Mengapa kamu terus menggangguku?”

“Mengapa kamu terus muncul saat aku berusaha menjauh?”

Langkah Valerie semakin mendekat.

“Mengapa tidak membiarkanku hidup tenang?”

Damian membuka mulut, namun tak ada suara yang keluar.

“Mengapa kamu selalu hadir, seolah-olah memberiku harapan...”

“Dapatkah Tuan Muda Robert menjelaskan kepada ku?”

Damian benar-benar kehilangan kata-kata, ia berkali-kali menelan ludah dan hanya bisa menatap Valerie.

Entah mengapa, melihat Valerie yang marah justru membuat sudut bibirnya terangkat kecil. Senyum canggung yang bahkan terlihat seperti orang bodoh.

Valerie mengembuskan napas tajam, tangannya terangkat menunjuk ke arah pintu.

“Keluar dari kamarku!”

Damian tidak bergerak.

“Val...”

Valerie melotot dan memiringkan wajahnya.

Damian akhirnya menghela napas.

“Baiklah aku akan jujur, aku memang tidak suka kalau kamu menjaga jarak dariku.”

Valerie mengangkat sebelah alis.

“Aku mulai terbiasa denganmu yang selalu ada di sekitarku.”

“Aku akui mulai nyaman mengobrol denganmu, nyaman bertengkar denganmu, dan bahkan nyaman dengan semua interaksi kita.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi...”

“Jangan ada perasaan diantara kita berdua.”

Kalimat itu benar-benar membuat Valerie muak. Valerie tertawa terbahak-bahak, tapi tawa itu terasa menakutkan.

Lalu.

BRUK!

Valerie kembali meraih bantal di sofa.

Damian yang melihat tatapan Valerie langsung membelalak.

“Valerie, tunggu dulu...”

“Keluar Babi.”

Valerie mengangkat bantal itu tinggi-tinggi.

“Aku hitung sampai tiga!”

“Satu...”

Damian langsung membuka pintu.

“Dua...”

“Aku keluar! Aku keluar!”

“Tiga!”

Sebuah bantal melayang tepat saat Damian berhasil keluar dari kamar.

BUK!

Bantal itu menghantam daun pintu.

BRAK!

Valerie membanting pintunya dengan keras hingga seluruh lorong mansion bergema.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!