Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Reuni di Tengah Kabut
Kelopak mata Shen Liya terasa begitu berat, seolah ditahan oleh ribuan benang timah yang kaku. Ketika ia akhirnya berhasil membuka mata, hal pertama yang ia tangkap adalah temaram cahaya lilin yang menari-nari di dinding bambu pondok. Aroma pekat dari rebusan akar manis dan daun mint liar menyerbu indra penciumannya.
Aroma ini... suasana kamar ini...
Shen Liya tersentak. Ia langsung bangkit duduk di atas ranjang dengan insting waspada yang penuh. Detak jantungnya berpacu liar saat matanya menyapu sekeliling ruangan. Kamar tidur ini, ranjang kayu ini, bahkan letak meja kecil di sudut ruangan semuanya sama persis dengan tempat yang ia tinggalkan delapan tahun lalu di Gunung Han.
"Ibu! Kau sudah sadar?"
Suara kecil yang familier itu seketika meredakan kepanikan di dada Shen Liya. Ia menoleh ke samping dan menemukan Gu Yu kecil sedang duduk siaga di atas kursi kayu dekat ranjang, memegangi mangkuk air hangat.
"Yu'er..." suara Shen Liya terdengar serak dan lemah. Ia mengulurkan tangannya, mengelus pipi putranya untuk memastikan ini semua bukan sekadar ilusi dari mimpi buruk akhir hayatnya. "Kita... di mana kita sekarang? Bukankah tadi di hutan gubuknya sudah tidak ada?"
Sebelum Gu Yu sempat menjawab, suara langkah kaki yang konstan dan berat terdengar dari arah pintu kamar.
Sesosok pria jangkung dengan jubah rami abu-abu kasar melangkah masuk. Tangannya memegang sebuah nampan kayu berisi semangkuk obat hitam yang mengepulkan asap tipis. Wajah tampannya yang beralur dingin menatap lurus ke arah Shen Liya, memancarkan ketenangan kokoh yang tidak pernah berubah dimakan waktu.
Dia adalah Gu Jue. Atau di mata Shen Liya, pria itu adalah Ah Jue—sang tabib fana yang delapan tahun lalu ia bius demi melindunginya.
Shen Liya membeku di atas ranjang. Sepasang mata indahnya membelalak sempurna, dan napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Air mata yang selama bertahun-tahun ia bendung di pelosok dunia fana mendadak menggenang, mengaburkan pandangannya.
Pria itu nyata. Dia tidak mati dibantai oleh pasukan zirah emas Ling Cang. Dia masih hidup, sehat, dan berdiri di depannya dengan tatapan dingin yang sangat ia rindukan.
"Lama tidak berjumpa, Nona Asing," ujar Gu Jue, suaranya yang rendah dan magnetis bergema di dalam kamar, memecah kesunyian yang mencekam. "Delapan tahun lalu kau pergi setelah merusak pondokku, dan sekarang kau kembali hanya untuk pingsan di halamanku. Kau benar-benar tahu cara merepotkan seorang tabib."
Gu Jue berjalan mendekat, meletakkan nampan kayu di atas meja kecil di samping tempat tidur. Meskipun nadanya terdengar ketus dan menyindir, sepasang mata sehitam tintanya sempat berkilat emosional saat menatap betapa kurus dan rapuhnya tubuh Shen Liya sekarang.
Shen Liya menggigit bibir bawahnya, membiarkan sebutir air mata luruh membasahi pipi pucatnya. "Ah... Ah Jue... kau... bagaimana bisa kau masih hidup? Tempat ini... bukankah pasukan itu..."
"Pasukan apa?" potong Gu Jue cepat dengan dusta yang diucapkan begitu mulus tanpa cela. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Shen Liya dengan pandangan menuntut penjelasan. "Semalam delapan tahun lalu kau memberiku air akar manis yang membuatku tertidur seperti babi mati. Saat aku terbangun, kau sudah lenyap dan hutan ini dilanda badai petir besar yang merubuhkan pondokku. Aku butuh waktu berbulan-bulan untuk membangun kembali tempat ini dari awal."
Mendengar penjelasan Gu Jue, rasa lega yang teramat besar sekaligus rasa bersalah yang mendalam menghantam dada Shen Liya. Jadi, pasukan Ling Cang malam itu hanya mengejarnya dan tidak menyadari keberadaan Ah Jue karena perisai rahasia hutan yang sempat terpasang. Ah Jue selamat murni karena keberuntungan alam fana.
"Maafkan aku... maafkan aku, Ah Jue," bisik Shen Liya parau, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Aku terpaksa melakukannya. Aku tidak bermaksud merusak ketenanganmu."
Gu Yu kecil yang sejak tadi diam, mendadak berdiri dari kursinya. Ia melangkah maju, memosisikan tubuh kecilnya di antara ranjang ibunya dan Gu Jue. Sepasang mata hitam pekat milik bocah itu menatap tajam ke arah Gu Jue, memancarkan kedewasaan dan kewaspadaan yang tidak pernah luntur.
"Ibu tidak bersalah," ujar Gu Yu kecil dengan nada tegas, tangan kecilnya secara insting kembali menyentuh hulu pedang kayu di punggungnya. "Jangan memarahi Ibuku. Kami datang ke sini berjalan kaki selama berminggu-minggu bukan untuk mendengarkan keluhanmu tentang gubuk bambu ini."
Gu Jue menurunkan pandangannya, menatap lekat-lekat wajah putranya yang berdiri menantangnya dengan berani. Di dalam batinnya, Mo Jue sang Raja Iblis merasakan debaran kehangatan dan kebanggaan yang teramat sangat melihat darah dagingnya tumbuh menjadi singa kecil yang begitu protektif pada ibunya. Namun, wajah manusianya tetap memasang ekspresi acuh tak acuh.
"Kau mendidik anakmu dengan sangat baik, Liya. Dia bahkan berani mengancam tabib yang baru saja menyelamatkan nyawa ibunya," kata Gu Jue, beralih menatap Shen Liya yang kini tampak terkejut melihat interaksi kaku antara ayah dan anak kandung tersebut.
Shen Liya buru-buru menarik lengan baju rami abu-abu milik Gu Yu kecil. "Yu'er, jangan lancang. Pria ini... dia adalah Tuan Gu Jue yang Ibu ceritakan padamu selama ini. Dialah yang menyelamatkan nyawa Ibu dulu."
Gu Yu kecil menoleh menatap ibunya, lalu kembali menatap Gu Jue dengan tatapan menyelidiki. "Dia... pria hebat yang Ibu ceritakan?" Bocah cerdas itu mengerutkan dahi kecilnya. Di matanya, pria berbaju rami ini memang terlihat seperti tabib biasa, namun insting sensorik iblis murni di dalam tubuhnya terus membisikkan bahwa ada kekuatan raksasa sepekat malam yang sedang ditekan dengan sangat rapi di balik tubuh tegap pria ini.
Gu Jue mengambil mangkuk obat hitam dari atas meja, lalu menyodorkannya ke arah Shen Liya. "Minum ini. Sisa racun di dalam meridian tubuhmu sudah menyebar terlalu jauh. Herbal fana ini hanya bisa menahan laju kerusakannya selama beberapa pekan, tidak bisa menyembuhkanmu total."
Shen Liya menerima mangkuk tanah liat itu dengan tangan yang gemetar. Ia menatap cairan hitam pekat tersebut, lalu menatap wajah Gu Jue dengan pandangan yang sarat akan kepasrahan dan permohonan yang mendalam. Ia tahu waktunya sudah tidak lama lagi. Kepulangannya ke Gunung Han ini bukan untuk mengemis kesembuhan bagi dirinya sendiri, melainkan untuk menitipkan masa depan putranya.
"Aku tahu tubuhku sudah mencapai batasnya, Ah Jue," ujar Shen Liya setelah meminum habis obat pahit tersebut, menyerahkan kembali mangkuk kosong itu kepada Gu Jue. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan rasa nyeri yang kembali menusuk dadanya. "Aku kembali bukan untuk merepotkanmu dengan penyakitku. Aku kembali karena... aku ingin meminta bantuan terakhir darimu."
Gu Jue mengambil mangkuk kosong itu, matanya menyipit tajam. "Bantuan apa?"
Shen Liya menggandeng tangan Gu Yu kecil, menarik bocah itu untuk berdiri lebih dekat di sisi ranjang. Dengan air mata yang kembali mengalir bebas di pipinya, sang Dewi menatap lurus ke dalam manik mata hitam Gu Jue.
"Anak ini... namanya Gu Yu," bisik Shen Liya, suaranya bergetar hebat menahan emosi batin yang membuncah. Ia sengaja menyembunyikan fakta bahwa Gu Yu adalah anak kandung Gu Jue, takut pria fana itu akan menolak memikul beban membesarkan anak dengan distorsi energi aneh yang berbahaya jika pasukan langit datang lagi suatu hari nanti.
"Dia adalah anak yatim piatu yang kubesarkan di pelosok barat. Dia anak yang sangat pintar, mandiri, dan berhati kokoh. Aku memohon padamu, Ah Jue... setelah aku tiada nanti, sudi kah kau merawatnya dan mengajarinya ilmu tabib di gubuk ini? Izinkan dia tinggal bersamamu agar dia tidak sebatang kara di dunia fana yang kejam ini."
Mendengar permohonan sepihak yang sarat akan kebohongan pelindung dari Shen Liya, Gu Jue tertegun sejenak. Raja Iblis itu mengepalkan tangan kirinya di balik jubah rami abu-abunya. Hatinya tersayat hebat melihat bagaimana wanita yang dicintainya harus berbohong demi melindunginya dari status "ayah kandung", sembari menahan siksaan kematian sendirian akibat racun langit.
Gu Jue melirik Gu Yu kecil yang kini menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca, terkejut karena ibunya menyebutnya sebagai anak yatim piatu yang dipungut. Bocah tujuh tahun itu terlalu cerdas untuk tidak menyadari bahwa ibunya sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar tentang asal-usul darah dagingnya.
"Anak yatim piatu?" Gu Jue mendengus tipis, mengalihkan pandangannya kembali pada Shen Liya dengan sorot mata yang mendadak terasa sangat pekat dan dalam. "Kau kembali setelah delapan tahun hanya untuk menjadikanku seorang ayah angkat bagi anak asing, Liya?"
"Aku memohon padamu, Ah Jue... hanya kau satu-satunya orang yang bisa kupercayai di dunia ini," tangis Shen Liya pecah, ia bahkan bersiap untuk turun dari ranjang demi berlutut di depan pria fana tersebut jika itu diperlukan.
Sebelum lutut Shen Liya menyentuh lantai, tangan tegap Gu Jue sudah menahan sepasang bahunya dengan erat, memaksanya kembali bersandar di atas ranjang kayu yang hangat.
"Cukup. Berbaring dan istirahatlah," perintah Gu Jue, suaranya terdengar lebih berat dan sarat akan otoritas yang tidak terbantahkan. Ia membalikkan tubuhnya, membawa mangkuk kosong menuju pintu kamar. "Aku menyanggupi permohonanmu. Anak ini... Gu Yu... dia akan tinggal di pondokku mulai hari ini. Aku akan merawatnya, dan aku juga akan memastikan kau tetap hidup untuk melihat bagaimana aku mendidiknya menjadi pria yang kuat."
Pintu kayu kamar ditutup kembali oleh Gu Jue, meninggalkan keheningan yang sarat akan kecanggungan dan rahasia besar di dalam ruangan remang-remang tersebut.
Shen Liya memeluk tubuh kecil Gu Yu erat-erat, menangis sejadi-jadinya di atas bahu kecil putranya karena rasa lega yang teramat sangat bahwa masa depan anaknya kini telah aman di tangan pria yang tepat. Sementara itu, Gu Yu kecil membiarkan dirinya dipeluk, namun sepasang mata sehitam tintanya tetap menatap lurus ke arah pintu kamar yang tertutup dengan kilatan tekad menyelidiki yang kian tajam.
Di luar pondok, di bawah pekatnya kabut malam Gunung Han, Gu Jue berdiri memegang mangkuk kosong dengan mata yang telah berubah menjadi warna ungu menyala yang mengerikan. Sandiwara sebagai ayah angkat dan tabib fana telah resmi dimulai kembali, dan sang Raja Iblis bersumpah akan menggunakan seluruh sisa waktu kedamaian fana ini untuk mengikat kembali takdir keluarga kecilnya yang sempat patah delapan tahun lalu.