RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Malam harinya, suasana di apartemen mewah yang ditempati Sara dan Raven terasa sangat tenang.
Sara terlihat duduk di ruang tengah, wajahnya sedikit menunduk fokus mengerjakan tugas sekolah di atas meja kecil di hadapannya. Pena di tangannya melintas cepat di atas buku tulis. Sementara itu, Raven juga terlihat serius mengerjakan beberapa tugas kantor di ruang kerjanya dengan pintu yang sengaja dibiarkan terbuka, agar ia tetap bisa memantau Sara dari dalam sana.
Keduanya begitu fokus hingga tak terasa malam semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat. Sara yang tak sanggup menahan kantuk akhirnya tertidur di tempat, kepalanya bertumpu pada satu tangannya, sementara tangan lainnya masih menggenggam pena.
"Akhirnya selesai juga!" seru Raven sambil meregangkan otot yang kaku karena terlalu lama duduk di depan laptop. Ia mematikan alat kerjanya, lalu berjalan perlahan mendekati Sara.
"Kebiasaan nih anak, tidur sembarangan!" gumamnya pelan sambil tersenyum sayang, lalu merapikan rambut Sara yang sedikit berantakan menutupi wajah gadis itu.
Karena merasa kasihan melihat posisi tidur Sara, ia berinisiatif memindahkan tubuh gadis itu ke atas sofa dengan sangat hati-hati agar Sara tidak terbangun.
Setelah memastikan Sara tidur dengan nyaman, Raven duduk di sofa kosong di hadapannya, menatap wajah damai Sara dengan perasaan aneh yang belakangan ini terus mengganggunya.
Namun tak lama kemudian, ekspresi damai di wajah Sara berubah menjadi gelisah. Alisnya mengerut seolah melihat sesuatu yang mengerikan, bibirnya sedikit menggigil, dan tangannya menggenggam erat selimut. Ia mulai mengeram pelan, dengan suara yang nyaris tak terdengar, namun cukup membuat Raven merasa khawatir.
"Kris... di mana kau? Aku takut... Papa, Mama... tolong jangan tinggalkan aku sendirian!" gumamnya dengan suara gemetar. Matanya masih terpejam rapat, namun air mata mulai merembes membasahi pipinya.
Raven terpaku kaku seketika setelah mendengar nama itu keluar dari mulut Sara. "Kris? Kenapa Sara memanggil nama itu? Mungkinkah gadis yang selama ini kucari bertahun-tahun itu adalah Sara? Dia benar-benar masih hidup!" batinnya penuh harap dan rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan.
Raven segera mencoba membangunkan Sara. "Sara... bangunlah, kamu mimpi buruk," panggilnya lembut sambil mengusap punggung gadis itu dengan penuh perhatian.
Sara terlonjak bangun dengan napas terengah-engah. Matanya terbuka lebar, masih tampak ketakutan, dan tubuhnya sedikit menggigil. Air mata terus mengalir tak terbendung.
"Sara, kamu baik-baik saja?" tanya Raven sambil perlahan menghapus air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya yang hangat. "Kamu menyebut nama 'Kris'. Siapa dia?" tanyanya pelan, sambil terus menenangkan Sara.
Sara menatapnya dengan mata berkaca-kaca, lalu perlahan mengingat apa yang baru saja terjadi. Mimpi itu bukanlah yang pertama kali datang, selalu muncul setiap kali ia merindukan orang tuanya yang sudah tiada.
"Iya, ini bukan pertama kalinya. Aku tak tahu siapa Kris, tapi dalam mimpi itu aku terus memanggil namanya seolah dia seseorang yang sangat berarti bagiku," jujur Sara.
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Di sana, aku bersama Papa dan Mama sedang dalam perjalanan ke bandara. Tiba-tiba mobil kami ditabrak keras dari belakang... terpental dan jatuh ke jurang. Sebelum aku terlempar ke sungai, aku melihat Papa dan Mama terluka parah... aku sangat takut, Raven!" ceritanya dengan suara masih bergetar.
Raven segera merangkulnya erat, menarik Sara ke dalam dekapan hangatnya. "Tenanglah... sekarang ada aku di sini. Aku tak akan pernah membiarkanmu sendirian lagi," ucapnya dengan nada tegas, seolah janji itu sudah tertanam lama di hatinya.
Perlahan ketakutan Sara mereda digantikan rasa aman yang luar biasa. Setelah tenang, Raven pamit sebentar ke kamar. "Tunggu di sini sebentar," ujarnya, lalu kembali membawa sebuah foto yang pinggirannya mulai menguning.
"Apa 'Kris' yang kau maksud dia?" tanyanya sambil menunjukkan foto itu. Di sana terlihat dua anak kecil sedang tertawa bahagia di taman. Seorang anak laki-laki merangkul gadis kecil yang rambut panjang berponi yang terurai membingkai wajah imutnya.
Sara menerima foto itu dengan hati-hati. Matanya terbelalak saat mengenali dirinya sendiri dan sosok anak laki-laki yang selalu muncul dalam mimpinya. "Iya! Dia orangnya! Kenapa kamu punya foto kami?" tanyanya heran.
Raven tak menjawab, ia justru memeluk gadis itu dengan sangat erat.
"Akhirnya kau kembali... aku sangat merindukanmu, Putri Cantik!" suaranya bergetar, air mata menetes di pipi tegasnya.
Sara melepaskan pelukan itu dengan bingung. "Raven? Apa maksudmu?"
"Aku adalah Kris. Dan kamu adalah Putri Cantik, sahabat kecilku," jawab Raven menatapnya lekat.
"Kau... Kris? Bagaimana mungkin?" Sara masih tak percaya.
"Aku benar-benar Kris. Hanya kamu yang memanggilku begitu, dan hanya aku yang memanggilmu Putri Cantik. Apa kau tak ingat?"
Sara menggeleng pelan. "Setelah kecelakaan itu, dokter bilang aku kehilangan banyak ingatan masa lalu. Hanya mimpi buruk itu yang selalu kembali," ucapnya penuh penyesalan.
"Tak apa-apa. Yang penting kau ada di sini sekarang. Tanpa kusadari, orang yang kucari ternyata sudah menjadi istriku sendiri!" senyum bahagia merekah di wajahnya.
"Tapi kita menikah hanya karena terpaksa, Raven!" ingat Sara.
"Aku tak peduli! Mulai sekarang kau milikku selamanya, aku tak akan melepaskanmu lagi!"
"Tapi kita masih sekolah!" protesnya ragu.
"Kau tak mau menjadi istriku—sahabat kecilmu—dengan benar?" tanyanya sedih.
Sara terdiam. Sebenarnya ia sudah nyaman bersamanya, namun takut akan kemarahan Kakek yang sangat tegas. "Aku hanya takut Kakek akan murka jika tahu aku menikah di usia muda. Keluargamu pun bisa terkena dampaknya."
"Aku akan melindungimu, bahkan dari Kakekmu sekalipun. Apa kau yakin tak menyesal menerima aku?"
"Sangat yakin. Aku sudah mencintaimu sejak dulu, Sara. Bagaimana mungkin aku melepaskanmu?"
Sara menatapnya lama, lalu perlahan mengangguk dengan senyum tipis. "Baiklah, aku akan mencobanya."
Raven memeluknya kembali, mengecup keningnya lembut. "Aku akan membantumu mengingat semuanya pelan-pelan. Tak ada yang akan memisahkan kita lagi," janjinya dalam hati.
"Aku tak menyangka jatuh cinta pada gadis yang sama dua kali dalam hidupku. Cintaku tak pernah salah arah," bisiknya di telinga Sara.
Sara membalas pelukan itu erat. "Ternyata suami yang datang tiba-tiba adalah sahabat masa kecilku yang selalu kutunggu. Takdir memang tak pernah salah menyatukan dua hati," batinnya bahagia.
Bersambung....
Ayo Sara, kumpulkan semua bukti-bukti itu/Determined/, Ku menunggu pembalasanmu pada mereka, orang yang telah membunuh keluargamu, dan juga mengambil semua hak-hak yang seharusnya menjadi milikmu/Determined//Determined/