NovelToon NovelToon
Bangkitnya Sekte Kuno: Meraih Puncak Tertinggi

Bangkitnya Sekte Kuno: Meraih Puncak Tertinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEKTE KUNO 17

"Tuan? Ada apa?" tanya Yuanling yang menyadari perubahan ekspresi suaminya.

Tianchen tidak menjawab. Ia mengibaskan lengan jubahnya, menciptakan gelombang angin spiritual lembut yang langsung menyingkirkan puing-puing kayu dan batu yang menumpuk di sudut tersebut.

Di balik reruntuhan itu, tergeletak sosok seorang pelayan muda laki-laki berusia sekitar enam belas tahun dengan pakaian pelayan yang sangat usang, robek, dan dipenuhi noda darah serta lumpur. Tubuhnya dipenuhi oleh luka cambukan dan memar yang sangat parah, tampaknya akibat siksaan kejam yang ia terima sebelum kedatangan Tianchen.

Napas pelayan muda itu sangat lemah, berada di ambang kematian setelah terkena dampak gelombang kejut dari mantra darah Tianchen tadi. Namun, yang membuat Tianchen terkegun adalah... anak ini tidak mati. Meskipun fisiknya sangat lemah dan tidak memiliki kultivasi sama sekali, ada sebuah kekuatan misterius di dalam tubuhnya yang terus menolak energi mantra darah pembunuh milik Tianchen, menjaga detak jantungnya tetap berdegup meskipun sangat lambat.

Tianchen melangkah mendekat, lalu berlutut di samping tubuh pelayan muda tersebut. Ia menempelkan dua jarinya pada dada anak itu, menyalurkan sedikit Qi murni untuk menyelidiki kondisi bagian dalam tubuhnya.

Begitu energi Tianchen masuk, sebuah getaran energi spiritual yang sangat masif dan kuno mendadak menolak energinya dengan keras, memancarkan suara gemuruh naga yang hanya bisa didengar di dalam kesadaran spiritual Tianchen.

Groaaar!

Mata Tianchen seketika membelalak lebar karena terkejut, sebuah ekspresi yang sangat jarang muncul pada wajahnya. Di dalam struktur tulang pelayan muda yang sekarat ini, tepatnya di sepanjang tulang belakangnya, tumbuh sebuah struktur tulang emas berbentuk rantai naga yang memancarkan aura kegagahan murni yang tak tertandingi.

"Ini... ini adalah Tulang Naga Surgawi!" gumam Tianchen dengan suara yang bergetar karena tidak percaya. "Bagaimana mungkin sebuah fisik sakti legendaris yang hanya muncul sekali dalam sepuluh ribu tahun... bisa berada di dalam tubuh seorang pelayan biasa yang disiksa di tempat seperti ini?"

Yuanling dan Ziyan yang ikut mendekat terkegun mendengar ucapan Tianchen. "Tulang Naga Surgawi? Tuan, apakah itu sejenis fisik sakti seperti Tulang Harmoni Selaras milikku?" tanya Yuanling penasaran.

"Jauh lebih langka dan jauh lebih destruktif, Yuanling," jawab Tianchen sambil menatap wajah pucat pelayan muda itu dengan pandangan yang dipenuhi minat yang mendalam. "Jika Tulang Harmoni Selaras milikmu adalah puncak dari kelembutan dan keselarasan energi alam, maka Tulang Naga Surgawi adalah perwujudan dari kekuatan fisik murni dan dominasi mutlak yang bisa menghancurkan gunung dan membelah lautan hanya dengan kekuatan tubuh kasar."

Tianchen menarik kembali jarinya, lalu berdiri tegak sambil menatap anak itu yang perlahan membuka matanya yang sayu, sepasang mata yang, meskipun dipenuhi rasa sakit, tetap memancarkan kilatan tekad yang sangat keras kepala untuk bertahan hidup.

"Menarik... benar-benar sangat menarik," senyum tipis yang penuh misteri kembali mengembang di wajah tampan Li Tianchen. "Tampaknya perjalanan kita hari ini tidak hanya menyelesaikan dendam masa lalu, tetapi juga membawa pulang sebuah permata berharga yang akan mengguncang seluruh daratan kultivasi di masa depan."

...****************...

Bibir Ziyan maju beberapa senti, memperjelas raut wajahnya yang dilipat sempurna. Tangannya yang memegang gagang pedang kayu mengetuk-ngetuk paha dengan gusar.

Hari ini adalah hari pernikahan gurunya, Tiancheng, dengan Yuanling. Sebuah momen yang sangat amat langka, yang seharusnya menjadi tontonan paling menarik di seluruh pelosok tempat tinggal mereka. Ziyan sudah membayangkan betapa serunya menjadi saksi satu-satunya di Balai Leluhur, melihat wajah gurunya yang biasa dingin dan ketus itu terpaksa tersenyum manis di hadapan papan arwah para tetua dan leluhur.

Namun, semua bayangan indah itu mendadak pupus.

"Malah disuruh mengurusi pemuda sekarat dari Keluarga Liu ini... Cih!" gerutu Ziyan setengah berbisik. Tangannya menendang kerikil kecil di tanah hingga terlempar menabrak pintu kamar pengobatan. "Memangnya dia siapanya Guru? Cuma pelayan Keluarga Liu yang tak punya akar spritual! Kenapa acara nonton pernikahan harus dikorbankan demi orang asing?"

Ziyan menghentakkan kakinya lagi. Kekesalannya membubung tinggi. Sementara di Balai Leluhur, suasana justru bertolak belakang, begitu khidmat namun diselimuti ketegangan yang lembut.

Di dalam ruang utama Balai Leluhur, wangi dupa kayu cendana membumbung tinggi, mengular di udara dan menciptakan atmosfer sakral. Janji suci baru saja diikrarkan. Yuanling berdiri di samping Tiancheng, mengenakan jubah merah bersulam benang emas yang mencolok. Wajahnya yang rupawan tampak sedikit tegang, jemarinya meremas kain jubahnya sendiri dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Selamat, Tuan... eh, maksudku..." Yuanling berdeham pelan, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Suaranya bergetar, kaku dan sarat akan rasa canggung yang mendalam. Kebiasaan beberapa hari ini memanggil Tiancheng dengan sebutan formal membuat lidahnya mendadak kelu.

Tiancheng menoleh lambat. Matanya yang tajam menatap pemuda di sampingnya. Tidak ada guratan amarah di sana, melainkan sebuah binar lembut yang jarang sekali ditunjukkan kepada dunia luar. Tanpa ragu, Tiancheng mengulurkan tangan, meraih jemari Yuanling yang dingin dan mengusapnya pelan menggunakan ibu jari.

"Masih memanggilku Tuan?" bisik Tiancheng. Suaranya berat, bergema halus tepat di samping telinga Yuanling. "Janji di hadapan para leluhur sudah diikat. Kita bukan lagi guru dan murid, atau majikan dan pelayan. Panggil aku suami."

Pipi Yuanling merona merah seketika. Warna kemerahan itu merambat cepat dari leher hingga ke ujung telinganya, bersaing dengan warna jubah pernikahan yang ia kenakan. Ia mencoba menarik nafas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang bak genderang perang.

"S-Suami..." cicit Yuanling amat pelan, nyaris tak terdengar jika Tiancheng tidak memasang telinganya baik-baik.

Tawa kecil yang sangat halus lolos dari bibir Tiancheng. Ia mengusap kepala Yuanling sebentar sebelum mengalihkan pandangannya ke arah pintu belakang Balai Leluhur. Ekspresi wajahnya berubah menjadi sedikit lebih serius, memikirkan beban tugas yang harus segera diselesaikan.

"Yuanling," panggil Tiancheng lembut namun bernada perintah yang tak bisa dibantah.

"Ya, Tu—maksudku, Suami?" sahut Yuanling gagap, cepat-cepat membetulkan panggilannya sebelum Tiancheng menegurnya lagi.

"Pelayan dari Keluarga Liu yang dibawakan tadi kondisinya amat kritis. Aku butuh bantuanmu," ujar Tiancheng sembari berjalan perlahan menuju pintu belakang yang terhubung langsung dengan kebun herbal pribadi Balai Leluhur. "Pergilah ke kebun belakang. Ambilkan beberapa bahan obat, Rumput Akar Naga, Jamur Hitam, Daun Tiga Warna, dan Tanaman Bunga Hati."

Yuanling menyimak setiap kata dengan seksama, menganggukkan kepala dengan penuh kepatuhan. "Rumput Akar Naga, Jamur Hitam, Daun Tiga Warna, dan Bunga Hati. Apakah ada takaran khusus?"

"Ambil secukupnya, yang paling segar," lanjut Tiancheng. "Setelah kau mengumpulkannya, bersihkan racun luarnya, lalu rebus semuanya bersamaan selama tepat dua jam. Gunakan api sedang. Jangan terlalu besar agar khasiat Akar Naga tidak menguap, dan jangan terlalu kecil agar racun Jamur Hitam bisa terurai sempurna. Kau paham?"

"Hamba—maksudku, saya paham. Saya akan segera melaksanakannya," jawab Yuanling mantap. Ia memberi hormat singkat sebelum berbalik langkah dengan cepat, menjalankan tugas pertama yang diberikan oleh suaminya tersebut dengan penuh dedikasi.

Tiancheng menatap punggung Yuanling yang menjauh beberapa saat, lalu helaan nafas panjang keluar dari dadanya. "Sekarang, saatnya melihat kondisi pemuda itu... dan mengurusi bocah lambat di luar."

Sementara itu, di halaman kebun latihan yang tak jauh dari kamar pengobatan, Su Ziyan sedang melampiaskan seluruh kekesalannya pada pedang besi di tangannya.

Sring! Sring! Whush!

Suara tebasan pedang membelah udara berkali-kali. Peluh membasahi dahi dan leher Ziyan. Wajahnya merah padam, bukan hanya karena lelah, tetapi juga karena rasa frustrasi yang luar biasa. Ia sedang berusaha menguasai gerakan Inti Pedang Ketiga, sebuah teknik tingkat menengah yang seharusnya sudah bisa ia kuasai sejak bulan lalu.

Namun, berapa kali pun ia mencoba mengayunkan pedangnya, alur energi di dalam tubuhnya selalu tersumbat di lengan kanan. Pedangnya hanya menghasilkan angin tipis yang bahkan tak mampu menerbangkan dedaunan kering di tanah.

"Kenapa sulit sekali?! Kenapa aliran energinya selalu kacau di bagian ujung?!" jerit Ziyan frustrasi. Ia menghentakkan kakinya ke tanah, memegang gagang pedang dengan kedua tangan dan mencoba menebas sebuah batu besar di depannya dengan emosi membabi buta.

TAK!

Pedang besinya menabrak permukaan batu. Bukannya batu yang terbelah, justru telapak tangan Ziyan yang terasa getar dan panas luar biasa. Pedangnya terpelanting jatuh ke tanah, menimbulkan suara berdenting yang nyaring.

"Ck, ck, ck. Begitu saja tidak bisa? Benar-benar murid pertama yang sangat payah."

Sebuah suara dingin dan bernada ejekan tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Ziyan terlonjak kaget. Ia berbalik dan mendapati Tiancheng sedang berdiri dengan kedua tangan bersedekap di balik punggungnya. Gurunya itu menatapnya dengan tatapan merendahkan yang sangat familiar.

"Guru!" pekik Ziyan, setengah terkejut dan setengah kesal. "Aku sudah berlatih sejak pagi! Tapi teknik Inti Pedang Ketiga ini memang sangat aneh! Aliran energinya tidak masuk akal!"

TAK!

"Aww!" Ziyan meringis sakit sembari memegangi jidatnya yang baru saja disentil dengan sangat keras oleh jari Tiancheng. Sentilan itu tidak main-main, meninggalkan bekas kemerahan yang seketika berkedut pilu.

"Dasar otak udang," ejek Tiancheng tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Hal sepele dan semudah ini kau bilang tidak masuk akal? Kau membuang-buang waktumu dengan emosi sialan itu. Pikiranmu penuh dengan hal tak penting, sehingga energimu menyebar tidak tentu arah."

Ziyan merengut tajam, menggertakkan giginya. "Tapi aku sudah mengikuti instruksi buku panduan, Guru!"

"Buku panduan ditulis untuk orang yang punya otak, dan kau harus menggunakannya dengan perasaan, bukan sekadar menghafal!" potong Tiancheng tegas. Matanya menyipit penuh penekanan. "Dengar baik-baik. Ambil pedangmu!"

Ziyan menunduk, memungut pedangnya kembali dengan bibir yang masih mengerucut.

"Pasang posisi kuda-kudamu dengan benar!" perintah Tiancheng, suaranya meninggi, memberi tekanan yang membuat Ziyan secara refleks langsung melebarkan kakinya dan merendahkan tubuhnya. "Buka kakimu selebar bahu. Turunkan pusat gravitasimu. Jangan kaku seperti kayu lapuk!"

Tiancheng melangkah mendekat. Ia menendang pelan bagian dalam tumit kanan Ziyan. "Kaki kananmu terlalu condong ke luar. Kuncinya ada di paha dalam, bukan di lutut!"

Ziyan menggeser kakinya sesuai petunjuk.

"Sekarang," lanjut Tiancheng, suaranya kembali melunak namun sarat akan wibawa yang menekan, "tutup matamu. Hentikan pikiran konyolmu. Tarik nafas dalam-dalam."

Ziyan menarik nafas panjang, mencoba menuruti perintah gurunya meskipun dadanya masih bergemuruh.

"Rasakan qi di dalam dantianmu. Jangan dipaksa. Biarkan dia mengalir seperti air sungai yang tenang. Salurkan energi spiritual itu perlahan-lahan... perlahan saja, Ziyan... alirkan dari dada, turun ke bahu, merambat ke lengan, dan kumpulkan tepat di mata pedangmu. Jangan terburu-buru!"

Ziyan memfokuskan pikirannya. Ia bisa merasakan kehangatan samar mulai mengalir dari perut bagian bawahnya, merambat perlahan menuju tangannya.

"Sekarang, ayunkan pedangmu!" seru Tiancheng. "Satu ayunan yang selaras dengan irama nafasmu. Ikuti sapuan angin, jangan melawan angin!"

Ziyan membelalakkan matanya, mengangkat pedang tinggi-tinggi dan mengayunkannya ke depan dengan sekuat tenaga!

WHUSH!

1
❤️⃟Wᵃf Liam •§͜¢•🦢🍒
Hahaha memeluk Li Tianchen seperti bapakmu aja Su Ziyan, kaget loh ya Li Tianchen takut dikira belok🤣🤣
❤️⃟Wᵃf Liam •§͜¢•🦢🍒
fokus pada latihan mu Su Ziyan, nanti di omelin sama Li Tianchen loh🤣🤣
❤️⃟Wᵃf Liam •§͜¢•🦢🍒
Akhirnya, mampus juga kau keluarga Liu, syukurlah YuanLing masih bisa menyelamatkan abu ibunya, jadi sedih deh kalo ngebayangin 😞😞
❤️⃟Wᵃf Liam •§͜¢•🦢🍒
sombong sekali keluarga Liu, disenggol dikit sama Li Tianchen, meninggoy ntar kalian 🤬🤬🤣🤣
❤️⃟Wᵃf Liam •§͜¢•🦢🍒
wah apa-apa jangan bekerjasama ini penjaga gawang nya sama Musuh Li Tianchen yaa atau Iblis yang tadi??
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋🅘ᴄʜᴋᴀ🅜ᴜᴄ🅐ɴᴅᴜ🅢ᴇᴋᴀʟɪ
eh kok bisa seperti itu
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
wah ternyata itu bukan kucing sembarangan tapi aslinya ada rubah ekor sembilan yang kamuflase jadi kucing kecil 🤭
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋🅘ᴄʜᴋᴀ🅜ᴜᴄ🅐ɴᴅᴜ🅢ᴇᴋᴀʟɪ
ih merinding sekali ini, ini orang masih hidup atau tidak ini, apalagi jatuhnya sampai kayak gitu
❤️⃟Wᵃfкαgσмє¹⁵𝕬𝖗𝖘𝕯💞
Peningkatan yg luar biasa Ziyann...
tp apa yg terjadi di sana.. apakahh gurumu datang.. atau ada tantangan lain bt mu
❤️⃟Wᵃfкαgσмє¹⁵𝕬𝖗𝖘𝕯💞
Baguss ziyann.. pasti ngk kan sia " kamu berlatihh
Ehh aku kira Tian mauu anuhh teryata lain pulaa..🤣🤣🤣
❤️⃟Wᵃfкαgσмє¹⁵𝕬𝖗𝖘𝕯💞
berjuang lahh ziyann jgn menyerah
tunjukkan ke mampuan mu bt berlatihh
❤️⃟Wᵃfкαgσмє¹⁵𝕬𝖗𝖘𝕯💞
wahhh jdi ingat dragon ball 🤣
Semoga kau berhasil ziyann .. tingkatkan kemampuan muu..
❤️⃟Wᵃfкαgσмє¹⁵𝕬𝖗𝖘𝕯💞
jgn bercanda.. mau balas dendam sama Maharaja agungg😒
Nahh lohhh ziyann di tambah lagi tuhhh hukumann muu🤣🤣
❤️⃟Wᵃfкαgσмє¹⁵𝕬𝖗𝖘𝕯💞
Nahh lohhh jgn melampaui batas ziyan.. nanti bisa habis kepala mu di jitakk🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD 😋🦄
bagus tahu namanya kucing kecil itu Ling Ling ini Ratu Rubah ngedumel melulu dalam hatinya🤭🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD 😋🦄
jadinya gimana kali muridnya belum ada lima boro boro yang ada hanya 2 sama pelayan keluarga Liu yang terluka 🤭🤣🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
wkwkwk brita mengejutkan datang bagai petir di siang bolong 🤣🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Ziyan udah salah fokus tuh 😂 Belajar pedang atau belajar nahan.....😏"
❤️⃟Wᵃfкαgσмє¹⁵𝕬𝖗𝖘𝕯💞
Ciee udah resmi jadi suami istri 🤭
nahh tuhhh jgn cemburu ziyann.. km tetep istimewa bt guru mu🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Ini baru namanya konsekuensi dari buah kesombongan 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!