NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Satu bulan sejak operasi pengangkatan peluru itu, Kapten Ren Adhyaksa akhirnya mendapatkan lampu hijau untuk pulang.

Tentu saja, 'lampu hijau' menurut standar medis dan standar seorang prajurit lapangan sangatlah berbeda. Bagi dr. Rania, Ren masih harus menjalani fisioterapi rawat jalan dan dilarang mengangkat beban lebih dari dua kilogram. Bagi Ren, bisa berjalan sendiri ke kamar mandi tanpa tiang infus berarti ia sudah siap kembali memimpin pasukan bersenjata.

Siang itu, di ruang VIP paviliun bedah, Cia sedang sibuk memasukkan baju-baju ganti suaminya ke dalam tas ransel. Di belakangnya, Ren berdiri di depan cermin, mengancingkan kemeja flanel lengan pendeknya dengan satu tangan karena bahu kanannya masih terasa kaku.

"Sini, kubantu," Cia berbalik, memukul pelan tangan kiri Ren yang sedang kesulitan memasukkan kancing ke lubangnya. Gadis itu mengambil alih tugas tersebut, jari-jarinya bergerak telaten mengancingkan kemeja dari bawah ke atas.

Ren menunduk, membiarkan istrinya mengurusnya. Pandangannya tak lepas dari wajah serius Cia, hidung bangir gadis itu, dan bulu matanya yang lentik. Jarak mereka begitu dekat hingga Ren bisa menghirup aroma sabun stroberi yang kini resmi menjadi aroma favoritnya di dunia.

"Saya sudah bisa berjalan lancar, Cia. Kenapa harus ada kursi roda di depan pintu?" tanya Ren datar, melirik benda beroda tersebut dengan tatapan permusuhan.

Cia menepuk pelan dada suaminya setelah kancing terakhir terpasang. "Prosedur rumah sakit, Kapten. Semua pasien pasca-operasi besar yang mau pulang wajib didorong pakai kursi roda sampai ke lobi depan. Nggak ada pengecualian. Termasuk buat perwira keras kepala macam kamu."

"Saya komandan tempur. Turun ke lobi menggunakan kursi roda akan merusak wibawa saya di depan Prada Sigit yang sedang menjemput di bawah," bantah Ren halus, alisnya bertaut.

Cia berkacak pinggang, menatap suaminya dengan dagu terangkat. "Di barak, kamu komandannya. Tapi di urusan kesehatan, aku jenderalnya. Mau duduk sendiri di kursi roda itu, atau aku panggil dr. Rania biar kamu dibius lokal terus diseret turun?"

Ren menatap istrinya selama tiga detik, mencari celah kompromi. Nihil. Tembok baja sang Kapten rupanya telah berpindah menjadi tameng baja sang istri.

Dengan dengusan pelan menyerah, pria yang ditakuti separatis di pedalaman hutan itu akhirnya melangkah pasrah dan duduk di atas kursi roda. Cia tersenyum menang, meraih gagang kursi dorong itu dengan riang.

"Prajurit yang baik," puji Cia jahil.

Sudut bibir Ren berkedut. "Tunggu sampai luka saya sembuh total, Almeera. Kamu akan tahu akibatnya karena sudah berani memerintah saya."

Ancaman itu diucapkan dengan nada rendah yang serak, membuat langkah Cia sempat tersendat dan pipinya memanas. Pria ini, setelah mengakui perasaannya secara terang-terangan minggu lalu, seolah membuang filter pembatas di bibirnya. Setiap kalimatnya kini selalu berhasil membuat jantung Cia berolahraga di luar jam kerja.

Perjalanan pulang ke asrama militer terasa sangat berbeda bagi Cia kali ini.

Jika dulu ia datang dengan perasaan waswas dan terpaksa, kini setiap putaran roda Jeep yang dikemudikan Prada Sigit membawanya pada perasaan rindu yang membuncah. Ia merindukan rumah kecil mereka.

Mobil berhenti tepat di depan pekarangan rumah dinas. Cia turun lebih dulu, membuka pintu penumpang, dan membantu Ren turun. Postur tubuh Ren belum setegap biasanya, namun ia menolak dipapah. Pria itu berjalan perlahan melewati pagar rendah.

Langkah mereka terhenti di teras.

Cia membelalakkan mata. Teras rumah yang seingatnya berdebu dan penuh daun kering karena ditinggal berbulan-bulan, kini terlihat sangat bersih. Pot-pot tanaman kecil tertata rapi di sudut.

Saat Cia membuka pintu utama, aroma pembersih lantai menguar segar. Tidak ada debu setitik pun. Di atas meja ruang tamu, terdapat sebuah parsel buah berukuran sedang dengan secarik kertas memo yang tertempel rapi.

Cia berjalan mendekat, membaca memo tersebut sementara Ren duduk perlahan di sofa.

Selamat kembali ke rumah, Kapten Ren dan Dokter Cia.

Rumah sudah kami bersihkan dan ventilasi sudah dibuka setiap pagi agar sirkulasi udaranya baik untuk pemulihan Kapten. Sayur dan protein segar ada di kulkas.

Salam hangat dari seluruh pengurus Persit Kompi.

"Mereka... yang bersihin semua ini?" gumam Cia tak percaya. Matanya berkaca-kaca menatap sekeliling rumah yang terasa begitu hidup dan disiapkan dengan penuh kasih sayang.

Ren bersandar di sofa, menghela napas lelah namun wajahnya terlihat damai. "Itulah militer, Cia. Di luar kami memang terlihat kaku dan penuh aturan birokrasi, tapi di saat salah satu dari kami jatuh, barisan ini akan merapatkan diri untuk saling menopang."

Ren menatap istrinya. "Mereka melakukan ini bukan hanya karena saya komandannya. Tapi karena mereka menghormatimu. Kamu sudah membuktikan dirimu pantas menjadi bagian dari keluarga besar asrama ini."

Dada Cia menghangat. Ia menaruh tas bawaannya, lalu berjalan menghampiri Ren dan duduk di sebelahnya. Cia menyandarkan kepalanya di bahu kiri suaminya dengan hati-hati. Ren secara refleks melingkarkan lengan kirinya di pinggang Cia, menarik gadis itu lebih dekat hingga tak ada jarak tersisa.

Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka. Suara rintik hujan di luar menambah syahdu suasana sore itu.

"Mas," panggil Cia pelan, memainkan ujung kancing kemeja Ren.

"Hm."

"Waktu di pedalaman... pas kamu nyoret sandi morse di dinding gua itu..." Cia memulai pertanyaannya ragu-ragu. "Apa yang bikin kamu yakin kalau sandi itu bakal nyampe ke pusat komando?"

Ren menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, memejamkan mata sejenak. Ingatan tentang gua gelap yang dingin, rasa lapar yang menyayat lambung, dan rasa sakit dari peluru yang bersarang di tubuhnya kembali berkelebat. Namun, ingatan itu tak lagi menakutkan, karena kini ia memeluk kenyataannya.

"Secara logika militer, peluang sandi itu ditemukan hanya sepuluh persen. Musuh biasanya menghancurkan kamp sebelum berpindah," jawab Ren tenang. "Tapi saat itu, logikaku sudah tidak bekerja dengan baik."

Ren menunduk, menatap wajah Cia dari jarak dekat. Ibu jarinya membelai lembut pipi istrinya. "Saya hanya memikirkan janjiku padamu. Di dompet saya, di balik kartu identitas militer, saya menyembunyikan foto pernikahan kita yang diambil diam-diam oleh Bima. Saat mereka menyiksa saya, saya hanya memfokuskan pikiran saya pada wajahmu yang tersenyum saat kamu memakai kebaya putih itu."

Air mata Cia kembali menggenang. Pria ini selalu tahu cara meruntuhkan pertahanannya hanya dengan beberapa kalimat datar.

"Saya mencoretkan sandi itu bukan karena yakin pusat komando akan membacanya," bisik Ren, mengecup kening Cia dalam-dalam. "Saya menulisnya sebagai pesan untuk Tuhan. Bahwa saya belum mau mati, karena ada seorang gadis cerewet di asrama yang akan marah besar jika saya tidak pulang."

Cia tertawa di sela isaknya, memukul dada bidang Ren dengan pelan. "Tuh kan! Sempat-sempatnya ngatain cerewet. Untung kamu udah jujur soal utang nyawa dan perasaanmu. Kalau nggak, kamu beneran bakal aku kunci di luar rumah."

Ren ikut tertawa kecil, suara baritonnya yang serak terdengar seperti melodi paling indah di telinga Cia. Ia mengeratkan pelukannya, menyandarkan dagunya di atas kepala sang istri.

"Ngomong-ngomong soal jujur," ucap Ren, nadanya mendadak terdengar sedikit jahil. "Selama saya dirawat di VIP, ada seorang perawat senior yang bercerita pada saya. Katanya, saat malam resepsi kita, ada seorang dokter muda yang mengomel di depan kotak P3K sambil memanggil saya 'kanebo kering yang gila'."

Tubuh Cia menegang seketika. Matanya membulat sempurna. Ia mendongak menatap Ren dengan wajah memerah menahan malu. "I-itu... ah, perawat itu salah dengar kali, Mas! Mana ada aku ngomong gitu."

"Oh, ya?" Ren menaikkan sebelah alisnya. Kilat geli terpancar jelas di mata elangnya. "Padahal Letnan Bima juga pernah melapor, katanya kamu sering mengeluhkan wajah saya yang datar seperti papan sasaran tembak."

"Bima tukang ngadu! Awas aja kalau dia kontrol luka ke paviliun bedah, bakal aku suntik vitamin C dosis tinggi biar dia meringis seharian!" gerutu Cia, memalingkan wajahnya dengan bibir mengerucut.

Ren tak bisa lagi menahan tawanya. Ia menangkup kedua pipi Cia, memaksa istrinya kembali menatapnya, lalu mendaratkan sebuah ciuman singkat namun sangat dalam di bibir gadis itu.

"Tidak apa-apa," bisik Ren setelah melepaskan ciumannya, menatap Cia dengan sorot penuh pemujaan. "Kanebo kering ini sekarang sepenuhnya milikmu. Mau kamu jemur, kamu rendam, atau kamu simpan rapat-rapat... saya tidak keberatan."

Wajah Cia semakin merah hingga ke telinga. Ia menyembunyikan wajahnya kembali di dada suaminya, mengutuk dalam hati bagaimana seorang komandan yang kaku bisa berubah menjadi pria penebar gombalan maut hanya dalam waktu satu bulan perawatan.

Malam harinya, setelah makan malam dengan menu sup ikan gabus buatan para ibu Persit yang sengaja disimpan di kulkas untuk mempercepat penyembuhan luka operasi Ren, pasangan suami istri itu bersiap untuk tidur.

Cia sudah selesai mencuci wajahnya dan masuk ke kamar utama. Ia melihat Ren sedang duduk di tepi ranjang, menatap sebuah kalung dog tag di tangannya. Itu adalah dog tag yang tempo hari dikalungkan Ren padanya. Saat Cia memandikan Ren dengan waslap kemarin pagi (karena Ren masih kesulitan mandi sendiri), Cia mengembalikannya.

"Kenapa dilepas?" tanya Ren saat Cia duduk di sebelahnya.

"Kan yang punya udah pulang. Tugasku buat nyimpan separuh nyawamu udah selesai," jawab Cia sambil tersenyum, menyisir rambutnya dengan jari.

Ren terdiam sejenak. Pria itu mengalungkan dog tag tersebut kembali ke lehernya sendiri, memasukkannya ke balik kaus tidurnya. Kemudian, dengan gerakan tenang, Ren meraih tangan kiri Cia, mengusap cincin emas putih polos yang melingkar di jari manis istrinya.

"Kamu tahu, Almeera," ucap Ren pelan, menatap cincin itu. "Di dunia militer, kami diajarkan untuk selalu bersiap menghadapi yang terburuk. Meninggalkan surat wasiat di laci asrama sebelum berangkat tugas adalah rutinitas yang wajar."

Cia mengerutkan kening, perasaannya mendadak tak enak. "Mas, jangan bahas yang seram-seram malam-malam, ah."

"Dengarkan dulu," Ren menggenggam kedua tangan Cia. "Sebelum saya berangkat ke pedalaman waktu itu, saya tidak menulis surat wasiat untuk Jenderal Arman. Saya menulisnya untukmu."

Cia tertegun. Napasnya tertahan.

"Isi surat itu bukan soal pembagian aset atau uang pensiun. Saya hanya menulis satu paragraf," Ren menatap mata istrinya lekat-lekat, menyalurkan segala kesungguhan hatinya. "Saya menulis: Jika saya gugur, saya membebaskan Almeera Cia dari segala ikatan keluarga Adhyaksa. Jangan paksa dia menjadi janda prajurit seumur hidupnya. Biarkan dia mengejar cita-citanya sebagai dokter hebat, dan biarkan dia menemukan pria sipil yang bisa memberinya waktu, kebebasan, dan kepastian pulang setiap sore."

Hati Cia serasa diremas kuat-kuat. Kepedihan dan rasa cinta yang begitu besar bercampur aduk mendengarnya. Pria ini, bahkan saat menuju ke medan perang yang mematikan, masih memikirkan jalan keluar bagi kebahagiaan istrinya jika ia tak pernah kembali.

"Kamu egois," bisik Cia dengan suara bergetar. Air matanya tak bisa dibendung lagi. Gadis itu menangkup wajah Ren. "Kamu mau jadi pahlawan buat negaramu, terus mati jadi pahlawan buat aku juga? Nggak bisa gitu, Kapten Ren Adhyaksa."

Cia mencondongkan wajahnya, menyatukan kening mereka. "Aku nggak butuh pria sipil yang pulang setiap sore. Aku cuma butuh kamu. Pulang malam, pulang pagi, penuh lumpur, atau dipenuhi luka... asalkan kamu yang pulang, aku bakal terima. Jangan pernah berani nulis surat wasiat konyol kayak gitu lagi."

Ren menutup matanya, merasakan hangatnya napas Cia yang menerpa wajahnya. Semua beban, trauma pertempuran, dan bayang-bayang kematian yang sempat menghantuinya, sirna tak berbekas.

"Siap, Dokter Almeera," bisik Ren.

Pria itu memiringkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang lambat, dalam, dan penuh dengan penyerahan diri. Tidak ada lagi keterpaksaan. Tidak ada lagi tembok kecanggungan. Di atas ranjang rumah dinas yang sederhana itu, mereka mematri sumpah yang jauh lebih kuat dari sekadar janji di depan penghulu.

Sumpah untuk terus bertahan, bertarung, dan selalu menemukan jalan pulang... kepada satu sama lain.

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!