Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEMBURU
Kala mulai mengerjakan proyek. Dia masuk kategori game edukasi untuk anak usia 5- 7 tahun bersama Nafisah dan Kamal, kedua rekan kerja Kala ini mahasiswa tingkat akhir, yang sedang mengerjakan skripsi.
"Kamu pintar loh, Kal. Ikut proyek di semester awal begini, karena jenjang karirnya lebih lama, portofolio kamu banyak, malah bisa gak usah skripsi," ujar Nafisah setelah pembagian tugas proyek.
"Benar tuh, apalagi kalau ikut Pak Thoriq selalu diarahkan agar proyek ini bisa dijadikan skripsi juga, lengkap dengan artikel ilmiahnya," lanjut Kamal.
"Kita menyesal sih baru ikut di semester akhir ini," lanjut Nafisah. Kala hanya mengangguk paham, tak perlu komentar apapun, lebih baik mendengar nasehat sang senior.
Mereka pun mulai menyusun action plan pengerjaan proyek ini, deadline dan jadwal review progres proyek disepakati setelah kuliah, karena jadwal mereka tidak match. Pukul 4 sore di gazebo masjid kampus menjadi area kumpul kelompok proyek ini. Tak lupa, mereka juga membuat grup WA untuk memantau progres tugas masing-masing.
Pertemuan kali ini bertujuan untuk menentukan tema edukasi, Nafisah dan Kamal menganalisis jurnal, terkait media yang dibutuhkan oleh anak media itu, salah satunya adalah game edukasi. Keduanya menganalisis 3 sampai 5 jurnal. Setelah menganalisis, mereka bertiga pun tukar pendapat terkait penyusunan prototype. Mereka menyamakan garis besar game, setelah itu baru bisa break down tugas untuk dikerjakan masing-masing.
Selama berprogres, tentu ketiganya tidak hanya serius mengerjakan proyek, pasti ada moment tukar cerita, ngobrol receh, atau pun janjian buat makan dan nongkrong.
"Kamu mau ikut gak aku sabtu siang mau nongkrong di cafe sekalian garap proyek sama Mbak Nafisah dan Mas Kamal," ajak Kala pada sang istri. Siapa tahu mau, kan pulang dari cafe bisa sekalian kencan.
"Enggak ah, sabtu aku mau coba resep baru sebelum praktik hari senin," jawab Pevita yang memang sudah ada rencana itu. Bahkan ia sudah meminta Mbak ART menemaninya belanja di pasar.
"Hem, sayang banget deh. Padahal aku mau mengenalkan kamu sebagai istriku," ucap Kala dengan wajah cemberut layaknya anak kecil kehilangan permen, mana sambil memeluk tubuh langsing Pevita lagi.
"Kenapa sih mau banget semua orang tahu kalau aku istri kamu. Lagian kamu gak malu punya istri lebih tua," sewot Pevita, padahal dirinya juga yang sedikit minder punya suami brondong.
"Enggak, ngapain malu. Mereka kalau menghina bakal aku balas lah, kalian ciuman sama pacar tambah dosa, kalau aku ciuman tambah pahala, jleb kan!" Pevita melongo, suami bocilnya ini mulutnya level setan juga. Aduh bisa bocor banget nih urusan ranjang.
"Bisa gak urusan privasi gak usah diumbar?" Pevita memberi ultimatum sebelum sang suami cerita tanpa rem begitu. Apalagi kalau di tongkrongan laki, pembahasan hal intim menjadi topik utama kan? Waduh bahaya nih, kalau Kala ember.
"Enggak lah, Yang. Gak mungkin aku cerita nikmatnya bercinta sama kamu, bisa-bisa mereka travel otak dong!" untungnya Kala dewasa, jadi tahu mana yang harus dikeep, mana yang diumbar.
"Dih, apaan ngomong kayak gitu. Pokoknya urusan ranjang, gak boleh ada yang tahu. Awas saja!" ancam Pevita.
"Baik, Nyonya! Tapi imbalan tutup mulutnya mana?" si jahil Kala dengan menaik turunkan alis, kalau sudah begini kode banget untuk berbagi keringat. Pevita hanya berdecih, tapi mana bisa menghindar dari aktivitas itu. Kala selalu berhasil mendapatkan jatahnya. Sekarang, Pevita percaya laki-laki yang sudah pernah berhubungan badan bakal ketagihan, pantas saja teman kuliahnya sampai memilih meminum pil KB, karena sering melakukan aktivitas itu bersama sang pacar. Satu hal yang patut disyukuri Pevita, dia terhindar dari pergaulan bebas.
Seperti biasa, Kala selalu semangat mengajak Pevita ke puncak kenikmatan. Apalagi sudah sering melakukan, skillnya pun makin membuat Pevita kuwalahan.
"Sayaaaang," lenguh Pevita dengan memejamkan mata. Tak lama Kala pun ambruk di atas tubuh polos sang istri. Semakin hari, Pevita semakin posesif pada sang suami. Tak akan ia biarkan sang suami lapar dalam urusan ini, karena membayangkan dia haus kasih sayang dan mencari perhatian di luar sangat sakit. Sudah cukup dikhianati Refan, Kala jangan.
Namun, sifat posesif yang terlalu berlebihan juga tidak baik. Terkesan kurang mempercayai pasangan. Apalagi Kala mulai berinteraksi dengan teman cewek, baik di kuliah maupun proyek. Sejauh ini memang teman kuliah tidak ada lagi yang menggoda Kala, mereka percaya kalau Kala sudah menikah. Sedangkan untuk tim proyek, Pevita masih memantau. Selama ia zoom dengan Nafisah, dan cek grup tidak ada hal yang mencurigakan, pure mengerjakan proyek. Rasanya Pevita bisa gila, overthinking bila Kala berinteraksi dengan perempuan lain.
Wajar ia merasa begitu, pengkhianatan Refan masih berbekas, apalagi bersama Kala ia sudah menyerahkan kehormatan juga, tak bisa membayangkan kalau sampai janda muda karena diselingkuhi lagi. Mewek kejer.
Hanya saja kalau terlalu overthinking juga tidak baik, seperti halnya siang ini, setelah Kala memberi kabar bahwa dirinya sudah sampai di cafe, dan Pevita sibuk berkutat di dapur tak sempat membalas, masuklah sebuah pesan dari Refan.
"Mbak Pev, masih chat sama Mas Refan?" tanya Mbak ART yang ikut membantu Pevita praktik resep, sempat melihat pop up layar sang majikan.
"Enggak. Kenapa?" tanya Pevita masih mengolah bahan.
"Barusan chat kayaknya," ujar Mbak ART. Pevita tak segera membuka, karena menurutnya gak penting. Palingan dia spam sok sok an kangen. Pevita pun lanjut memasak.
Setengah jam kemudian, setelah mengabadikan hasil masakannya, dan mengunggah ke status WA dengan caption Pesmol ala Pevita. Yummy 😍😍.
Tak lama ia pun mendapat komentar dari sang suami dan ibu mertua. Sedikit kaget, baru kali ini ibu mertuanya mengomentari statusnya.
Kapan-kapan masak bareng ya Mbak. Begitu mama Kala mengomentari status Pevita, membuat Pevita tersenyum bahagia. Mendapat perhatian kecil dari mertua itu langka, Pevita pun membalas pesan beliau.
Boleh Ma. Nanti kalau liburan kita pulang ke rumah mama ya. Kita masak bareng, balas Pevita. Ia juga gak boleh cuek, karena mau bagaimana pun justru anak muda yang harus banyak menjalin silaturahmi, termasuk membuka komunikasi dengan mertua.
Oke Mbak. 👍👍👍
Selesai dari chat mama mertua, giliran membuka room chat sang suami yang juga mengomentari statusnya.
Aku mau pesmolnya, tunggu ya satu jam lagi aku pulang. Mau dibawain apa? Matcha atau gula aren? Pevita kembali tersenyum karena Kala begitu inisiatif.
Es kopi gula aren aja deh, sama tiramisu cake ya. Kalau ada. Balas Pevita.
Oke Sayang. Jawab Kala fast respon.
Senyum Pevita langsung luntur ketika membuka pesan Refan, apalagi dengan pesan yang menumbuhkan rasa cemburu Pevita.
Suami brondong kamu. Awas nih bau-bau selingkuh 🤭🤭🤭.
Masalahnya Refan juga melampirkan foto Kala dan seorang cewek berjilbab, keduanya saling tertawa, dan terlihat hanya berdua.
"Bikin mood anjlok aja, nanti bakal aku cek ponsel kamu, Kala!" ucap Pevita kesal.
nobar , pengajian nya mamah Dedeh