NovelToon NovelToon
Rahasia Perjodohan Anak SMA

Rahasia Perjodohan Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.

Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.

Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26 Kok Posesif

Celia terlihat membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur di atas tempat tidur dengan menjatuhkan begitu saja dan kepalanya menoleh ke arah belanjaan yang baru saja dia beli.

"Seharusnya memang tidak menerima barang-barang ini," ucapnya masih tetap kepikiran dan menyesal.

Dratt-dratt-drat.

Ponsel Celia tiba-tiba saja berdering membuat Celia melihat panggilan tersebut.

"Ngapain dia nelpon," ucapnya.

"Assalamualaikum!" sapa Celia.

"Gue didepan, keluar!" suara itu terdengar begitu berat tak lain adalah Alfian.

Celia mengerutkan dahi, kemudian langsung keluar dari rumahnya dan ternyata benar melihat Alfian bersandar pada mobilnya dengan kedua tangannya dilipat di dada.

"Bukannya jawab salam malah nyuruh-nyuruh keluar," ucap Celia dengan kesal.

"Apa maksud lo, ngatain gue dan teman-teman gue di dalam kelas murid-murid angkuh dan tidak mau berbaur hah!" tanya Alfian.

"Maksudnya?" tanya Celia kebingungan.

Alfian tidak memberi penjelasan lagi tetapi dari tatapan matanya tampak begitu tajam hanya menginginkan jawaban.

"Ya, kan memang benar, anak-anak kelas 12 IPA itu tidak ingin berbaur, sombong sombong," jawabnya menyadari maksud Alfian.

"Bukannya gue dan teman-teman satu kelas tidak mau berbaur, tetapi lo yang tidak bisa menempatkan diri, seharusnya sebagai murid baru, bisa menempatkan diri jangan mandiri, lo pikir teman datang sendiri jika tidak dicari hah," sahut Alfian.

"Ya buktinya gue sekarang sudah memiliki teman, nggak nyari juga dan ada aja yang datang," jawabnya.

"Siapa, Rafa, atau Chintya?" tanya Alfian.

"Siapapun itu yang terpenting tidak perlu cari-cari teman, kalau kita baik maka teman itu akan datang sendiri," sahut Celia tetap saja pada jawabannya yang konsisten.

"Ada Alfian ternyata!" di tengah pembicaraan itu tiba-tiba saja Ratih datang.

"Ya ampun, Alfian sore-sore seperti ini datang ke rumah, ini sudah magrib dan sebentar lagi adzan maghrib, ayo sebaiknya masuk, Celia Kamu buruan bersih-bersih, Alfian kita salat berjamaah kamu imamnya ya," ucap Ratih.

"Hah maksudnya bagaimana Bunda?" tanya Alfian panik.

"Iya sholat berjamaah, ayo buruan, kamu juga Celia buruan bersih-bersih," ucap Ratih memasuki rumah.

"Ha-ha-ha-ha," Celia tiba-tiba saja tertawa.

"Apa yang lucu hah!" sahut Alfian.

"Bagaimana mau jadi imam, ngaji aja masih salah-salah," ucap Celia dengan mengejek.

"Selucu itu," sahut Alfian semakin kesal.

"Oke-oke, semoga berhasil," sahut Celia masih saja tertawa yang memasuki rumah.

Alfian benar-benar terjebak datang kerumah Celia dengan tidak tepat waktu, saat ini dia harus menjadi imam Ratih dan Celia, Alfian mungkin kecil belajar sholat, bacaan sholat pasti masih hafal di ingatannya meski sangat jarang melakukannya.

Walau seperti itu tetapi saja Alfian bukan imam yang sempurna, tetapi masih memiliki keberanian untuk sholat.

Sampai akhirnya sholat berjamaah itu selesai dan Alfian sedang duduk di meja makan yang berada di dapur dan Celia mendapat tugas dari bundanya untuk memasak mie instan.

"Lo mau rasa apa?" tanya Celia.

"Memang lo bisa buat?" tanya Alfian ragu.

"Sembarangan, ya bisalah, mie instan buatan gue itu paling enak," sahut Celia dengan percaya diri.

"Masa iya," sahut Alfian.

"Memang lo bisa buat?" tanya Celia balik.

"Kecil!" Alfian berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Celia.

"Mau ngapain, lo mau buat?" tanya Celia

"Masakan gue, sudah pasti jauh lebih enak daripada lo," ucap Alfian.

"Masa iya," sahut Celia tidak percaya dan hanya memperhatikan Alfian.

Alfian terlihat mengambil beberapa cabe rawit dan bahan-bahan lain, tangannya tampak lancar memainkan pisau seperti orang yang memang sudah terbiasa memegang pisau tersebut dalam memotong cabai secara teratur yang sejak tadi diperhatikan Celia.

Alfian benar-benar mengambil alih dalam memasak mie instan, Celia geleng-geleng kepala tampak takjub cara Alfian memecahkan telur seperti penjual gerobak abang-abang.

"Hmmmmm, aromanya lezat sekali," Celia harus mengakui aroma mie instant tersebut membuat cacingnya bergemuruh sudah tidak sabar untuk menikmati.

Wajah tengil Alfian terlihat semakin jelas, bagaimana dia ingin menyombongkan diri bahwa dia memang bisa melakukan apapun dan sampai akhirnya mie instan itu sudah masak dan diletakkan di dalam mangkuk.

"Ini benar-benar enak?" tanya Celia sudah tidak sabar ingin menikmatinya.

"Pelan-pelan, panas!" ucap Alfian.

"Cieeee.... Perhatian!" goda Celia.

"Hah!" Alfian mengerutkan dahi dengan geleng-geleng kepala.

"Coba dulu deh, masakan anak manja dari Alfian Pratama Wijaya," ucapnya terlihat meniup kuah mie instan tersebut dan kemudian menyeruput.

"Hmmmmm, benar-benar lezat luar biasa," ucap Celia mengakui kenikmatan dari mie instan tersebut.

"Benarkah, jadi gue tidak bohong bukan kalau anak manja seperti gue bisa memasak," sahut Alfian.

"Ya elah, semua orang juga bisa memasak mie instan, emang lu aja," sahut Celia.

"Memang semua orang bisa memasak mie instan, tetapi tidak semua orang bisa memasak seenak buatan gue," ucap Alfian.

"Iya-iya yang paling enak," sahut Celia.

"Kalau begitu diberikan nilai berapa?" tanya Alfian.

"Hmmmm, berapa ya, sekitar 5, atau...." Celia sepertinya sengaja ingin membuat Alfian kesal yang menunggu nilai tersebut.

"95 deh," ucapnya memberikan nilai tertinggi.

Alfian tempat tersenyum, dari raut wajahnya yang tampan sepertinya sangat suka dengan pengakuan Celia.

"Celia jangan terlalu dekat dengan Chintya," ucap Alfian tiba-tiba saja membuat Celia mengerutkan dahi dan hampir saja tersedak.

"Bagaimana tadi?" tanyanya

"Gue nggak tahu, tetapi Valery dan Chintya tidak akur dan selalu bersaingan, gue juga ngerasa kalau dia cewek manipulatif, dan pintar cari perhatian di sekolah," ucap Alfian.

"Yang punya masalah dengan Chintya Valery dan apa urusannya dengan gue, terserah gue berteman dengan siapapun dan kecuali tadi gue itu temenan dengan kalian," sahut Celia.

"Bukankah nyokap dan Om lo mempercayakan lo sama gue, jika terjadi sesuatu sama lo dan yang tanggung jawab harus gue, lo nggak punya siapa-siapa di sekolah dan hanya punya gue yang artinya lo harus patuh sama gue," ucap Alfian.

"Idih, kenapa jadi posesif seperti ini Tuan Alfian, heh kita berdua itu hanya dijodohkan, yang ngejodohi orang tua kita dan kita juga bahkan tidak mau, jadi kenapa juga harus punya tanggung jawab sama gue," ucap Celia.

"Apapun itu gue harus menjaga tanggung jawab yang diberikan sama gue, gue nggak mau dapat masalah dari Om lo," ucap Alfian.

"Apaan sih Alfian, kayak udah orang bener aja, posesif," Celia tiba-tiba salah tingkah dengan pipinya memerah dan mengalihkan dengan menikmati mie instan tersebut.

Alfian tiba-tiba saja menyimpan senyum di wajah tampannya, dia juga tidak tahu kenapa harus berbicara seperti itu.

Bersambung.....

1
Alex
cie...
Japa Yipo
yang kelihatan sempurna blm tentu benar menurut orang yang jalanin🙃 ya memandang sesuatu Jang hanya satu cara saja
Emi Sudiarni
mantap kak
Emi Sudiarni
bgus, kak snang bca klw membuat novel. tentang. sma atau khidupan di kampus
Enz99
bagus
Oma Gavin
ortu egois yg ada valery gila
Herman Lim
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!