NovelToon NovelToon
Janda Muda Pilihan CEO

Janda Muda Pilihan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: EKSEKUSI TENGAH MALAM

Jalanan ibu kota yang biasanya mulai lengang di atas jam sebelas malam, sama sekali tidak menurunkan tensi ketegangan di dalam mobil sedan mewah antipeluru milik Dafa Mahardika. Pria itu duduk di kursi belakang dengan tatapan mata yang sedingin es, menatap lurus ke arah pendar lampu-lampu gedung pencakar langit dari balik kaca jendela. Di atas pangkuannya, sebuah laptop tipis terus menampilkan grafik pergerakan saham real-time yang mulai bergejolak tidak stabil.

Aura dominan dan haus darah dari sang CEO malam itu benar-benar pekat. Setelah mendapati kenyataan bahwa musuh bisnisnya, Sanjaya Group, tega menggunakan keluarga Rendy dan menyusupkan racun ke rumahnya demi menghancurkan ketenangannya, Dafa tidak lagi berniat bermain menggunakan aturan hukum yang lambat. Jika mereka berani menyentuh batas sucinya—yaitu keselamatan Nazya dan ayahnya—maka Dafa akan memastikan mereka kehilangan segalanya sebelum matahari terbit.

Mikael yang duduk di kursi penumpang depan sesekali melirik bosnya dari spion tengah dengan jakun yang naik turun. Ia tahu betul, jika Dafa sudah mengeluarkan perintah darurat tingkat tinggi, maka sebuah dinasti bisnis besar di kota ini sedang menghitung mundur jam kematiannya.

"Pak Dafa, tim audit finansial gabungan kita sudah berhasil menyusup ke dalam server internal anak perusahaan Sanjaya Group tiga puluh menit yang lalu," lapor Mikael dengan suara rendah namun tegas. "Seperti dugaan Anda, kami menemukan rekam jejak penggelapan pajak sekutu mereka dan manipulasi laporan keuangan proyek pelabuhan internasional senilai dua triliun rupiah selama tiga tahun terakhir."

Dafa tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Jemari tangannya yang panjang mengetik beberapa baris perintah enkripsi. "Bagus. Kirimkan seluruh dokumen mentah itu ke komisi pemberantasan korupsi dan kementerian keuangan sekarang juga. Jangan lewatkan satu berkas pun. Pastikan tidak ada celah bagi mereka untuk menyuap orang dalam."

"Baik, Pak. Lalu bagaimana dengan pasar saham?" tanya Mikael lagi.

Dafa menyunggingkan senyum tipis yang sangat kejam di sudut bibirnya. "Instruksikan firma hukum kita di Singapura dan London untuk mulai melepas seluruh kepemilikan obligasi kita di jaringan mereka. Di saat yang sama, gerakkan akun-akun bayangan kita untuk melakukan aksi jual panik di lantai bursa begitu pasar dibuka besok pagi. Aku mau nilai saham Sanjaya Group anjlok hingga menyentuh batas bawah dalam satu jam pertama."

Pria itu menutup laptopnya dengan suara hentakan yang pelan namun sarat akan otoritas mutlak. "Malam ini, nama Sanjaya akan menjadi sejarah yang memuakkan di negeri ini."

Sementara itu, di dalam kamar VIP Rumah Sakit Pusat Mahardika, keheningan malam terasa begitu mencekam bagi Nazya. Janda muda itu masih duduk di atas ranjang perawatannya dengan kedua lutut yang ditekuk ke dada. Meskipun Mami Kinanti sudah pulang ke rumah utama atas desakan Dafa untuk beristirahat, Nazya sama sekali tidak bisa memejamkan matanya walau hanya sedetik.

Pikiran Nazya terus berputar pada lembar kertas ancaman yang tadi dipegang oleh Dafa. Rasa bersalah yang teramat besar kembali merayap, mencengkeram dadanya hingga ia merasa sesak napas. Di dalam benaknya, ia adalah kutukan. Kehadirannya di sisi Dafa hanya membawa badai masalah, mulai dari kekacauan di kantor hingga ayahnya sendiri yang kini terbaring koma dengan ventilator di ruang ICU sebelah karena menjadi korban pemerasan.

Nazya menurunkan kakinya perlahan dari ranjang, mengabaikan rasa ngilu pada tulang kaki kanannya yang masih dibalut gips tebal. Dengan bertumpu pada tiang infus di sampingnya, ia menyeret langkahnya dengan perlahan, mendekati pintu kaca penghubung yang mengarah langsung ke koridor ICU.

Melalui celah kaca, ia bisa melihat tubuh ringkih ayahnya yang dipenuhi oleh berbagai macam selang dan monitor jantung yang berbunyi beritme konstan. 'Maafkan Nazya, Ayah...' batinnya menjerit pilu, air matanya kembali meluncur deras membasahi pipinya yang pias. 'Jika saja Nazya tidak egois ingin bahagia bersama Mas Dafa, Ayah tidak akan berakhir seperti ini.'

Tepat di tengah kesunyian malam itu, pintu kamar VIP mendadak terbuka dari luar. Nazya refleks membalikkan tubuhnya dengan terkejut.

Sosok Dafa melangkah masuk dengan langkah kaki yang tenang namun tegas. Pria itu sudah menanggalkan jas hitamnya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka, mengekspos leher kokohnya yang tegap. Begitu melihat istrinya berdiri dengan susah payah sambil menangis di depan pintu kaca, sepasang mata elang Dafa seketika menyipit tajam penuh ketidakpuasan.

Dalam dua langkah lebar, Dafa sudah berada di depan Nazya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung menyusupkan kedua lengan kekarnya di bawah tubuh Nazya, mengangkat janda muda itu kembali ke dalam gendongannya dengan gerakan posesif yang tidak bisa dibantah.

"Siapa yang mengizinkanmu turun dari ranjang, Nazya?" tanya Dafa, suaranya terdengar sangat berat, bariton, dan dipenuhi oleh aura dominasi yang menuntut kepatuhan total.

Dafa mendudukkan Nazya di tepi ranjang, namun ia tidak melepaskan kungkungan tubuh besarnya. Kedua tangan tegap Dafa bertumpu di sisi kiri dan kanan paha Nazya, mengunci pergerakan istrinya sepenuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

Nazya mendongak dengan mata yang sembap, menatap lurus ke dalam manik mata Dafa yang kelam. "Mas Dafa... kenapa Mas kembali lagi? Bukankah Mas bilang ada urusan penting di luar?"

"Urusanku di luar sudah selesai," jawab Dafa dingin, namun tatapan matanya perlahan melembut saat melihat jejak air mata di pipi istrinya. Tangan besarnya terangkat, mengusap kasar namun penuh kehangatan sisa air mata itu dengan ibu jarinya. "Dan urusan terpentingku saat ini adalah memastikan istriku tidak menyiksa dirinya sendiri di tengah malam."

Nazya membuang pandangannya ke samping, tidak kuat menahan intensitas tatapan Dafa yang seolah bisa membaca seluruh isi kepalanya. "Mas Dafa tidak perlu sepeduli ini pada saya... Saya hanya membawa sial untuk hidup Mas. Lihat apa yang terjadi pada Ayah, lihat apa yang terjadi di kantor Mas tadi siang. Semuanya karena saya—"

"Dengar, Nazya Humaira," sela Dafa tegas, tangan kanannya bergerak mencengkeram dagu Nazya dengan lembut namun penuh penekanan, memaksa wanita itu untuk kembali menatapnya. "Kecelakaan yang menimpa ayahmu bukan karena dirimu. Itu adalah ulah orang-orang rakus yang memanfaatkan situasi, dan aku sudah memastikan malam ini mereka semua membayar harganya dengan kehancuran total."

Dafa memajukan wajahnya, mengikis jarak di antara mereka hingga deru napas maskulinnya yang hangat menerpa permukaan kulit wajah Nazya. "Di dunia ini, tidak ada yang namanya kutukan atau pembawa sial. Kamu adalah istriku, tanggung jawabku, dan satu-satunya wanita yang berada di bawah perlindungan mutlakku. Jika ada yang harus disalahkan atas badai ini, maka salahkan musuh-musuhku yang terlalu bodoh karena berani mengusik milikku."

Mendengar kata 'milikku' yang keluar dengan begitu posesif dan alami dari belahan bibir Dafa, jantung Nazya seketika berdegup kencang. Ada rasa hangat yang murni yang perlahan menjalar di dadanya, mengikis rasa bersalah dan ketakutan yang sejak tadi menyiksanya. Perlindungan Dafa terlalu kokoh, terlalu nyata untuk ia abaikan.

Nazya memberanikan diri menyentuh dada bidang Dafa dengan telapak tangan kurusnya, merasakan detak jantung suaminya yang kuat dan stabil di balik kain kemeja putihnya. "Apakah... apakah Ayah benar-benar akan baik-baik saja, Mas?"

Dafa menggenggam tangan Nazya yang berada di dadanya, lalu mengecup telapak tangan itu dengan lembut dan lama. "Aku sudah mendatangkan profesor spesialis toksikologi terbaik dari Jerman malam ini juga menggunakan jet pribadi. Dia akan tiba subuh nanti. Ayahmu akan selamat, Nazya. Aku menjaminnya dengan seluruh nama besar Mahardika."

Nazya akhirnya tidak bisa menahan rasa harunya. Ia memajukan tubuhnya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dafa, memeluk leher kokoh suaminya itu dengan erat sambil menumpahkan sisa-sisa tangisnya yang melegakan. Dafa membalas pelukan itu dengan sangat erat, melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping Nazya, mengunci wanita itu di dalam dekapan protektifnya seolah takut kehilangan.

Namun, di tengah momen kehangatan yang intim di dalam kamar VIP yang sunyi itu, suara alarm peringatan darurat dari arah ruang ICU sebelah mendadak memekik keras, memecah keheningan malam dengan bunyi yang sangat melengking dan cepat.

PIP... PIP... PIP... PIP...

Melalui dinding kaca ganda, lampu indikator di atas ranjang Pak Handoko mendadak berkedip-kedip merah konstan, diikuti oleh grafik monitor jantungnya yang berubah menjadi garis lurus vertikal yang mengerikan. Beberapa perawat dan dokter jaga malam tampak berlari kencang menerobos masuk ke dalam ruangan dengan membawa alat kejut jantung defibrilator.

1
miilieaa
halo kak, baru awal baca udah seru nihh
miilieaa: baik kakak, saya lanjut baca dulu lagi yaa kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!