Cerita Ini bersifat fiktif belaka!
Kais Arfan Syailendra melakukan kesalahan satu malam dengan Anisa Syafa sekertaris nya sekaligus sahabat dari istrinya.
Kais menjerat Anisa dalam hubungan rumit dengan tujuan membongkar pengkhianatan yang di lakukan Marsya istri Kais bersama Bagas tunangan Anisa.
Bagaimana Kais membuat Anisa tetap disisinya dan membongkar rahasia masalalu mereka? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Nyaman ( Revisi)
Setelah dari mansion utama keluarga Kais , terpaksa Kais menuruti kemauan istri sirinya itu untuk kembali ke kostnya.
Sementara dirinya kembali ke rumah pribadinya bersama Marsya. Sampai rumah pribadi nya, Kais turun dari mobilnya dan berjalan melangkah masuk ke dalam rumah nya dengan langkah gontai.
"Kamu baru pulang Kai?" Kais menghentikan langkahnya saat mendengar suara Marsya dari arah dapur.
"Hemmm..kamu ternyata di rumah?" dengan malas Kais bicara pada Marsya.
"Aku nunggu kamu pulang Kai, kita sudah lama nggak ketemu kan? Akhir-akhir ini kita terlalu sibuk." Marsya mendekat ke arah Kais dan menatap lembut ke arah suaminya.
"Ya gimana lagi, banyak proyek baru yang sedang jalan. Apalagi masih banyak rencana untuk pekerjaan yang lainnya. Anisa sahabat kamu itu pasti cerita sama kamu kan?" Mendengar nama Anisa, Marsya ingat jika selama dia pergi ke Singapura dan bahkan sampai kembali dari sana dia tidak menghubungi sahabatnya itu. Dia bahkan lebih sering bertukar kabar dengan Bagas yang tak lain kekasih sahabat nya itu.
"Ah iy_iya. Aku juga sudah lama nggak ketemu sama dia. Jangan sampai buat dia lelah Kai, kasih dia waktu buat sekedar makan malam sama Bagas, aku dengar Bagas juga kesulitan ketemu sama dia akhir-akhir ini."
"Kamu bahkan tahu kalau Bagas sulit ketemu Nisa, apa Bagas juga hubungi kamu?" Marsya langsung menjadi gugup saat Kais mengatakan hal itu, karena sebelumnya dia juga baru bersama Bagas.
"Ah itu, dia sempat hubungi aku tanya soal kamu yang terus-menerus buat Anisa lembur. Sebaiknya kalian juga perlu memperhatikan kesehatan kalian."
"Pasti itu. Aku ke kamar dulu, istirahat lah. Habis mandi, aku mau kembali cek pekerjaan ku."
"Tapi Kai, aku kangen sama kamu.." Marsya memeluk tubuh Kais dengan erat. Rasanya Kais bertambah hari tambah cuek padanya. Dia pikir mungkin Kais marah karena sering meninggalkannya keluar kota bahkan luar negeri.
"Aku capek Sya, kamu paham kan? Lebih baik kamu istirahat. Kita akan bahas ini besok lagi." Kais melerai pelukan Marsya dan kemudian melangkah lebih dulu naik ke lantai dua guna membersihkan diri.
Marsya menatap nanar kepergian Kais. Dia hanya bisa membuang nafas kasarnya. Marsya melangkah menuju lantai atas ke arah kamar nya. Dia teringat akan pesan mertuanya tadi sore.
Sekar sempat mengirimkan pesan pada Marsya untuk lebih memperhatikan Kais. Bahkan Sekar menyinggung tentang program bayi tabung yang sedang Marya dan Kais proses lakukan.
"Kamu harus lebih perhatian sama Kais, kalau kamu nggak mau kehilangan semuanya. Jangan sampai kamu menyesal karena kamu sudah terlalu jauh melangkah demi keegoisan kamu itu."
Kata-kata mertuanya itu terngiang di pikiran Marsya. Rasanya dia sudah mulai nyaman dengan apa yang dia lakukan dengan Bagas dan harusnya itu segera Marsya hentikan.
...----------------...
Hari ini Marsya mengunjungi Rumah Sakit dimana dia melakukan program bayi tabung. Setelah dia menghubungi suaminya, Marsya menunggu Kais di sebuah cafe dekat Rumah Sakit.
Marsya yang sedang fokus pada ponselnya tiba-tiba saja dia buat terkejut dengan kedatangan Bagas disana.
"Marsya, kamu disini? Mana Kais?" Marsya mendongakkan kepalanya menatap sosok Bagas yang berdiri tak jauh dari tempat dia duduk.
"Eh.. Gas, kamu kok disini? Aku lagi tunggu Kais, dia lagi meeting sebentar katanya." Bagas menganggukan kepalanya.
"Aku kebetulan baru istirahat. Niatnya mau ngopi disini sebentar. Aku boleh gabung disini?" Marsya mengangguk setuju. "Kamu nggak apa-apa kan Sya?" Marsya menatap Bagas.
"Iya, aku baik-baik saja. Cuma sedikit kepikiran soal ibu mertua ku yang selalu ingatkan aku soal anak. Rasanya aku capek, aku ngerasa aku sudah gagal Gas ." wajah Marsya berubah sendu. Dia sangat mencintai Kais, dia tidak ingin kehilangan suaminya itu. Walaupun memang dia sadar kalau Kais sedikit mulai berubah. Maka dari itu dia mulai merasa resah.
"Jangan ngomong gitu Sya, kamu sekarang sudah berusaha buat mendapatkan keturunan. Sya, kamu hanya perlu orang yang paham akan hati dan perasaan kamu. Ingat Sya, kamu harus terus semangat." ucapan Bagas mengingatkan bahwa dirinya yang sudah membuat semuanya tertunda. Semua adalah buah dari keegoisan nya selama ini.
Marsya tak rela meninggalkan atau kehilangan kariernya yang sudah lama dia perjuangkan. Kais mengerti akan profesi Marsya dan tidak sepenuhnya melarang Marsya untuk berhenti menjadi model. Tapi, Kais cuma ingin Marsya mengurangi jadwal pekerjaan nya. Kais pun ingin Marsya mencoba untuk mendekatkan diri pada sang mama. Marsya juga selama ini diam-diam selalu meminum obat pencegah kehamilan agar tidak hamil karena selama ini belum rela melepaskan profesi nya.
"Kenapa rasanya Bagas lebih ngerti yang aku mau dan yang aku butuhkan. Kenapa suami ku malah semakin menjauh akhir-akhir ini." batin Marsya terus bertanya-tanya mengapa dirinya lebih nyaman untuk bicara dengan Bagas.
Di tempat lain, Anisa dan juga Kais baru saja selesai meeting dengan klien di sebuah restoran.
"Mas, aku balik kantor sama Rendi saja ya, kamu kan harus ke Rumah Sakit. Kasihan Marsya pasti sudah nunggu lama."
"Tapi Nis, aku malas buat ke Rumah Sakit dan terusin program ini."
"Mas, kamu jangan seperti itu, kasihan Marsya. Dia itu berharap program kalian berhasil. Jadi jangan sampai kamu kecewakan dia. Bahkan dia rela nggak ambil job untuk beberapa hari demi ini loh.." Kais menghela nafas panjang.
"Dia cerita apa saja sama kamu. Memangnya kamu nggak cemburu kalau aku sama Marsya punya anak?"
Anisa terkekeh mendengar ucapan Kais. "Kamu ini aneh mas, aku bahkan senang kalau kamu punya anak sama Marsya. Dia pastinya senang banget pastinya sudah berikan kamu gelar ayah."
"Tapi aku maunya kamu yang hamil anak aku Nisa.."
Deg .
"Mas! Kita sudah sepakat kan, aku nggak mau kamu paksa aku buat hamil dalam waktu dekat."
Kais mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku yakin sebentar lagi kamu akan hamil anak ku Nisa. Tunggu saja tanggal mainnya. Aku nggak akan biarkan kamu pergi dari sisih ku." Kais bicara dalam hati jika dia yakin Anisa akan hamil dalam waktu dekat.
Sebuah senyuman licik terbit di bibir Kais. Namun Anisa tak menyadari senyuman yang penuh dengan rencana untuk membuang Anisa tidak bisa pergi dari hidupnya.
Kais pun menuruti keinginan Anisa. Dia menuju Rumah Sakit untuk menemui Marsya.
Di tempat yang di janjikan, Kais melangkah masuk ke dalam sebuah cafe dekat Rumah Sakit. Kais dapat melihat Marsya yang duduk di sebuah kursi sementara di sana ada seorang laki-laki yang Kais lihat dari punggung nya. Dia yakin jika laki-laki yang saat ini bersama Marsya adalah Bagas.
Bersambung