NovelToon NovelToon
Sekretaris yang Tak Tersentuh

Sekretaris yang Tak Tersentuh

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:58.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.

Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.

Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.

Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.

Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.

Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.

Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.

**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**

---

*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Umpan untuk Pengkhianat

Keira tidak menghapus pesan ancaman itu.

Ia memotretnya, meneruskan ke Ci Lien, lalu membawa ponsel masuk ke ruang Rayhan. Di dalam, Rayhan sedang berdiri di depan jendela dengan jas dilepas dan lengan kemeja tergulung. Di meja, salinan log akses sudah terbuka.

"Duduk," katanya.

"Saya tidak apa-apa."

"Aku tidak bertanya."

Keira duduk.

Rayhan membaca pesan itu sekali. Wajahnya tidak berubah, tetapi udara di ruangan terasa turun beberapa derajat.

"Nomor baru," kata Keira. "Kemungkinan bukan Selene langsung."

"Gunawan punya orang untuk hal kecil seperti ini."

Keira menatapnya. "Bapak sudah tahu?"

"Aku tahu Selene akan mencoba. Aku belum tahu seberapa bodoh dia."

"Dan Bapak membiarkannya?"

Rayhan berbalik. "Kalau aku hentikan saat dia baru menyentuh pintu, Papa akan menyebutnya salah paham keluarga. Kalau aku tunggu sampai dia membawa orang luar masuk, itu bukan salah paham. Itu pidana."

Keira mengerti logikanya. Tetap saja, ia tidak suka berada di lorong yang sengaja dibiarkan gelap untuk menangkap pencuri.

"Lalu saya?"

"Mulai hari ini, kamu tidak pulang sendirian."

"Pak Direktur..."

"Ini instruksi kerja."

"Ancaman ini di luar jam kerja."

"Ancaman itu muncul karena pekerjaanmu." Rayhan menatapnya langsung. "Jangan bantah untuk hal yang menyangkut keselamatan."

Keira ingin membantah karena nada itu terlalu memerintah. Namun kali ini, di balik perintahnya, ada sesuatu yang tidak bisa ia sebut sekadar kontrol.

Ci Lien masuk membawa map merah.

"Versi umpan sudah siap," katanya.

Rayhan membuka map itu. Isinya salinan tender final dengan beberapa angka sengaja diubah, cukup halus untuk terlihat asli, cukup fatal untuk membuat siapa pun yang memakainya salah menghitung biaya.

"Taruh di jalur yang biasa disentuh Dita," kata Rayhan. "Pastikan kamera menangkap. Jangan ada yang menghadang."

Keira menatap dokumen itu. "Kalau file ini sampai ke Gunawan, dia akan memakai angka salah?"

"Dan aku akan tahu siapa yang membawanya."

"Bagaimana dengan proyek?"

"Proyek asli aman di server terpisah."

Cara Rayhan bicara membuat operasi itu terdengar seperti memindahkan jadwal rapat. Dingin, rapi, tanpa drama. Keira tiba-tiba paham kenapa banyak orang takut padanya. Rayhan tidak selalu memukul. Kadang ia hanya membuka pintu dan membiarkan orang melangkah ke lubang yang sudah ia ukur kedalamannya.

Malam itu, Keira pulang dengan driver kantor. Arya menunggu di depan apartemen dengan wajah cemas.

"Kenapa kamu tidak balas pesanku?"

"Kerja."

"Ci Lien bilang kamu pulang dengan driver kantor. Ada masalah?"

Keira berhenti membuka pintu. "Kamu tanya Ci Lien?"

"Aku khawatir."

"Mas Arya, jangan menghubungi rekan kerjaku untuk mengecek aku."

Arya tampak tersinggung. "Aku cuma ingin memastikan kamu aman."

"Aku bisa bilang kalau butuh bantuan."

"Tapi kamu tidak pernah bilang."

Keira lelah. Kepalanya penuh file palsu, Selene, Gunawan, dan pesan ancaman. Ia tidak punya energi untuk menjelaskan bahwa perhatian bisa berubah menjadi tekanan kalau tidak tahu pintu mana yang boleh diketuk.

"Aku ingin mandi dulu."

Arya menahan pintu dengan tangan kiri. "Keira, aku pacarmu atau bukan?"

Pertanyaan itu menggantung di lorong.

Keira menatapnya. "Aku bahkan belum bisa menjawab apakah aku siap punya pacar."

"Tapi aku tidur di sofamu. Barangku ada di rumahmu. Orang-orang mengira kita bersama."

"Itu bukan kontrak."

Wajah Arya berubah. Untuk pertama kalinya sejak kembali, kelembutannya retak oleh rasa tidak sabar.

"Kamu menghukumku terus untuk masa lalu."

"Aku sedang melindungi diriku dari masa lalu."

Mereka saling diam. Akhirnya Arya melepas pintu.

"Maaf," katanya, kembali pelan. "Aku panik."

Keira masuk tanpa menjawab. Di dalam, ia bersandar di pintu dan menutup mata. Di luar, langkah Arya naik ke lantai atas.

Keesokan malam, umpan bergerak.

Dita masuk ruang arsip pukul 19.41. Kamera menangkapnya membuka map merah, memotret halaman vendor, lalu keluar dengan tangan gemetar. Lima belas menit kemudian, Selene masuk lift dari lantai administrasi. Pukul 20.13, mobil hitam tanpa logo berhenti di basement B2.

Keira, Ci Lien, dan Rayhan menonton rekaman dari ruang keamanan.

Di layar, Dita menyerahkan amplop kepada seorang pria berbaju safari. Pria itu tidak masuk gedung. Ia hanya mengambil, memberi sesuatu yang tampak seperti amplop uang, lalu pergi.

"Orang Gunawan," kata Rayhan.

Ci Lien menghela napas. "Dita anak baru. Dia bisa hancur."

"Dia memilih menerima uang," kata Rayhan.

Keira tidak membela Dita. Tapi ia melihat cara tangan gadis itu gemetar dan tahu ada kemungkinan Selene menekan titik lemahnya.

"Ibunya sakit ginjal," kata Ci Lien setelah beberapa detik. "Aku pernah lihat dia mengurus klaim BPJS sambil menangis di pantry. Gajinya banyak habis untuk obat tambahan."

Rayhan tetap menatap layar. "Kebutuhan tidak menghapus pelanggaran."

"Saya tahu," jawab Keira. "Tapi kalau Selene memakai itu untuk menekan dia, Dita bisa jadi saksi, bukan hanya pelaku."

Rayhan melirik Keira. "Kamu selalu mencari sisi manusia dari orang yang salah."

"Karena kalau tidak, kita hanya punya daftar kesalahan. Tidak punya cara membongkar siapa yang memanfaatkannya."

Ci Lien menatap Keira dengan ekspresi setuju yang ditahan. Rayhan tidak memuji. Namun ia menutup folder laporan Dita dengan lebih pelan.

"Besok panggil dia," kata Rayhan. "Jangan panggil Selene."

"Kenapa?" tanya Keira.

"Karena Selene harus merasa aman satu hari lagi."

Di BSD, Selene menerima foto dokumen umpan itu dari kontak Gunawan. Ia memperbesar angka biaya, lalu tersenyum puas.

Sanya yang duduk di sampingnya tampak tidak tenang.

"Ini terlalu mudah," kata Sanya.

"Karena semua orang di Gemilang terlalu percaya sistem."

"Rayhan tidak."

Selene menutup ponsel. "Ko Rayhan sedang sibuk menahan cemburu. Percayalah, laki-laki yang sedang jatuh pada sekretarisnya selalu punya titik buta."

Sanya menoleh tajam. "Rayhan tidak jatuh pada Keira."

Selene tertawa pelan. "Kamu terdengar seperti ingin percaya itu."

Sanya diam.

Di ruang keamanan Gemilang, Rayhan membesarkan gambar mobil hitam di layar dan mencatat nomor plat.

"Besok," katanya, "kita lihat siapa yang lebih dulu panik."

Keira menatap layar yang membeku pada wajah Dita. Ia tahu ini baru awal, tetapi ancaman di ponselnya semalam kini terasa lebih nyata.

Di meja ruang keamanan, ponselnya kembali bergetar.

Nomor tidak dikenal yang sama mengirim satu foto.

Foto pintu apartemen Keira.

1
Evy
Instuisi Keira tajam banget ya...
Evy
Selene yang licik dan serakah pada akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri..
Evy
Harusnya Sanya jujur sama suaminya..biar masalah tidak berlarut larut.. mereka kan hanya nikah bisnis aja..
Nur Ajlina
cerita nya keren👍👍
ANJ
bagusss bangettt ..
Wardah Saiful
baguus
ariyan
menarik ceritanya, selalu bikin penasaran
Khaliz11 Satrian: bahasa novel terlallu kaku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!