Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.
Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.
Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar—dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.
"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.
Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. ......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelan Jas, Undangan VIP, dan Cemburu di Balik Pintu
Kota Kirana malam itu tampak sedikit lebih gemerlap dibanding Sukaasih yang biasanya gersang. Di aula ballroom Hotel Grand Mulia, alunan musik jaz lembut mengalun mengiringi gelaran "Malam Apresiasi Wirausaha Kirana", sebuah acara kumpul bisnis tahunan yang dihadiri oleh ratusan pengusaha lokal.
Ghea berjalan masuk dengan langkah anggun. Malam ini, dia tidak memakai celemek katun kotornya. Dia mengenakan gaun hitam polos berpotongan simpel yang jatuh pas di tubuhnya—bukan gaun desainer Solaria, melainkan gaun diskonan yang dia beli dari toko daring. Namun, pembawaan Ghea yang terbiasa hidup di kalangan atas tetap membuatnya terlihat sangat berkelas.
Tujuan Ghea malam ini murni profesional: dia ingin menemui Pak dodi, pemilik peternakan susu organik terbesar di wilayah Kirana, agar bersedia menyuplai kedai Kopi Karsa dengan harga khusus.
Namun, fokus Ghea langsung buyar saat dia melihat dua sosok yang sangat dia kenali di dekat meja registrasi.
Arkan sedang berdiri di sana. Cowok itu hanya mengenakan kemeja flanel hitam-abu-abu yang disetrika rapi dengan celana kain gelap. Di sebelahnya, Tania tampak sangat mencolok dengan gaun malam berwarna dusty pink berhias brokat. Tania sesekali merapikan kerah kemeja Arkan dengan gerakan yang sangat manja, sementara Arkan hanya diam membiarkannya.
Dada Ghea seketika terasa panas, seolah-olah dia baru saja meneguk espresso yang masih mendidih. Napasnya memburu, dan jemarinya meremas tas tangan kecilnya erat-erat.
Cih, ulat keket itu nempel mulu kayak lem korea! Dan si tiang listrik... mau-mauan aja didandanin kayak manekin pasar malam begitu! batin Ghea dongkol setengah mati.
Ghea buru-buru membuang muka, berjalan cepat menuju kerumunan pengusaha untuk mencari Pak Dodi, mengabaikan denyut asing di dadanya yang terus dia sangkal setengah mati.
Setengah jam kemudian, Ghea berhasil menemui Pak Dodi dan mengamankan kontrak suplai susu untuk kedainya. Rasa bahagianya sempat meluap, sampai akhirnya dia berjalan melewati pintu masuk "VIP Lounge" yang terletak di sudut ballroom.
Pintu itu dijaga oleh dua petugas keamanan berbadan tegap dengan setelan jas hitam.
Di depan pintu, Arkan sedang berdebat kecil dengan salah satu petugas dengan wajah lempengnya yang mulai terlihat kesal. Tania berdiri di belakangnya dengan wajah cemas dan malu karena menjadi pusat perhatian beberapa tamu yang lewat.
"Maaf, Pak. Aturan dari panitia sangat ketat. Area VIP Lounge ini dikhususkan untuk tamu undangan berkartu merah dan wajib mengenakan pakaian formal berupa jas atau blazer," kata petugas keamanan itu dengan nada tegas namun sopan.
Arkan hanya mengenakan kemeja biasa tanpa jas pelapis, dan kartu undangannya hanyalah kartu undangan reguler (kartu biru) yang dia dapatkan dari sisa kuota toko bunga Tania.
"Saya ada janji temu penting dengan Pak Hermawan dari distributor kargo pusat di dalam," kata Arkan datar, mencoba bernegosiasi. "Hanya butuh waktu lima menit."
"Tetap tidak bisa, Pak. Mohon maaf," tolak petugas itu tanpa kompromi.
Tania menarik ujung kemeja Arkan dengan wajah memerah menahan malu. "Arkan... udah yuk, mending kita pulang aja. Malu dilihat orang. Lagian kamu sih, kenapa gak mau sewa jas dulu di jalan tadi?" bisik Tania dengan nada menyalahkan yang cukup kaku.
Arkan tidak membalas. Dia hanya menatap pintu VIP Lounge itu dengan pandangan kecewa. Pertemuan dengan Pak Hermawan malam ini adalah kesempatan emas bagi Arka-Logistics untuk mendapatkan kontrak distribusi skala besar pertama mereka di luar kota. Jika kesempatan ini lepas, bisnisnya akan sulit berkembang dalam beberapa bulan ke depan.
Dari balik pilar dekorasi yang jaraknya hanya beberapa meter, Ghea menyaksikan seluruh kejadian itu.
Melihat raut kecewa di wajah Arkan yang tertutup ekspresi lempengnya, dada Ghea kembali berdenyut sakit. Dia sangat tahu betapa keras kepalanya Arkan, dan seberapa besar ambisi cowok itu untuk menyukseskan Arka-Logistics dengan keringatnya sendiri.
Sialan. Kenapa sih hidup lo harus sesusah ini, Kan? batin Ghea, matanya berkaca-kaca karena tidak tega.
Ghea melirik ke arah butik pakaian formal pria yang terletak di lobi utama hotel, tidak jauh dari ballroom. Sebuah ide gila langsung terlintas di kepalanya.
Ghea berjalan cepat menuju butik tersebut. Dia menghampiri gantungan jas-jas premium yang terpajang di sana. Matanya langsung tertuju pada sebuah blazer hitam berpotongan slim-fit dengan bahan wol berkualitas tinggi yang tampak sangat elegan. Ukurannya pas untuk bahu tegap Arkan yang tinggi.
"Mbak, saya mau sewa jas yang ini. Ditambah dasi hitam instannya sekalian," kata Ghea kepada pelayan butik.
"Baik, Kak. Biaya sewa darurat malam ini beserta depositnya adalah satu juta dua ratus ribu rupiah," jawab pelayan itu ramah.
Ghea menahan napas. Satu juta dua ratus ribu rupiah? Itu adalah sisa uang operasional Kopi Karsa yang dia hemat untuk membeli blender baru minggu depan. Tapi, bayangan wajah kecewa Arkan di depan pintu VIP Lounge tadi membuat Ghea memantapkan hatinya.
"Ini uangnya," kata Ghea, menyerahkan tumpukan uang tunai dari dalam tasnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Setelah transaksi selesai dan jas tersebut dibungkus rapi dalam tas pelindung pakaian, Ghea tidak langsung memberikannya kepada Arkan. Dia berjalan menemui salah satu pelayan hotel yang sedang membawa nampan minuman kosong di koridor.
Ghea menyelipkan uang lima puluh ribu ke saku pelayan tersebut. "Mas, tolong antarkan tas jas ini ke cowok tinggi berkemeja flanel yang ada di depan pintu VIP Lounge sekarang. Bilang saja... ini adalah layanan fasilitas free rental dari panitia hotel untuk tamu wirausaha terpilih malam ini. Jangan pernah bilang kalau ini dari saya ya. Mengerti?"
Pelayan itu mengangguk dengan senyum lebar. "Mengerti, Mbak. Siap saya laksanakan."
Ghea bersembunyi di balik koridor, mengintip dengan cemas.
Dia melihat pelayan itu menghampiri Arkan yang baru saja bersiap untuk berbalik pergi bersama Tania. Pelayan tersebut menyerahkan tas jas hitam itu sambil membisikkan sesuatu sesuai skenario Ghea.
Arkan tampak sangat terkejut. Dia membuka tas pelindung tersebut dan mengeluarkan blazer hitam premium yang sangat pas dengan seleranya. Arkan melirik ke sekeliling lobi dengan dahi berkerut heran, merasa ada yang tidak masuk akal dengan "fasilitas gratis" dari hotel bintang lima ini.
Namun, karena waktu pertemuannya dengan Pak Hermawan sudah sangat mepet, Arkan mengabaikan kecurigaannya. Dia langsung mengenakan blazer hitam tersebut di atas kemejanya, merapikan kerah bajunya, dan mendadak penampilannya berubah menjadi sangat tampan dan luar biasa berkelas—persis seperti sosok pewaris takhta Solaria yang sesungguhnya.
Petugas keamanan VIP Lounge langsung membukakan pintu dan mempersilakan Arkan masuk dengan hormat, sementara Tania mengekor di belakangnya dengan senyum bangga yang kembali merekah di wajahnya.
Ghea yang melihat Arkan berhasil masuk akhirnya bisa menghela napas lega yang teramat sangat dari balik koridor gelap.
"Sukses ya, tiang listrik sombong," bisik Ghea pelan dengan senyuman tulus yang sangat manis di bibirnya, mengabaikan fakta bahwa dompetnya kini telah kosong melompong.
Keesokan paginya, pukul sepuluh.
Ghea sedang sibuk mengelap meja bar kedainya dengan wajah yang sangat mengantuk karena baru pulang larut malam kemarin. Rasa lelahnya sedikit terbayar karena pasokan susu dari Pak Dodi dipastikan aman.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari arah luar. Arkan melangkah masuk ke dalam kedai dengan gaya angkuh andalannya, memutar kunci pikapnya di jari telunjuk.
Begitu melihat Ghea, Arkan langsung menaikkan sebelah alisnya lempeng.
"Heh, manja," panggil Arkan lempeng. "Muka lo kenapa makin mirip adonan donat gagal pagi-pagi gini? Kusut amat. Sirik ya kemarin gak bisa masuk ke acara elit di Kirana?"
Ghea langsung memasang wajah judes andalannya, melipat kedua tangan di dada dengan gaya menantang.
"Sirik?! Sama lo yang dandanannya kayak sales perumahan kemarin?!" semprot Ghea galak. "Gak level ya! Kedai gue ini justru makin ramai hari ini karena dapet suplai susu terbaik dari Kirana! Gak kayak lo yang palingan cuma nongkrong di parkiran hotel!"
Arkan mendengus sombong, menepuk kerah kaus hitamnya yang pudar dengan gaya elegan yang dia bawa dari Kirana semalam.
"Parkiran lo bilang?" ejek Arkan sombong. "Asal lo tahu ya, Arka-Logistics baru aja dapet kontrak distribusi besar dari CV Suka Maju di Kirana semalam. Itu karena kejeniusan gue nego di area VIP Lounge. Panitia hotelnya aja sampai terpukau sama karisma gue dan ngasih pinjam jas wol premium gratis biar gue bisa masuk."
Ghea memutar bola matanya malas, menahan tawa geli yang luar biasa di dalam dadanya sekuat tenaga melihat betapa tingginya tingkat kesombongan Arkan saat ini, sama sekali tidak menyadari bahwa jas "gratisan" itu disewa menggunakan uang blender baru milik Ghea.
"Halah, palingan panitianya kasihan karena muka lo mirip gembel kelaparan yang salah masuk gedung!" ketus Ghea galak, lalu berbalik membelakangi Arkan untuk mulai membuat kopi pesanan pelanggan.
Arkan mendengus sinis menatap kepergian Ghea, namun senyum lega yang sangat tulus diam-diam terukir di sudut bibirnya saat dia berbalik kembali menuju garasinya sendiri untuk bersiap melakukan pengiriman besar pertamanya.
Di bawah hangatnya matahari pagi Sukaasih, dinding ego mereka tetap berdiri kokoh. Mereka terus saling lempar ejekan, bersaing tanpa mau mengalah, tanpa pernah tahu bahwa langkah sukses mereka hari ini bisa terwujud karena mereka saling menopang dari balik bayangan yang sunyi.