Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. CAP-CIP-CUP KEMBANG KUNCUP
"Maafin Mama ya Ga..."
Erina berucap halus dan tulus dari lubuk hati terdalamnya. Sementara Saga berdiri tepat di sisi ranjang pembaringannya, wajahnya yang biasanya tak acuh dan datar, kini agak memerah dan sarat emosi.
"Seharusnya Mama nggak memaksakan diri... nggak bohong seperti ini...," ucap Saga getir.
Erina menghela napas panjang.
Sejak mengalami kejang dan pingsan hingga dilarikan ke IGD beberapa hari lalu, Erina tak bisa lagi menyembunyikan penyakitnya dari semua orang--terutama kedua anaknya. Ia juga tak bisa lagi memaksa keluar dari rumah sakit seperti sebelumnya, karena kondisinya benar-benar drop sampai tak bisa lagi bangun dari tempat tidur.
Erina pun dirawat intensif dan menjalani prosedur medis sesuai dengan kondisinya. Setelah melakoni MRI dan diperiksa sejumlah dokter ahli, diketahui Erina mengidap Glioma Grade 2--tumor level rendah yang tumbuh di sel glia otak dan sementara ini belum begitu membahayakan, tetapi jika tidak segera diangkat, bisa sewaktu-waktu mengganas dan menyebabkan kematian.
Tak ada jalan penyembuhan selain operasi. Erina pun akhirnya menandatangani surat persetujuan itu, setelah dijelaskan dokter segala jenis resiko yang mungkin terjadi ketika dan pasca operasi, dari yang paling ringan sampai yang paling berat.
Rasanya seperti dipaksa berjudi dengan malaikat maut--dengan taruhan nyawa sendiri, yang cuma ada sebiji. Tak ada cadangan sama sekali.
Tetapi Erina harus melakukannya kali ini. Tak boleh mundur atau lari lagi.
"Iya... Mama salah, Nak... karena itu maafin Mama, ya..."
Erina menatap lekat putranya, yang begitu tampan, begitu muda--wajah Saga mirip ayahnya, tetapi bentuk senyum dan watak keras kepalanya mirip Erina.
Demi anaknya itulah, Erina bersedia membuang sisi keras kepalanya, juga isi pikirannya yang sempat keliru.
Dulu ia pikir, ia tak boleh merasakan sakit--tak boleh meninggalkan pekerjaan dan urusan mencari nafkah. Karena jika ia terbaring di atas tempat tidur seperti sekarang, siapa yang akan merawat dan memperhatikan anak-anaknya? Siapa yang akan memastikan kehidupan mereka berlangsung baik dan lancar? Jika ia tak bekerja dan tak punya pemasukan, bahkan tabungannya habis untuk biaya pengobatan--rasanya lebih buruk dan menakutkan daripada tengkoraknya harus digergaji untuk mengambil si Glioma Boxer itu, yang bisa menawarkan resiko cacat hingga mati.
Mati. Hal itu baru terpikir dan menyentak kesadaran Erina setelah dengan absurdnya ia mengalami mimpi mati dan menyaksikan anak-anaknya hidup sebatang kara--dan itulah yang terasa paling buruk, lebih dari segalanya.
Otak Erina langsung jungkir balik dan mengambil keputusan drastis--ia memilih operasi besar itu, untuk tetap berusaha hidup, atau setidaknya sedikit menunda maut, daripada tahu-tahu dijemput maut jika si Glioma Boxer tahu-tahu mengembang sebesar bayi, namun tak bakalan keluar sendiri dari lubang hidungnya sempit dan sering dipenuhi upil.
Erina mengerjap sendiri--tak paham sendiri, entah mengapa dan sejak kapan, kata-kata Alvin menancap di pikiran bawah sadarnya, seperti lintah kecil yang enggan lepas meski sudah kekenyangan.
Entah bagaimana juga, Alvin muncul dalam mimpi absurdnya--yang sampai mati tak akan ia lupa. Dan sejak saat itu, Alvin jadi seperti hantu penunggu jembatan yang tak pernah absen menampakkan diri, dalam benaknya, maupun di depan matanya.
Mengapa...?
Karena Alvin-lah, Erina akhirnya bisa ditangani dokter di momen yang tepat. Karena Alvin-lah, Erina tak perlu lagi khawatir soal pekerjaan, uang, dan anak-anaknya jika harus terbaring lama di rumah sakit seperti sekarang. Alvin--entah bagaimana, dan entah mengapa--sudah mengatur agar pekerjaannya di kantor di-handle orang lain, gajinya tak akan dipotong meski ia absen, biaya pengobatannya sepenuhnya ditanggung, dan ia juga memastikan Saga dan Nala tak kelaparan dan aman di kontrakan dengan rutin mengirim katering, bahkan memerintahkan salah satu asisten rumah tangganya untuk rutin datang dan memastikan kondisi rumah dan anak-anak Erina baik-baik saja.
Mengapa...?
"Sudah kubilang, sebagai atasanmu, kalau kamu kenapa-napa, aku yang bakalan repot. Aku lebih suka mencegah masalah daripada membereskan kekacauan yang timbul setelahnya," jelas Alvin dengan lagak acuh tak acuh ketika membesuk Erina, sambil terus mengutak-atik ponselnya.
"Ya... kalau soal pekerjaan, aku bisa mengerti... tetapi kamu tak perlu repot mengurus rumah dan anak-anakku juga...," gumam Erina lirih.
"Ya sepaket lah itu. Anak-anakmu juga terdaftar di asuransi kantor, kan? Lebih baik kurawat mereka supaya sehat daripada kantor lebih boncos kalau mereka sampai sakit juga," kata Alvin. "Dan anggap juga ini balas budi pribadiku pada Saga karena dia sudah membela dan melindungi Nia tempo hari... sekarang, kita impas."
Alasan itu juga terdengar Saga, yang tak banyak bicara setiap bertemu Alvin di rumah sakit, namun dari ekspresinya, Saga tak sepenuhnya menganggap alasan itu masuk akal. Ia masih curiga Alvin punya serpihan mie berikut telur dan sayur di pantat panci--alias modus tersembunyi.
Tetapi kata-kata dan perilaku Alvin mengingatkan Erina pada mimpinya sendiri--Alvin menemani dan menyajikan makanan hangat untuk Saga dan Nala, bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Mengingat itu, air mata Erina hampir saja kembali tumpah.
"Saga nggak akan maafin Mama."
Kesadaran Erina kembali tertarik ke sosok dan kalimat tajam yang baru saja dilontarkan putranya, di depan matanya.
"Nak..."
"Saga nggak akan maafin Mama kalau Mama begini lagi... kalau Mama sampai kenapa-napa lagi...," sambung Saga dengan suara bergetar. "Besok pagi Mama akan dioperasi. Berjanjilah untuk tetap hidup dan kembali sehat, Ma. Jangan sakit lagi... tolong jangan..."
Saga tak sanggup meneruskan kalimatnya. Bahunya berguncang, air matanya menetes--hal yang sangat langka terjadi pada remaja berkepala batu dan kadang bertingkah sesukanya itu.
"Saga, Sayang, jangan menangis... sini, Nak..."
Erina memberi isyarat agar Saga mendekat. Saga tanpa ragu maju dan memeluk sang ibu--berhati-hati agar tak terbelit selang infus dan kabel peralatan medis yang tak dimengertinya, menangis dalam pelukan hangat Erina, seperti yang biasa dilakukannya saat masih kecil.
"Mama jangan pergi... nggak boleh pergi... kalau Mama pergi, Saga gimana...? Nala gimana...?"
Kata-kata Saga mirip dalam mimpi Erina. Air mata Erina pun membanjir tanpa bisa dicegah sepenuhnya.
"Mama di sini, Sayang... Mama nggak akan ke mana-mana... Mama janji akan berusaha sembuh, demi kalian... jangan nangis lagi, ya... cup, cup... cap-cip-cup kembang kuncup..."
Erina melantunkan lagu yang biasa dinyanyikannya untuk melipur tangis anak-anaknya sejak kecil, membuat Saga mau tak mau tertawa di antara derai air matanya.
"Beneran? Sumpah? Demi apa?" tanya Saga, yang kini menatap lekat ibunya dengan mata merah.
"Demi Allah," sahut Erina lembut.
Rekahan senyum Saga kian lebar, dan ia kian erat mendekap ibunya.
"Saga sayang Mama. Saga tahu Mama bisa sembuh, Mama kuat. Mama nggak sendirian. Besok Saga akan tungguin Mama seharian, dari operasi dimulai sampai selesai, sampai Mama buka mata lagi..."
"Kalau operasinya lama gimana? Kalau kamu nemenin Mama seharian, bahkan sampai malam, siapa yang jagain Nala di rumah?" tanya Erina lembut.
"Besok Nala ada acara camp di sekolahnya, Ma. Dia akan aman dan baik-baik saja di sekolah sama teman-teman, guru, dan terapisnya. Mama lupa ya udah tanda tangan surat persetujuan dan bayar buat acara besok itu?"
Erina menepuk jidatnya dan tertawa pelan. "Ah, iya, Mama lupa..."
"Begitu Mama selesai operasi, Saga akan pulang nemenin Nala lagi... Saga akan bawa Nala ke sini juga nanti buat nengok Mama. Nanti kalau Mama sudah sembuh, kita bisa pulang bareng. Bertiga. Seperti biasanya--hanya bertiga... oke?"
Saga tersenyum sangat manis dan lebar. Erina mengerjap sesaat, tahu kata-kata terakhir itu sengaja disiratkan Saga--bukan tanpa makna.
Namun Erina memutuskan tidak berkomentar. Ia pun ikut tersenyum dan mengangguk.
"Istirahatlah, Ma. Saga sebentar lagi harus pulang karena jam sekolah Nala hampir selesai... tapi Tante Harum janji bakal ke sini jagain Mama dari sore sampai besok pagi. Mama jangan khawatirkan apapun--Saga dan Tante Harum selalu ada buat Mama. Kalau ada apa-apa, bilang ya, Ma."
Erina kembali tersenyum dan mengangguk. Saga mencium kening ibunya, lalu pergi meninggalkan kamar dengan senyum masih mengembang.
Tetapi senyum itu dengan lekas memudar saat Saga melihat Alvin berdiri bersandar di dinding luar kamar perawatan Erina, sibuk berkomunikasi dengan seseorang melalui ponselnya.
"...ya, lakukan saja. Aku sudah bilang..."
Netra Alvin menangkap sosok Saga yang bergeming tak jauh darinya. Ia pun buru-buru berkata, "Maaf, ada hal penting yang harus kulakukan sekarang. Nanti kutelepon lagi."
Usai menutup dan mengantongi ponselnya di saku jas, Alvin menatap ramah Saga dan bertanya, "Ada apa, Ga? Kamu atau Mama perlu sesuatu? Bilang saja, Om di sini untuk bantu kalian..."
"Om kelihatannya sibuk," kata Saga dingin. "Sudah tahu banyak urusan, kenapa malah pergi ke rumah sakit? Bukannya jam segini laki-laki dewasa harusnya bekerja?"
"Oh, kalau soal pekerjaan sih gampang, bisa Om urus dari mana aja," kata Alvin santai. "Sudah Om bilang tadi kan, Om ke sini untuk bantu kamu dan Mamamu..."
"Kami nggak perlu bantuan Om. Jangan salah paham--kami mungkin nggak kaya, nggak punya asisten rumah tangga, tapi kami bisa mengatasi masalah kami sendiri. Jadi berhentilah melakukan semua ini, Om," tukas Saga, sorot matanya kian tajam. "Pulanglah. Jangan dekati Mama lagi."
Alvin mengerjap.
"Saga..."
"Jujur saja, Om. Om suka kan sama Mama?"
***