Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Inspeksi Karbon
"Kartu kredit hitammu ini tidak ada batas pemakaian sama sekali?" tanya Cala sambil membolak-balik benda pipih elegan itu.
Cahaya lampu kristal dari langit-langit butik perhiasan Arum memantul tepat di atas permukaan kartu. Suasana butik mewah di pusat kota ini sangat sunyi, hanya diisi alunan piano klasik. Ronan sengaja menyewa seluruh tempat ini selama satu jam penuh. Langkah antisipasi tingkat tinggi.
Ronan berjalan mendahului Cala, memasukkan kedua tangannya ke saku celana bahan abu-abu. Pria itu sudah mengganti kemeja hitam kasualnya, berganti dengan setelan jas rapi tanpa dasi yang membuatnya terlihat seperti model majalah bisnis.
"Itu kartu akses dana darurat. Pakai saja sepuasmu," jawab Ronan datar tanpa menoleh. "Fokus pada misi kita. Kamu harus terlihat seperti wanita yang sangat dicintai oleh calon suaminya. Pilih perhiasan yang paling meyakinkan."
Cala mencibir pelan. Ia mengikuti langkah lebar pria itu mendekati etalase kaca melingkar di tengah ruangan. Seorang pelayan wanita berseragam hitam elegan langsung menunduk hormat menyambut mereka.
"Selamat datang di Arum, Bapak Ronan dan Ibu Cala. Kami sudah menyiapkan koleksi cincin pertunangan terbaik sesuai permintaan Bapak," sapa pelayan itu. Senyumnya sangat ramah. Ia memberi isyarat pada rekannya untuk mengeluarkan kotak beludru merah dari dalam brankas.
Cala menatap jajaran cincin di dalam kotak tersebut. Matanya langsung melebar. Semua cincin itu memiliki berlian utama yang ukurannya tidak masuk akal. Terlalu besar, terlalu bersinar, dan sangat mencolok.
"Tunggu," potong Cala cepat. Ia menunjuk salah satu cincin dengan berlian berbentuk tetesan air. "Ini berlebihan. Jika aku memakai batu sebesar ini di jalan, aku tidak hanya memancing pembunuh, tapi juga perampok. Cari desain yang lebih sederhana."
Pelayan itu menoleh menatap Ronan untuk meminta persetujuan.
"Wanita ini punya selera merendah. Keluarkan cincin berlian dengan potongan asimetris," perintah Ronan dengan suara tegas.
Pelayan itu mengangguk patuh. Ia menukar kotak beludru tersebut dengan kotak lain berwarna biru tua. Di dalamnya, bertengger sebuah cincin platina dengan satu berlian utama yang potongannya sangat tajam, dikelilingi berlian kecil di sisinya. Cincin itu lebih sederhana, namun kilauannya jauh lebih mematikan.
Cala menelan ludah. "Berapa harga benda kecil ini?"
"Hanya seharga satu mobil mewah pabrikan Eropa edisi terbatas, Ibu," jawab pelayan itu sopan.
Jantung Cala nyaris berhenti. Ia refleks menarik tangannya menjauh dari etalase kaca. "Kamu gila, Dokter? Kalau cincin ini lecet, aku harus menjual ginjal untuk menggantinya!"
"Gunakan logikamu," balas Ronan tajam. Pria itu mencondongkan tubuhnya, menatap lekat cincin tersebut. "Sindikat pembunuh bayaran yang mengejarmu memakai serat karbon kelas militer miliaran rupiah. Kalau aku membelikanmu cincin murah dari pinggir jalan, mereka akan tahu kita bersandiwara. Target operasi mereka adalah orang kaya. Kita harus memancing mereka dengan gaya orang kaya sejati."
Cala terdiam. Logika pria kaku ini memang menyebalkan tapi selalu akurat.
Ronan memberi isyarat pada pelayan. "Keluarkan cincin itu. Aku mau melihat struktur karbonnya."
Pelayan wanita itu mengambil cincin platina tersebut menggunakan sarung tangan putih khusus, lalu meletakkannya di atas bantalan sutra depan Ronan. Ia menyodorkan sebuah lup perhiasan kecil.
Ronan mengabaikan lup tersebut. Pria itu merogoh saku jasnya, mengeluarkan alat mirip pena dengan ujung lensa optik yang menyala kebiruan. Ia menyalakan alat itu dan mengarahkannya langsung ke permukaan berlian.
"Ini berlian kualitas tertinggi kami," jelas pelayan itu mencoba mencairkan suasana. "Tingkat kejernihannya sempurna, tanpa cacat."
"Sempurna itu mitos," potong Ronan dingin. Mata pria itu menyipit, membaca angka yang muncul di layar pena optiknya. "Sistem kristalografinya menunjukkan anomali. Indeks bias cahaya pada sudut empat puluh lima derajat memiliki deviasi sebesar nol koma nol dua persen. Proses pemanasan karbon di dalam mantel bumi tidak terjadi secara merata."
Senyum pelayan itu mendadak kaku. Mulutnya terbuka sedikit, bingung harus menjawab apa.
Cala langsung memijat pangkal hidungnya. Penyakit gila forensik pria ini kumat lagi.
"Bukan hanya itu," lanjut Ronan tanpa belas kasihan. "Kalian mengklaim ini tanpa cacat. Tapi pemindai spektrumku menangkap inklusi mineral rutil berukuran tiga mikron di kedalaman dua milimeter. Ini menurunkan tingkat kekerasan batu dari skala sepuluh menjadi sembilan koma delapan. Jika terbentur benda tumpul dengan kecepatan tinggi, berlian ini bisa retak terbelah dua."
Pelayan wanita itu kini mulai berkeringat dingin. "Maaf, Bapak. Kami menggunakan standar sertifikasi internasional."
"Sertifikasi internasional menggunakan metode penilaian visual konvensional yang penuh celah subjektivitas manusia," timpal Ronan lagi. "Struktur atom karbon berlian ini tidak cukup rapat untuk menahan tekanan hidrolik di atas seribu bar."
"Dokter!" bisik Cala keras dari samping. Ia tidak tahan melihat wajah pelayan toko yang pucat pasi seperti ingin pingsan.
Ronan sama sekali tidak menoleh. "Mereka menjual barang cacat struktural dengan harga tinggi. Ini penipuan."
Cala mendekat. Tangan kanannya meluncur cepat, mencubit pinggang Ronan dengan sekuat tenaga.
Pria tinggi besar itu terkesiap hebat. Alat optik di tangannya nyaris terlepas. Ia menoleh menatap Cala dengan mata melotot marah, menahan rasa sakit luar biasa di pinggang kirinya.
"Apa yang kamu lakukan?" desis Ronan tertahan di sela giginya.
"Tutup mulutmu dan bermainlah sesuai peran," balas Cala dengan senyum semanis madu, namun suaranya sangat mengancam. Ia mengalungkan lengannya ke lengan Ronan mesra, bersandar pelan di bahu pria itu. "Sayang, kita mencari lambang cinta, bukan membedah anatomi batu. Beli cincin ini. Aku menyukainya."
Pelayan itu mengembuskan napas lega. Ia mengusap keringat di dahinya.
Ronan menarik napas panjang, menormalkan detak jantungnya akibat cubitan Cala. Ia menatap tajam wanita di bahunya. Cala membalasnya dengan kerlingan mata peringatan.
"Baiklah," ucap Ronan kaku. "Kami ambil cincin ini. Bungkus."
"Ibu Cala harus mencobanya dahulu untuk memastikan ukuran lingkar jarinya sesuai," kata pelayan itu ramah. Ia menggeser bantalan sutra itu mendekati Cala.
Cala melepaskan sandarannya. Ia mengulurkan tangan kirinya perlahan ke atas etalase.
Ronan tidak membiarkan pelayan itu yang memakaikan cincinnya. Pria itu mengambil cincin platina tersebut dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. Gerakannya tiba-tiba berubah sangat pelan dan hati-hati.
Tangan kiri Ronan meraih jemari Cala. Kulit pria itu terasa dingin, namun genggamannya sangat meyakinkan. Cala menahan napas. Ini hanya sandiwara untuk memancing pembunuh keluar, ia terus merapalkan kalimat itu.
Ujung logam cincin yang terasa sangat dingin itu menyentuh lembut pangkal jari manis Cala. Pria itu perlahan mendorongnya masuk dengan gerakan memutar. Saat cincin bertahtakan berlian itu terpasang dengan sempurna di tangannya, Ronan menatap jari Cala terlalu lama, lalu bergumam pelan nyaris tak terdengar, "Ukurannya pas."
berasa nonton adegan action