NovelToon NovelToon
SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SenandikaMaret

Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTANYAAN YANG MUNCUL

Sudah beberapa hari sejak hari ulang tahunnya berlalu. Novel edisi khusus pemberian Danendra kini berada di rak paling atas ruang baca Kirana. Buku itu belum selesai ia baca, tetapi entah kenapa setiap kali melihat sampulnya, Kirana selalu teringat peristiwa malam itu.

Dan hal itu cukup mengganggu fokusnya. Sebab, semakin sering ia mengingatnya, semakin sering pula wajah Danendra muncul di dalam kepalanya tanpa diundang.

"Kak."

Suara Rani membuat Kirana tersentak kecil, memutus lamunannya. "Hm?"

"Kak Kirana senyum-senyum sendiri dari tadi," tuding Rani jeli.

Kirana langsung merapikan ekspresi wajahnya, berdeham pelan. "Tidak."

"Ada."

"Tidak ada, Rani."

Rani menyipitkan mata curiga dari seberang meja kafe. Mereka sedang makan siang bersama setelah rapat evaluasi yayasan selesai. Awalnya obrolan berjalan normal membahas program, sampai Kirana tanpa sadar menatap layar ponselnya sendiri selama hampir satu menit penuh. Dan yang lebih parah, layar gawai itu bahkan sedang tidak menyala.

"Kak," panggil Rani lagi.

"Apa lagi, Ran?"

Rani menyandarkan dagunya di atas telapak tangan, menatap sahabatnya lurus-lurus. "Kakak mulai menyukai suami Kakak, ya?"

Kirana hampir tersedak es teh manis yang baru saja diteguknya. "APA?"

Volume suaranya yang mendadak meninggi sukses membuat beberapa pengunjung di meja sebelah menolehkan kepala. Sementara itu, Rani sama sekali tidak terlihat merasa bersalah.

"Nah. Reaksi orang yang ketahuan biasanya memang begitu," kekeh Rani puas.

"Kamu ngarang bebas ya, Ran."

"Aku serius, Kak Kirana. Aku kenal Kakak sudah bertahun-tahun."

"Terus?"

"Dulu kalau dengar nama Mas Danendra, ekspresi wajah Kakak kaku dan datar," cetus Rani sembari memperbaiki posisi duduknya. "Sekarang kalau dengar nama beliau, Kakak langsung fokus menyimak."

"Itu cuma perasaanmu saja."

"Kalau beliau pulang terlambat?" desak Rani.

"Aku biasa saja."

"Kalau beliau lembur kerja?"

"Ya... biasa."

"Kalau beliau tidak ada kabar sepanjang hari?"

Kirana langsung terdiam, lidahnya mendadak kelu. Rani langsung mengarahkan telunjuknya ke depan wajah Kirana.

"Nah! Diam, kan?"

Kirana mendengus kesal, memalingkan wajahnya menatap jalanan di luar kaca kafe. "Aku cuma khawatir karena dia suamiku."

"Suami kontrak yang dulu katanya cuma partner hidup mandiri?" goda Rani, senyum miringnya semakin melebar.

Kirana langsung terbungkam di tempatnya, tidak mampu membalas kalimat telak sahabatnya. Rani tertawa puas melihat Kirana tidak bisa membalas lagi. Kirana hanya bisa mengambil sedotan bersih lalu melemparkannya ke arah wajah Rani dengan gemas untuk meredam rasa salah tingkah fisiknya.

Namun meski Kirana terus menyangkal sepanjang siang, pertanyaan usil Rani ternyata tidak ikut hilang begitu saja setelah mereka berpisah sore harinya. Dalam perjalanan pulang membelah kemacetan Jakarta, kalimat sahabatnya itu terus terngiang berputar di kepala Kirana.

Kamu mulai menyukai suamimu ya?

Tidak mungkin. Kirana langsung menolak mentah-mentah pemikiran tersebut di dalam hatinya. Ia dan Danendra hanya mulai belajar saling memahami sebagai teman. Hanya sebatas itu. Mereka lebih sering berbicara sekarang, terasa lebih nyaman, dan mulai terbiasa dengan ritme masing-masing. Tidak lebih dari itu. Benar begitu, kan? Semakin dipikirkan, hal itu justru membuat Kirana merasa kesal pada isi kepalanya sendiri.

Malam sudah cukup larut ketika mobil Kirana memasuki halaman rumah. Rumah keluarga Adipati terlihat tenang seperti biasanya. Lampu ruang tengah masih menyala kuning hangat, namun ia tidak mendapati keberadaan Danendra di sana.

"Mbak, Mas Danendra sudah pulang?" tanya Kirana pada Mbak Siti yang kebetulan sedang merapikan area makan.

"Sudah, Nduk Kirana."

"Kok tidak kelihatan di bawah?"

"Tadi begitu masuk rumah langsung ke ruang kerja lantai atas, Nduk" jawab Mbak Siti ramah.

Kirana mengangguk pelan. "Baik, Mbak. Terima kasih."

Mungkin masih ada berkas kantor yang harus segera diselesaikan oleh suaminya. Hal itu bukan sesuatu yang aneh bagi Kirana. Danendra memang tipe pria gila kerja yang sering menghabiskan waktu berjam-jam di ruang kerjanya.

Kirana sebenarnya berniat langsung melangkah menuju kamar tidur untuk membersihkan diri. Namun entah kenapa, langkah kakinya justru berbelok memutar, menaiki undakan tangga menuju ke arah ruang kerja suaminya di lantai atas. Hanya ingin memastikan kondisi pria itu saja, pikir Kirana. Hanya itu, tidak lebih.

Ia mengetuk pintu kayu jati tersebut dua kali secara teratur. Tidak ada jawaban dari dalam. Kirana mengernyitkan alisnya samar. "Mas?"

Tetap tidak ada suara sahutan. Perlahan, Kirana memutar gagang pintu yang ternyata tidak dikunci rapat. Pintu terbuka sedikit, dan langkah kaki Kirana langsung berhenti kaku di ambang ruangan.

Lampu meja kerja masih menyala terang, laptop juga masih terbuka menampilkan barisan angka, sementara beberapa lembar dokumen penting berserakan di atas meja kayu. Dan di balik meja kerja itu, Danendra tertidur.

Pria itu tertidur dalam posisi duduk bersandar pada kursi kerjanya dengan kepala sedikit menunduk. Kemeja kerja yang dikenakannya sejak pagi tadi masih melekat rapi, lengan bajunya tergulung kasar sampai siku, bahkan ikatan dasinya pun masih belum dilepas dari kerah. Seolah pria itu awalnya hanya berniat mengistirahatkan matanya sebentar sebelum melanjutkan pekerjaannya, tetapi tubuhnya sudah terlalu lelah untuk diajak berkompromi.

Kirana berdiri diam di posisinya, menahan napas agar tidak membuat suara yang bisa membangunkan Danendra. Selama ini, Danendra selalu terlihat baik-baik saja di matanya. Pulang larut, berangkat pagi-pagi sekali, menghadapi rapat tanpa henti, lalu kembali bekerja di rumah seolah tidak pernah lelah. Karena itu, melihatnya tertidur di ruang kerja seperti ini terasa asing bagi Kirana.

Malam ini, untuk pertama kalinya, Kirana melihat sisi lain yang teramat manusiawi dari suaminya. Sisi yang selama ini tidak pernah dilihat Kirana. Lelah, sendirian, tanpa topeng ketegasan.

Pandangan mata Kirana jatuh pada tumpukan dokumen di meja, lalu beralih menatap wajah Danendra yang terlihat sedikit lebih pucat dibanding biasanya, kemudian turun pada lingkar tipis berwarna gelap di bawah matanya.

Tiba-tiba, ingatan Kirana kembali melayang pada perjalanan mereka di Yogyakarta. Ia teringat bagaimana Danendra selalu memperhatikan hal-hal kecil, mengingat proposalnya, memikirkan kado ulang tahunnya, hingga berbagai percakapan sederhana yang perlahan mulai menghidupkan suasana rumah mereka yang sepi.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Kirana bertanya-tanya pada hatinya sendiri. Selama setahun belakangan ini, apakah ia sudah benar-benar mengenal pria yang menjadi suaminya? Atau justru selama ini ia terlalu sibuk memelihara asumsi buruknya sendiri tanpa pernah mau melihat lebih dekat?

Kirana berdiri diam selama beberapa saat lagi, sebelum akhirnya melangkah pelan mendekati meja kerja. Ia meraih jas kerja milik Danendra yang tersampir rapi di sandaran kursi sebelah, lalu membentangkannya secara hati-hati di atas pundak tegap suaminya yang masih terlelap.

Pria itu tidak terbangun, hanya napas teraturnya yang terdengar di keheningan ruangan. Kirana menatap wajah suaminya dari dekat selama beberapa detik, lalu tanpa ia sadari sendiri, seulas senyum tipis yang teramat lembut terbit di bibirnya.

Mungkin... ia memang tidak mengenal Danendra selama yang ia kira.

1
Wawan
Satu kembang buatmu Thor 💪✍️
Wawan
Wow... Why? 😍💪✍️
SenandikaMaret: kinapa yaa kira-kiraa yuk terus pantengin kisah kirana 🤭🥰
total 1 replies
Wawan
Nah lo 😍
SenandikaMaret: hayolooo 🤣
total 1 replies
Wawan
kembang mawar buatmu Kirana ✍️
SenandikaMaret: 🌹🌹 mawar juga untukmu kak, dari kirana 🤭
total 1 replies
Wawan
🤭🤭🤭 .... ngapain aja selama ini?
SenandikaMaret: hanya kirana dan tuhan lah yang tau 🤣
total 1 replies
Wawan
Naaaah.... 🤭
SenandikaMaret: nah loh 🤭
total 1 replies
Wawan
mawar buatmu thor 💪✍️
SenandikaMaret: 🌹 makasih
total 1 replies
Wawan
Wow bahaya clue-nya sangat ✍️🤭
SenandikaMaret: bikin penasaran kan 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Kirana
SenandikaMaret: haloo salam kenal juga 😇 dan selamat berkelana di dunia kirana💫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!