NovelToon NovelToon
PUTRI TERKUTUK DAN KESATRIANYA

PUTRI TERKUTUK DAN KESATRIANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.

Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.

Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.

Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.

Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.

Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.

Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33. NAMA YANG KEMBALI TERDENGAR

Langit malam telah benar-benar menyelimuti Istana Aurelius.

Batu kristal sihir yang berjajar di sepanjang dinding batu memancarkan cahaya keemasan menerangi istana. Bau darah dan asap yang sebelumnya memenuhi udara perlahan mulai memudar, digantikan aroma rumput basah dan bunga taman yang rusak akibat pertempuran.

Kekacauan akhirnya berakhir. Monster-monster yang keluar dari Retakan Abyss telah dimusnahkan.

Para kesatria kini sibuk membersihkan area taman kerajaan. Mayat-mayat monster yang menghitam dikumpulkan untuk kemudian dibakar menggunakan sihir pemurnian.

Retakan Abyss yang sempat menganga seperti luka mengerikan di tengah taman juga telah berhasil ditutup berkat Duke Aaron Oberyn. Dengan sihir tingkat atas miliknya, pria itu memaksa ruang yang robek itu untuk kembali menyatu.

Kini tak ada lagi jejak Abyss. Meski demikian kerusakan yang ditinggalkannya masih nyata; pohon-pohon tumbang, tanah hancur, bangunan taman rusak, dan yang paling mengkhawatirkan adalah rasa takut.

Di salah satu ruang pertemuan pribadi istana. Suasana jauh lebih tenang dibandingkan keadaan di luar. Namun ketegangan masih terasa.

Kaisar duduk di kursi utama, di sampingnya duduk Permaisuri.

Sementara Rowan berada di kursi sebelah kanan. Duke Evan Ravens dan Duke Aaron Oberyn pun ada di sana.

Kelima orang itu merupakan orang-orang yang saat ini mengetahui keseluruhan kejadian yang baru saja terjadi.

"Kita harus memastikan berita ini tidak menyebar dengan bentuk yang salah," Kaisar membuka pembicaraan. "Jika rakyat mendengar bahwa Retakan Abyss muncul tepat di dalam istana, kepanikan akan terjadi," sambungnya.

Aaron mengangguk pelan. "Itu benar. Khususnya para bangsawan."

Evan mendengus. "Bangsawan justru yang paling suka menyebarkan rumor dan akan menyudutkan anggota kerajaan."

Permaisuri menghela napas. "Itulah yang membuatku khawatir. Saat ini Caelum sedang mengurus soal ini karena para bangsawan mulai ribut."

"Kita bisa mengumumkan bahwa terjadi gangguan sihir di area taman kerajaan. Kita tidak perlu menyebut Abyss," saran

Kaisar mengangguk. "Itu pilihan terbaik. Bagaimana dengan para kesatria yang menyaksikannya?"

Evan menjawab. "Mereka bisa diperintahkan untuk menjaga kerahasiaan. Khususnya anggota Ravens, tak seorang pun akan berani melanggar."

Kaisar terlihat setuju. "Kita juga perlu menyelidiki penyebab kemunculannya."

Aaron menyipitkan mata. "Itu yang paling mengkhawatirkan. Retakan Abyss tidak muncul begitu saja. Selalu ada pemicunya."

"Kau pikir ada seseorang yang sengaja membukanya?" Permaisuri langsung menegang.

"Itu salah satu kemungkinan," jawab Aaron penuh keyakinan.

Ruangan langsung menjadi hening, karena semua orang memahami arti dari kalimat itu. Jika memang ada seseorang yang mampu membuka Retakan Abyss di dalam istana ... maka mereka sedang menghadapi musuh yang jauh lebih berbahaya dari pada monster-monster tadi.

Pembicaraan berlangsung cukup lama, mereka membahas keamanan, investigasi, pemulihan istana. Dan berbagai langkah yang harus dilakukan setelah kejadian hari ini.

Namun perlahan topik pembicaraan mulai berubah, karena ada satu orang yang sejak awal tidak banyak berbicara; Rowan.

Pria itu duduk diam, tatapannya kosong. Beberapa kali ia bahkan tidak menyadari saat namanya dipanggil.

Permaisuri yang sedari tadi memerhatikannya akhirnya saling pandang dengan Kaisar. Mereka berdua mengetahui Rowan dengan sangat baik.

Dan ekspresi seperti itu, bukan ekspresi Rowan yang biasa.

Kaisar akhirnya meletakkan cangkir tehnya.

"Rowan?"

Pria itu tersentak. "Ya, Yang Mulia?"

"Katakan apa yang sangat mengganggumu?" tanya Kaisar.

Pria itu terdiam.

Kaisar melanjutkan, "Tidak biasanya kau memasang wajah seperti ini. Apalagi setelah pertempuran. Jika ini tentang Cecilia, kau tidak perlu khawatir. Tabib dan Aaron sudah memastikan bahwa gadis itu akan baik-baik saja."

Rowan menunduk, seolah sedang menimbang apakah ia harus mengatakannya atau tidak.

"Ada hal lain yang mengganggu pikiranku," kata Rowan akhirnya.

Kaisar mengernyit. "Apa itu?"

"Sesuatu yang ingin kuluruskan saat Cecilia nanti sadar," jawab Rowan.

Permaisuri dan Kaisar saling berpandangan. Mereka benar-benar tidak mengerti, karena selama ini Rowan selalu merupakan orang yang paling tenang ketika menghadapi masalah.

Namun sekarang pria itu tampak gelisah dan takut.

Kaisar akhirnya menoleh ke arah Aaron dan Evan. Aaron hanya mengangkat bahu.

Sementara Evan terlihat menghela napas pelan, seakan memang sudah menunggu saat ini.

"Aku mungkin tahu apa yang dimaksud Rowan," kata Evan.

Semua mata langsung beralih kepadanya.

"Saat kami mendengar area tempat Cecilia diserang dan pergi ke sana, kami melihat sesuatu.

"Aku mendengar Cecilia bertarung bersama para kesatria. Rowan sudah menceritakannya," ujar Permaisuri.

Evan mengangguk. "Benar, tapi masalahnya bukan Cecilia bertarung melawan monster."

Kaisar mengangkat alis. "Lalu?"

"Masalahnya adalah ilmu pedang yang digunakan Cecilia."

"Apa yang salah dengan ilmu pedangnya?" Kaisar terlihat bingung. "Cecilia adalah pewaris takhta Donovan. Dia sudah dibina sejak kecil. Tentu saja dia diajarkan ilmu pedang keluarga Donovan," lanjutnya

"Itulah masalahnya," mata Evan. "Cecilia tidak menggunakan ilmu pedang Donovan. Dia tidak menggunakannya. Ilmu pedang Donovan selalu seperti tarian. Tapi yang digunakan Cecilia adalah ilmu pedang khas kesatria medan perang."

Kaisar mulai mengernyit. "Berbeda?"

"Sangat berbeda." Evan menjawab tanpa ragu. "Kasar. Brutal. Praktis. Mematikan. Itu ilmu pedang yang dilakukan oleh Cecilia."

Permaisuri perlahan mulai menyadari arah pembicaraan itu.

Dan entah kenapa jantungnya mulai berdebar tidak nyaman.

Kaisar memandang Evan. "Kalau begitu ilmu pedang siapa?"

Evan menatap Rowan, lalu perlahan menjawab.

"Ravens."

Ruangan langsung membeku.

Kaisar yang awalnya bersandar tegak seketika.

"Apa?" ucap Kaisar.

"Ilmu pedang Ravens." Evan mengulang. "Bukan hanya mirip, tapi benar-benar sama."

Permaisuri dan Kaisar membelalak.

Aaron juga terlihat serius sekarang.

Namun Evan belum selesai, karena kalimat berikutnya jauh lebih mengejutkan.

"Bahkan bukan sekadar ilmu pedang Ravens. Melainkan ilmu pedang milik Kapten Pasukan Khusus Ravens, Colton," kata Evan dengan wajah rahang mengeras.

Nama itu seperti petir yang menyambar ruangan untuk semua orang di ruangan itu.

Colton. Nama yang sudah lama tidak diucapkan di ruangan ini. Nama yang seharusnya hanya menjadi bagian masa lalu.

Namun kini tiba-tiba muncul kembali, dan bukan dari siapa pun melainkan dari Cecilia.

Semua orang menoleh ke arah Rowan.

Pria itu masih duduk diam. Namun wajahnya jauh lebih pucat dibandingkan sebelumnya. Tangannya mengepal kuat. Saking kuatnya hingga buku-buku jarinya memutih.

Rowan menunduk, lalu berbicara dengan suara pelan.

"Tidak ada orang lain yang mengenal ilmu pedang Paman Colton lebih baik dariku. Aku tumbuh bersamanya. Guru pedangku sejak kecil selain Paman Alaric. Aku melihat setiap gerakannya sejak kecil. Aku tahu cara dia mengayunkan pedang. Aku tahu kebiasaannya. Aku bahkan tahu langkah kakinya. Aku tahu bagaimana dia mengubah posisi tubuh sebelum menyerang." Suara Rowan mulai bergetar seolah menahan tangis yanh ingin keluar.

Permaisuri perlahan menggenggam tangannya sendiri, karena ia mulai memahami ke mana arah semua ini. Dan itu membuatnya ikut merasa takut.

Rowan mengangkat kepalanya. Tatapannya berkaca-kaca.

"Dan saat aku melihat Cecilia ..."

Pria itu berhenti, seolah kalimat berikutnya terlalu berat untuk diucapkan.

"... aku tidak melihat Cecilia. Rasanya seperti aku melihat Paman Colton."

Tak ada yang langsung menjawab, karena semua orang memahami arti nama itu bagi Rowan.

Colton bukan sekadar kapten Ravens. Bukan sekedar pahlawan perang. Colton adalah sosok yang membesarkan Rowan sebagai mentor, guru, keluarga

Dan juga sebagai penyesalan terbesar dalam hidup Rowan, karena kematian Colton adalah luka yang tidak pernah benar-benar sembuh untuk Rowan.

Bahkan hingga sekarang Permaisuri memandang Rowan dengan iba.

Sudah bertahun-tahun berlalu namun setiap kali nama Colton disebut luka itu selalu terbuka kembali pada keponakannya ini.

Perlahan Permaisuri berkata, "Rowan..."

Pria itu mengangkat kepala.

Permaisuri tampak ragu. Namun akhirnya ia tetap mengatakannya.

"Mungkinkah ... yang kau lihat memang bukan Cecilia?" ujar Permaisuri.

Rowan langsung mengangkat kepala matanya membelalak menatap Permaisuri. Tatapan yang jarang sekali mereka lihat, tatapan penuh ketakutan.

Seolah berkata 'jangan katakan kemungkinan itu. Jangan bahkan memikirkannya.'

Karena jika kemungkinan itu benar maka seluruh dunia Rowan akan terguncang.

Permaisuri langsung menyesal telah mengucapkannya. Namun kata-kata itu sudah terlanjur keluar.

Kaisar pun menatap Rowan dengan serius, dan baru saat itulah Beliau menyadari sesuatu.

Tangan Rowan gemetar. Bukan sedikit, melainkan sangat jelas.

Kaisar langsung mengernyit. "Rowan?"

Pria itu tersentak.

"Tenang, Nak. Kau sadar kalau kau gemetar hebat?" kata Kaisar penuh kekhawatiran melihat keponakan kesayangannya seolah akan hancur kapan saja.

Rowan membeku, lalu perlahan melihat tangannya sendiri. Ia tidak menyadarinya tangannya gemetar hebat. Seolah tubuhnya bereaksi terhadap sesuatu yang bahkan pikirannya belum mampu terima.

Kaisar menghela napas panjang. Sudah sangat lama sejak terakhir kali Beliau melihat Rowan seperti ini.

Mungkin sejak kematian Colton. Dan itu membuat hati Kaisar ikut terasa berat.

"Rowan." Suara Kaisar terdengar jauh lebih lembut sekarang. "Mungkin kau perlu bicara dengan Cecilia."

Pria itu terdiam.

Kaisar melanjutkan. "Mungkin ada penjelasan sederhana seperti Cecilia pernah bertemu Colton di masa lalu dan dia pernah belajar darinya. Bisa jadi ada sesuatu yang tidak kita ketahui. Kita tidak pernah tahu kemungkinan apa yang terjadi."

Permaisuri mengangguk perlahan.

Aaron juga terlihat setuju.

Karena saat ini berspekulasi tidak akan menghasilkan apa pun. Mereka membutuhkan jawaban langsung. Dan satu-satunya orang yang bisa memberikan jawaban itu adalah Cecilia.

Rowan menunduk mencoba menenangkan dirinya. Namun nama itu terus terngiang di kepalanya.

Ketukan terdengar di pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Semua orang langsung menoleh.

"Masuk," kata Kaisar.

Pintu terbuka. Kepala pelayan kerajaan masuk dengan langkah cepat. Pria tua itu membungkuk hormat.

"Yang Mulia," sapa sang kepala pelayan.

Kaisar mengangguk. "Ada apa?"

Kepala pelayan mengangkat wajahnya dan menjawab, "Kabar dari tabib kerajaan, Putri Cecilia telah sadar."

Untuk sesaat tak ada seorang pun yang bergerak. Seolah otak mereka membutuhkan waktu untuk memproses kalimat itu.

Lalu ...

BRAK!

Permaisuri berdiri lebih dulu. Wajahnya langsung dipenuhi kelegaan.

"Cecilia sadar?" ulang Permaisuri.

"Ya, Yang Mulia," jawab Kepala Pelayan.

Kaisar ikut bangkit.

Aaron mengembuskan napas lega.

Bahkan Evan terlihat tersenyum tipis.

Namun di antara mereka semua, reaksi Rowan yang paling berbeda.

Pria itu membeku. Jantungnya berdetak semakin cepat.

Cecilia sadar. Artinya jawaban yang selama ini menghantuinya berada tepat di depan mata. Jawaban tentang ilmu pedang itu. Tentang Colton.

Tentang kenapa ia merasa sedang melihat seseorang yang seharusnya sudah lama meninggal.

Perlahan Rowan berdiri. Tangannya masih sedikit gemetar, namun kali ini bukan karena ketakutan semata. Melainkan karena ia tahu beberapa menit lagi Rowan akhirnya akan mendapatkan jawaban.

Dan entah kenapa Rowan merasa jauh lebih takut menghadapi Cecilia daripada menghadapi seluruh monster di medan perang.

Karena monster hanya bisa melukai tubuh. Sedangkan jawaban Cecilia mungkin akan mengguncang seluruh hidup Rowan.

Dan tanpa menyadarinya Rowan mengepalkan tangannya erat sebelum melangkah keluar dari ruangan menuju kamar Cecilia.

1
Nisfu Romadhon
Rowan kah yang memanggil?
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/
Nisfu Romadhon
aduh,,,aduh,,, gimana ini gimana ini,,,/Gosh//Gosh//Gosh/menghilanglah Cecil,,,🫣🫣🫣
Nisfu Romadhon
aihh,,, merinding guys,,,/Panic//Panic//Panic/
Nisfu Romadhon
aisshh,,,gegara kesibi duta,,,aku telat tegang nya /Facepalm/
Siti Nurjanah
oh berati arwah yg ngikutin rowan itu paman colton mungkin
Archiemorarty: Bisa jadi 🤭
total 1 replies
Hary Nengsih
kaya nya ia
Eli Rahma
apa cecil dirasuki roh nya paman colton..hingga dia bisa menghadapi monster....cecil kan pernah melihat satu roh yg selalu mengikuti Rowan....iyaaa..pasti itu rohnya paman colton..iyaa kan thor??😆
Archiemorarty: Bisa jadi 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
cari in jodoh nya Evan k Othor,,, please /Whimper//Whimper//Whimper/
Archiemorarty: Abis Rowan ntar buat Evan yak 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
siapa si pengkhianat ini?🤔
Hary Nengsih
yg d imcar cecilia kayanya
Archiemorarty: Yeps 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
wow,,, Great Job Lowan👏👏👏/Kiss//Kiss//Kiss/
Nisfu Romadhon
ehh pak Diego,,, logikanya ya kalo Lowan suka sama Joanna,,dia g akan nunggu hari ini datang bersama Cecilia pasti dari dulu sudah bersama Joanna paling tidak bertunangan,,,ya g netizens 🤔,,, berhubung Lowan g suka sama anakmu Yo wes tho terima nasibmu /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
Archiemorarty: Nggak mau terima dia makanya begitu 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
udah nasibnya orang ganteng digilai cewek-cewek lah ya /Drool//Drool//Drool/
Archiemorarty: Hooh 🤭 mana kaya lagi
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aisshh,,, horor banget ini mah🫣
Archiemorarty: Fantasy horor kali ini tema nya 🤭
total 1 replies
Eli Rahma
serem bgt mbayanginya...
Jelita S
lanjut thor 😍
Archiemorarty: Siap kakak 🥰
total 1 replies
Eli Rahma
eaaalaahhh main tiyum² ajaaaaa..😅
Jelita S
eh si Rowan udah main cium2 z nih😄
Eli Rahma
cieeeee..Lowan..udah menyatakan tinta nih ceritanyaaa..🥰🥰🥰
Archiemorarty: Gx mau ketinggalan dia 🤭
total 1 replies
Eli Rahma
syukurlah cecillia sadar..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!