NovelToon NovelToon
PENGGANTI

PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Angst / Pengganti
Popularitas:441
Nilai: 5
Nama Author: nona yeppo

Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.


Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.


Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.


Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Rosa

...****************...

Sebulan telah berlalu, meninggalkan kenangan lama yang sudah mulai berdebu. Bukan karena tidak sempat untuk kembali mengenang, melainkan ketiadaan waktu untuk merajut kembali waktu yang perlahan berlalu.

Yura b sibuk dengan rutinitas nya sehari-hari, menemani Yura a dengan sepenuh hati.

hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu. Sesuai rencana mereka pada waktu itu.

Ketiga anak muda itu telah duduk tepi dipantai dengan beralaskan tikar anyaman yang terbuat dari lapisan tipis bambu khas desa sensei.

Yura b melukis spot andalannya, sedangkan Yura a kembali melukis gaun indah rancangan baru nya.

"Nanti, kalau kamu menikah, aku ingin kamu memakai salah satu dari karyaku ini, " ucap Yura a.

Ia berbicara dengan begitu santai nya, padahal kedua temannya sudah saling pandang.

"Aku pilih ini deh,, " ucap Liam ikut campur. Sebenarnya ia hanya ingin mencoba menghibur saja.

Terlihat Yura b hanya diam sebagai pendengar, tapi didalam hatinya ia menyimpan dalam-dalam permintaan sahabat nya itu.

Diam-diam ia juga memperhatikan lukisan gaun yang dipilih oleh Liam. Itu adalah lukisan yang sejak awal ia sukai.

"Kenapa suka itu? Apa ada alasan nya? " Yura a bertanya.

Ia bertanya karena dirinya pernah melihat Yura b memandangi lukisan yang sama, gadis itu bahkan menyimpan potretnya didalam ponselnya.

"Cantik, aku bahkan bisa membayangkan wajah seseorang saat memakai nya. "

Yura a tahu siapa yang Liam maksud, gadis yang suka hanya diam dan sibuk dengan lukisannya.

"Katamu waktu itu hanya kita berdua, kenapa pria itu ikut bersama kita? " Yura b protes, alibi yang sempurna untuk mengalihkan topik.

"Ra, pria seperti apa yang kamu suka? " Yura a bertanya. Ia tidak mengindahkan protes sahabatnya.

"Pria yang baik, tinggi, pintar, dan usianya ada diatasku, " Yura b menjawab tanpa perlu berpikir lama karena sosok Steven selalu ada didalam pikirannya.

Yura a tersenyum sambil memandang kearah Liam. "Kamu kalah di usia.. " ucapnya tersenyum mengejek.

"Ra, kali ini aku tidak suka candaan mu.. " Jawab Yura b dengan jujur.

"Hahahaha, baiklah-baiklah... "

Ketiga nya kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing. Walaupun sosok Liam tidak terlalu dibutuhkan, ia tetap berada disana untuk menjaga kedua gadis itu.

Akhir-akhir ini dirinya sudah tidak terlalu banyak bicara lagi pada Yura b sejak kepulangan mereka dari rumah sakit waktu itu.

Sedangkan kedua gadis yang bernama Yura itu semakin hari semakin lengket saja. Perlahan kesalahpahaman para siswi mulai berubah, mereka tidak lagi membicarakan hal-hal yang buruk mengenai keduanya.

Kehadiran Yura b banyak membawa perubahan pada mentalitas Yura a. Sekali-sekali ia mulai mau menyapa atau membalas sapaan siswi lain.

"Ra, kita pulang yuk? " Suara Yura b memecah keheningan diantara mereka.

Lukisan yang sejak tadi ia buat telah rampung, sebuah potret wajah Yura a yang tersenyum dengan begitu indahnya.

"Ini tolong dimasukin ke dalam buku mu ya, aku ingin hasil karya ku ini menjadi bagian dari dirimu.. "

Melihat lukisan itu, Yura a segera memeluk Yura b dengan air mata yang siap tumpah. "Sebenarnya aku takut ra, "

"Aku hanya tidak punya pilihan lain selain menunggu semuanya berjalan tanpa bisa ku cegah. "

Itulah yang menjadi alasan utama mengapa Yura a lebih menutup diri. Ia tidak siap dikasihani, tidak siap dianggap sakit, namun terkadang ia merasa lelah harus berusaha kuat dihadapan semua orang.

"Oh ya, besok mama aku datang.. " Lagi-lagi Liam mencoba mengalihkan suasana yang tiba-tiba sendu itu.

Suara Liam membuat pelukan keduanya terlepas.

"Aku tahu, mama ku juga udah kasih kabar. " Jawab Yura a.

Ketiga nya akhirnya kembali kerumah nenek Lea. Yura akan tinggal sementara karena mama Liam akan datang keesokan harinya.

Nenek Lea sudah menunggu dengan hidangan-hidangan lezat yang tentu nya sudah sesuai dengan resep ahli gizi yang bertugas mengawasi makanan Yura a.

"Kamu sudah lama tidak main kesini, sudah setahun lebih ya.. "

Yura a hanya mengangguk sambil memasang senyum cantik nya. Ia sendiri pun masih belum bisa menerima kenyataan pahit yang merenggut impian masa depannya.

Ia masih ingat dengan jelas permintaan konyolnya waktu itu pada Leandro.

"Sebelum kamu mati, aku ingin menikah denganmu setidaknya pernikahan sekali seumur hidupku.. "

Ia mengucapkan kalimat itu dengan begitu entengnya seolah membicarakan rencana masa depannya yg indah.

"Ia nek, kuharap aku bisa lebih ikhlas lagi.. " jawab Yura a.

Saat semuanya sedang asyik menyantap hidangan yang dibuat oleh nenek, terdengar suara pintu yang diketuk dari luar.

"Biar aku saja nek,, " ucap Yura b saat melihat nenek Lea yang hendak beranjak dari kursinya.

"tidak biasanya ada tamu siang-siang begini.. " ucap nenek.

Sedangkan Yura yang berjalan dengan prasangka baiknya, segera membuka pintu. Terlihat sang ibu kembali muncul, namun kali ini ia datang bersama seorang pria dewasa.

Yura hanya diam tanpa mempersilahkan tamu nya masuk, membuat orang-orang yang ada dimeja semakin penasaran.

"Ra? " Terdengar suara nenek yang memanggil namanya.

Yura yang sempat terdiam itu segera mundur memberi jalan pada tamu nya itu.

"Yura, ayo kita masuk,, " ucap pria itu.

Yura hanya mengangguk sambil berjalan mengikuti ibu dan pria disampingnya.

Hati nya selalu berusaha tidak peduli, namun tubuhnya bereaksi berlebihan. Ia merasa tidak rela, namun ia selalu bertingkah seolah membenci sang ibu.

"bu,. " Sapa Rosa.

"Kebetulan kami sedang makan, ayo ikut gabung bersama kami.. " jawab nenek Lea diikuti anggukan oleh yang lain.

Yura yang akhir-akhir ini sudah mulai membuka diri, kini sepertinya akan kembali ke setelan awal. Diam tanpa ekspresi.

Ia tidak kembali ke tempat duduk nya, melainkan langsung berjalan menuju pintu belakang.

Liam yang menyadari suasana hati Yura b sedang tidak baik-baik saja segera ikut menyusul keluar.

Ia mendekat, namun masih dalam jarak aman. Ia tidak ingin membuat Yura semakin kesal karena kehadiran nya yang sudah dipastikan akan mengganggu.

Yura berjongkok sambil menulis-nulis sesuatu di tanah. Jika diperhatikan, ia terlihat layaknya anak kecil yang sedang merajuk.

Liam yang menyaksikan kelucuan itu jadi tersenyum-senyum sendiri, tak menyangka sikap dingin yang selama ini terlihat hanyalah tameng.

Tetap saja gadis itu masih mau bertingkah layaknya gadis pada umumnya.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Liam mendekat juga. Ia kemudian menyodorkan sebuah permen kaki tepat didepan wajah gadis itu.

Yura yang masih dalam posisi berjongkok segera mengangkat kepalanya.

Saat mulutnya terbuka, permen itu segera masuk kedalam mulutnya.

"Kenapa mengikuti ku? "

"Aku pikir kamu akan menangis disini, ternyata hanya duduk seperti anak kecil. Makanya aku kasih permen.. " canda Liam.

Ia kemudian meraih tangan Yura lalu membersihkannya dari pasir yang menempel.

"Kalau sesak, baiknya cerita. Jangan cuman jadi pendengar saja. Sekali-sekali kamu juga perlu didengar.. " ucap Liam sambil memandang Yura dengan lekat.

.

.

.

Bersambung...

1
anggita
like👍iklan☝., Liam, Yura.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!