Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Takut
Laras terus menatap ke arah pintu yang sudah tertutup, kemudian beralih menatap Aditya yang saat ini tengah menatapnya begitu intens.
"Aku takut makk, kenapa suasana tiba-tiba berubah," batin Laras, hatinya ingin menangis. Namun harus tetap kuat. "Ini semua gara-gara Rara! Setelah ini aku tidak akan bicara padanya selama sebulan!"
Gadis itu menyalakan sangat adik atas situasi yang terjadi saat ini. Padahal jika Laras dapat bersikap lebih baik dan tidak melakukan kekerasan, mungkin saat ini dirinya sudah dalam perjalanan menuju rumah. Sikap orang lain memang tergantung sikap kita, itu satu hal yang Laras tidak pikirkan.
"Kenapa?" Aditya mendekat tanpa ragu, cowok itu berhenti di depan Laras yang terus menyembunyikan rasa gugupnya. Bagaimana tidak? Jarak keduanya tidak lebih dari 50 sentimeter.
"Gak papa," jawab Laras. Gadis itu lantas menggeser tubuhnya agar tidak berhadapan dengan Aditya. Jika tidak mata Laras akan terus ternoda memperhatikan benjolan yang ada di celana Aditya.
"Kenapa cowok itu harus berdiri tepat di depan wajahku sih? Membuatku berdosa saja!" Laras menggerutu. Tidak ingin kejadian yang sama terulang, gadis itu kemudian berdiri. Tangannya mengambil album untuk disodorkan pada Aditya. "Cepat tanda tangani!"
Dengan santai Aditya mengambil album tersebut, bibirnya tersenyum tipis. Berusaha menarik perhatian Laras. "Berapa lama gadis itu tahan dengan godaan seorang Aditya?" batinnya sombong.
"Siapa namamu?" tanya Aditya.
"Dina." bohongnya.
"Dina, ya...." Aditya menyodorkan kembali Album tersebut, namun belum sempat Laras menerimanya, Aditya malah melempar Album ke sofa.
Laras reflek cemberut, dirinya merasa dipermainkan. Harga dirinya langsung terjun ke titik terendah. Tapi tak apa, kali ini Laras akan memaafkan karena dengan begitu urusannya akan cepat selesai. Setelah mengatur emosinya, Laras tersenyum manis kemudian berbalik untuk mengambil Album serta paperbag, dirinya akan pergi sekarang juga. Berlama-lama diruangan ini hanya akan membuat otaknya berpikir macam-macam.
Namun agaknya, tidak semudah itu Aditya membiarkan Laras pergi. Cowok itu maju sehingga tubuhnya menempel dengan Laras. Dari belakang Laras dapat merasakan tubuh Aditya. Pemberontakan terjadi, namun jelas tenaganya kalah jauh dari tenaga Aditya yang rajin ke tempat gym.
"Kurang ajar!" Laras melupakan Albumnya.
Aditya memutar tubuhnya bersamaan dengan tubuh Laras, kemudian menjatuhkan dirinya ke sofa. Laras yang masih dalam dekapannya juga ikut jatuh ke dalam pangkuan. Setelah itu Aditya merubah posisi tubuh Laras agar menghadap ke arahnya. Cowok itu tersenyum tengil saat mendapati ekspresi panik Laras.
Laras mendorongkan tangan ke dada Aditya, berusaha menciptakan jarak. Kurang ajarnya, Aditya malah menarik kedua kaki Laras agar mengapit kakinya dengan menekuk dan berpangku pada sofa.
Perubahan ekspresi yang serius membuat Laras gelagapan. Aditya terus menatap matanya, mengunci agar pandangan keduanya tidak putus. Bahkan kini kedua tangannya sudah dicekal Aditya. Menuntun agar melingkar di tubuh cowok itu.
"Aku enggak mau jadi korban Aditya, seseorang tolong akuuuu," jerit Laras dalam hati. Mulutnya seakan terkunci. Tubuhnya mendadak kaku karena ini adalah sentuhan pertama pria asing di tubuhnya, selama dirinya hidup. Lain dengan Aditya yang kepedean, merasa jika gadis didepannya itu sudah masuk dalam perangkapnya.
"Enggak ada yang bisa menghalau pesona seorang Aditya, hahaha...." Batin Aditya. Cowok narsis itu tidak membiarkan Laras berubah posisi sedikitpun. Tidak sampai suara dering dari ponsel Laras terdengar.
Gadis itu kaget, kembali memberontak, kali ini lebih keras. Tangannya ingin meraih ponsel yang tersimpan di dalam paperbag. Kesempatan berharga ini juga akan dirinya pakai untuk lepas dari kungkungan Aditya.
Melihat arah tangan Laras, Aditya mengambil alih, cowok itu melepaskan Laras kemudian mengambil ponsel gadis itu dengan cepat.
Terdapat panggilan dengan nama Rara di layar ponsel itu. Aditya menggeser ikon telepon berwarna hijau kemudian menjauh dari Laras. Gadis itu juga langsung menjauh dan mengibas-ngibaskan tubuh, menghapus semua bekas Aditya di badannya seolah cowok itu penuh dengan bakteri.
"Hey kak Larassss! Kenapa lama sekali? Adikmu ini sudah tidak sabar menerima album dengan tanda tangan Aditya." Suara cempreng Rara terdengar dari sebrang. Aditya bahkan sampai menjauhkan ponsel Laras dari telinganya.
Belum sempat Aditya menjawab, dari belakang Laras langsung merebut ponselnya dan mematikan sambungan telepon. Gadis itu juga mengambil Album serta paperbag sebelum akhirnya kabur. Namun sialnya pintu hotel kamar Aditya tidak bisa terbuka, dirinya tidak mempunyai kartu akses.
"Cepat bukakan pintu ini, Aditya!" Karena emosinya yang sudah memuncak, Laras mengeraskan suaranya.
Suaranya sedikit gemetar karena menahan sakit hati setelah dil*ce kan. Takut, buru-buru, serta jantung yang terus terpacu semua mengobrak-abrik perasaan Laras.
"Tenang girl, gue juga gak bisa buka tu pintu" Aditya yang peka dengan ketakutan Laras kini merubah sedikit sikapnya. Aditya memang tengil dan nakal, namun dirinya juga masih memiliki perasaan.
Tak jauh di sana, Laras tidak peduli, gadis itu langsung memutar tubuhnya dan menendang sel*ngkangan Aditya. Gerakan tidak terduga yang Aditya sendiri tidak bisa hindari. "Cepat bukaaaa!" Laras tidak mau tahu.
Entah dari mana keberanian itu muncul. Yang jelas Aditya juga merasa terkejut dengan Laras.
Bahkan setelah Aditya meringis kesakitan sembari memegang area sel*ngkanya, Laras masih terus menendang lutut cowok itu. Entah tenaga super dari mana, Laras saat ini lebih mirip seperti monster. "Cepat!"
Aditya terjatuh. "Sumpah gue gak bisa buka." cowok itu berkata jujur. Karena memang kartu akses kamarnya masih dipegang Tommy. Sedangkan asistennya itu ada di luar.
"Bohonggg!"
"Beneran, kartu akses kamarnya dipegang asistenku... Tunggu dulu, biar gue telpon dia."
Setelah dengan susah payah mengatakan itu, Laras kembali lebih tenang, sedangkan Aditya sembari menahan sakit mulai beranjak dari tempatnya. Mengambil ponsel untuk menghubungi Tommy.
Laras terus memperhatikan gerak-gerik Aditya dari jarak 2 meter. Gadis itu masih kesal, air mata yang sedari tadi di tahan kini mulai merembes. "Sialan, aku enggak mau nangis," batinnya. Harga dirinya bisa tambah jatuh jika ketahuan menangis dihadapan Aditya.
Tanpa Aditya tahu, Laras dengan cepat mengelap air mata yang sempat menetes itu. Dirinya tidak ingin ketahuan menangis.Tidak ingin seseorang melihatnya sebagai gadis cengeng. Akan sangat memalukan jika gadis yang tadinya bar-bar tiba-tiba menangis.
Tidak sampai 2 menit, pintu kamar terbuka. Laras yang sudah menunggu di depan pintu langsung saja melesat, membuat Tommy hampir jantungan. Cowok itu mengelus dadanya, "Busettt!"
Suara hentakan kaki Laras menghilang dengan cepat.
Sepeninggal Laras, Tommy mengamati Aditya yang sedang meringis-meringis. "Kenapa Lo?"
"Icik bos gue di tendang gadis itu," jawab Aditya sembari mengelus intinya yang tertutup celana.
Seketika tawa Tommy menggelegar, tawanya terdengar puas. "Itulah akibatnya jika terlalu sombong... Lihat? Ternyata masih ada gadis yang tidak menyukai dirimu."
Tommy duduk di sofa dengan membentangkan kedua tangannya, kakinya mengangkang sudah seperti penguasa saja.
"Sialan betul!" Aditya memaki.