"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musim Semi yang Membeku dan Rahasia Inti Emas
Angin sedingin es menyapu medan perang yang telah sunyi, meniupkan sejumput salju halus di atas gundukan tanah yang kini berubah menjadi kuburan massal. Di sekeliling batas luar hutan batu, tumpukan mayat para pemburu fana dan beberapa pengawal klan luar tampak membeku dengan ekspresi wajah yang bervariasi—semuanya terkunci dalam kepanikan maut yang instan.
Di antara puing-puing kereta kayu yang hancur berkeping-keping, Lin Ling mencoba bertumpu pada kakinya yang gemetar hebat.
Jari-jemarinya yang mungil telah memutih seluruhnya, kaku dan retak menyerupai kristal es yang rapuh akibat sisa pembentukan Qi es dari teknik terlarangnya. Wajah pucatnya seputih kain kafan, dan napasnya berembus putus-putus. Namun, sepasang manik mata hitamnya tetap memancarkan penolakan mutlak untuk menyerah pada maut.
‘Aku... tidak akan mati di sini...’ batin Lin Ling menjerit di tengah kesadarannya yang mulai buram.
Namun, batas fisik tubuh fana seorang anak kecil tidak bisa membohongi realitas. Tepat saat sepasang lututnya kehilangan seluruh energi dan tubuhnya mulai ambruk ke arah salju—
Sebuah dekapan hangat yang asing tiba-tiba merengkuh tubuh kecilnya dengan sangat erat, menahan hempasan tanah beku.
Huang Shi, yang entah sejak kapan berada di area pertempuran tersebut, berdiri di sana tanpa sepatah kata pun. Wajah tampannya tampak luar biasa tegang saat melihat kondisi Lin Ling yang mengenaskan. Tanpa membuang waktu, dengan satu gerakan cepat, dia menarik tubuh kecil itu ke atas punggung tegapnya, menyalurkan sedikit Qi hangat dari tubuhnya untuk menahan laju pembekuan darah Lin Ling.
Lin Ling terperanjat di sela pingsannya. Sisa-sisa insting taktisnya yang defensif menolak sentuhan orang asing. Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, tangan kecilnya mencoba mendorong bahu lebar pria itu.
"Tunggu... apa yang... kau lakukan? Lepaskan aku!" suaranya keluar sangat serak, nyaris tenggelam sepenuhnya oleh deru angin badai yang kembali melolong.
Huang Shi tidak bergeming sedikit pun. Langkah kakinya tetap melangkah dengan kokoh, menembus tumpukan salju setinggi lutut yang mengunci jalur hutan.
"Jika kau ingin mati menyusul nenekmu, bicaralah setelah kita keluar dari tempat terkutuk ini," jawab Huang Shi dingin, namun cengkeraman tangannya pada kaki Lin Ling justru semakin mengencang, menolak untuk membiarkan bocah itu merosot jatuh.
Mendengar kata 'nenekmu', tubuh Lin Ling seketika menegang sebelum akhirnya seluruh sisa kesadarannya runtuh total, membuatnya terkulai pingsan di bahu Huang Shi.
Sambil berlari menembus badai, Huang Shi mendongak menatap langit malam yang kelam. Dahinya berkerut begitu dalam hingga membentuk lipatan tajam.
‘Seharusnya sekarang sudah memasuki awal musim semi...’ batin Huang Shi, jantungnya berdegup kencang oleh sebuah firasat buruk yang hebat. ‘Mengapa hawa dingin di awal bulan ini justru menjadi sepuluh kali lipat lebih mematikan dibanding puncak musim dingin lalu?’
Semakin Huang Shi memikirkannya, semakin dia merasakan kejanggalan yang luar biasa menekan batinnya.
Sebuah kilatan pemahaman mendadak muncul di sepasang mata kuningnya: 'Apakah fenomena aneh ini... alasan sebenarnya mengapa tetua klan mengirimku bertugas ke desa terpencil di kaki gunung ini?'
Beberapa hari kini telah berlalu di dalam sebuah ruangan paviliun medis yang hangat di Kota Luo, wilayah barat yang berjarak ratusan mil dari gunung utara.
Lin Ling masih terbaring pingsan di atas ranjang kayu cendana yang nyaman. Di samping tempat tidur, sesosok kakek tua berambut jarang yang mengenakan jubah tabib klan sedang memeriksa denyut nadi pergelangan tangan Lin Ling dengan dahi berkerut dalam.
Haaah...
Orang tua itu menarik kembali jari-jarinya, lalu menghela napas panjang penuh kepasrahan sambil menoleh ke arah Huang Shi yang sedang berdiri bersedekap di dekat pintu.
"Tuan Muda Kedua..." tabib tua itu menggelengkan kepalanya perlahan. "Sepertinya kemampuan medis saya yang rendah ini tidak cukup untuk mengatasinya. Luka dalam di tubuh wanita ini sangat parah. Jalur meridiannya berantakan dan membeku dari dalam. Mustahil untuk mengobatinya hanya dengan menggunakan tanaman obat fana biasa."
Mendengar laporan tersebut, alis Huang Shi mengerut tajam. Tatapannya tertuju pada wajah pucat Lin Ling yang masih tak sadarkan diri. Ketertarikannya pada misteri bocah ini belum pudar.
"Sepertinya aku harus mendapatkan sebuah pil penyembuhan tingkat spiritual..." Huang Shi bergumam dengan nada suara yang berat. "Aku akan pergi ke perbendaharaan utama klan untuk mendapatkan satu."
Dengan niatan yang sudah bulat, Huang Shi membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari ruang medis, bersiap menghadap otoritas tertinggi klannya.
Huang Shi terbang menggunakan pedang terbangnya, melesat membelah awan menuju pusat administrasi Kota Luo. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit bagi seorang kultivator tahap Kondensasi Qi sepertinya untuk meninggalkan batas pegunungan luar. Setelah melakukan perjalanan darat dan udara selama dua hari penuh dengan kecepatan maksimal, akhirnya dia tiba di gerbang utama kompleks kediaman Klan Huang.
Namun, selama dua hari perjalanan penuh itu, kecurigaannya terhadap gunung timur justru tidak berkurang sedikit pun, melainkan semakin menguat hingga menjadi sebuah spekulasi yang mengerikan.
Dia menemukan sebuah anomali geografis yang tidak masuk akal: Memang benar saat ini seluruh daratan luar Kota Luo sedang menikmati kehangatan awal musim semi dengan bunga-bunga yang mulai bermekaran, tetapi mengapa wilayah gunung timur tempat desa itu berada justru tetap terkunci di dalam musim dingin ekstrem?
Tidakkah fenomena terlokalisasi ini terlalu aneh dan bertentangan dengan hukum alam?
Berbagai teori kultivasi muncul silih berganti di dalam benaknya, namun tidak ada satu pun yang berhasil menjawab pertanyaan tersebut dengan memuaskan.
Huang Shi mendarat di pelataran batu giok hitam klan, lalu memasukkan pedang terbangnya ke dalam cincin penyimpanan di jarinya. ‘Sebaiknya aku melapor kepada Kepala Klan terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan lebih jauh.’
Para penjaga gerbang yang melihat kedatangan sang Tuan Muda Kedua segera menegakkan tubuh mereka, membungkuk memberi hormat dengan sangat takzim. "Selamat datang kembali, Tuan Muda Huang!"
Huang Shi hanya melambaikan tangan kanannya dengan acuh tak acuh, lalu melangkah lebar memasuki koridor paviliun utama.
Tak lama kemudian, dia telah sampai di dalam aula pertemuan yang megah. Di ujung ruangan, di atas sebuah singgasana mewah yang diukir dari tulang binatang iblis purba, duduk sesosok pria paruh baya.
Aura tekanan spiritual yang memancar dari tubuh pria itu begitu masif dan mengerikan, membuat udara di dalam aula terasa sangat berat dan bergetar halus secara konstan—sebuah bukti nyata dari eksistensi seorang kultivator Tahap Inti Emas (Golden Core).
Pria itu memiliki rambut berwarna biru tua yang unik dengan sepasang mata hitam yang jernih namun sedalam samudra. Dialah Kepala Keluarga Huang generasi saat ini, ayah kandung Huang Shi.
Huang Shi melangkah ke tengah aula, lalu berlutut satu kaki memberikan penghormatan formal.
"Melapor kepada Ayah. Akhir-akhir ini, anakmu menemukan hal yang sangat aneh di wilayah gunung timur."
Pria tua di atas singgasana tidak menggerakkan tubuhnya sedikit pun. Suaranya keluar dengan nada rendah namun bergema kuat di dinding dada Huang Shi.
"Katakan."
"Cuaca di sana benar-benar aneh, Ayah," Huang Shi memulai laporannya dengan nada serius. "Seharusnya sekarang adalah musim semi, namun di wilayah gunung timur, cuacanya tetap musim dingin ekstrem. Dan berdasarkan pengamatanku sebelum kembali, hawa dingin di sana justru menjadi semakin pekat dan mematikan dari hari ke hari."
"Hm..."
Kepala Klan Huang perlahan menutup sepasang mata hitamnya yang jernih. Di dalam ruang pikirannya, kalkulasi tingkat tinggi langsung berputar. Hanya ada dua kemungkinan ekstrem yang mampu memicu anomali fenomena alam terlokalisasi sedahsyat itu di dunia kultivasi:
Pertama, itu adalah aktivasi otomatis dari sebuah Warisan Formasi kuno (Ancient Formation Heritage) milik seorang kultivator tingkat Abadi yang baru saja retak akibat berjalannya waktu. Atau kedua... sesosok monster purba kuno tersembunyi telah berhasil menembus belenggu alam dan mencapai Alam Mahayana (Mahayana Realm)—puncak tertinggi dari kultivasi fana yang mampu memanipulasi cuaca dunia hanya dengan helaan napasnya.
Kepala klan membuka matanya kembali, tatapannya tampak sangat dalam menatap Huang Shi.
"Putraku, akhir-akhir ini ada banyak kultivator dari berbagai klan kecil yang dilaporkan hilang tanpa jejak saat melintas di atas langit gunung tersebut," ucap sang Kepala Klan dengan nada yang sarat akan peringatan. "Pada awalnya, aku berniat mengirimkan surat untuk memintamu segera kembali ke kota. Namun, siapa sangka kau justru memiliki insting yang bagus untuk berinisiatif kembali lebih dulu."
Pria itu menjeda kalimatnya, aura Golden Core-nya sedikit berfluktuasi. "Alasan awal mengapa Ayah mengirimmu ke wilayah terpencil itu adalah untuk menyelidiki indikasi adanya Warisan Abadi. Itu adalah niatan awal klan kita. Namun..."
Suara Kepala Klan mendadak turun satu oktav, dipenuhi intensitas ketakutan yang tersamar. "...gunung itu ternyata menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Seekor monster kuno yang telah mencapai puncak kultivasi fana sedang tertidur di sana. Keberadaan ini benar-benar telah disembunyikan begitu dalam dari deteksi klan-klan besar selama ribuan tahun."
DEG!
Sepasang mata Huang Shi seketika melebar sempurna saat mendengar kata 'Monster Mahayana'.
"Sepertinya, ketujuh klan besar lainnya di Kota Luo juga sudah mulai mendapatkan potongan informasi mengenai anomali ini," Kepala Klan Huang bangkit dari singgasananya, menatap ke arah jendela besar aula yang mengarah ke timur. "Cepat atau lambat, seluruh wilayah ini akan tahu. Sebuah badai besar pertumpahan darah antar klan akan segera pecah di kaki gunung itu."
Huang Shi mengepalkan tangannya di balik lengan jubah. Konfrontasi politik dan perburuan warisan ini adalah urusan nanti. Sekarang, fokus taktisnya adalah memanfaatkan situasi kacau ini untuk memulihkan bocah berbaju merah tua yang dia bawa, yang dia yakini memiliki keterikatan rahasia dengan misteri yang sedang terjadi di atas gunung es tersebut.
......................
Setelah saya berpikir lama, memutuskan untuk menulis ulang semuanya.
Saya berpikir menggunakan AI ini bisa menghemat waktu dan tenaga dengan hasil maksimal namun perkiraan saya salah saya seharusnya tidak mempercayakan mahakarya ini kepada AI untuk pembaca saya memohon maaf sepertinya kalian harus membaca ulang.
Saya sudah menulis ulang semuanya dari bab 1 hingga 17.
Jika ada kata (Dirasa/Fisik) dalam bab yang kalian baca atau variasi lainnya kalian laporkan saja itu sebagai tanda agar ketika merangkai kata tidak berantakan.
Ketika saya menerima laporan ini saya akan langsung memperbaikinya.