NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:931
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Mimpi yang Terus Berulang

Prolog.

Halo semuanya! Selamat datang di novel terbaru saya, The Emerald and Her Four Mates.

Bagi teman-teman pembaca setia dari platform sebelah, ya! Novel ini merupakan sekuel ketiga (Buku ke-3) dari Universe fantasi yang sebelumnya saya bangun. Cerita ini terhubung langsung dengan buku pertama saya yang berjudul Alan the Pegasus dan buku kedua, Mnemosyne: The Lost Memory. Tokoh-tokoh hebat seperti Master William Pendragon dan istrinya, Violet, akan kembali mengambil peran penting di sini.

Bagi Pembaca Baru di NovelToon:

Jangan khawatir! Anda tetap bisa membaca dan menikmati novel ini dengan nyaman meskipun belum membaca dua buku sebelumnya. Konflik utama, romansa reverse harem, dan perjalanan hidup Evelyn di naskah ini dikemas sebagai cerita baru yang berdiri sendiri. Namun, jika Anda penasaran dengan masa lalu para karakter pendukungnya, Anda sangat boleh mengintip dua buku terdahulu!

📢 Pemberitahuan Penting & Hak Cipta:

Cerita ini murni hasil karangan dan imajinasi saya sendiri. Bagi teman-teman sesama penulis, mari kita saling support dan terus berkarya dengan jujur. Dilarang keras melakukan plagiarisme dalam bentuk apa pun (menyalin, meniru plot secara berlebihan, atau memublikasikan ulang tanpa izin). Mari kita hargai jerih payah setiap kreator!

Selamat membaca, dan bersiaplah masuk ke dalam takdir rumit sang pemilik mata zamrud! ❤️

———

"Kembalilah ke dunia asalmu. Pulanglah... Evelyn!"

"HAHH!"

Evelyn tersentak. Napasnya memburu. Gadis berusia delapan belas tahun itu segera mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Di bawah temaram lampu, rambut hitam sebahunya tampak kusut, selaras dengan kilat gelisah di sepasang mata hijau zamrudnya.

"Cih, sial. Mimpi itu lagi," umpatnya lirih.

Ini sudah kesekian kalinya dalam enam bulan terakhir—tepat sejak dokter memvonisnya mengidap penyakit pembekuan darah di otak. Tubuhnya kian kurus drastis. Beban pikirannya pun makin berat sejak kepergian sang ayah sepuluh bulan lalu.

"Aku butuh air. Tenggorokanku serasa kering kerontang," gumamnya.

Evelyn menurunkan kakinya ke lantai yang dingin. Ia bergegas keluar dari kamar tidurnya yang pengap dan sempit—yang lebih mirip gudang—menuju dapur.

Ia menuangkan air dari teko, lalu menenggaknya hingga tandas. Namun, tepat saat gelas mendarat di atas meja, telinganya menangkap suara grasak-grusuk dari arah ruang tamu.

Karena rumah sewa berlantai satu ini tidak memiliki sekat, Evelyn bisa langsung melihat sesosok wanita paruh baya sedang sibuk di sana.

Itu ibunya, Karina. Wanita berambut keriting pirang dan bermata biru itu tampak tergesa-gesa memasukkan beberapa barang ke dalam tas besar.

"Ibu? Mau ke mana lagi tengah malam begini?" tanya Evelyn, melangkah mendekat. Matanya menyipit curiga. "Dan... apa itu? Kenapa Ibu membawa peralatan ghost hunter milik Ayah? Apa yang mau Ibu lakukan?"

Evelyn tahu betul barang-barang itu. Itu adalah senjata khas mendiang ayahnya.

Karina menoleh sekilas, tatapannya sulit diartikan. "Ibu harus bekerja lagi di bar, sekalian menjual semua barang ini. Kita butuh uang, Evelyn," ucap Karina dengan nada misterius, lalu kembali fokus menjejalkan peralatan perak itu ke dalam ransel.

Dada Evelyn terasa sesak. Ia tahu mereka jatuh miskin. Rumah mewah mereka di Kota Luminara telah disita oleh Ketua Ghost Hunter sebagai ganti rugi. Ayahnya gagal dalam misi fatal: memburu salah satu klan vampir terkuat, dan gugur di sana.

Akibat kegagalan itu, Evelyn dikucilkan. Sahabat dan orang-orang terdekatnya yang mayoritas merupakan ras immortal berbalik membencinya. Tragisnya, target yang diburu ayahnya ternyata adalah keluarga dari teman-teman dekatnya sendiri.

Demi menyambung hidup dan menghindari teror sosial, mereka terpaksa melarikan diri ke Kota Vespera yang kumuh ini.

"Tapi, Bu... apa tidak ada pekerjaan lain? Itu benda berharga peninggalan Ayah. Kenapa harus dijual?" tanya Evelyn, suaranya bergetar.

"Sudah Ibu bilang, kamu diam saja, Eve!" bentak Karina sambil membanting tas besar itu ke lantai.

"Kau cukup sekolah yang benar! Jangan pikirkan urusan Ibu. Yang penting kamu bisa makan dan hidup tenang. Itu saja cukup!"

Evelyn tersentak mundur. Ia spontan memegangi dadanya yang mendadak nyeri. Dengan sisa keberanian yang menciut, ia akhirnya mengangguk patuh.

"Baik, Ibu."

Ia memilih mundur dan kembali ke kamar. Evelyn meraba kepalanya yang mulai berdenyut sakit. Ibunya tidak tahu tentang penyakit mematikan ini.

Evelyn sengaja menyembunyikannya. Menjadi beban finansial saja sudah membuat ibunya stres, ia tidak sanggup jika harus menambah beban baru lagi.

****

Keesokan paginya...

Hari ini hari Minggu. Sang ibu belum juga pulang ke rumah. Evelyn akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit di pusat Kota Vespera. Ia berniat memeriksakan kesehatannya menggunakan sisa uang tabungannya yang tak seberapa.

Begitu taksi yang ditumpanginya berhenti di depan lobi, Evelyn turun. Ia memandangi gedung putih bertingkat di hadapannya, lalu menghela napas panjang. Ini adalah kedatangan keduanya.

Kali pertama ia menginjakkan kaki di sini adalah enam bulan lalu, tepat saat gejala penyakit itu pertama kali muncul. Tentu saja, semua ini ia lakukan tanpa sepengetahuan ibunya.

Kini, Evelyn sudah berada di dalam ruang periksa Dokter Antonio.

Dokter paruh baya itu menggeser selembar kertas hasil pemindaian CT scan terbaru, memperlihatkan perkembangan massa yang menggerogoti otak gadis itu.

"Glioblastoma yang menyerang Anda sudah memasuki stadium lanjut," ujar Dokter Antonio, suaranya berat dan penuh simpati. "Tanpa pengobatan, kemungkinan tubuh Anda hanya sanggup bertahan selama tiga bulan saja. Namun, jika Anda menjalani kemoterapi rutin, kemungkinan harapan hidup Anda bisa bertambah."

Evelyn tidak terkejut. Ia justru tampak sangat tenang, seolah vonis mati yang baru saja didengarnya hanyalah ramalan cuaca biasa.

"Bertambah berapa lama, Dok?" tanya Evelyn datar.

"Hanya satu tahun. Itu perkiraan maksimal jika Anda merespons kemoterapi dengan baik."

Evelyn tersenyum tipis, jenis senyuman yang menyiratkan kepasrahan. "Jadi, ujung-ujungnya saya akan tetap mati?"

Dokter Antonio sesaat tertegun melihat ketenangan pasien mudanya, lalu mengangguk pelan. "Secara medis, benar. Namun, Anda jangan patah semangat. Umur kita ditentukan oleh Tuhan, bukan oleh vonis penyakit ini. Siapa tahu ada keajaiban yang menghampiri Anda."

Dokter Antonio kemudian bangkit berdiri. Ia menunjuk layar monitor di belakangnya yang menampilkan gambar penampang otak Evelyn.

"Lihat ini, Nona. Gumpalan di otak Anda berkembang sangat cepat. Enam bulan lalu saat Anda pertama kali datang kemari, ukurannya hanya sebesar biji jagung. Sekarang?"

Dokter itu menghela napas berat. "Ukurannya sudah hampir sebesar bola pingpong. Ini sangat berbahaya jika dibiarkan tanpa tindakan."

Evelyn menatap gambar hitam-putih di monitor itu tanpa berkedip. Bukannya takut, ia justru kembali menyunggingkan senyum getir. Kanker itu tumbuh subur di kepalanya, sebanding dengan kehancuran hidupnya.

Dokter Antonio kembali duduk dan menatap Evelyn dengan tatapan menuntut jawaban. "Jadi, keputusan sekarang ada di tangan Anda, Nona Evelyn Moonshade. Apakah Anda mau menjalani perawatan intensif di rumah sakit ini, atau memilih berobat jalan?"

"Saya belum tahu, Dokter. Saya butuh waktu untuk memikirkan hal ini baik-baik," jawab Evelyn lembut.

"Baiklah. Namun, ingat, Nona Evelyn... jika terjadi sesuatu atau gejalanya memburuk, segera hubungi saya. Jangan sungkan."

"Iya. Terima kasih banyak, Dokter. Saya permisi."

Evelyn berdiri, lalu membungkuk sopan sebelum melangkah keluar dari ruangan. Tidak ada air mata yang jatuh. Tidak ada keluhan yang lolos dari bibirnya. Evelyn tahu betul, menangis ataupun merutuki takdir tidak akan mengubah apa pun. Hal itu hanya akan membuatnya terlihat menyedihkan—dan ia menolak untuk menjadi lemah.

Jika aku bisa menangis, mungkin aku sudah menumpahkan seluruh air mataku sejak hari kematian Ayah, batin Evelyn getir sambil melangkah gontai menuju pintu lobi rumah sakit.

Namun sayang, air mata ini seolah telah mengering. Aku tidak sedang berpura-pura tegar. Aku memang sudah mati rasa. Ingin rasanya aku berteriak sekeras-kerasnya saat ini juga.

1
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!