NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Murka Tuan Dirgantara

Dokter itu melangkah keluar dari ruang ICU dengan raut wajah yang lebih gelap dari sebelumnya. Masker medisnya ia turunkan, menampakkan gumpalan kesedihan dan kelelahan yang luar biasa. Baskara, Devan, dan Theo langsung berdiri serempak, namun dokter itu mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka tetap di tempat.

​"Kondisinya belum stabil," suara dokter itu terdengar parau. "Goncangan pada otot jantungnya menyebabkan aritmia hebat. Kami baru saja berhasil memasang alat bantu tambahan untuk menopang detak jantungnya agar tidak berhenti total."

​"Boleh kami masuk? Sebentar saja, Dok," mohon Devan dengan suara yang serak karena terlalu banyak menangis.

​Dokter itu menggeleng tegas. "Tidak boleh ada yang menjenguknya. Untuk empat puluh delapan jam ke depan, Aruna harus berada dalam isolasi total. Infeksi adalah ancaman terbesar sekarang, dan sedikit saja fluktuasi emosi atau kebisingan bisa membuat jantungnya menyerah. Dia sedang berada di perbatasan, dan kita tidak boleh menariknya ke arah yang salah."

​Amrita, ibu Aruna, jatuh terduduk di kursi tunggu sambil menutup wajahnya. Ibu Baskara segera memeluknya, mencoba menyalurkan kekuatan yang ia sendiri pun hampir kehilangan.

​Baskara masih berdiri mematung di dekat pintu. "Dok... apa dia akan sadar?" tanyanya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

​Dokter itu menatap Baskara lama. Ada kilatan amarah yang ia simpan karena ia tahu riwayat Aruna yang sering mengeluh tentang tekanan di kampusnya. "Tergantung pada keinginan hidupnya sendiri. Tubuhnya sudah terlalu lelah, Tuan. Selama empat tahun dia hidup untuk membuktikan diri kepada orang-orang yang merendahkannya. Sekarang, setelah semua terbukti, seolah-olah tujuannya sudah selesai. Dia bisa saja memilih untuk tidak kembali."

​Kalimat itu bagai belati yang menghujam jantung Baskara. Ia sadar, dialah salah satu alasan kenapa Aruna merasa harus berjuang sampai titik darah penghabisan. Dialah yang membuat Aruna merasa dunianya begitu sempit dan menyakitkan.

​"Silakan kalian pulang atau beristirahat di ruang tunggu lain," lanjut dokter itu sebelum berbalik. "Menatapnya dari balik kaca pun tidak akan membantunya sekarang. Yang dia butuhkan adalah ketenangan medis yang mutlak."

​Petugas keamanan rumah sakit kemudian menutup tirai jendela kaca ICU, menutupi pandangan Baskara ke arah tubuh Aruna yang dipenuhi kabel. Kini, Aruna benar-benar sendirian di dalam sana, bertarung dalam kegelapan.

​Devan dan Theo akhirnya duduk di lantai koridor yang dingin, bersandar pada dinding rumah sakit. Mereka menolak untuk pergi. Baskara pun sama. Ia berjalan menuju sudut koridor, menyandarkan keningnya pada dinding beton yang dingin.

​Malam di London terasa jauh lebih membeku dari biasanya. Di dalam keheningan itu, Baskara menutup matanya, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, air mata pria arogan itu jatuh. Ia menangis tanpa suara, meratapi setiap kata hinaan yang pernah ia lontarkan, meratapi setiap detik di mana ia seharusnya bisa menjadi pelindung, bukan penghancur.

​Sementara itu, di kantor polisi, Deon Prawijaya sedang memastikan bahwa Michelle tidak akan pernah melihat cahaya matahari sebagai orang bebas untuk waktu yang sangat lama. Namun, kekayaan dan kekuasaan Deon terasa tidak ada gunanya saat ini, karena nyawa putri tunggalnya kini hanya bergantung pada seutas benang di ruang isolasi yang tak boleh dimasuki siapa pun.

​Akankah Aruna memilih untuk kembali, ataukah ia sudah terlalu lelah dengan dunia yang selama ini memberinya begitu banyak luka? Hanya waktu yang bisa menjawabnya dalam keheningan lorong rumah sakit itu.

Baskara melangkah dengan gontai keluar dari area ICU, berniat mencari udara segar karena dadanya terasa kian sesak. Saat ia melewati Devan dan Theo, kedua pemuda itu hanya memberikan anggukan sinis tanpa sedikit pun rasa hormat. Bagi mereka, status Baskara sebagai dosen sudah mati, yang tersisa hanyalah seorang pria yang telah menghancurkan sahabat mereka.

​Begitu sampai di lobi rumah sakit, Baskara melihat pemandangan yang membuatnya membeku. Papanya, Tuan Dirgantara, sedang berdiri berhadapan dengan Deon Prawijaya. Suasana di antara mereka sangat tegang, penuh dengan emosi yang tertahan.

​"Papa..." Baskara memanggil dengan suara serak.

​Belum sempat Baskara mendekat sepenuhnya, sebuah tendangan pelan namun penuh amarah mendarat di tulang keringnya, membuat Baskara terhuyung kaget.

​"Ada apa, Pa? Kenapa Papa seperti ini?" tanya Baskara dengan raut wajah bingung sekaligus syok.

​"Ada apa kau bilang?!" suara Tuan Dirgantara meninggi, membuat beberapa orang di lobi menoleh. "Kami sudah mengecek semuanya! Deon dan aku baru saja mendapatkan laporan dari intelijen dan pihak kampus mengenai catatan kehadiran serta laporan tugas mahasiswi bernama Aruna. Dan kau tahu apa yang kami temukan? Aruna menahan sakit luar biasa akibat stres kronis dan tumpukan tugas yang tidak masuk akal selama empat tahun ini! Siapa lagi kalau bukan kau dosennya, Baskara? Anak kurang ajar ini, ternyata kau yang menjadi eksekutor penderitaannya!"

​Baskara langsung terdiam seribu bahasa. Wajahnya yang pucat kian memias. Rahangnya mengeras, namun ia tak bisa membantah. Fakta itu menghantamnya lebih keras daripada tendangan papanya tadi.

​"Aku membiayaimu sekolah tinggi-tinggi bukan untuk menjadi penindas!" bentak Tuan Dirgantara lagi, tangannya menunjuk tepat ke wajah anaknya. "Kau memperlakukan putri tunggal sahabatku seperti sampah, Baskara!"

​Namun, di tengah amarah itu, Deon Prawijaya justru melangkah maju. Ia menarik bahu Tuan Dirgantara agar mundur sedikit. Wajah Deon tampak lelah, matanya merah karena kurang tidur dan duka yang mendalam.

​"Sudahlah, Dirgantara. Ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan di sini," ucap Deon dengan suara rendah namun berwibawa.

​"Tapi Deon, dia anakku! Dia yang membuat Aruna seperti ini dan.."

​"Aku tahu!" potong Deon dengan nada yang sedikit meninggi. "Tapi dia seorang dosen. Memberikan tugas berat adalah hal yang wajar dalam dunia pendidikan. Aruna juga yang memilih untuk tetap bertahan dan tidak pernah mengeluh padaku. Jika dia tetap diam, itu karena dia ingin membuktikan dirinya sendiri. Jangan buat keributan di rumah sakit."

​Tuan Dirgantara tidak terima. "Hal wajar kau bilang? Deon, dia sengaja mengincar Aruna! Ini bukan lagi soal pendidikan, ini soal ego anakku yang sakit!"

​"Lalu apa? Kau mau menghukumnya sekarang sementara putriku bertaruh nyawa di dalam?" balas Deon, emosinya mulai terpancing. "Hukuman apa pun tidak akan membuat Aruna bangun saat ini!"

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!