Gadis polos yang dunia nya hancur, saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua nya, di saat paling rapuh ia jatuh kedalam pelukan pria berkuasa sekaligus pemimpin gelap
Bagis pria itu gadis kecil ini adalah hak mutlak , satu satu nya obsession yang tak pernah ia lepas kapan pun
"Kau milik ku gadis kecil, selama nya semua yang ada padamu itu milik ku tidak akan pernah menjadi milik orang lain, sayang, " ucap nya dengan penuh obsession
Gimana kah cerita nya ,dari pada penasaran kuy baca novel aku 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurfazilah Cell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19. Obsesif
Suasana di dalam kamar itu perlahan kembali hening, hanya tersisa suara napas mereka berdua yang beradu pelan. Aiden masih terus memijat kaki Alesha dengan lembut, jari-jarinya menekan titik-titik yang terasa kaku, seolah ia sedang merawat benda paling berharga di dunia.
Akhirnya Aiden berhenti memijat, lalu perlahan berdiri dan menarik kursi hingga duduk tepat di hadapan Alesha, jarak wajah mereka hanya beberapa jengkal. Ia menatap mata Alesha lekat-lekat, seolah sedang menelusuri setiap sudut pandang gadis manis nya itu, mencari jejak perlawanan yang tersisa, dan merasa puas ketika mendapati bahwa api pemberontakan itu kini mulai meredup, digantikan kelelahan yang mendalam.
“Lihatlah dirimu sekarang sayang hmm,” ucap Aiden pelan, ujung jarinya terulur menyentuh pipi Alesha dengan lembut, mengusap sisa jejak air mata yang sempat mengering. “Wajahmu kembali terlihat tenang, bukan? Tidak ada lagi kerutan di dahi, tidak ada lagi napas yang terengah karena menahan sakit. Bukankah rasanya jauh lebih baik daripada semalam? Saat kau bersikeras melawan, apa yang kau dapatkan? Hanya rasa sakit yang tak berujung, rasa lapar yang menyiksa, dan ketakutan yang tak berhenti menghantui pikiranmu.”
Alesha menatapnya. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa kedamaian ini bukan lahir dari keikhlasan hatinya, melainkan dari kepasrahan yang dipaksakan oleh rasa sakit dan kelemahan tubuhnya. Namun saat kata-kata itu hendak meluncur, ia justru merasa seolah ada sesuatu yang menahannya di tenggorokan. Rasanya berat, rasanya sia-sia , sekeras apa pun ia berteriak, sekeras apa pun ia menolak, Aiden seolah sudah memiliki jawaban yang siap menyambut setiap kata penolakan itu, dan pada akhirnya, ia hanya akan semakin lelah sendirian.
Melihat keheningan Alesha, sudut bibir Aiden terangkat membentuk senyum tipis yang penuh kemenangan namun tetap terasa hangat di mata. Ia mengusap rambut Alesha perlahan, menjalar ke belakang telinga dengan sentuhan yang begitu penuh kasih sayang, hingga membuat Alesha sedikit mengantuk ,tubuhnya menanggapi kelembutan itu sebelum mengantuk nya semakin menjadi jadi, Alesha memang merasa ngantuk kalau sudah di usap di bagian kepala , Alesha jadi teringat dengan Dedy nya yang sering melakukan nya.
"Sayang tidak perlu menjawab sekarang hmm,” lanjut Aiden suaranya rendah dan lembut, seolah sedang membisikkan dongeng pengantar tidur yang manis. “Aku tahu hatimu masih keras kepala. Aku tahu di dalam sana kau masih membenci semua yang terjadi. Tapi tidak apa-apa, sayang. Aku bersabar. Aku akan menunggu sampai pikiranmu perlahan menyadari kebenaran yang sudah kau saksikan sendiri hari ini. Kau lihat kan? Saat kau menurut, aku menjagamu. Saat kau menurut, aku memberimu makan, obat, kenyamanan. Tapi saat kau melawan… aku terpaksa melakukan hal-hal yang membuatmu menderita. Dan percayalah, Alesha… setiap kali kau kesakitan, hatiku pun ikut teriris. Tapi aku melakukannya demi kebaikanmu. Demi agar kau tidak lagi tersesat.”
“Tapi… ini bukan cara yang benar…” suara Alesha akhirnya terdengar, lemah dan gemetar, namun ia tetap memaksakan diri untuk mengucapkannya. “Memaksa seseorang untuk memilih… itu bukan menjaga. Itu hanya mengurung. Kak Aiden bilang kak Aiden akan menyayangiku? Kalau benar kak Aiden menyayangiku, biarkan Alesha memilih dengan kemauanku sendiri. Jangan gunakan rasa sakit dan lapar untuk membuatku berkata apa yang kak Aiden ingin dengar.”
Aiden tersenyum mendengar ucapan itu, senyum yang tidak hilang sedikit pun, seolah ia sudah mendengar kalimat itu ribuan kali di dalam kepalanya dan sudah menyiapkan jawaban yang tak bisa dibantah. Ia mendekatkan wajahnya sedikit lagi, suaranya tetap lembut namun menekan setiap kata yang keluar.
“Sayang ku kamu pikir aku tidak pernah membiarkanmu memilih, Alesha? Dulu aku membiarkanmu bebas, dan apa yang terjadi? Kau melupakan tempatmu. Kau mulai berpikir bahwa kau bisa hidup tanpa aku, bahwa ada hal-hal lain yang lebih baik daripada perhatianku. Dan itu membawamu ke jalan yang salah, menjauh dariku. Apa itu menyenangkan? Apa kau merasa bahagia saat kau mulai ragu padaku? Saat kau mulai berpikir bahwa aku mengekang mu? Itu bukan kebebasan, sayang. Itu hanyalah kesesatan yang membuatmu terluka tanpa kau sadari.”
Ia mengangkat jari telunjuknya, menyentuh lembut bibir Alesha agar gadis itu tidak memotong pembicaraannya.
“Dengarkan aku baik-baik. Dunia di luar sana penuh dengan orang-orang yang akan menyakitimu, yang akan meninggalkanmu saat kau tak berharga lagi termasuk Dedy dan Mami mu sayang. Hanya aku. Hanya aku yang akan tetap di sisimu, apa pun yang terjadi. Hanya aku yang tahu apa yang terbaik untukmu. Jadi katakan padaku… mengapa kau harus memilih jalan yang penuh duri, padahal aku sudah menyiapkan jalan yang nyaman dan aman untukmu? Bukankah lebih bijak menyerahkan segalanya padaku? Biarkan aku yang memikirkan semuanya, biarkan aku yang melindungi mu, dan kau hanya perlu tenang, percaya, dan tetap berada di sisiku selamanya.”
Alesha menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca kembali. “Tapi kalau begitu apa bedanya Alesha dengan benda yang kak Aiden simpan di lemari? Yang hanya boleh kak Aiden lihat, kak Aiden miliki, dan tidak boleh dimiliki orang lain? Apa Alesha tidak berhak punya pikiran sendiri? Apa Alesha tidak berhak merasa apa yang Alesha rasakan?”
“Kau bukan benda, Alesha ku sayang ,” jawab Aiden dengan tegas, tangannya berpindah memegang bahu gadis manis nya itu lembut namun tak tergoyahkan. “Kau adalah nyawaku. Segalanya milikmu, dan segalanya dariku adalah milikmu. Termasuk pikiranku. Termasuk keinginanku. Karena jika pikiranku adalah untuk kebahagiaan kita berdua, mengapa kau harus memikirkannya sendiri? Mengapa kau harus lelah memutuskan hal-hal yang justru akan membawamu pada kesalahan? Biarkan aku menjadi akal sehatmu, dan kau jadilah hatiku. Itu sudah cukup. Selama kita bersatu seperti itu, tidak ada yang bisa menyakiti kita. Tidak ada yang bisa memisahkan kita.”
“Alesha takut” bisik Alesha, air mata akhirnya jatuh kembali membasahi pipinya. “Alesha takut suatu hari nanti Alesha benar-benar lupa bagaimana caranya berpikir sendiri. Alesha takut Alesha benar-benar menjadi apa yang kak Aiden inginkan, dan saat itu terjadi… Alesha tidak akan lagi mengenali diriku sendiri.”
Aiden tersenyum lembut, lalu mendekap kepala Alesha perlahan ke dadanya, membiarkan gadis itu mendengar detak jantungnya yang tenang dan teratur. Ia mengusap punggung Alesha berulang kali serta mengelus rambut panjang Alesha sesekali mencium nya,Aiden begitu nyaman dengan wangi rambut gadis manis nya seperti bau rambut bayi,nya walaupun Alesha masih kanak kanak sih hehe , suaranya terdengar begitu menenangkan di telinga Alesha, seolah menjadi satu-satunya kebenaran yang ada di dunia saat ini.
“Jangan takut, sayang. Karena saat hari itu tiba… kau tidak akan kehilangan dirimu. Kau justru akan menemukan versi dirimu yang paling sempurna. Versi Alesha yang bahagia, tenang, dan tidak pernah merasa kesepian. Karena kau akan selalu bersamaku. Setiap napas mu akan selaras dengan nafasku. Setiap keinginanmu akan menjadi keinginanku. Dan percayalah… tidak ada rasa yang lebih indah daripada hidup hanya untuk satu orang yang juga hidup hanya untukmu. Bukankah itu yang kau inginkan sejak awal? Seseorang yang tidak akan pernah melepaskan mu? Seseorang yang mencintaimu begitu dalam hingga tak ada batasnya?”
Alesha terbungkam dalam pelukan itu. Ia ingin mendorongnya menjauh. Ia ingin berteriak bahwa cinta seharusnya tidak terasa seperti penjara yang semakin sempit. Namun suara detak jantung Aiden yang teratur, kehangatan pelukannya, dan sisa rasa nyeri yang perlahan lenyap membuat tubuhnya terasa berat dan tak berdaya. Setiap alasan yang ingin ia kemukakan seolah tertelan oleh kelembutan yang menyelimutinya — lembut yang mematikan, lembut yang perlahan meluruhkan pertahanannya satu per satu.
“Sudah… jangan menangis lagi,” bisik Aiden sambil mengecup puncak kepala Alesha pelan. “Mulai hari ini, tidak ada lagi yang perlu kau takutkan. Tidak ada lagi rasa sakit kalau kau tetap bersamaku. Kita akan habiskan waktu berdua saja. Kau akan belajar mempercayaiku sepenuhnya, perlahan-lahan. Dan aku berjanji… aku akan menjagamu lebih dari siapa pun. Sampai kau sadar, bahwa menyerahkan dirimu padaku adalah hal terindah yang pernah terjadi dalam hidupmu.”
Bersambung.
Thank you yang sudah baca cerita oyen😊