"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Kedua orang pria itu tidak menjawab, hanya tatapan matanya saja yang semakin membulat, menatap kearah Syarif dan Kaenan.
"Kalian tidak punya hak bertanya, jawab saja!" ujar pria paruh baya yang pertama tadi.
"Jika kalian tak menjawab, maka kami akan mematahkan kaki dan tangan salah seorang dari kalian, cepat jawab, jika tidak ingin ada yang celaka!" bentak pria paruh baya yang kedua, sambil memegang tangan Syarif dengan kencang.
"Ja… jangan lakukan itu, sayalah Kaenan itu, jangan sakiti kakak saya!" ujar Kaenan gagap.
"Tidak adik!, jangan lakukan itu, pergilah cepat, lari dari tempat ini, selamatkan diri mu!, jangan hiraukan kakak!" teriak Syarif.
"Tidak mas!, kau tidak boleh menjadi korban karena aku, aku bahagia memiliki kakak seperti diri mu, kalau aku bisa terlahir kembali, aku akan minta pada sang maha kuasa agar terlahir sebagai adik mu kembali" ucap Kaenan.
"Adik!, jangan pergi!, aku tidak punya siapa siapa lagi selain kau, kalian jangan bawa adik ku, ku mohon!, jangan bawa adik ku, bawa aku saja sebagai gantinya!" teriak Syarif dengan untaian air mata nya.
"Tidak!, kami hanya perlu dengan Kaenan, bukan yang lain, ikut dengan kami, atau kami paksa dan anak muda itu kami celakai serta gubuk kalian kami bakar!" teriak pria paruh baya yang kedua, yang tidak kalah garang nya.
Apalah daya, dua orang anak muda kurus kerempeng, melawan dua orang pria bertubuh tinggi besar penuh otot dan tato di tangan nya. Sama saja seperti seorang anak kecil melawan seorang Mike Taison yang besar.
Kaenan memeluk tubuh Syarif erat, tangis kedua anak remaja itupun pecah.
"Kak! Ingat, Hasbunallahi wani'mal wakil, jaga diri baik baik kak, terima kasih untuk waktu nya yang singkat, namun penuh kisah indah yang akan ku ingat seumur hidupku, bila terjadi sesuatu kepada ku jangan lupa, tolong jenguk pusara ibu ku!" ucap Kaenan di telinga Syarif.
Syarif melipat kedua kakinya, dengan kedua dengkul dan dahinya menghantam tanah, menangis terisak-isak.
"Tuan!, jangan bawa adik ku, hanya dia yang aku punya, aku tidak punya siapa siapa lagi" ....
Kedua orang pria paruh baya berbadan kekar bertato itu menarik tangan Kaenan memasuki mobil Pajero sport, lalu meluncur secepat tiupan angin senja yang kelabu itu, meninggalkan Syarif yang bersujud di atas tanah sambil menangis.
"Tuhan!, apa aku tidak boleh merasakan rasa bahagia?, baru saja aku merasa punya seorang saudara, tiba-tiba kau renggut pula dia dari ku, apa salah ku tuhan?" ratap Syarif dalam sedu sedan nya, menatap mobil Pajero sport yang membawa Kaenan menghilang di tikungan jalan.
Seorang gadis, datang dengan mengendarai motor metik, dan berhenti di samping Syarif.
"Ada apa Rif?, apa yang terjadi?" tanya gadis itu.
"Mereka!… mereka merenggut adik ku Niken, mereka merenggut Kae secara paksa dari ku" ujar Syarif masih dalam sedu sedan nya.
"Haaah ya Allah!, siapa yang melakukan nya Rif?" tanya Niken panik.
"Aku tidak tahu Nik!, mereka menaiki mobil mewah, memaksa membawa Kaenan pergi" ....
"Ya Allah, siapa yang suka menyakiti anak yatim-piatu yang malang itu, sabar ya Rif!, kita hanya bisa berdoa semoga Kae selamat, ayo masuk, aku bawakan sayur lodeh dan ayam goreng" bujuk Niken. Gadis cantik itu menuntun Syarif duduk di teras pondok nya.
Namun di teras pondok itu, Syarif hanya duduk bengong, menatap ujung jalan, berharap Kaenan datang.
Sementara itu, mobil Pajero sport yang membawa Kaenan masih melaju,membelah jalan yang mulai padat, karena mereka mulai memasuki pusat kota.
Kaenan duduk dibelakang, bersama seorang pria, sementara yang seorang nya lagi, duduk dibelakang setir mobil, mengarahkan mobil membelah kemacetan jalan.
Tak ada sepatah katapun yang terucap keluar dari mulut mereka semuanya.
Setelah lebih dari satu jam di mobil, akhirnya mobil itu berbelok, memasuki sebuah Rumah mewah bertingkat tiga, dengan halaman yang sangat luas.
Seorang petugas sekuriti membukakan pintu gerbang agar mobil itu bisa masuk.
Seorang pria paruh baya datang buru buru,membukakan pintu mobil untuk Kaenan.
"Nyonya sudah menunggu mu, langsung masuk saja!"ujar pria itu, mempersilahkan Kaenan masuk.
Kaenan ragu ragu untuk masuk, pikiran nya bertanya tanya, siapa gerangan nyonya yang telah menunggu nya itu, apakah ibu kandung nya, atau siapa?".
Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam Rumah, menatap kearah Kaenan beberapa saat, lalu membungkukan badan nya, "langsung masuk saja den, nyonya besar sudah menunggu dari tadi sore!" ujar nya mempersilahkan Kaenan masuk.
Dengan langkah setengah hati, Kaenan berjalan masuk kedalam Rumah bersama wanita paruh baya tadi.
Mereka berjalan melewati ruang tamu, terus ke ruang tengah yang sangat luas, hampir seluas sebuah Aula.
Di tengah ruangan ada beberapa sofa mahal, dan berpuluh puluh lemari besar, berisi berbagai macam jenis Guci, besar ataupun kecil.
Duduk diatas sofa putih bersarung bludru biru, terlihat seorang wanita tua, namun memiliki wajah yang masih sangat cantik, menatap kearah nya sambil tersenyum rama.
Wanita tua berkulit putih bersih itu melambaikan tangan nya kearah Kaenan, "kemarilah nak, ayo jangan ragu" panggil nya dengan matanya yang berkaca-kaca.
Kaenan melangkah mendekati wanita tua yang masih cantik itu, "ada apakah nyonya?" tanya Kaenan tak mengerti.
Mendengar ucapan dari Kaenan itu, air mata wanita tua itu jatuh berderai.
"Jangan memanggil ku seperti itu, panggil saja aku nenek!" tandas wanita tua itu sambil memeluk tubuh Kaenan.
Dalam kebingungan nya, Kaenan terpaksa diam membisu, tanpa tahu harus bereaksi seperti apa.
"Saya tidak mengerti yang nenek katakan" ujar Kaenan jujur.
Wanita tua itu membimbing tangan Kaenan berjalan kearah sebuah dinding, dimana tergantung photo ukuran poster disana. Photo seorang pria paruh baya dengan istri nya dan dua orang putra nya.
Yang membuat Kaenan kebingungan adalah, di sana terlihat photo dirinya bersanding dengan seorang anak yang lebih tua sedikit.
"Kau bingung kan?, pria itu tuan Baskoro kakek mu, lalu yang wanita itu kau kenal dia kan?, nah anak yang tertua bernama Arifin paman mu, dan yang muda bernama Irfan ayah mu, lihatlah, meskipun tanpa tes DNA segala, aku bisa yakin jika kau memang cucu kandung ku yang hilang sembilan tahun yang lalu!" ujar wanita tua yang masih cantik itu.
Kaenan masih terdiam membisu, hati nya masih tidak bisa menerima begitu saja apa yang dikatakan oleh wanita tua itu. Meskipun akal nya menerima, namun perasaan hati nya belum benar benar mampu menerima.
Sembilan tahun hidup dalam kesengsaraan, kadang makan, kadang puasa, bahkan tidak jarang seharian, dia hanya makan sebungkus mie instan saja. Tidur di gubug berdinding kardus dan beratap bekas tikar plastik, bahkan tidur di emperan sudah biasa dia lakoni. Kini tiba-tiba datang seorang wanita kaya raya mengaku sebagai nenek kandung nya. Seharus nya dia bahagia, tetapi hati kecil Kaenan masih tidak bisa melupakan begitu saja, kasih sayang bu Limah, wanita odgj yang selama ini memelihara dan menyayangi nya.
"Aku tahu kau sulit menerima kenyataan ini, tetapi, perlahan, kita mulai dari awal lagi, kita jalin kebersamaan kita bersama, kau memang cucu ku, keturunan ku, darah daging ku, panggil aku nenek!" pinta nenek Carla tulus.
Kaenan tidak ingin menceritakan perbuatan orang yang katanya ayah kandung serta kakak kandung nya itu kepada nya dulu, biarlah semua itu menjadi cerita kelam nya sendiri, sejarah pahit yang memang harus di lewati nya.
Dia ingat wejangan Kiai Nuruddin dahulu, "hidup kita ini hanyalah sebuah jalan menuju kematian, bagai mana pun cerita nya, yang pasti, kita sedang berjalan menuju ujung jalan, yaitu kematian, celaka orang yang terlena dengan jalan nya, lalu melupakan tujuan nya, bahagia, sedih, kaya dan sengsara, sekedar cerita pelengkap belaka, jangan jadikan semua itu alasan untuk putus asa, mantapkan hati tetapkan langkah, menapaki ujung jalan, yaitu kematian" ....
Nenek Carla banyak bercerita tentang paman Arifin dan ayah nya tuan muda Irfan.
Namun setiap kali mengingat nama orang yang menjadi penyebab dia lahir ke Dunia itu, ada sekeping luka yang menganga dan berdarah, yang dia pendam dan rasakan sendiri.
Nenek Carla menunjukan kamar nya di tingkat dua, sebuah kamar super mewah dan besar, lebih besar dari pondok Syarif, lengkap dengan kamar mandi didalam.
Namun Kaenan merasa tidak ada ketenangan di dalam hati nya, bukan nya bahagia, tetapi ada rasa pedih yang terbit bersama datang nya kemewahan itu.
Tetapi jika di pikirkan, dia lebih memilih ikut nenek Carla dari pada tuan muda Irfan ayah nya.
Karena setiap menatap wajah pria itu, dadanya terasa sesak, bayang bayang penindasan itu muncul kembali.
Selesai mandi, Kaenan sholat magrib, membaca wirid zikir dan doa doa.
Lalu dia menelpon Syarif, mengabarkan keadaan nya kepada saudara angkat nya itu.
Ngobrol dengan Syarif, membuat hatinya sedikit tenang, apa lagi setelah dia membaca ayat ayat suci Al Qur'an, hati nya bertambah tentram.
Tanpa disadari nya, saat dia asik membaca ayat suci Al-Qur'an, nenek Carla membuka pintu kamar tidur nya, dengan maksud mengajak nya makan malam bersama, karena kakek Baskoro sudah menunggu nya di ruang makan.
Nenek Carla terhenti di pintu kamar, menengok kedalam , Kaenan sedang duduk di lantai, menghadap kiblat, baru selesai sholat, dan sedang bertadarus, membaca ayat ayat suci Al Qur'an.
Tiba-tiba air mata wanita tua itu mengalir tanpa sebab, hati nya yang sekian lama tidak pernah lagi tersentuh cahaya agama, kini tiba-tiba seperti sebuah gurun gersang, yang tiba-tiba disirami air hujan yang deras dari langit.
Perlahan, wanita tua itu beringsut turun ke bawah, menemui sang suami yang sudah menunggu di ruang makan.
"Ada apa sayang?, kenapa kau menangis?, mana cucu ku?" tanya pria tua itu.
Nenek Carla tidak mampu berkata kata, dia menarik tangan sang suami, mengajaknya naik ke kamar Kaenan.
Saat membuka pintu kamar Kaenan, kakek Baskoro diam tertegun, kalbu nya seperti tertampar, kebekuan dan kesombongan hatinya selama ini, luntur perlahan, kalbu nya terasa dingin, bagai di siram dengan air pegunungan.
...****************...