NovelToon NovelToon
Om Duda Come To Me!

Om Duda Come To Me!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Duda
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?

​Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.

​Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Pukul empat sore tepat. Audi R8 perak itu sudah nangkring kembali di depan gerbang Fakultas Teknik. Zyan berdiri bersandar di pintu mobil, melipat tangannya di dada. Kali ini ia memakai kacamata hitam, membuatnya terlihat seperti aktor film laga yang sedang menunggu misi rahasia.

Begitu bel kampus berbunyi, Alexa keluar dengan langkah diseret. Wajahnya tampak kusam terkena oli karena tadi ada praktikum bongkar mesin transmisi. Ada noda hitam di pipi kirinya dan kaos putihnya sudah tidak lagi putih bersih.

"Tepat waktu. Bagus," ujar Zyan sambil melepas kacamata hitamnya saat Alexa sampai di depannya.

"Iya, iya! Puas lo?" ketus Alexa sambil hendak membuka pintu mobil.

Zyan menahan tangan Alexa. Ia mengeluarkan selembar tisu basah dari sakunya, lalu tanpa bicara, ia mengusap noda oli di pipi Alexa dengan gerakan yang sangat lembut. Alexa tertegun, matanya mengerjap-ngerjap menatap wajah Zyan yang begitu dekat.

"Lain kali, bersihkan wajahmu sebelum keluar kelas. Kamu itu istri seorang Direktur, bukan mekanik bengkel pinggir jalan," bisik Zyan sambil membuang tisu itu ke tempat sampah terdekat.

"Mekanik itu profesi, Om! Udah ah, ayo pulang, gue laper," Alexa masuk ke mobil dengan wajah yang mendadak panas.

"Kita tidak pulang sekarang. Mama bilang kita harus punya waktu berdua. Jadi, malam ini kita kencan," ujar Zyan sambil mulai menjalankan mobil.

Alexa melongo. "Kencan?! Lo sama gue? Mau ke mana? Ke museum prasejarah yang isinya barang kaku kayak lo?"

"Saya sudah reservasi di sebuah restoran Perancis di lantai teratas gedung SCBD. Kamu harus ganti baju dulu di butik yang searah jalan ini."

Alexa langsung menggeleng kuat. "Nggak mau! Gue nggak mau pake gaun-gaunan lagi! Capek tahu nggak, kaki gue masih lecet gara-gara sepatu perak itu! Kalau lo mau kencan sama gue, kencannya harus pake cara gue!"

Zyan menghela napas, menatap Alexa dengan saksama. "Cara kamu? Apa itu artinya kita akan makan di atas motor sambil balapan?"

"Nggak segitunya juga! Tapi gue mau makan di tempat yang asik. Udah, lo ikutin aja arahan gue. Belok kiri di depan!"

Zyan, yang entah kenapa sedang ingin berbaik hati, akhirnya mengikuti instruksi Alexa. Mobil mewah itu membelah kemacetan Jakarta menuju kawasan Blok M yang ramai dengan anak muda dan warung-warung tenda.

"Parkir di situ, Om! Di antara tukang martabak sama tukang sate!" Alexa menunjuk sebuah spot parkir sempit.

Zyan menatap ragu ke arah trotoar yang penuh dengan asap sate dan bising klakson angkot. "Kamu serius? Mobil ini bisa lecet tersenggol gerobak, Alexa."

"Manja banget sih! Udah, ayo turun!"

Dengan perasaan was-was, Zyan akhirnya memarkirkan mobil mahalnya di sana. Begitu turun, ia langsung disambut oleh aroma asap lemak kambing dan suara pengamen jalanan. Zyan menarik jas mahalnya agar tidak terkena debu, sementara Alexa sudah melenggang masuk ke sebuah warung tenda bertuliskan "Gultik Pak Kumis".

"Dua porsi, Pak! Yang satu jangan pake bawang goreng ya, laki gue nggak suka yang ribet-ribet!" teriak Alexa sambil duduk di bangku plastik pendek.

Zyan duduk di sampingnya dengan sangat kaku. Lututnya yang panjang hampir menyentuh dagunya karena kursi yang terlalu rendah. "Alexa, higienitas tempat ini sangat meragukan."

"Halah, perut lo aja yang dimanjain. Ini tuh makanan paling enak se-Jakarta! Cobain dulu," Alexa menyodorkan sepiring nasi gulai daging yang masih mengepul.

Zyan mencoba sesuap dengan ragu. Matanya sedikit membelalak. "Rasanya... tidak buruk."

"Tuh kan! Enak kan? Daripada makanan Perancis yang porsinya cuma seiprit tapi harganya jutaan. Mending makan gultik, kenyang dapet, sisa duitnya bisa buat beli makanan lain!"

Selesai makan, Alexa tidak membiarkan Zyan pulang. Ia menarik tangan suaminya menuju area vintage di bawah terminal. Di sana, Alexa melihat sebuah toko piringan hitam tua.

"Om, lo suka musik apa sih?" tanya Alexa sambil memilah-milah vinyl.

"Klasik. Mozart, Beethoven. Musik yang menenangkan," jawab Zyan jujur.

"Pantesan idup lo kaku! Nih, dengerin ini," Alexa memasangkan sebuah headphone ke telinga Zyan. Suara musik rock n roll tahun 70-an langsung menggelegar.

Alexa mulai berjoget kecil mengikuti irama, rambut wolfcut-nya bergerak-gerak liar. Zyan terpaku melihat kebahagiaan yang begitu sederhana di wajah istrinya. Ia baru sadar bahwa selama ini ia terlalu fokus pada angka-angka di layar komputer sampai lupa bagaimana caranya menikmati momen tanpa rencana.

Tanpa sadar, Zyan ikut tersenyum. Bukan senyum tipis ala direktur, tapi senyum tulus. Ia meletakkan tangannya di pundak Alexa, membuat gadis itu berhenti berjoget dan menatapnya.

"Kenapa, Om? Enak kan musiknya?"

"Lumayan. Tapi sepertinya saya lebih suka melihat kamu menari daripada mendengarkan musiknya," ujar Zyan dengan suara berat yang mendadak romantis.

Alexa langsung salah tingkah. Ia membuang muka, pura-pura sibuk melihat piringan hitam lain. "Cih, jago juga ya lo ngegombal. Belajar dari mana? Dari buku panduan direktur sukses?"

"Belajar dari pengalaman menghadapi istri yang nakal," balas Zyan sambil menarik Alexa keluar dari toko itu.

Malam semakin larut. Saat mereka berjalan kembali menuju mobil, tiba-tiba ada sekelompok preman jalanan yang sedang nongkrong di dekat mobil Audi Zyan. Salah satu dari mereka tampak sengaja menyandarkan badannya di kap mobil perak itu sambil membuang puntung rokok sembarangan.

"Woy! Jangan nyender di situ! Lecet tahu nggak mobilnya!" teriak Alexa tanpa rasa takut sedikit pun.

Zyan mencoba menahan Alexa. "Biar saya yang urus, Alexa. Kamu di belakang saya."

Tapi Alexa sudah maju duluan. "Bang, pindah dong. Ini mobil suami gue. Kalau lecet, emangnya Abang mau bayarin catnya?"

Salah satu preman yang badannya penuh tato berdiri, menatap Alexa dengan pandangan meremehkan. "Wah, ada cewek cantik berani banget. Kenapa? Takut mobil pacar lo rusak ya?"

Preman itu mencoba mencolek dagu Alexa, namun dengan gerakan secepat kilat, Alexa menangkap tangan preman itu dan memelintirnya ke belakang. Krak!

"Aduuuh! Ampun, Mbak!" teriak si preman kesakitan.

Zyan melongo. Ia baru ingat kalau Alexa bukan cuma anak motor, tapi dia juga mahasiswi teknik yang pasti punya nyali besar. Namun, Zyan tidak membiarkan istrinya bertarung sendirian. Ia maju, mencengkeram kerah baju preman satunya lagi dengan tenaga yang sangat besar, membuat pria itu terangkat sedikit dari tanah.

"Kalau kalian tidak pergi dalam tiga detik, saya pastikan malam ini kalian tidur di sel kantor polisi. Dan percaya saya, saya punya pengacara yang bisa bikin kalian mendekam di sana selamanya," ancam Zyan dengan suara yang sangat dingin dan penuh otoritas.

Melihat aura mafia yang keluar dari diri Zyan, para preman itu langsung lari kocar-kacir.

Alexa melepaskan tangannya, lalu menepuk-nepuk tangannya seolah habis membuang debu. "Keren juga lo, Om. Ternyata otot lo bukan cuma pajangan ya."

Zyan merapikan kemejanya yang sedikit kusut. "Dan kamu... saya tidak menyangka kamu bisa bela diri."

"Gue ikut Aikido dari SMP, Om. Buat jaga-jaga kalau ketemu cowok mesum kayak lo," Alexa nyengir nakal.

Zyan hanya bisa menggelengkan kepala. "Ayo pulang. Saya rasa kencan bar-bar ini sudah cukup untuk satu malam."

Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, suasana terasa jauh lebih hangat. Tidak ada lagi sindiran tajam. Alexa menyalakan radio dan memutar lagu-lagu favoritnya, sementara Zyan menyetir dengan satu tangan, tangan satunya lagi entah kenapa ia letakkan di atas tangan Alexa yang ada di tuas persneling.

"Alexa," panggil Zyan lembut saat mereka sudah hampir sampai di rumah.

"Ya?"

"Besok pagi... motor kamu akan saya keluarkan dari gudang."

Alexa langsung menoleh dengan mata berbinar. "Beneran?! Lo nggak bohong kan?!"

"Beneran. Tapi ada syaratnya."

"Tuh kan, pasti ada syaratnya! Apa?"

"Setiap akhir pekan, kamu harus kencan sama saya. Caranya boleh pake cara kamu, tapi lokasinya harus saya yang setujui agar tetap aman. Deal?"

Alexa berpikir sejenak. "Kencan sama lo? Hm... ya udah deh, daripada gue nggak bisa narik gas ZX gue. Deal!"

Begitu sampai di rumah, Alexa langsung lari menuju garasi untuk memeluk motornya, meninggalkan Zyan yang masih di dalam mobil. Zyan memperhatikan Alexa dari kejauhan dengan tatapan yang sulit diartikan.

Ia menyentuh bibirnya, mengingat bagaimana Alexa tertawa lepas di warung gultik tadi. Ternyata, menikahi gadis rebel ini adalah keputusan paling gila sekaligus paling benar yang pernah ia buat dalam hidupnya.

"Sepertinya saya yang akan kalah dalam permainan ini," gumam Zyan pada dirinya sendiri sebelum turun dari mobil.

Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka tidur di kasur yang sama tanpa ada "Tembok Besar Bantal" di tengahnya. Meskipun masih ada jarak, tapi setidaknya kedinginan itu sudah mulai mencair.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!