NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:209
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 30 : Bulan Bersinar

"Aku keluar." Lucy melepaskan jubahnya, lalu ia melemparnya ke tanah.

"Hei! Bagaimana bisa—" Belum sempat Silas menyelesaikan ucapannya, Lucy langsung berteriak.

"Atas nama Dewi Solina yang Agung, aku mengaku bahwa daku telah keluar dari jalan keabadianmu!" teriak Lucy lantang.

Whuuush

Whrrr

Udara terasa berat, angin menjadi dingin, dan dari kejauhan dapat terlihat sesosok bayangan yang seolah mendekat.

"Ah..."

Sreek

Baju Lucy terkoyak, membuat punggungnya terbuka lebar.

"Waah... Kak Lucy, cantik. Kulitnya... Apakah dia putri salju? Wah, alus banget mirip giok." Xiangran melihat Lucy dengan terpesona.

"Lucy?" Theo melihat Lucy yang tampak kesakitan, di punggungnya terpampang jelas segel dengan simbol matahari.

"Argh!"

Silas langsung mendatangi Lucy, lalu ia membaringkan Lucy yang nampak kesakitan.

"Inilah kenapa aku nggak mau keluar dari ordo. Kamu ingat? Bratt... Temenku, dia mati karena kutukan yang datang waktu keluar dari kuil."

"Apa? Kuil kalian menerapkan sistem kutukan?" Theo menatap Silas dengan kaget.

"Yah begitulah. Tapi itu baru ada kalo kamu ngucapin sumpah perpisahan kaya Lucy."

Theo segera menatap White, "White... Tolong sedikit aja."

Seolah langsung paham, sebuah jarum hijau masuk kedalam pinggang Lucy.

"Sayang! Sadarlah!" Theo berteriak, lalu ia menatap Lucy dengan perasaan cemas.

Tangannya menggenggam Lucy erat, seakan dia sedang menggenggam tali kehidupannya.

"Lucy! Ingatlah, kalo kamu bangun aku janji nanti setelah semua selesai kita akan hidup bersama! Aku bersumpah demi langit dan bumi!" teriak Theo, air matanya mengalir deras.

"Tenang saja kak, dia masih hidup." Xiangran mengambil sebuah tabung dan membukanya.

"Jarum-jarum itu..." Theo menatap Xiangran dengan penuh harapan.

"Ini jarum perak dari timur. Kak, ada api?" Theo langsung mengambil lentera yang digunakan untuk menerangi sekitar.

"Baiklah." Xiangran membakar jarum di tangannya, lalu menusuk area selangka Lucy.

Tangannya bergerak dengan cepat, mengambil jarum di tabung dan menusukkannya setelah membakar jarum.

"Sialan! Aku udah menyegel energi Yang yang mengalir kuat. Sial, andai ada perempuan di sini." Xiangran melihat sekitarnya, nihil. Tidak ada wanita dewasa di sekitar situ, hanya ada Linlin yang masih anak-anak.

"Hei, kenapa nyari cewe? Kan Linlin ada," tanya Silas kepada Xiangran.

"Nggak bisa, dia masih anak kecil. Justru anak kecil punya luapan energi Yang. Aku butuh wanita!"

Setelah mencari kesana kemari, Xiangran melihat ketiga jarumnya yang mulai menghitam.

"Sialan! Waktu kita tinggal sebentar!"

"Apa?" Theo berusaha memutar otaknya, di depannya Lucy sedang terbaring lemas. Sedangkan, satu-satunya cara menyelamatkan Lucy adalah dengan mencari wanita dewasa.

"Sialan! Ada orang yang mau mati lagi di depanku, dan aku nggak bisa ngapa-ngapain." Suara Theo bergetar, ia merasa kalo ini ia tidak diperlukan di sana.

Tiba-tiba, punggung Lucy bersinar terang.

"Itu... Bulan? Jadi..." Silas menutup mulutnya, ia tidak kuat melihat kebenaran yang ada.

"Ugh." Lucy melenguh pelan, perlahan-lahan kesadarannya mulai kembali.

"Hei! Lucy!"

"Theo? Kenapa kau tampan sekali?" Matanya sayu, mukanya merah dan badannya terasa panas.

"Hei!" belum sempat mengingatkan.

"Hmphh"

Mulut pasangan itu mulai bertemu, mereka bercumbu mesra. Lalu, Lucy menatap wajah Theo, "Sayang... Aku pegang janjimu."

Tebluk

Kesadaran Lucy mulai menghilang.

"Lucy, Lucy!'' Theo yang masih memeluk Lucy segera mendekapnya dan berteriak histeris.

"Kak, entah kenapa energi Yin nya mulai stabil."

"Fiuh..." Theo menghela nafas tajam. Lalu, ia menatap ke arah Silas dan Xiangran.

Clap! Clap!

"Aku tau kalian ini saling suka, tapi tolong! Tolong! Janganlah kalian ciuman di depan umum gitu. Inget loh, ada bocah di sini." Omelan Silas tidak diindahkan oleh Theo, pikirannya hanya tertuju pada Lucy.

"Waah... Jadi, kalo di barat orang sekarat di cium ya? Siap siap."

Tok!

"Bodoh! Jangan pernah mengira itu benar! Kan! Apa aku bilang!" Silas mengetuk kepala Xiangran, lalu ia menatap Theo sinis.

Blush

Muka merah Theo dapat terlihat, dia baru menyadari perbuatan apa yang barusan ia lakukan.

"Yang penting Lucy pulih." Theo menatap Silas dalam.

"Tadi itu... Simbol bulan?"

"Bulan suci. Musuh bebuyutan dari ordo cahaya. Dikabarkan kalo mereka itu selalu berbuat onar. Bahkan Joseph bilang kalo ordo itulah sumber penyakit ini." Tangan Silas bergetar, tidak mampu mempercayainya.

"Ku kira... Dia orang biasa. Tak bisa ku percaya..."

"Loh emang kenapa kalo misal ada orang liat tanda itu?" Theo menatap Silas dengan polos.

"Paling ringan kita akan dikejar. Paling berat, mati," ucap Silas dengan wajah penuh keraguan.

"Hei! Katanya kalian mau ke Sheepshine? Ayo berangkat." Xiangran menaiki kursinya, lalu mengajak semua orang untuk kembali naik ke atas kereta.

"Ayo, yang penting sekarang kita tetap berpura-pura tidak melihatnya."

Theo menggendong Lucy, lalu ia melompat ke atas kereta kuda.

"Baiklah kita berangkat!"

Hiya

Kuda-kuda itu bergegas cepat, Xiangran mengendalikan kereta itu dengan sangat brutal.

"Kita lewat sini!" teriak Xiangran membelokkan kudanya ke arah semak belukar.

"Gila! Mau apa kau!" Silas melihat itu dan berteriak.

"Hua haaaaa!" Theo ikut berteriak, menurutnya kereta itu bergerak terlalu cepat.

"Hei pelan sedikit!" teriak Theo.

"Nggak bisa, ini kecepatan umum kudaku."

Xiangran tidak lanjut menanggapi protestan dari Theo maupun Silas, ia hanya fokus mengemudi. Terkadang, mereka akan melewati jalan semak belukar, jalan berlumpur, bahkan melalui hutan yang entah dimana.

Perlahan, terlihat siluet desa kecil dari kejauhan.

"Itu, selamat datang di desa Sheepshine. Lihat, banyak lampu yang menyala." Xiangran menunjuk pada sebuah jalan yang dipenuhi oleh lilin dan lampu minyak.

Kereta mulai melambat, lalu berhenti.

"Ugh... Rasanya semua isi perutku mau keluar. Bahkan menurutku, rasanya jauh lebih pusing daripada mabok." Silas turun, lalu ia menepi.

"Hoerg!" Seluruh isi perut Silas langsung keluar.

"Sumpah! Aku mending jalan daripada naik... Hup!"

Hoek

Theo muntah di tepi, jauh dari kereta.

"Wah orang kota lemah ya, padahal kuda ini belum makan jadinya lamban," ucap Xiangran dengan polos dan nada yang menyebalkan.

"Lamban? Kau bilang itu lamban?!" Theo merasa kaget dan lemas, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi.

Hoek

Theo kembali ke tepi dan muntah.

Silas hanya menatap Xiangran dengan tajam.

"Ayo naik lagi. Kita mau ke mana?"

"Nggak, aku mau jalan." Theo menyerah menaiki kereta, Silas pun setuju untuk jalan.

"Kalo gitu, aku bakal ikut kalian. Oiya, ada kayu nggak ya?" Xiangran menatap Theo dan Silas bergantian.

"Kayu? Untuk apa?" tanya Theo dengan wajah heran.

"Makan kudaku," balas Xiangran dengan datar.

"Hah? Kuda? Gila, kuda mana yang makan kayu?"

Theo menatap Xiangran dengan tatapan aneh. Dirinya merasa bahwa Xiangran sedang berhalusinasi, tapi Xiangran tetap bersikeras.

"Kalo misalnya memang makan kayu, coba tunjukkin. Coba tuh kamu tebang sendiri pohon itu," ucap Theo sambil menunjuk sebuah pohon di hutan.

"Siap."

Xiangran berlari ke arah pohon, tangannya sudah ia lebarkan layaknya pedang.

"Heya!"

Syat slash

Bruak!

Pohon itu ambruk.

"Lihat ini!"

Krak

Seolah belum cukup dikagetkan, Theo melihat pemandangan Xiangran menepuk hancur batang pohon dan membaginya kepada para kuda.

"Hah? Dimakan?"

Seketika itu, Theo dikejutkan dengan kuda yang menyala merah.

Dari mulut kuda itu, muncul banyak arang yang kemudian dikunyah. Menciptakan sebuah kilatan merah, membakar setiap kayu dan arang yang ada.

Theo merasa bingung, entah dia harus terkaget atas Xiangran yang gila, atau kuda gilanya.

Silas membawa mereka pada sebuah penginapan, lalu mereka tertidur.

Keesokan paginya, Silas memandu Theo berjalan ke arah sebuah rumah. Anehnya, rumah itu berada dalam kondisi berantakan.

...****************...

End Ch. 30 : Bulan Bersinar

Makasih semuanya udah baca karyaku, jangan lupa like, comment dan favoritnya. Makasih semuanya.

...----------------...

Author's note

Kalo kalian penasaran dengan bentuk kereta kuda punya Xiangran, kalian bisa bayangin mobil bak dari kayu yang ditarik pake kuda.

Makasih semuanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!