NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18 Konfrontasi

Pintu ruang kerja pribadi Kakek Arthur di kediaman utama tertutup rapat, meredam seluruh sisa kebisingan dari aula pesta di luar. Aroma tembakau mahal menguar pekat di udara.

Arthur Douglas duduk tenang di kursi kebesarannya yang dilapisi kulit domba, sementara Reigan berdiri tegap di depan meja kerja jati kuno itu.

Kakek masuk ke ruang kerja setelah menyambut tamu. Istirahat sejenak juga menyambut cucunya yang berambisi untuk menanyakan sesuatu.

Rahang Reigan mengeras, sepasang netra gelapnya menatap sang kakek dengan intensitas yang menuntut penjelasan.

Sementara di luar sana, Hana pamit ke toilet memberikan Reigan celah beberapa menit untuk menyelesaikan urusan ini.

"Aku belum pernah bertanya sama sekali sejak Kakek mengenalkan aku dengan Hana," ujar Reigan memulai.

"Apa yang ingin kau tanyakan sebenarnya?"

"Tentang Hana."

Bola mata kakek yang tadinya santai, kini terlihat serius. "Ada apa dengannya? Apa dia sakit?"

"Kakek lihat sendiri dia segar bugar tadi."

"Oh, itu kabar yang baik." Kakek terdengar lega.

"Bukan itu yang ingin aku katakan," ujar Reigan dengan geraman tertahan.

"Lalu apa?" Kakek bertanya masih nada dan sikap santai.

Reigan geram dan ingin mengakhiri pertanyaan dan pergi. Namun dia ingin sekali bertanya hingga mengesampingkan rasa kesalnya pada kakeknya. "Sebenarnya siapa Hana?"

"Apa kamu tuli? Bukankah sudah aku katakan dia cucu sahabat kakek yang tinggal di pinggiran kota?" Kakek Arthur yang tua masih ingat tentang siapa Hana saat pertemuan pertama kali mereka.

"Tidak. Aku masih ingat jelas kalau dia cucu sahabat Kakek, tapi ... " Reigan menjeda kalimatnya. "Apa kakek tahu kalau dia bisa menggunakan senjata?" Saat mengatakan ini, ada geraman dalam suara Reigan.

"Senjata?" Arthur mengetuk jemarinya di atas meja. Apa dia sudah mulai menunjukkan siapa dirinya? Batin Arthur.

"Ya! Bahkan dia hampir menembakku." Reigan mengatakan ini dengan penuh tekanan.

"Menembakmu?" Alis kakek naik. Seperti menunjukkan ketertarikan.

"Nyaris di pelipisku."

"Tapi kau masih hidup." Kakek bicara dengan santai.

"Apa yang kakek bicarakan?" Reigan gusar. "Kakek baru saja menjodohkan aku dengan seorang perempuan yang berbahaya! Apa kakek tahu itu?"

Kakek tersenyum.

"Apa itu lelucon bagi kakek?"

"Lelucon? Tidak, Reigan. Kakek tidak pernah bercanda kalau itu menyangkut masa depan klan kita," sahut Kakek Arthur, suaranya mendadak merendah, kehilangan nada santainya yang memuakkan tadi.

Pria tua itu meletakkan cerutunya ke asbak kristal, lalu menatap cucunya dengan sepasang netra yang mendadak setajam elang. Senyum tipis yang tersisa di bibirnya justru terlihat mengintimidasi.

"Kau bilang dia berbahaya hanya karena dia hampir menembak pelipismu?" cibir Kakek Arthur, nadanya datar namun menusuk ego Reigan.

"Ya. Karena itu artinya aku sedang memelihara pembunuh di dalam apartemen ku sendiri," desis Reigan.

Kakek terkekeh pelan. Reigan kesal jika melihat itu. Rowand hanya tersenyum tipis. Seperti paham kenapa Tuan Arthur bersikap seperti itu.

"Tapi dia bukan musuh, Reigan," ujar Kakek Arthur dengan lembut.

"Dia menyembunyikan keahliannya, Kakek. Seseorang yang menyembunyikan taringnya di dalam rumahku sendiri... itu ancaman," desis Reigan, mencoba mempertahankan argumen logisnya sebagai calon penerus takhta.

"Dia tidak menyembunyikannya. Dia hanya menggunakannya saat merasa perlu," balas Kakek Arthur mutlak.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit domba, kembali ke posisi santai yang dominan.

"Dia memang cucu sahabat kakek. Kakek tidak berbohong soal itu. Sisanya? Jika seorang Reigan Douglas bahkan tidak bisa menjinakkan wanita yang kini jadi istrinya, mungkin kau memang belum siap memimpin Gedung Valerius."

Reigan menatap lurus kakeknya. Di mata kakek, mereka memang suami istri yang sah. Tanpa tahu kalau mereka tidur dalam kamar terpisah.

Mendengar tantangan itu, kilat amarah dan obsesi di mata gelap Reigan berkilat bersamaan. Tembok rahasia yang dipasang kakeknya justru membuat rasa penasaran pria itu semakin membakar.

Reigan membalikkan tubuhnya tanpa pamit, melangkah lebar keluar dari ruang kerja dengan rahang mengetat kaku. Kata-kata kakeknya seperti minyak yang menyiram api di dalam dadanya.

Menjinakkannya? Sialan. Dia bukan wanita biasa yang mudah dirayu dan dekati.

****

Langkah berat Reigan membawanya menyusuri koridor belakang yang sepi, menjauh dari toilet utama. Insting predatornya menolak percaya Hana tersesat. Dan benar saja, di ujung lorong yang mengarah ke balkon luar yang berkabut, ia menangkap siluet gaun formal wanita itu.

Hana sedang berdiri bersandar pada pagar besi balkon yang dingin, menatap kegelapan hutan pinus di bawah paviliun.

Reigan bergerak tanpa suara, namun aura dominasinya yang pekat langsung memotong sisa udara di sekitar mereka. Tanpa peringatan, tubuh besarnya merangsek maju, mengurung Hana di antara pagar besi dan dada bidangnya yang kaku.

Hana tidak tersentak. Ia hanya mendongak perlahan, menampilkan profil wajahnya yang dingin di bawah bias cahaya bulan yang pucat. Jarak mereka yang terlampau mengikis membuat ujung sepatu mereka bersentuhan. Hingga wajahnya begitu dekat hingga Hana bisa mencium aroma cerutu mahal dan wiski dari napas pria itu.

"Bisa kau jauhkan tubuhmu?" tanya Hana penuh peringatan.

"Oke." Reigan patuh. Ia berdiri disamping Hana, sambil memegang pinggiran pagar besi balkon.

"Kakek memperlakukanmu terlalu istimewa malam ini, Hana," desis Reigan rendah.

Hana tidak bereaksi.

"Di depan para tetua dewan dan Leon, kau baru saja dijadikan umpan terbuka. Mereka mengira kau adalah kelemahan terbesarku hanya karena kau terlihat seperti gadis kampung yang rapuh."

Hana menatap sepasang netra gelap Reigan tanpa berkedip. Lalu membuang napas pelan.

"Jika mereka mengira begitu, biarkan saja," sahut Hana datar, suaranya sedingin es namun tanpa getaran ketakutan sedikit pun. "Bukankah itu menguntungkanmu untuk melihat siapa yang akan bergerak duluan dan membawa kepalanya padamu, Tuan Douglas?"

Reigan menggeram pelan, cengkeraman tangannya pada pagar besi di sisi tubuh Hana mengetat. Keengganan wanita ini untuk tunduk—bahkan setelah ia tahu dirinya dalam bahaya—justru memicu gairah posesif yang pekat di dada Reigan.

Tantangan Kakek Arthur untuk 'menjinakkan'wanita ini mendadak berubah menjadi obsesi nyata yang membakar kewarasannya.

Kedua mata bulat Hana sempat menyipit tajam ketika Reigan mendekatkan wajahnya.

"Apa yang kau lakukan?"Jemarinya di balik lipatan gaun malam sudah bergerak kaku, siap menekan titik saraf di leher Reigan jika pria itu berani melangkah satu mili saja lebih jauh.

"Mengujimu. Apa kamu akan mengeluarkan silet dari mulutmu?"

"Coba saja," tantang Hana dingin.

Reigan menyeringai. Suara yang berasal dari gawai membuatnya mundur.

Hana melirik gawai dan bersikap tenang.

Berbeda dengan Hana, Reigan tampak tegang. Detak getarannya konstan dan spesifik—itu sinyal dari sensor gerak di ruang kerja pribadi Kakek Arthur yang baru saja ditinggalkannya dua menit lalu. Ruangan yang seharusnya steril, analog, dan terisolasi dari sisa tamu pesta.

Seseorang menyusup masuk.

1
Riri
cemburu bang...😄
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
Riri
kayak horor punya suami kek Regan
Kusyanti Handayani
thorrr llamnnjuttt lah
E F
lanjuttttt thor dobleeeee🙏💪😍
E F
lanjuttt thor💪😍
Lady Ve: Terima kasih tetap baca.
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
Kusyanti Handayani
semangat ladyyyy lanjooootttt
E F
tq thor🙏😍
semangattttt
lanjutttt😄💪
Anonim
❤️❤️❤️
pawon ngebul
kakak othor pokoknya getar hrs update biar g getir nungguinya😩🥺🥺🥺🥺🙏🙏🙏🙏
Lady Ve: 🤣🤣🤣🤣. iya tenang ....
total 1 replies
Kusyanti Handayani
bikin bedebar hanaaaa
Kusyanti Handayani
lanjuttttt
Herlin
Hana..... Sangaaar
Lady Ve: 🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
E F
tq thor🙏😍
lanjuttt
smangattt💪😄
Lady Ve: Terima kasih😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!