NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Memaksa: Di Balik Wajah Yang Kupilih

Cinta Yang Tidak Memaksa: Di Balik Wajah Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.

Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan Aneh

“Sudah tutup ternyata,” gumam Arelia yang baru saja tiba di toko bunga milik Dhea.

Wajahnya tampak begitu kecewa.

Ia buru-buru datang ke tempat itu karena ingin menemui Dhea. Namun ternyata toko bunga kecil itu sudah tutup.

Arelia menatap pintu toko beberapa saat sambil menghela napas pelan.

“Padahal baru jam segini. Tumben sekali dia sudah tutup,” gumamnya lagi.

Tatapannya perlahan memperhatikan sekitar toko yang terlihat sepi.

Tidak ada suara Dhea. Tidak ada senyum hangat gadis itu yang biasanya menyambutnya.

Dan anehnya, hal sederhana itu justru membuat perasaannya terasa kosong. Arelia langsung terdiam menyadari pikirannya sendiri.

“Kenapa aku sampai datang ke sini lagi?” lirihnya pelan.

Padahal sebelumnya ia selalu menghindari kedekatan dengan orang lain.

Namun sekarang, kakinya justru tanpa sadar selalu ingin kembali ke tempat itu. Ke tempat sederhana yang membuatnya merasa sedikit tenang. Dan semuanya, karena seorang gadis bernama Dhea.

“Dunia ini benar-benar tidak adil,” gumam Arelia pelan.

Bukannya pergi, ia justru duduk di depan toko bunga milik Dhea.

Tatapannya lurus ke depan dengan pikiran yang terasa begitu penuh. Padahal ia tinggal sendiri. Namun entah kenapa, malam itu ia benar-benar tidak ingin pulang.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman justru terasa begitu kosong baginya. Dan setelah kejadian tadi bersama kedua orang tuanya, perasaan aneh itu kembali datang.

Kesepian.

Arelia memeluk kedua lututnya pelan sambil menundukkan kepala.

Sudah terlalu lama dirinya hidup sendirian dengan semua tekanan dan luka yang terus ia simpan sendiri. Tanpa sadar, bayangan wajah Dhea kembali muncul di pikirannya.

Gadis sederhana yang selalu menyambutnya dengan hangat. Yang tidak pernah memandangnya aneh.

Dan yang selalu berbicara tulus kepadanya. Seketika dada Arelia terasa semakin sesak. Karena baru sekarang ia sadar, dirinya mulai merasa nyaman berada di dekat Dhea.

Di sisi lain.

“Yah, sepertinya ketinggalan di toko,” gerutu Dhea yang baru saja selesai membongkar isi tasnya.

“Apanya yang tertinggal?” tanya Raka kepada Dhea.

“Itu, dompet kecil Dhea, Kak. Kayaknya ketinggalan di toko,” jelas Dhea.

“Kenapa bisa sampai tertinggal?”

“Kan tadi buru-buru, Kak.”

Dhea kembali memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Lalu, ia mengambil kunci toko miliknya.

“Kak, Dhea balik sebentar ya ke sana,” ucap Dhea sambil berjalan buru-buru.

“Perlu aku temani?” tanya Rafa.

“Tidak usah. Kalian tunggu saja di rumah. Sekalian ada juga yang ingin Dhea beli,” jawab Dhea sambil tersenyum kecil.

Raka menghela napas pelan.

“Jangan pulang terlalu malam.”

“Iya, Kak.”

Setelah menjawab itu, Dhea langsung pergi meninggalkan rumah kecil mereka. Sedangkan Raka dan Rafa hanya memperhatikan kepergian adik mereka.

“Dhea itu terlalu baik,” gumam Rafa tiba-tiba.

Raka menoleh pelan.

“Makanya jangan bikin dia sedih lagi.”

Rafa langsung terdiam mendengar ucapan itu.

**

Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Dhea tiba di toko bunganya.

Namun saat ingin melangkah mendekat, pandangannya langsung tertuju pada seseorang yang sedang duduk di depan toko.

“Mbak Arelia?” panggil Dhea dengan wajah terkejut.

Arelia yang sejak tadi menundukkan kepala langsung mengangkat wajahnya pelan.

Tatapan mereka saling bertemu. Dan entah kenapa, melihat Dhea datang membuat perasaan kosong di dalam diri Arelia sedikit menghilang.

“Dhea…” lirih Arelia pelan.

Dhea langsung berjalan mendekat dengan wajah penuh bingung sekaligus khawatir.

“Mbak ngapain duduk di sini? Kok belum pulang?”

Arelia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.

“Tidak tahu.”

Jawaban itu membuat Dhea semakin bingung.

“Hah?”

Arelia mengalihkan pandangannya pelan.

“Tadi aku datang mau ketemu kamu. Tapi ternyata tokomu sudah tutup.”

Deg.

Entah kenapa, dada Dhea terasa sedikit aneh mendengar ucapan itu. Karena baru kali ini ada seseorang yang sengaja datang mencarinya seperti ini.

“Maaf, Mbak. Tadi pulangnya lebih cepat,” ucap Dhea pelan.

Arelia langsung menggeleng kecil.

“Tidak apa-apa.”

Namun meski berkata begitu, wajahnya masih terlihat lelah dan murung. Dan Dhea bisa melihat dengan jelas Arelia sedang tidak baik-baik saja.

“Mbak ada masalah?” tanya Dhea kepada Arelia dengan nada penuh khawatir.

Arelia langsung terdiam. Tatapannya perlahan turun sebelum akhirnya tersenyum kecil, meski terlihat dipaksakan.

“Memangnya wajahku kelihatan seperti orang yang punya masalah?” tanyanya pelan.

Dhea mengangguk kecil tanpa ragu.

“Iya.”

Jawaban jujur itu membuat Arelia sedikit terkejut. Biasanya orang-orang hanya pura-pura tidak peduli terhadap keadaannya.

Namun Dhea berbeda.Gadis itu benar-benar memperhatikannya dengan tulus.

“Aku cuma sedikit capek,” jawab Arelia akhirnya.

“Tapi mata Mbak sedih,” ucap Dhea polos.

Deg.

Kalimat sederhana itu langsung membuat Arelia terdiam lagi. Karena tidak pernah ada yang memperhatikan hal kecil seperti itu kepadanya. Dhea lalu duduk di samping Arelia pelan.

“Kalau memang ada masalah, Mbak cerita saja. Walaupun mungkin Dhea tidak bisa bantu banyak.”

Arelia menoleh menatap wajah gadis di sampingnya itu.

Dan lagi-lagi, ia merasa hangat hanya karena ucapan sederhana dari Dhea.

“T-tapi tidak apa-apa kalau Mbak tidak mau bercerita. Dhea paham, mungkin itu masalah pribadi Mbak,” ucap Dhea dengan senyum kecilnya.

Namun bukannya menjawab, Arelia justru langsung memeluk Dhea erat.

“M-mbak!” Dhea terkejut.

“Sebentar saja… tolong,” lirih Arelia pelan. “Seperti ini dulu sebentar.”

Dhea langsung terdiam.

Ia tidak tahu sebenarnya masalah apa yang sedang dihadapi Arelia.

Namun dari cara wanita itu memeluknya…

Dhea bisa merasakan bahwa Arelia benar-benar sedang rapuh saat ini.

Perlahan, Dhea mengangkat tangannya lalu mengelus punggung Arelia pelan agar sedikit tenang.

“Iya, Mbak,” jawab Dhea lembut.

Arelia memejamkan matanya perlahan.

Entah kenapa, berada di dekat Dhea selalu membuat dadanya terasa lebih tenang. Hangat. Dan nyaman. Perasaan yang sudah sangat lama tidak pernah ia rasakan lagi.

“A-aku capek, Dhea,” ucap Arelia lirih membuat wajah

Dhea langsung berubah khawatir.

“Dhea nggak tahu Mbak capek karena apa,” jawab Dhea pelan. “Tapi kalau Mbak sudah nggak kuat menahannya, Mbak bisa keluarkan semuanya ke Dhea.”

Arelia langsung terdiam mendengar ucapan itu.

Pelukan di tubuh Dhea perlahan semakin erat. Sudah terlalu lama dirinya memendam semuanya sendirian.

Tekanan dari kedua orang tuanya. Tatapan jijik orang-orang.

Dan rasa sakit yang terus menghancurkan dirinya sedikit demi sedikit. Namun anehnya, di depan Dhea, ia justru merasa ingin menyerah dan berhenti berpura-pura kuat.

“Aku lelah jadi diriku sendiri,” lirih Arelia pelan.

Deg.

Dhea langsung menundukkan pandangannya. Walaupun belum sepenuhnya mengerti maksud ucapan itu, ia bisa merasakan betapa berat hidup yang sedang dijalani Arelia.

“Mbak…” panggil Dhea pelan.

Lalu tanpa sadar, Dhea membalas pelukan Arelia dengan lebih hangat.

“Kalau begitu, istirahat sebentar di sini,” ucapnya lembut. “Tidak apa-apa kalau Mbak mau lemah sesekali.”

1
Dinda Putri
lanjut semangat thooorrr love sekebon deh
Dinda Putri
lanjut thoor 💪💪💪
Dinda Putri
nexs
Dinda Putri
up lagi thoorr jangan lama
Dinda Putri
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!