NovelToon NovelToon
ISTRIKU MENDIAMIKU

ISTRIKU MENDIAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saskiah Khairani

Setelah Andra menikah lagi, Armila berubah. Ia menjadikan suaminya ini ada, tapi tiada. Sapaan, rayuan dan keberadaanku serupa angin lalu.
Diamnya armila membuat Andra stres.
Pernikahannya dengan resti pun menjadi tidak harmonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANGAN - JANGAN

ANDRA

Aku benar-benar terbakar cemburu mendapati kenyataan Reiga bertetangga dengan kami. Artinya aku harus berada di tempat Armila seminggu ke depan. Maka dari itu setelah mengantar Resti, aku kembali lagi ke sini

Resti pasti takkan terima. Dia mungkin akan membuat ulah. Tapi aku tidak punya pilihan lain kecuali menjaga Armila dari pesona Reiga.

Seminggu ini aku memantau keadaan. Apakah mereka bertegur sapa atau malah ngobrol. Ternyata tak ada tanda -tanda kedekatan. Mungkin karena Reiga juga sibuk di rumah sakit. Aku sering mendengar mobilnya baru masuk halaman pukul sepuluh malam atau bahkan lebih dari itu.

Hanya saja aku harus tetap waspada agar tidak kecolongan. Bisa jadi mereka menjaga diri sebab aku selalu ada di sini. Coba kalau keadaannya berbeda. Aku di rumah Resti. Bisa saja ' kan mereka bermain belakang.

Pikiranku saat ini memang kacau dan dipenuhi dengan hal-hal negatif tentang Armila. Entah ini karena cemburu berlebihan atau persoalan harga diri. Apapun itu yang pasti aku tak rela Armila pergi bersama siapapun, termasuk Reiga.

Wanita itu harus ada disisiku

bagaimanapun keadaannya. Tak akan pernah kata talak itu terucap dari bibir ini sebab itu bisa menjadi kiamat bagi hidupku.

*

Lagi-lagi Resti bikin masalah. Kedatangannya pasti untuk mencariku yang memang tak pulang-pulang. Kemungkinan besar dia memaki maki Armila sampai istri pertamaku itu mencekal lengannya.

Sudah bisa ditebak Resti main drama saat memelukku. Karena tak mau panjang urusan, lebih baik menurutinya pulang ke sana. Lagipula aku menyaksikan sendiri kalau Armila dan Reiga tak punya hubungan dekat lagi.

Setelah pamit pada Armila, aku langsung mengajak Resti pulang. Aku tak ingin ada huru-hara di sini. Apalagi kalau sampai terlihat oleh Reiga. Bisa jatuh lagi harga diri. Punya istri dua ribut terus itu akan menurunkan derajat kelelakian. Nanti ada vonis gak becus ngurus, kok berani poligami.

Walaupun memang tak becus, tak maulah sampai ketahuan orang lain. Apalagi jika tersorot oleh mantan Armila. Mau ditaruh di mana muka.

"Mas jahat, aku kesepian, Mas senang-senang di sini!" rajuk Resti di mobil.

"Kamu jangan datang lagi ke rumah Armila, ya apalagi sampai bikin huru-hara. Malu dilihat orang."

Sebisa mungkin, aku bersikap tenang. Semoga dengan kelembutan, Resti dapat diluluhkan.

"Yang bikin huru-hara siapa? Aku cuma nanya baik-baik, dianya aja yang nyolot. Mas lihat sendiri 'kan dia megangin tangan aku. Itu tuh kenceng banget, Mas. Sakit tahu!"

Nyatanya Resti memang keras kepala. Dia tetap saja menyalahkan Armila. Padahal aku yakin madunya tak salah. Pasti Resti yang menyulut api hingga Armila marah.

Dipikir sekali lagi mengapa aku begitu bodoh sampai memperistri wanita seperti ini. Keras kepala, bar-bar dan egois.

Kelakuannya di depan dokter Reiga saja sangat memalukan. Untunglah pria itu terpelajar hingga tahu cara bersikap menjaga perasaan orang.

Sesampainya di rumah, Resti langsung menuntut banyak hal. Padahal aku cape setengah mati. Ingin membersihkan diri, makan lanjut rebahan. Nyatanya semua keinginan itu harus diempaskan.

*

"Mas, ibu butuh uang untuk bayar kontrakan setahun, ada gak? Katanya beliau gak mau ngutang lagi ke renternir, tapi gak utang, gak punya uang," pinta Resti setelah kami selesai melakukan permainan panas.

"Bukannya sudah dibayar. 'Kan waktu itu mas yang kasih uangnya langsung."

Aku masih ingat, tiga bulan lalu, Resti datang minta uang untuk bayar kontrakan. Karena tidak mau ribut, aku langsung keluarkan sejumlah yang mereka minta.

"Katanya tidak dibayarkan semua sebab uangnya kepakai buat makan dan beliin HP adikku."

Aku mengelus dada agar tidak tersulut emosi saat mendengar perkataan itu. Bukan aku tidak mau membantu tapi ini sudah keterlaluan. Bahkan setiap bulan mereka telah diberi jatah untuk makan. Masa dipakai lagi uang kontrakannya.

"Maaf, Mas gak bisa kasih lagi sebab udah dikasih, malah dilebihkan. Setiap bulan pun mas kasih untuk biaya hidup. Suruh saja bapak yang cari uang beliau masih sehat dan kuat."

Mata Resti melotot seiring mulutnya yang terbuka lebar. Mungkin sangat kaget mendapati sikapku yang menolak permintaan.

"Mas?"

"Ayo kita tidur!"

Tak mau memperpanjang urusan dengan Resti sebab tak akan mendapatkan titik temu. Aku bukan konglomerat yang memiliki uang tanpa batas. Kalaupun punya gaji besar, tetap saja akan limbung kalau diperas habis-habisan.

Sudah kuduga reaksi Resti akan marah. Ia membalikkan badan dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Bahkan, wanita itu menjauh hingga tidur di ranjang paling sisinya.

Biarkan sajalah, nanti juga baik lagi kalau ada maunya. Aku tak mau jadi sapi perah keluarga Resti terus-terusan.

Sekali lagi aku berpikir mengapa terlalu mengedepankan napsu dibanding logika. Inilah akibat dari kedangkalan berpikir.

*

Aku terkaget-kaget ketika bi Cicah mengatakan kalau Affan sakit dua hari lalu. Katanya ia menelpon dan kirim pesan. Aku sama sekali tak merasa mendapat panggilan dan chat tersebut.

"Ini, nih, Pak panggilan dan pesan WA dari saya!" ucap bi Cicah sambil memyodorkan HP nya. Di layar itu jelas terpampang, panggilan tak terjawab dan kiriman pesan ke nomorku.

Jangan-jangan dihapus oleh Resti. Kalau benar, keterlaluan sekali perempuan itu menghapusnya. Ini ' kan urusan bayi, larut malam pula. Wajar bi Cicah dan Armila minta bantuan.

"Untung ada dokter Reiga. Pas saya mau ke rumahnya, beliau sudah ada di depan pintu. Katanya datang ke sini karena mendengar tangisan Affan sewaktu baru pulang kerja."

1
Titien Prawiro
Untuk apa punya istri lagi klo sdh punya anak. lelaki serakah, baru baca saja sdh benci banget.
Agus Tina
Lanjut thor, bila perlu vuat Resti susah ounya anak kareba sudah membunuh darah dagingnya sendiri. Dan buat Armila pergi jauh buat Andra tersiksa kerinduan pada anak yg sudah ia sakiti scr tidak langsung karena sudah menyakiti ibunya ...
Gusti Hamdiah
andranya goblok dong
Saskiah Khairani
mohon dukungannya teman² 🙏
Ma Em
Biar saja Armila dgn Reiga daripada sama Andra suami yg tdk punya pendirian plin plan biar Andra dgn Resti biar dia menyesal setelah berpisah dgn Armila .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!