Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas baru
Ziano yang baru saja selesai cuci piring mengambil lap pel untuk membersihkan lantai sekitar wastafel yang basah akibat ulahnya sendiri. Meski belum banyak kemajuan setidaknya untuk urusan cuci piring dan ngepel dirinya sudah bisa dianggap lulus meskipun lama. Setidaknya tak ada piring maupun gelas yang menjadi korban.
Keluar dari dapur ia tak mendapati siapa pun, pikirnya mungkin saat ini semua sudah di warung tapi nyatanya disana hanya ada Yudi dan Aki Dikun. Suasananya pun mencekam, saling diam, padahal biasanya meskipun galak Aki Dikun suka sekali ngomel. Aki Dikun duduk di meja kasir sambil sibuk nggak jelas, sementara Yudi beres-beres barang belanjaan yang baru datang.
Ziano menghampiri Yudi yang tengah memilah kulit melinjo, orang sini biasa menyebutnya tangkil. Bahan makanan yang sebenernya merupakan limbah dari olahan emping hanya saja masih bisa dimanfaatkan sebagai lauk.
Ziano mengambil kursi plastik dan duduk tepat di samping Yudi, "si Aki abis ngamuk yah?"
Yudi menjawab dengan kedipan mata.
"Serem euy, si Ara tadi di bentak-bentak. Gue juga ikut kena bentak." bisik Ziano. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan Aki Dikun masih di posisi yang sama.
"Gue kira itu Aki-Aki nggak bisa marah kalo sama anaknya, ternyata galak juga." tangan Ziano ikut memilah tangkil meskipun tak tau kategori seperti apa yang harus dipisahkan.
"Lo kena amuk ga, Yud?"
"Nggak, tapi tetep kasihan Neng Ara." jawab Yudi sambil mengambil kulit melinjo warna merah yang dipisahkan oleh Ziano.
"Ini yang kayak gini udah terlalu mateng, Bang. Jangan dicampur kesini, gampang busuk. Ini khusus buat yang ijo sama kuning aja. Merah pisah sebelah sana." Yudi menjelaskan tumpukan yang sudah ia pisahkan.
"Sorry gue nggak tau." Ziano langsung memilah lagi tangkil di area nya.
"Ini buat apaan sih? buat ngasih makan sapi apa? baru pertama kali nih liat beginian." lanjutnya.
"Enak aja buat sapi, ini buat di sayur bang. Makanya kita pisahin yang masih layak sama kira-kira cepet busuk. Kalo udah selesai nanti malem dikirim ke pasar sayur." jelas Yudi.
"Siapa yang ngirim ke pasar?"
"Aku lah, bang." jawab Yudi, "abang mau ikut?"
"Nggak deh makasih." tolak Ziano, "heran gue, Aki-aki banyak banget usahanya. Udah warung, ayam, ternyata masih ngirim barang ke pasar juga."
"Itu belum semua bang, masih ada sawah juga yang diurus Aki."
"Eh buset banyak amat."
"Namanya juga orang kampung bang, apa aja yang bisa jadi duit yah dikerjain."
"Iya tapi kalo gue amatin semua kerjaannya pake otot, cape." ucap Ziano.
"Emang ada kerjaan yang nggak cape, bang?"
Ziano diam sejenak, melempar asal kulit biji melinjo di tangannya, kemudian tersenyum masam. "nggak ada lah, orang yang udah kaya raya, nggak kerja juga ngerasa hidupnya ngebosenin."
"Apalagi yang miskin kayak aku bang." timpal Yudi, "kirain jadi orang kaya enak bang. Mau apa pun nggak usah mikirin ada apa nggak uangnya."
"Nggak lah, gue malah bosen. Kayak gini malah seru nih, lama-lama gue bisa nikmatin hidup kayak gini, banyak sensasi keselnya."
"Kayak pernah ngerasain kaya aja abang ini. Udah cepetan deh milihinnya, kita malah ngobrol ngalor ngidul mulu dari tadi."
Bukannya membantu, Ziano malah beranjak dari duduknya. "Baru nyadar ini bukan tugas gue, Yud. Tugas gue kan ngasuh Lusi. Niatnya kesini nyari Lusi kenapa malah jadi nongkrong sama kulit melinjo."
"Nyari Lusi tapi yang ditanyain Neng Ara. Dasar." Cibir Yudi namun Ziano tak mendengar karena sudah lebih dulu pergi.
Ziano menghampiri Aki Dikun yang masih duduk di meja kasir, jarinya sibuk menekan tombol kalkulator, matanya sibuk melihat ke kalkulator dan nota bergantian.
"Hasilnya beda kah Aki?" tebak Ziano karena sudah lama ia berdiri di depan meja kasir saja si Aki tak menyadarinya.
"Kenapa?" Aki Dikun membuka kaca matanya dan menatap Ziano.
"Nggak apa-apa, Aki. Barangkali Aki butuh bantuan saya. Kebetulan saya kesini nyari Lusi tapi Lusi nya nggak ada."
Aki Dikun menggeser kursi di sampingnya, "duduk sini."
"Emangnya kamu bisa perhitungan kayak gini?" lanjutnya menyerahkan beberapa lembar nota dan buku ukuran besar padanya.
"Soal hitung menghitung serahin sama saya, Aki. Bahkan kalo Aki mau dibuatin sistem buat pembukuan warung Aki juga saya bisa. Sekalian pake aplikasi biar mudah dan meminimalisir salah hitung. Tapi minimal Aki beli dulu laptop atau komputernya." jelas Ziano.
Aki Dikun melotot galak. "Jangan coba-coba nipu dengan modus lain yah!"
"Itung yang bener coba saya mau lihat!"
"Si Aki nggak percayaan banget. Gini-gini juga saya ini sarjanan manajemen, Aki. Beginian doang mah kecil." balas Ziano.
"Nggak usah ngaku-ngaku sarjana! itung aja, itung!" Aki menyodorkan nota lagi.
"Sekarang nggak cuma orang yang ngaku sarjana, ngaku-ngaku sebagai CEO yang menyamar juga banyak. Aki sih nggak bakal ketipu meskipun orang kampung, soalnya Aki pergaulannya luas." lanjutnya menyombongkan diri.
"Kalo orang-orang yang cuma diem di rumah aja mungkin percaya. Apalagi orang-orang yang kerjanya nonton dracin orang kaya yang menyamar jadi orang miskin, nah mungkin itu bisa ditipu. Kalo Aki, nggak bakal. Makanya kamu jangan coba-coba nipu Aki dengan berbagai cara. Percuma!" lanjutnya.
"Kalo saya sih bukan CEO yang menyamar tapi anak CEO yang sedang menyamar. Makanya Aki baik-baik sama saya." ledek Ziano santai sambil menghitung ulang nota dari Aki.
"Makin nggak percaya Aki. Kalo beneran orang kaya ngpain jadi kayak gini? kurang kerjaan kamu?"
"Bukan kurang lagi, Aki. Saya memang pengangguran." kelakar Ziano.
"Ini sudah selesai saya hitung semua, Aki. Cuma salah yang ini." Ziano menunuk bagian yang salah. Ia bahkan sudah menadai supaya memudahkan Aki saat komplain pada supplier nanti.
"Makasih. Lumayan juga kerjaan kamu." Puji Aki.
"Makanya Aki beli komputer atau laptop khusus buat warung, nanti saya bantu atur-atur."
"Nggak usah lah, pake kalkulator juga cukup. kalo dikerjain sendiri lebih yakin. Lagian itu bukan tugas kamu." jawab Aki.
"Aki mau ngasih tugas tambahan buat kamu. Beres-beres kamu nggak bisa, jadi mulai besok tugas baru kamu jagain Ara. Antar jemput dia sekolah, ikutin dia pergi kemana pun. Pokoknya jangan sampe dia bareng si Marcel!" raut wajah Aki langsung berubah saat memberi tugas baru.
"Tapi kan saya harus menjaga Lusi, Aki. Nanti Lusi bagaimana kalo saya harus jagain Ara juga?"
"Ya Lusi ikut juga kemana pun kamu pergi. Dia suka kok jalan-jalan naik motor atau alan kaki dia seneng. Biar Yudi fokus di warung." jelas Aki.
"Tapi inget kamu harus bisa dipercaya. Jangan mau diajak kerjasama sama Ara. Aki curiga selama ini Yudi udah jadi komplotan Ara, buktinya dia nggak pernah lapor apa-apa soal Marcel. Eh sekalinya Aki tanya-tanya orang di pangkalan ojeg, baru deh ketahuan kalo tiap minggu dia ke tukang sate bareng Marcel." jelasnya setengah emosi. Pulang dari Kebumen tadi ia sengaja naik ojeg meskipun mobil barangnya mengantar sampai rumah. Dijalan mereka ngombrol ngalor ngidul hingga kang ojeg keceposan bilang Ara dan MArcel tiap minggu kesana.
"Emangnya kenapa kalo mereka bareng Aki? kayaknya mereka seumuran, Lusi juga seneng sama Marcel." tanya Ziano. Sebelum menjalankan tugas tentu ia harus paham dulu latar belakangnya bukan?
"Jangan banyak tanya, jalanin aja tugas kamu. Kalo bisa menjalankan tugas dengan baik, bukan cuma dua juta tapi Aki bakal ngasih lima juta buat kamu di akhir bulan nanti."
"Tapi kalo tugas gagal, kamu bayar ke Aki sepuluh juta. Ngerti!" Jelas Aki Dikun dengan sedikit mennyentak. Yudi yang jaraknya lumayan jauh saja sampai menoleh karena kaget.
"Nggak ngerti kenapa diakhir mesti saya yang bayar kalo gagal?"
Aki Dikun tersenyum sinis, "sengaja. Itu ancaman supaya kamu nggak gagal!"
Ziano tersenyum anyeb, "gini banget kerja sama orang kampung, sistem gajinya nggak jelas. Seenaknya sendiri. Udah double job, diancam pula." batinnya.
semoga misi Ziano mengembangkan toko Abah Dikun bisa sukses tanpa meski harus dengan pelan-pelan saja tapi pasti .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
ini gimana kak?🙏
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
diiih diih