NovelToon NovelToon
Janda Muda Pilihan CEO

Janda Muda Pilihan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: KEDIAMAN UTAMA MAHARDIKA

Deretan mobil SUV hitam antipeluru yang dikawal ketat oleh motor patroli tim pengaman internal bergerak membelahi gerbang besi raksasa berukir inisial keluarga Mahardika. Kompleks kediaman utama yang terletak di puncak bukit tertinggi kota itu berdiri dengan megah, dikelilingi oleh lanskap taman hijau yang luas dan pohon-pohon palem kipas yang melambai ditiup angin siang yang sejuk. Kemegahan arsitektur modern berpadu klasik yang didominasi dinding marmer putih tersebut seolah memancarkan kekuasaan mutlak yang dimiliki oleh sang pemilik tunggal, Dafa Mahardika.

Saat mobil SUV yang membawa rombongan inti berhenti tepat di depan lobi utama yang beratap tinggi, puluhan pelayan berseragam rapi dan beberapa pengawal pribadi sudah berbaris rapi di sisi kanan dan kiri. Dipimpin oleh Kepala Pelayan paruh baya yang setia, mereka menundukkan kepala dengan hormat yang teramat dalam saat pintu mobil terbuka secara otomatis.

Mikael melangkah turun terlebih dahulu, memastikan perimeter di sekitar lobi benar-benar bersih dan aman. Sesuai dengan rencana yang telah diatur matang selama di perjalanan, tim medis internal rumah utama segera bergerak taktis menuntun Pak Handoko turun dari mobil. Pria tua itu tampak sangat takjub dan terharu melihat kemegahan tempat yang akan menjadi rumah barunya untuk memulihkan diri pasca-teror racun mematikan tempo hari.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda Dafa, Nyonya Muda Nazya, dan Tuan Handoko," ucap Kepala Pelayan dengan suara yang sopan dan berwibawa.

Dafa Mahardika melangkah keluar dari pintu belakang mobil dengan aura dominan yang langsung menguasai atmosfer sekitar. Namun, alih-alih langsung berjalan masuk, pria tegap berpakaian kemeja hitam satin itu berbalik dan mengulurkan kedua tangannya yang kekar ke dalam kabin mobil. Tanpa membiarkan kaki kanan Nazya yang masih pincang menyentuh aspal lobi sedetik pun, Dafa kembali mengangkat tubuh ramping istrinya ke dalam dekapan hangat dadanya yang bidang.

DEG!

Nazya menahan napasnya yang pendek, refleks mengalungkan kedua tangan kurusnya di sekeliling leher kokoh Dafa saat tubuhnya terangkat ke udara. Wajah cantiknya merona merah jambu karena ditatap oleh puluhan pelayan di sana, tetapi kehangatan dan rasa aman yang mengalir dari tubuh besar suaminya membuat semua rasa canggung itu menguap seketika. Sifat posesif Dafa yang menuntut kepemilikan mutlak atas dirinya terasa begitu nyata dan tak terbantahkan.

"Mas Dafa... turunkan aku, di sini ramai sekali pelayan. Aku bisa berjalan pelan-pelan," bisik Nazya dengan suara yang teramat lembut dan lirih di dekat telinga Dafa, mencoba memohon dengan tatapan mata indahnya yang pasrah.

Dafa tidak menghiraukan ucapan wanitanya seujung jari pun. Sepasang mata elangnya menatap tajam ke depan saat ia melangkah lebar memasuki aula utama rumah mewah tersebut, menggendong Nazya dengan gaya bridal style yang sangat protektif. "Kaki kananmu masih belum sembuh total, Nazya. Jangan membantahku jika kamu tidak ingin menerima hukuman di kamar nanti," balas Dafa dengan suara baritonnya yang berat, rendah, dan penuh intimidasi sensual yang membuat bulu kuduk Nazya meremang nikmat.

Pak Handoko yang berjalan di belakang mereka dengan dipapah oleh tim medis hanya bisa tersenyum penuh rasa syukur melihat betapa posesif dan protektifnya sang menantu dalam menjaga putri tunggalnya. Beliau tahu betul bahwa di bawah perlindungan mutlak seorang Dafa Mahardika, masa depan Nazya akan selalu dipenuhi oleh kebahagiaan dan keamanan yang tidak akan pernah bisa diganggu gugat oleh siapa pun lagi.

Tim medis segera mengarahkan Pak Handoko menuju paviliun khusus di sayap barat rumah utama. Paviliun mewah yang telah dimodifikasi menyerupai kamar suite VIP rumah sakit terlengkap itu akan menjadi tempat peristirahatan yang sempurna bagi beliau untuk memulihkan seluruh fungsi organ dalamnya pasca-racun di bawah pengawasan dokter pribadi selama dua puluh empat jam penuh.

Sementara itu, Dafa membawa Nazya menaiki tangga melingkar raksasa menuju kamar utama mereka yang terletak di lantai paling atas. Kamar bernuansa minimalis mewah dengan tempat tidur berukuran king size berbalut seprai sutra abu-abu tua itu langsung menyambut kehadiran mereka, menawarkan privasi mutlak yang kedap suara dari dunia luar.

Dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati, Dafa membaringkan tubuh ramping Nazya di atas kasur yang empuk. Pria itu berlutut di lantai, lalu perlahan-lahan mengangkat kaki kanan Nazya yang masih tampak sedikit membengkak di bagian pergelangan, menaruhnya di atas bantal penyangga yang lembut agar aliran darahnya tetap lancar.

Belum sempat Nazya mengucapkan kata-kata, pintu kamar terbuka setelah diketuk tiga kali secara teratur. Mikael melangkah masuk bersama dua orang wanita paruh baya berpakaian seragam medis putih bersih yang membawa beberapa peralatan Fisioterapi modern.

"Tuan Muda, Tim Fisioterapi khusus yang Anda minta untuk memeriksa perkembangan kesembuhan kaki Nyonya Muda Nazya sudah tiba," lapor Mikael dengan sikap hormat yang tinggi.

Dafa menganggukkan kepala tegasnya, lalu bangkit berdiri dan berdiri tegak di samping ranjang dengan kedua tangan yang bersedekap di dada bidangnya. Aura predatornya yang mengintimidasi membuat kedua terapis itu bergerak dengan sangat hati-hati dan profesional, tidak berani melakukan kesalahan seujung kuku pun di depan sang CEO dominan.

Dokter terapis mulai memeriksa pergelangan kaki Nazya dengan sentuhan yang lembut, melakukan beberapa tes gerakan refleks kecil untuk mengukur tingkat kekakuan sendi sang janda muda. Nazya sesekali meringis pelan saat titik syarafnya ditekan, dan setiap kali ringisan itu lolos dari bibir ranum Nazya, sepasang mata elang Dafa akan menyipit tajam, memancarkan pendar kegelapan yang menuntut kesembuhan instan bagi wanitanya.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Dafa dengan suara bariton yang dingin dan menusuk, memecah keheningan kamar.

Dokter terapis itu buru-buru menundukkan kepalanya setelah selesai melakukan pemeriksaan awal. "Melaporkan, Tuan Muda. Secara keseluruhan, struktur tulang dan otot Nyonya Muda Nazya berada dalam kondisi yang baik. Efek pincang ini murni karena trauma jaringan dan sisa memar yang belum terserap sempurna oleh tubuh. Mulai besok, kami akan menjadwalkan terapi ultrasound dan latihan pemulihan intensif dua kali sehari. Kami menjamin dalam waktu beberapa minggu ke depan, kaki Nyonya Muda akan sembuh total dan bisa berjalan normal kembali tanpa ada cacat seujung jari pun."

Mendengar penjelasan dari tim medis, ketegangan yang sempat menggantung di pundak kokoh Dafa perlahan-lahan mengendur. Ia memberikan isyarat tangan kepada Mikael untuk membawa tim terapis tersebut keluar dari kamar utama, meninggalkan dirinya dan Nazya dalam keheningan privasi yang teramat pekat.

Pintu kamar tertutup rapat dengan bunyi klik yang halus, mengunci mati seluruh dunia luar. Atmosfer di dalam kamar seketika berubah drastis, naik beberapa derajat menjadi pekat oleh ketegangan romantis dan gairah dewasa yang menggoda batin.

Dafa melangkah mendekati ranjang, lalu duduk di tepi kasur yang empuk, tepat di samping tubuh ramping Nazya yang kini menatapnya dengan binar mata kepatuhan yang luar biasa manis. Pria itu mengulurkan tangannya yang besar, mengusap lembut pipi mulus Nazya dengan ibu jarinya, menyalurkan kehangatan yang membuat jantung sang janda muda berdetak gila dalam sekejap.

"Kamu dengar sendiri, kan? Mulai besok kamu harus menuruti semua jadwal terapi itu sampai kakimu benar-benar sembuh seutuhnya," bisik Dafa rendah, wajah tegasnya merendah hingga jarak di antara hidung mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Aroma maskulin tubuhnya yang hangat menghujam langsung ke pusat kesadaran Nazya. "Aku tidak ingin melihat wanitaku menahan sakit lagi setiap kali melangkah."

Nazya tersenyum dengan sangat manis, sebuah senyuman ketulusan yang mampu meruntuhkan gunung es keangkuhan Dafa. Ia memberanikan diri menyentuh dada bidang suaminya, meremas halus kain kemeja hitam satin Dafa yang terasa premium di jemarinya. "Iya, Mas... aku berjanji akan rajin terapi sampai sembuh total demi kamu. Terima kasih karena sudah menyiapkan segalanya untukku dan Ayah."

Kata-kata manis Nazya seketika memicu letupan gairah dominan di dalam dada Dafa Mahardika. Tanpa memberikan kesempatan bagi Nazya untuk menarik napas, Dafa mencondongkan tubuh besarnya ke depan, mengunci tubuh ramping istrinya di bawah kungkungan dada bidangnya yang kekar. Sifat posesifnya menuntut balasan instan atas semua baktinya hari ini.

Dafa menangkup rahang lembut Nazya dengan telapak tangannya yang hangat, menatap lurus ke dalam bibir ranum istrinya yang sedikit terbuka pasrah menantikan sentuhannya. "Sekarang semua urusan sudah selesai, sayangku," desis Dafa dengan suara bariton yang teramat rendah, serak, dan penuh dengan kepemilikan mutlak. "Saatnya aku menagih seluruh bakti dan hak suamimu atas penyatuan raga kita yang sempat tertunda kemarin."

Nazya menganggukkan kepala cantiknya secara perlahan, kelopak matanya bergetar pasrah saat wajah tegas Dafa semakin mendekat. "Iya, Mas... aku milikmu seutuhnya."

Dafa menyunggingkan senyum predatornya yang teramat menawan sebelum akhirnya membungkam bibir ranum Nazya ke dalam sebuah ciuman penyatuan yang teramat dalam, lembut, namun dipenuhi oleh lumatan posesif yang mengisap habis seluruh sisa udara wanitanya. Ciuman hangat penuh gairah dewasa yang berkelas itu menutup hari kedatangan mereka di kediaman utama dengan keindahan romansa yang tak terbatas, mengunci takdir mereka berdua di balik dinding kamar mewah yang sunyi dan damai.

Jangan lupa dukungannya ya teman-teman, dengan cara tekan tombol LIKE dan ikuti ya, dan jangan lupa tinggalkan komentarnya juga.

UPDATE SETIAP HARI DI JAM 00:06 & 12:00

1
bagus kak, detailnya juga oke, kayaknya authornya rajin riset nih🤭 btw kalo ada waktu mampir lagi ke karyaku ya, biar bisa saling dukung💪
hidup janda!!🤣
kokohnya🤭
/Cry//Cry/
sayangnya si janda masih trauma mas🤭
suasana langsung dramatis, di saat beliau terpikat oleh janda🤭
lah? teplanting ke mana tuh janda🤣
untung orangnya masih idup wak
hayoloh ...🤭
langsung pada protol🤣
kena deh🤭
untung masih ada yang peduli ya💪
nyaras apa nyaris kak🤭
sampe trauma gitu loh🤨
padahal lakinya yang gak becus cari nafakh🤨
kirain ditinggal mati
lakinya baru mati, janda anget nih🤭
authornya cukup ngerti tentang permesinan ya🤭
disuruh cepet kawin kah wkwk🤭
halo kak, aku mampir🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!