Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.
Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.
Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.
Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.
Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?
Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Gara-gara kejadian dengan Savira yang sempat membuat geger satu sekolah, nama Andara jadi populer, apalagi Daisy dengan bangganya mempromosikan Andara sebagai calon mama barunya.
Banyak ibu-ibu menyampaikan simpati bahkan dukungan karena berpikir kalau Savira adalah pelakor.
“Jangan menyerah Mbak, pelakor kayak dia cuma bagus luarnya doang, dalamnya mah busuk dan bau.”
“Teruskan melawan pelakor Mbak, ibu-ibu di sini akan jadi pendukung nomor satu.”
“Sikat Mbak ! Jangan cuma didorong, kalau perlu bantuan, kita bersedia kok ceburin dia ke selokan.”
“Ini bukan karena saya kenal sama mbak Ara loh ya… tapi jujur dari dalam hati. Mbak Ara kan kelihatan lebih muda jadi jangan takut kalah sama pelakor sudah tua itu. Laki-laki yang kepincut sama pelakor pertama-tama pasti tertarik sama bodi dan wajah yang dipoles sana sini. Mbak Arabisa banget lebih cantik dari dia. Semuanya bisa diatur selama ada uang.”
Bukannya senang apalagi bangga, Andara malah malu dan takut para ibu-ibu itu akan balik mencercanya begitu tahu kalau Andara cuma pengasuh dan ibu susu.
Sudah beberapa kali Andara menasehati Daisy bahkan sampai memohon supaya masalah “calon mama” jangan dibahas lagi tapi jawaban Daisy membuat Andara serba salah.
“Jadi mamanya Sisi kan nggak berarti kak Ara harus nikah sama papa. Dari kecil Sisi hanya kenal mama, nggak berasa punya papa.”
DUH ! Andara hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Rasanya menyeramkan kalau berita hoax ini sampai ke telinga Baskara, bisa-bisa Andara bukan hanya diusir dari rumah tapi dibuang ke negeri antah berantah.
“Pak Rio !”
Wajah Andara langsung sumringah begitu melihat Rio sedang berdiri di teras begitu ia membuka pintu mobil.
“Sejak kapan kamu mengantar Daisy ke sekolah ?”
“Sudah beberapa kali. Maaf saya tidak minta ijin dulu. Daisy tidak mau ke sekolah kalau tidak saya antar,” sahut Andara dengan senyum bersalah.
Rio menghela nafas. “Titip Lily pada Lastri, pak Baskara menunggumu di ruang kerjanya.”
Mata Andara langsung membola. “Pak Baskara ada di sini ? Apa beliau sudah mendengar soal nona Savira ? Apa pak Bas mau memecat saya ?”
Melihat Andara panik, Rio hanya tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.
“Sebaiknya kamu tanyakan langsung pada pak Bas.”
Rio memberi isyarat supaya Andara mengikutinya masuk lalu memanggil Lastri untuk membawa Lily ke kamarnya.
Kedua telapak tangan Andara langsung dingin saat kakinya mulai menapaki anak tangga menuju lantai dua.
Ruang kerja dan kamar tidur Baskara letaknya di ujung lorong dan sudah hampir 2 minggu Andara rutin membersihkannya sesuai perintah Rio.
“Masuk !” Rio memberi isyarat dengan gerakan kepala setelah membuka pintu.
“Pak Rio nggak ikut masuk ?” Andara kembali panik saat Rio berdiri di sisi luar.
“Pak Bas mau bicara empat mata sama kamu.”
Ekspresi Andara langsung berubah, bukan cuma telapak tangan, tubuhnya mulai panas dingin juga. Tapi tidak mungkin ia menghindar apalagi Baskara sudah menunggu di dalam.
Sebelum masuk, Andara menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan pelan-pelan lalu menyemangati dirinya diri supaya bisa menemui Baskara dengan kepala tegak. Lagipula kejadian Savira bukan disengaja, perempuan itu yang duluan cari gara-gara.
Jantung Andara berdegup kencang padahal baru melihat punggung Baskara yang berdiri sambil menatap keluar jendela.
Saking tegangnya, Andara sampai terlonjak saar mendengar bunyi pintu ditutup oleh Rio.
“Selamat pagi pak Baskara,” sapa Andara dengan suara bergetar.
Tubuh pria itu berputar, tidak terlalu cepat tapi tidak juga slow motion seperti di film-film.
“Darimana kamu baru pulang ?”
“Saya…. Saya habis mengantar Daisy sekolah, Pak.”
“Sejak kapan kamu diberi tugas mengurus Daisy juga ? Mau cari muka sama orangtua saya ?”
Padahal Baskara tidak membentak atau marah-marah tapi suara baritonnya yang berat dan datar membuat jantung Andara seperti mau copot.
”Maaf karena saya sudah lancang Pak.”
Saat mendengar Baskara menghela nafas panjang dan berat, Andara yakin pria itu sedang ambil ancang-ancang untuk memarahinya.
“Mulai hari ini saya akan tinggal di sini.”
“Maksud bapak ?”
Baskara menautkan kedua alisnya saat melihat rekasi spontan Andara yang mendongak dan menatapnya dengan kedua mata membola.
“Ini rumah saya ! Apa saya perlu minta ijin kamu untuk tinggal di sini ?”
Bukan hanya balas melotot, Baskara juga bertolak pinggang dan mendekati Andara.
“Maaf….Maaf Pak, bukan itu maksud saya.” Kepala Andara kembali menunduk.
“Saya sudah mendengar tentang kejadian di sekolah.”
“Maaf pak, saya tidak bermaksud….”
“Jangan pernah kurang ajar dengan calon istri saya kalau kamu masih mau hidup tenang.”
Susah payah Andara menelan ludahnya. “Maaf Pak.”
“Dan jangan pernah lupa, sekalipun kamu ibu susunya Lily, tapi di rumah ini statusmu hanya seorang pembantu !”
Andara sempat tersentak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Baskara dengan tegas dan penuh penekanan.
“Orangtua saya mungkin menganggap kamu istimewa tapi di mata saya kamu tidak lebih tinggi dari semua pelayan di rumah ini. MENGERTI ?”
Kepala Andara yang tertunduk mengangguk. “Saya tidak akan pernah lupa Pak.”
“Gajimu terlalu besar untuk seorang pengasuh atau ibu susu jadi selama saya tinggal di sini, tugasmu mengurus semua keperluan saya termasuk membersihkan kedua ruangan pribadi saya seperti biasa. Kalau ada yang berani masuk kemari tanpa ijin saya maka kamulah yang harus menanggung akibatnya !”
Andara menahan diri untuk tidak menghela nafas apalagi posisi Baskara tidak terlalu jauh, bisa-bisa bukan simpati malah dampratan yang lebih keras keluar dari mulut pria itu.
“Boleh saya tanya sesuatu Pak ?”
Baskara mengernyit. “Soal apa ?”
Andara mengumpulkan keberanian untuk mengangkat kepala dan tersenyum tipis.
“Soal mengurus keperluan bapak, apa boleh saya tahu tugas seperti apa yang harus saya lakukan ?”
Baskara berdecih dengan senyuman sinis dan tatapan mengejek.
“Gayamu sepertu orang paling pintar di rumah ini tapi tugas pembantu saja tidak paham.”
“Kalau tugas pembantu saya sudah paham pak tapi mengurus keperluan bapak, berarti harus tahu apa saja kebiasaan, apa yang disuka dan tidak lalu….”
“Tanya pada Sumi tugas apa saja yang harus kamu lakukan,” potong Baskara dengan wajah malas mendengar ocehan Andara.
Tidak bisa menahan diri lagi, Andara pun menghela nafas dengan pandangan menatap Baskara tanpa bermaksud menantangnya.
Seribu persen Andara yakin kalau tujuan Baskara tinggal di sini adalah untuk menyiksanya sebagai bentuk balas dendam karena sudah berani melukai Savira.
Andara sudah mulai menangkap kalau pria sombong ini tidak punya kemampuan melawan Deswita jadi cara lain yang bisa dilakukannya adalah menindas Andara sampai akhirnya menyerah dan atas kemauan sendiri pergi dari keluarga Pradana.
“Ada lagi yang ingin bapak sampaikan ?”
Baskara tidak menjawab hanya menjauhi Andara dan duduk di balik meja kerjanya.
“Kalau begitu saya permisi Pak”
Andara sempat membungkukkan badan sebelum pergi.
Aku tidak akan membiarkanmu menindasku pak Baskara !
Dari tempat duduknya, Baskara menatap Andara keluar dengan senyuman smirk.
Jangan berpikir mama bisa menjadikanmu alat untuk menundukanku seperti sebelumnya !