NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Trauma masa lalu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: HaluBerkarya

Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.

Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.

Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Tidak fokus

Suasana di dalam ruang rapat utama Alastar Group terasa begitu mencekam. Suhu AC yang dingin seolah tidak mampu menghalau keringat dingin yang bercucuran di pelipis sang manajer pemasaran. Di depan sana, pria itu sedang mempresentasikan proyek besar dengan tangan yang sedikit gemetar, sesekali melirik takut-takut ke arah ujung meja panjang.

​Di sana, Gallelio duduk dengan tegak dengan wajah dingin dan datar. Selama lima tahun terakhir, pria itu dikenal sebagai monster gila kerja yang perfeksionis. Tidak boleh ada satu pun kesalahan kecil dalam data, atau bersiaplah menghadapi amukan dingin yang bisa menghancurkan karier dalam sekejap. Semua karyawan di dalam ruangan itu sudah menahan napas, bersiap menerima kritikan tajam atau penolakan kasar seperti biasanya.

​Namun, keheningan yang dinanti justru terasa berbeda hari ini.

​Gallelio memang menatap lurus ke depan, ke arah layar proyektor. Tangannya bersedekap dada dengan rahang yang mengeras kokoh, memancarkan aura mengintimidasi yang menjadi ciri khasnya. Tetapi, jika ada yang berani melihat lebih dekat, fokus mata tajam itu sebenarnya tidak tertuju pada grafik penjualan membosankan yang dipaparkan oleh manajer tersebut.

​Fokus Gallelio terenggut sepenuhnya oleh layar ponsel yang sengaja ia sandarkan di bawah laptop pribadinya. Layar kecil itu menampilkan rekaman CCTV ruang tengah rumahnya secara langsung.

​Pria itu sedang memperhatikan bagaimana Aurin berjalan mondar-mandir membawa kemoceng, lalu bagaimana gadis itu duduk di lantai menemani Geanetta menggambar. Setiap pergerakan kecil dari gadis itu seolah menyedot seluruh atensi Gallelio tanpa benar-benar ia sadari. Entah ia memantau karena takut Aurin melakukan kesalahan kecil seperti memasuki area yang dilarang dalam daftar aturan, atau karena ia memang mulai berubah. Tanpa disadarinya, dalam beberapa hari terakhir Gallelio seperti orang yang berbeda. Ia tidak lagi bisa bekerja fokus seperti julukan pria gila kerja yang disematkan untuknya selama ini. Belakangan, memantau CCTV dan mengawasi setiap gerak-gerik Aurin di rumah sudah menjadi rutinitas wajib yang harus ia lihat.

​Bahkan, suara presentasi di depannya hanya terdengar seperti dengungan angin lalu yang tidak benar-benar sampai ke kepalanya.

​Sudut bibir Gallelio tanpa sengaja terangkat tipis, sangat tipis sampai orang-orang tidak menyadarinya. Namun Revan, asisten pribadi yang duduk di sampingnya dan sejak tadi merasa ada yang aneh dengan sang bos, berhasil menangkap pemandangan janggal itu. Keningnya mengkerut heran. Dengan sudut matanya, Revan mencoba mengintip apa yang tersembunyi di balik layar laptop Gallelio.

​Apa perasaan saya saja, sepertinya Tuan tidak mendengar presentasi itu? batin Revan penuh selidik.

​"Sekian presentasi dari divisi kami..." ujar sang manajer dengan suara mencicit pasrah. Pria itu menunduk pasrah, siap menerima rentetan koreksi atau perintah untuk membuat ulang modul dari atasannya.

​Gallelio mengerjapkan matanya sekali, tersadar dari layar ponselnya. Ia melirik sekilas ke arah manajer yang sudah pucat pasi tersebut.

​"Bagus. Lanjutkan," ujar Gallelio pendek, lalu dengan cepat menutup laptopnya. "Rapat selesai."

​Pria itu langsung bangkit berdiri, menyambar jas hitamnya di sandaran kursi, lalu melangkah lebar keluar dari ruang rapat tanpa menoleh lagi.

​Meninggalkan seluruh isi ruangan yang melongo dengan bodohnya. Para karyawan saling berpandangan satu sama lain dengan raut tidak percaya. Sungguh sebuah keajaiban, rapat yang biasanya memakan waktu berjam-jam penuh ketegangan, kini selesai dalam waktu kurang dari tiga puluh menit tanpa ada satu pun revisi rumit.

.

.

.

​Sementara itu di rumah, Ayuna baru saja kembali dengan membawa bekal makan siang. Seperti rutinitas biasanya, Ayuna memang selalu mendatangi kafe miliknya sendiri untuk memantau usaha pribadinya itu. Biasanya ia akan pergi bersama Geanetta, tetapi beberapa hari ini keponakan kecilnya itu lebih memilih untuk tinggal di rumah demi menemani mami barunya.

​"Oh ya, Kakak Ipar, kamu bosan tidak di rumah?" tanya Ayuna pada Aurin yang sudah duduk bersama Geanetta di meja makan.

​Ayuna memang belum tahu apa saja yang Aurin kerjakan di rumah selama ia pergi. Setiap kali ia pulang, Aurin selalu terlihat sedang bersantai atau bermain dengan Geanetta di ruang tengah, persis seperti pemandangan saat ia baru tiba tadi.

​"Tidak," jawab Aurin singkat sembari tersenyum kecil.

​"Masa sih? Sore ini mau tidak ikut aku?" tanya Ayuna lagi, mencoba membujuk.

​Aurin mengerutkan keningnya sejenak, tampak menimbang-nimbang tawaran itu. "Ikut ke mana?" tanyanya kemudian.

​"Ke bandara. Aku mau pergi menjemput adikku, Eza namanya," ujar Ayuna bersemangat.

​"Om Eza pulang hari ini, Aunty?" tanya Anet dengan wajah berbinar senang, menghentikan suapan makanannya sendiri ke dalam mulut.

​"Iya, Anet mau ikut?"

​"Mau... mau!" jawab gadis kecil itu dengan antusias.

​Ayuna tersenyum manis lalu mengusap lembut rambut Geanetta sebelum kembali menoleh ke arah Aurin. "Kakak Ipar mau ikut juga?" tanyanya lagi, berharap Aurin berubah pikiran.

​Aurin menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak ikut ya kak," jawabnya tegas.

​Ia tentu saja tidak mau mengambil risiko dengan keluar dari rumah itu, meninggalkan pekerjaan rumahnya, atau melanggar aturan-aturan ketat yang sudah disusun oleh Gallelio.

......................

Di gudang tua rumah Mahardika, selama beberapa hari terakhir Delon frustrasi sendiri mencari Aurin yang bahkan tidak pernah terlihat pulang ke rumahnya. Ke sekolah pun pria itu tidak pernah mendapati presensi Aurin sama sekali. Pria itu menggila. Ia melampiaskan amarahnya dengan menyiksa semua anak buah ayahnya karena dari sekian banyak orang yang dikerahkan, tidak satu pun yang berhasil menemukan keberadaan Aurin. Entah gadis itu yang terlalu pandai bersembunyi atau anak buahnya yang terlalu bodoh dan tidak becus, yang jelas niatnya untuk membawa gadis itu demi dinikahi dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam pada hari itu telah gagal total.

​Pun dengan paman dan bibi Aurin yang masih menjadi sandera di tempat terkutuk ini, rasanya sudah terlalu percuma menahan mereka lebih lama lagi di sana.

​"Shit! Sore ini jemput Clara di bandara! Aku mau untuk sementara dia yang menggantikan posisi Aurin. Sampai gadisku itu pulang, baru aku akan membuangnya!" perintah Delon dengan nada datar yang sarat akan kekejaman.

​Perintah itu diucapkan tepat di depan paman Aryo dan Bibi Lula, membuat sepasang suami istri itu seketika membulatkan mata dengan sempurna karena terkejut.

​"Tidak... Tolong jangan putri saya, Tuan. Dia... dia tidak tahu apa-apa. Tolong kasihanilah kami..." mohon Paman Aryo dengan suara gemetar dan mata yang sudah berkaca-kaca menahan tangis.

​"Apa saya peduli? Dia harus menjadi jalang saya sebelum Aurin menyerahkan dirinya sendiri untuk saya nikahi!" ujar Delon sinis.

​Setelah mengucapkan kalimat itu, ia langsung melangkah keluar dari gudang dengan tegap, membawa serta rasa amarah di dalam dadanya yang tidak pernah berhasil diredakan.

.

.

​Sementara itu, Bandara Soekarno-Hatta sore itu tampak sangat ramai oleh lalu lalang pengunjung. Di salah satu sudut area kedatangan, dua orang remaja sedang berdiri bersisihan dengan koper besar yang terparkir di samping tubuh mereka.

​Clara dan Ezra. Dua siswa International High School yang baru saja pulang dari Inggris setelah menyelesaikan program pertukaran pelajar selama hampir tiga bulan lamanya.

Clara mondar-mandir sembari berulang kali menatap layar ponselnya. Ia mencoba menelepon kedua orang tuanya, namun nomor mereka sama sekali tidak pernah aktif sejak beberapa hari yang lalu. Wajah gadis itu tampak sangat cemas karena tidak biasanya ayah dan ibunya mematikan ponsel dalam waktu yang lama seperti ini.

​"Kalau belum tersambung juga, biar nanti kamu menumpang mobil saya saja, Cla. Saya akan meminta kakak saya untuk mengantarkan kamu pulang lebih dulu," ujar Ezra Aditya Alastar, cowok bertubuh tinggi, tampan, dan mempesona yang sejak tadi berdiri di sampingnya.

​Clara menghentikan langkahnya seketika. Matanya membulat sempurna dengan binar bahagia menatap Ezra. "Serius kamu mau mengantarkan aku, Za?" tanyanya dengan senyum sumringah yang langsung terbit di wajah cantiknya.

​Mendadak ponsel yang sejak tadi ia pegang langsung disimpan ke dalam saku dengan gerakan cepat. Ia kemudian melangkah maju dan berdiri terlalu dekat dengan cowok itu. "Beneran ya?" lanjutnya lagi dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin.

​"Iya, tapi bisa tidak untuk jangan dekat-dekat?!" ujar cowok itu dengan nada dingin. Ia merasa risih dengan pergerakan Clara, lalu dengan tegas menjauhkan tubuhnya sedikit dari gadis itu.

​Clara hanya tersenyum tipis menanggapi penolakan tersebut, lalu kembali menunggu bersama Ezra di area kedatangan.

​Tidak berselang lama, sebuah suara kecil yang riang memanggil nama Ezra dengan lantang. Pekikan itu bergema di tengah keramaian ruang tunggu bandara.

​"Om Ezaaa...!" pekik Geanetta sembari berlari kencang menghampiri pria itu. Di belakang bocah kecil tersebut, tampak Ayuna yang berjalan dengan santai sembari melambaikan tangan.

​Ezra langsung berlutut di atas lantai. Ia merentangkan kedua tangannya dengan lebar demi menyambut gadis kecil yang sudah sangat ia rindukan selama tiga bulan ini.

​"Little girl, jangan lari-lari di tempat ramai seperti ini. Kalau tadi kamu jatuh bagaimana?" ujar Ezra dengan nada suara yang sangat lembut, bertolak belakang dengan sikap dinginnya pada Clara tadi. Ia kemudian mengangkat dan menggendong tubuh mungil Geanetta ke dalam pelukannya.

​"Sekarang kan Anet tidak jatuh, Om. Sekarang mana? Mana hadiah dari luar negeri untuk Anet?" tagih gadis kecil itu dengan tidak sabar.

​"Aduh, hadiahnya nanti dibuka di rumah saja ya, Anet. Sekarang kita pulang dulu, ini sudah semakin sore!" ujar Ayuna menimpali, tangannya bergerak menarik koper besar milik Ezra.

​"Kak, Clara boleh menumpang mobil kita ya? Orang tuanya belum je—"

​"Selamat sore, Nona Clara. Saya datang untuk menjemput Anda," potong sebuah suara berat yang tiba-tiba saja mengudara di dekat mereka.

​Kalimat Ezra seketika terputus di udara saat sosok pria asing bertubuh tegap dengan pakaian seragam hitam menghampiri rombongan mereka.

​Clara yang semula sudah memasang senyum manis karena mengira akan pulang bersama Ezra dan kakaknya, langsung tersentak kaget melihat kedatangan orang tersebut.

​"Anda siapa?" tanya Clara penuh selidik.

​"Sopir baru Pak Aryo, Nona. Bapak mengutus saya untuk menjemput Anda karena beliau saat ini sedang sangat sibuk," ujar pria itu dengan nada sopan namun terasa sangat datar dan dingin.

​Clara sebenarnya merasa ragu dan tidak yakin dengan identitas pria di hadapannya ini. Namun karena tidak memiliki pilihan lain dan ponsel orang tuanya tetap mati, sore itu akhirnya Clara terpaksa pulang bersama pria yang mengaku sebagai sopir baru ayahnya tersebut.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Rosita Zaky
bagisss
ChaManda
😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
cih kesal
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kan kan kan kocak ini si Gel... bilang aja aku minta no kamu biar kalau ada apa-apa gampang/Curse//Curse//Curse//Curse/ pke alesan sebagai terima kasih
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: gengsi kk🤣🤣😭
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
🤔 apa ini? kau mulai water? cihhh... dasar Gelooooooo/Curse//Curse//Curse//Curse//Curse/
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: 🤣🤣jangan lama2 dia dinginnya, ntar beku kak
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
huhuhuair mataku😭😭😭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
jeng jeng jeng jeng..... Gel... baik2 bini mu incaran adik lelaki mu
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: maca iya yuk lah buat Erza nyemek2
total 4 replies
ChaManda
aduhh kasian juga yaa si Clara
ChaManda
🫵🏻🫵🏻🫵🏻
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
ihhh msh kesel sama pak duda ngeselin😑
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
heh astagaaa keliarga gilaa ku penggal juga itu kepala kalian biar sekalian gk ounya otak😑
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
idih.... mulai nyaman dia natap yang belum tumbuh🤭
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Udah tumbuh tapi belum keliatan menarikknya🤣🤣
total 1 replies
ChaManda
buat istrimu atau buat kamu?☺️
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Gallelio: buat gadis itu, biar gak kuyuss krempeng
total 1 replies
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
🤣
ChaManda
🤣😭🫵🏻
ChaManda
🤣🤣🤣🤣 aku suka gayamuu
ChaManda
😭😭😭
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
heleh heleh🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!