Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.
Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.
"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....
......
Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...
Semoga suka dengan cerita baru nya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Istimewakan
"Mami..."
Saat mata Ibu Rani akan terpejam telinganya mendengar suara lirih Dita memanggilnya. Ibu Rani pun segera menegakkan tubuhnya dan melihat keadaan Dita.
"Nak, kamu bangun sayang. Apa yang kamu rasakan sekarang Nak? Mami panggil dokter ya?" Ibu Rani.
"Mi, ngga usah. Dita mau minum haus." Ucap Dita.
Ibu Rani pun segera membantu Dita minum.
"Makan ya Nak. Kata dokter kalo kamu bangun kamu harus makan dan banyak minum juga." Ibu Rani.
Mendengar ada yang berbicara Dokter Wijaya membuka matanya dan melihat istrinya tengah berbincang dengan putrinya. Ternyata putrinya sudah bangun.
"Nak,, gimana keadaan kamu sekarang?" Tanya Dokter Wijaya menghampiri Dita dan Ibu Rani.
"Papi,, Dita sedikit pusing aja Pi." Jawab Dita.
"Besok kamu istirahat saja dulu biar Papi yang bilang sama pembimbing kamu." Dokter Wijaya.
"Kalo Papi yang bilang ketauan Dita anak Papi." Dita.
"Sayang,, biar saja ya. Mami ngga mau kesayangan Mami sama Papi jadi sampe sakit begini. Meskipun orang tau kamu anak Papi tapi kan kemampuan kamu juga bagus Nak." Bujuk Ibu Rani.
"Kamu takut apa sayang?" Dokter Wijaya.
"Takut semua malah mengistimewakan Dita." Rajuk Dita.
"Sayang, kamu anak Papi sama Mami yang memang sudah istimewa. Walau orang tak mengistimewakan kamu tapi kamu tetap yang paling istimewa." Dokter Wijaya.
"Mami..." Rengek Dita.
"Kamu paling istimewa sayang. Kamu punya dua Mama dan dua Papa yang sama istimewa nya. Kamu harus terbiasa dengan semuanya." Ibu Rani.
Dita merentangkan kedua tangannya agar Papi dan Maminya masuk ke dalam pelukannya. Ibu Rani kemudian menyiapkan makan untuk Dita yang di simpan oleh Bibi di mini kitchen setelah siap Ibu Rani menyuapi Dita.
Pagi hari Dokter Wijaya sudah mengurus ijin Dita yang tidak dapat mengikuti kegiatan hari ini dikarenakan Dita sakit. Dan betapa terkejutnya dosen pembimbing Dita yang tak menyangka ternyata Dita putri dari dokter Wijaya. Tanpa banyak basa basi dosen pembimbing nya langsung mengijinkan Dita.
"Dit, kok belum datang?" Tanya Angel di balik telfon.
"Gw di infus Gel ngga boleh gerak sama Mami." Dita.
"Hah! Lu tumbang Dit?" Angel.
"Hm... Panas gw belum turun juga nih dari kemarin. Padahal hasil lab gw bagus semua ini." Dita.
"Lu mikirin apa Dit? Jangan suka over thinking deh lu." Angel.
"Mikirin apa gw Gel. Hidup gw udah enak gini." Dita.
"Si alan lu. Lagi sakit juga masih aja narsis lu. Di rumah sakit mana Lu?" Angel.
"Rumah sakit Papi gw lah mana lagi. Papi gw kan punya rumah sakit." Canda Dita.
"Si guguk lu. Iya iya anak dokter. Ya udah nanti gw jenguk lu sama Laela. Lu baek-baek yang anteng di infus jangan banyak gaya." Angel.
"Eh, si cindo bisa marah juga lu. Ya udah gw tungguin. Bawain jajanan yang banyak ya." Dita.
"Gw bilang Mami lu ya kalo lu tukang jajan sembarangan." Angel.
"Ih, ngga asik banget deh lu mainnya aduan." Dita.
Panggilan terputus Dita kembali meringkuk. Rasa kantuk efek obat kembali datang dan Dita pun kembali memejamkan matanya. Saat Ibu Rani kembali setelah membersihkan diri Ibu Rani melihat putrinya yang tertidur membuatnya bernafas lega.
"Mi, Papi ke ruangan Papi dulu ya. Mami ke klinik?" Tanya Dokter Wijaya.
"Ngga dong Pi. Masa anak kita di tinggal sendiri." Ibu Rani.
"Kan ada Papi. Nanti Papi kembali ke sini kalo udah selesai." Dokter Wijaya.
"Ngga apa-apa Pi. Mami di sini aja. Jangan sampe kerjaan Papi terganggu. Tadi Mami udah bilang kok sama Desi. Mami ngga ke klinik nungguin Dita di sini." Ibu Rani.
"Ya sudah. Nanti kalo ada apa-apa Mami hubungi Papi ya." Dokter Wijaya.
"Baik Pak Dokter." Ibu Rani.
Dokter Wijaya pun meninggalkan ruang perawatan Dita untuk mengerjakan tugasnya. Ibu Rani sambil menunggu putrinya tertidur mengecek pekerjaannya yang di kirim via email oleh Desi asisten pribadinya.